Menenun Hidayah di Atas Awan: Kisah Perjuangan Dakwah dan Toleransi di Kampung Quran Bromo
Gunung Bromo tidak hanya menyimpan pesona alam yang megah dengan lautan pasirnya, tetapi juga menyimpan kisah spiritual yang sangat…
Menenun Hidayah di Atas Awan: Kisah Perjuangan Dakwah dan Toleransi di Kampung Quran Bromo

Gunung Bromo tidak hanya menyimpan pesona alam yang megah dengan lautan pasirnya, tetapi juga menyimpan kisah spiritual yang sangat menyentuh hati di balik kabut tebalnya. Pada Rabu, 29 April 2026, kami dari program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Salatiga berkesempatan melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke salah satu sudut tersembunyi di kawasan Tengger. Tempat itu bernama Kampung Quran Bromo, sebuah pusat pendidikan Islam yang berlokasi di Desa Wonokerto. Di sana, kami berdiskusi hangat dengan Ustadz Muhibbin, seorang sosok bersahaja asal luar daerah yang telah mendedikasikan hidupnya selama 12 tahun terakhir untuk mengabdi dan menyalakan pelita iman di tanah Tengger.
Berawal dari Ruang Sowan Para “Mantan”
Sejarah berdirinya Kampung Quran Bromo ini terbilang sangat unik sekaligus mengharukan. Sekitar tahun 2010 silam, ada sekitar 9 sampai 11 orang warga setempat yang memutuskan untuk sowan (berkunjung menghadap) kepada sesepuh desa. Menariknya, mereka yang menginisiasi gerakan ini bukanlah pemuka agama atau tokoh masyarakat, melainkan sekelompok mualaf yang dulunya merupakan mantan pejudi dan mantan pemabuk yang ingin mengetuk pintu taubat. Mereka berkumpul dan berunding untuk meminta izin mendirikan sebuah tempat ibadah kecil di desa mereka. Setelah melalui proses musyawarah yang panjang, pihak desa akhirnya menyetujui rencana mulia tersebut.
Dari kesepakatan itulah berdiri sebuah bangunan mushola yang sengaja dirancang dengan arsitektur yang khas. Bangunannya sengaja dibuat dari bahan kayu agar terlihat unik, berbeda dari tempat ibadah pada umumnya yang biasanya menggunakan struktur tembok penuh. Tiang-tiang penyangganya memanfaatkan pohon cemara yang diperoleh dari hasil iuran swadaya warga sekitar yang saling bergotong-royong. Sementara itu, bagian gentengnya mendapatkan bantuan langsung dari PPPA Darul Quran milik Ustaz Yusuf Mansur. Tempat ibadah ini sejatinya bernama Mushola Al Ikhlas wal Barakah, yang kemudian diberi label tambahan di bawahnya sebagai “Kampung Quran Bromo”. Yang juga dibina oleh PPPA Darul Quran.
Menghapus Label “Islam KTP” Melalui Dakwah Kultural yang Humanis
Saat pertama kali Ustadz Muhibbin menginjakkan kaki di Tengger sekitar 12 tahun yang lalu yaitu tahun 2014, kondisi keagamaan warga muslim di sana bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Mayoritas dari mereka hanya berstatus “Islam KTP”, dalam arti identitasnya Islam namun tidak ada yang menjalankan ibadah shalat lima waktu secara rutin. “Dulu tidak ada warga yang shalat. Mereka baru shalat kalau hari raya saja,” kenang Ustadz Muhibbin. Bahkan, kegiatan ibadah shalat Jumat pun pada masa itu hanya dihadiri oleh lima sampai tujuh orang saja.
Kondisi kultural masyarakat kala itu juga masih sangat kental dengan tradisi sinkretisme lama yang bertentangan dengan syariat. Setiap kali mengadakan acara selamatan, warga diwajibkan menyediakan sesajen dan membakar kemenyan. Begitu pula saat ada warga yang meninggal dunia, makam atau areanya harus diberi sajian nasi, jajanan, hingga lilin. Lebih dari itu, setiap malam Jumat Legi, mereka selalu menyajikan hidangan ayam, nasi, kopi, dan ikan yang diyakini secara kuat akan dikonsumsi oleh para leluhur mereka. Keyakinan mistis ini sudah mengakar begitu kuat di dalam kehidupan sehari-hari.
Sadar bahwa mengubah keyakinan yang mengakar membutuhkan waktu yang panjang dan kesabaran ekstra, Ustadz Muhibbin memilih jalur dakwah kultural yang humanis. Beliau tidak berceramah dengan nada menghakimi di atas mimbar, melainkan ikut turun ke ladang, menemani warga saat bertani dan bersawah, lalu menyisipkan nilai-nilai Islam melalui obrolan santai sehari-hari. Atau bahkan kadang warganya sendiri yang langsung mengawai bertanya tentang agama.
Perlahan tapi pasti, strategi dakwah yang sejuk ini membuahkan hasil yang manis. Jika 12 tahun lalu tidak ada satu pun anak-anak di desa ini yang bisa mengaji hingga aktivitas tadarus di mushola terpaksa diisi oleh ibu-ibu yang bacaan alqurannya belum begitu fasih, kini suasananya telah berbalik total. Anak-anak di Desa Wonokerto sekarang sudah fasih melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Setiap pukul 15.00 hingga 17.00 sore, Kampung Quran Bromo bertransformasi menjadi pusat pendidikan (TPQ) yang ceria. Anak-anak berkumpul untuk belajar Iqro, fiqih, tauhid dasar, tajwid, hingga pembentukan akhlak karimah.
Perubahan spiritual ini juga terlihat nyata dari cara berpakaian kaum hawa. Dulu, semua perempuan muslim di sana sama sekali tidak ada yang berhijab. Namun, karena sering disinggung mengenai pembahasan terkait syariat Islam secara halus di mushola, kini sekitar 80 persen perempuan muslim di sana telah mantap berhijab. Jumlah jamaah lelaki yang shalat Jumat pun kini merangkak naik menjadi 20 hingga 30 orang. Walaupun jumlah tersebut secara fikih belum bisa dikatakan memenuhi syarat bilangan minimal shalat Jumat, intensitas ibadah ini kerap terbantu dan dipenuhi oleh kehadiran orang luar seperti wisatawan, karyawan hotel, maupun pengelola vila dari daerah bawah.
Harmoni Pembagian Peran dan Geografi Keagamaan yang Unik
Di wilayah Tengger sendiri, fasilitas keagamaan bagi umat Islam dibagi menjadi dua tempat utama, yaitu Mushola Al Ikhlas wal Barakah (Kampung Quran) dan sebuah bangunan masjid. Agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi, warga sepakat membagi perannya dengan sangat rapi. Kampung Quran difokuskan sepenuhnya sebagai ruang tempat pendidikan bagi anak-anak. Sementara itu, bangunan masjid digunakan secara khusus untuk kegiatan keagamaan masyarakat umum yang bersifat mingguan atau berkala, seperti kajian jamaah, khotmil Quran, istighosah, yasin tahlil, siraman rohani, hingga pembacaan maulid diba’.
Kehidupan sosial di lereng Bromo ini kian menarik jika kita melihat pola demografi keagamaannya yang unik. Secara geografis, wilayah atas yang letaknya sangat dekat dengan kawah Gunung Bromo mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Sebaliknya, wilayah yang berada di dataran lebih bawah mayoritas dihuni oleh umat Islam. Desa Wonokerto sendiri merupakan basis desa yang mayoritas muslim, namun posisinya dikelilingi oleh desa-desa dengan mayoritas Hindu di atasnya, seperti Desa Ngadas, Desa Jetak, Desa Wonotoro, dan Desa Ngadisari.
Uniknya, bentang alam ini melahirkan aturan adat sosial yang ditaati secara otomatis terkait pernikahan beda agama. Jika ada warga Hindu dari area atas Bromo menikah dengan warga Wonokerto yang berada di area bawah, maka mereka secara otomatis akan berpindah memeluk agama Islam. Sebaliknya, jika ada warga muslim yang menikah dengan warga Hindu kemudian mereka memilih untuk hidup dan menetap di daerah atas, maka secara otomatis mereka akan pindah ke agama Hindu. Bahkan, toleransi geografis ini tecermin saat bulan suci Ramadhan; warga muslim yang menetap di daerah atas akan rela berjalan turun ke daerah bawah demi bisa melaksanakan ibadah shalat tarawih berjamaah di masjid atau mushola.
Indahnya Toleransi: “Kita Semua adalah Saudara”
Konflik antaragama sama sekali tidak memiliki ruang di tanah Tengger. Masyarakatnya hidup sangat rukun dan saling menghormati satu sama lain karena mereka memegang teguh prinsip bahwa mereka semua adalah saudara. Kerukunan yang tulus ini terlihat sangat nyata ketika hari raya keagamaan tiba. Di Tengger, terdapat dua hari raya besar yang dirayakan bersama dengan penuh suka cita, yaitu Hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim dan Hari Raya Yadnya Karo (atau Hari Raya Karo) bagi umat Hindu.
Saat Hari Raya Idul Fitri tiba, rumah-rumah warga muslim justru akan ramai dikunjungi oleh tetangga-tetangga mereka yang beragama Hindu yang datang untuk bersilaturahmi dan mengucapkan selamat. Pemandangan yang sebaliknya terjadi ketika Hari Raya Yadnya Karo tiba; warga muslim tanpa ragu akan datang berkunjung ke rumah-rumah orang Hindu, baik itu rumah sahabat, tetangga, maupun kerabat dekat mereka.
Tidak hanya pada momen hari raya besar, dalam ritual adat tahunan seperti upacara Yadnya Kasada yang digelar di kawah aktif Gunung Bromo, harmoni ini tetap terjaga dengan indah. Upacara adat ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat Tengger, baik yang beragama Hindu maupun Islam. Warga muslim akan datang ke lokasi upacara dengan mengenakan pakaian yang rapi, membawa perbekalan nasi, lalu duduk dan makan bersama-sama di sana sebagai simbol persaudaraan yang kokoh tanpa mengorbankan batasan akidah masing-masing.
Perjalanan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) kami di Kampung Quran Bromo memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kami sebagai mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Dari keteguhan Ustadz Muhibbin dan para mualaf Tengger, kita belajar bahwa dakwah yang efektif adalah dakwah yang merangkul dengan kelembutan, bukan memukul dengan kekerasan. Dan dari seluruh masyarakat Tengger, kita bisa menyaksikan sebuah potret ideal miniatur Indonesia yang sesungguhnya, di mana perbedaan keyakinan bukanlah sekat pembatas, melainkan warna-warni indah yang berpadu harmonis di bawah langit Bromo.
Referensi :
-
Wawancara langsung dengan Ustadz Muhibbin, kader dari PPPA Darul Qur’an, dan warga Tengger (supir jeep).
-
Situs Resmi PPPA Darul Qur’an (pppa.id)
메타데이터
- post_id
- 56fd3de8e91c
- slug
- menenun-hidayah-di-atas-awan-kisah-perjuangan-dakwah-dan-toleransi-di-kampung-quran-bromo-56fd3de8e91c
- url
- https://medium.com/@indana1725/menenun-hidayah-di-atas-awan-kisah-perjuangan-dakwah-dan-toleransi-di-kampung-quran-bromo-56fd3de8e91c
- canonical_url
- https://medium.com/@indana1725/menenun-hidayah-di-atas-awan-kisah-perjuangan-dakwah-dan-toleransi-di-kampung-quran-bromo-56fd3de8e91c
- author_url
- https://medium.com/@indana1725
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 19:40:15