Ulasan Buku: History of the Netherlands (2023)
Menawan Sekaligus Menjijikkan
Ulasan Buku: History of the Netherlands (2023)
Menawan Sekaligus Menjijikkan

Pengarang: Captivating History Tajuk lengkap: History of the Netherlands — A Captivating Guide to Ancient Germanic and Celtic Tribes, the Eighty Years’ War, the Dutch Empire and Republic, and Modern Times Bahasa: Inggris Tanggal terbit: 4 desember 2023 Jumlah halaman: 162 Penerbit: Captivating History ISBN: 1637169531
Belum jadi anggota Medium? Silakan baca versi gratisnya di sini.
Formasi alamiah Belanda telah menyediakan identitas, kekayaan, dan arah hidup mereka.
Ratusan Alasan Menyukai Sejarah
Ah… sejarah. Pertama kali saya jumpai di bangku SMP, mapel ini mengasah kemampuan saya dalam mengarsir kalimat-kalimat yang penting (baca: hampir semua 👌) pada kopian dua rangkap. Ketertarikan pada mapel ini menguat saat SMA, meskipun lebih ke alasan bahwa guru saya dapat lupa waktu ketika mulai asyik bercerita tentangnya. Tiba masa kuliah, saya hampir tidak pernah bersentuhan lagi dengan buku-buku sejarah.
Tetapi sejak saat itu pula saya mulai menggandrungi film. Awalnya klise saja dengan film aksi, animasi, atau superhero. Kemudian pustaka film saya pun meluas, dan tanpa saya sadari saya mulai menikmati cerita-cerita yang berdasarkan kisah nyata, baik setia terhadap patokannya maupun banyak diberi sentuhan kreatif. Saya lambat laun menyadari bahwa esensi sejarah adalah cerita tentang, oleh, dan untuk manusia, yang terkadang bisa lebih ajaib daripada fiksi.
Memasuki dunia kerja, saya mulai ketagihan membaca artikel-artikel Tirto yang membahas kisah masa lampau dari Indonesia mengingat mereka tidak banyak ditemukan di medium film. Kemudian ada seri buku Tempo yang mengetengahkan kehidupan para tokoh-tokoh bangsa; saya sebelumnya mengulas salah satu edisi mereka tentang Hatta. Puncaknya saya bersua twit seseorang yang memuji Extra History — kanal YouTube asal Amerika Serikat — yang merilis seri Kerajaan Majapahit. Setelahnya kecintaan saya pada sejarah tak pernah lagi surut ke pantai.
Enam tahun kemudian, History of the Netherlands dari seri Captivating History muncul sebagai rekomendasi bacaan. Saya memang punya preferensi yang kuat bagi karya yang menjadi bagian dari sebuah seri. Tidak lebih dari dua ratus halaman, buku ini mengiringi pembacanya menyusuri sejarah negara kedua saya dari zaman prasejarah hingga masa modern dengan pembawaan yang ringan dan mudah dicerna. Paling penting tentu saja sisi menawannya, yang benar-benar menyulap sebuah cerita yang menggugah dari rentang periode sekitar empat milenium.
Barangkali yang agak janggal adalah sang kreator Matt Clayton. Tidak banyak informasi tentangnya selain keterangan bahwa ia seorang penggiat sejarah — bukan akademisi — dan banyak orang sangsi apakah beliau orang betulan atau tidak. Bagi yang jeli tampak hal-hal yang kurang tepat; salah satu pengulas di Amazon menyebutkan bahwa serf dan peasant disamaratakan (bahasa Indonesia pun tidak punya distingsi khusus untuk keduanya). Meskipun demikian, Captivating History tetap mampu menyajikan garis-garis besar yang selaras, meraih tujuannya dalam menyeimbangkan keseruan dan mutu untuk menjangkau kalangan sebanyak mungkin.

Tumbuh di Himpitan Bala
Belanda boleh jadi adalah negara asing yang paling banyak dibaca sejarahnya oleh orang Indonesia kebanyakan, meski dalam kerangka zaman kolonialisme saja. Kalian tentu tidak asing dengan nama-nama seperti Cornelis de Houtman, Jan Pieterszoon Coen dan Herman W. Daendels serta deskripsi satu dimensi mereka: De Houtman sebagai orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, Coen sebagai pendiri Batavia dan penakluk Banda, dan Daendels sebagai inisiator proyek jalan yang memangsa banyak nyawa buruhnya. Nama-nama ini barangkali akan senantiasa hadir dalam buku pelajaran sejarah kita, apa pun kurikulumnya.
Tentu saja kisah tentang Belanda tidak hanya dimulai dari mereka mendarat di Banten hingga mengakui kemerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar tiga setengah abad kemudian. Dengan menyusuri History of the Netherlands kita bisa membagi sejarah Belanda dalam beberapa gugus: zaman prasejarah, datangnya Kekaisaran Romawi, perseteruan antara Inggris dan Perancis, Republik Belanda dan Perang 80 Tahun, masa emas melalui monopoli dagang dan kolonialisme, invasi Perancis dan Nazi Jerman, dan diakhiri Belanda pasca Perang Dunia II.
Jika Indonesia dan bangsa-bangsa terjajah lainnya setelah Perang Dunia II memerdekakan diri dengan semangat nasionalisme, masyarakat Belanda mengalami fase komunitas terbayangnya setengah milenium yang lalu dengan melawan feodalisme dan alam. Terhimpit antara dua raksasa Inggris dan Perancis serta menghadapi ancaman banjir laut, masyarakat Belanda seiring waktu terbagi menjadi dua golongan dengan ciri yang khas. Pertama adalah golongan Protestan yang bermukim dari daerah Hollandia hingga Frisia di utara, di mana mereka berjibaku membangun tanggul dan mereklamasi lahan. Kedua adalah golongan Katolik dari Brabant ke Flandria yang ternama dengan kerajinan kain wolnya dan kota-kota dengan serikat dagang yang kuat.
Melalui dua bangsa yang pada akhirnya memiliki jalan hidup yang berbeda kita bisa melihat bagaimana sekat negara selalu bersalin rupa. Daerah Katolik kini terbagi menjadi dua: Brabant Utara masuk ke Belanda bersama golongan Protestan sementara Brabant Selatan dan Flandria terdapat di Belgia, di mana mereka masih berbahasa Belanda dan secara budaya lebih mirip dengan Belanda ketimbang sisi selatan Belgia yang bercorak Perancis. Daerah Protestan justru lebih gila lagi karena mereka senantiasa merevisi batas lautan. Seperti yang diramalkan naturalis Plinius Tua berabad-abad silam: “Ini adalah sebuah tanah yang terkunci dalam perseteruan abadi dengan alam, di mana kabur garis antara berakhirnya laut dan bermulanya daratan.”
Metamorfosis Empunya Hindia Belanda
Ada masanya ketika batas wilayah Belanda meluas berkali-kali lipat dengan tambahan Hindia Belanda. Tapi, saya rasa kita semua sudah mafhum dengan sejarah itu, dan buku ini memang tidak banyak membahas peristiwa-peristiwa di tanah air kita — mungkin suatu saat dalam edisi History of Indonesia. Justru itulah, utamanya bagi para pembaca Indonesia, History of the Netherlands bisa memberi perspektif lain: seperti apa situasi dalam negeri mantan penjajah kita kala itu.
Monopoli VOC akan pala dan cengkeh mengantar rakyat Belanda ke pintu kesejahteraan yang tiada tara. Berlimpahnya kas pendapatan datang bersamaan dengan keberhasilan Belanda mengusir cengkeraman Spanyol dan mendirikan republik. Stabilitas menyusul dan merangsang lingkungan yang ramah nan menguntungkan bagi seniman seperti Rembrandt dan Vermeer. Tidak berhenti pada seni saja, ekonomi yang meroket sedemikian rupa juga memicu fenomena ‘gila tulip’ (tulpenmania), gelembung spekulatif pertama dalam sejarah.
Masa makmur nan damai ini terusik ketika Napoleon dari Perancis menaklukkan Belanda. Pada masa inilah Daendels, warga Belanda yang keprancis-prancisan, ditugasi menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda untuk mencegah invasi Inggris — Jalan Raya Anyer-Panarukan adalah contoh upaya ini. Pada akhirnya ia gagal mengemban tugasnya dan ditarik ke Belanda, dan tak lama kemudian Belanda benar-benar lepas dari tangan Perancis setelah kejatuhan Napoleon. Hindia Belanda sementara itu kembali diberikan ke pangkuan Belanda.
Sejak masa awal penjajahan, Belanda sudah kenyang asam garam dengan berbagai perang lokal melalui politik adu domba. Namun meletusnya Perang Padri dan Perang Diponegoro, ditambah Revolusi Belgia di tanah sendiri membuat kondisi moneter negara Belanda menggawat. Sedikit banyak situasi inilah yang memprakarsai pungutan pajak cultuurstelsel atau ‘sistem budi daya’, yang kita namai — dan rasakan— sebagai sistem tanam paksa. Kekejian stelsel ini pada akhirnya disingkap oleh E.D. Dekker melalui novelnya Max Havelaar, yang menekan pemerintahan Belanda untuk menerapkan kebijakan politik yang lebih etis pada koloninya.
Walaupun masa emas sepertinya masih belum tampak dan sistem demokrasi kita seharusnya bisa jauh lebih baik, Indonesia bagaimanapun adalah negara merdeka dan berkembang yang mencoba menggali ceruknya di dunia. Bagaikan sebuah lensa, History of the Netherlands membantu kita menilik apakah republik kita kiwari dapat dikenali dalam sejarah Belanda dan apa yang bisa kita pelajari. Contohnya, bagaimana kita mengawal seruan rakyat untuk menjamin politik yang adil, serta melarang tegas tindakan sewenang-wenang dan eksploitatif yang dapat kita lakukan terhadap sesama?

Zaman Baru, Krisis Baru
Banyak dianggap sebagai negara yang ideal, tidak berarti bahwa Belanda zonder isu kemasyarakatannya sendiri. Contoh pertama adalah krisis nitrogen. Per hektar Belanda mengeluarkan emisi nitrogen lebih banyak ketimbang negara Uni Eropa lainnya, sementara Eropa tengah fokus dalam upaya mengawal iklim. Sumbangsih emisi terbesar datang dari sektor peternakan. Keputusan untuk menurunkan emisi nitrogen dengan secara drastis mengurangi jumlah ternak memicu amarah para peternak. Ketidakpuasan mereka berdampak pada naiknya BBB — partai sayap kanan yang menyuarakan para boeren — ke panggung politik dan menguatnya syak wasangka terhadap Uni Eropa.
Yang kedua adalah permasalahan imigrasi dan suaka. Sejatinya isu ini sudah lama mengendap, dan mulai menyala setelah kematian Pim Fortuyn dan Theo van Gogh yang disebutkan di penghujung buku ini. Geert Wilders adalah politikus sayap kanan yang paling vokal menyuarakan ketidaksukaannya terhadap kebijakan imigrasi Belanda saat ini. Mendulang suara terbanyak dari pemilu kemarin dan kini duduk sebagai sumbu utama koalisi pemerintahan, Belanda sepertinya tengah berada di jalur untuk menerapkan kebijakan imigrasi dan suaka terketat di Eropa — jelmaan Trump di Eropa Barat.
Terakhir yang ingin saya sebutkan adalah hubungan Belanda dengan kaum Yahudi. Anne Frank dan kisahnya menjelma menjadi sebuah ikon budaya: seorang gadis Yahudi yang seharusnya mempunyai masa depan membentang, namun menemui ajalnya di kamp konsentrasi. Barangkali ini dipandang sebagai kegagalan kolektif bangsa, dan oleh karena itu seharusnya tidak akan ada lagi pogrom di Amsterdam dan Belanda. Hingga malam 8 november kemarin ketika suporter klub Maccabi Tel Aviv menyambangi Amsterdam.
Saya tidak akan berlindung di balik “ini adalah masalah yang kompleks dan bernuansa”. Para suporter dari entitas yang tengah melakukan genosida di Gaza, menyanyikan yel-yel provokatif, dan menyerang penduduk yang menyatakan keberpihakannya bersama Palestina, pantaslah dibuat tersungkur. Sayangnya, media utama dan para pejabat teras hanya melihat sisi para penyambang dan malah gercep melaknat reaksi penduduknya sendiri, menyebutnya sebagai pogrom.
Belanda dan Eropa Barat kini tengah berada di persimpangan. Apakah mereka akan terus tersandera oleh rasa bersalah kolektif ini, tak pernah menyadari bahwa label korban tidaklah eksklusif pada satu pihak? Apakah Belanda, dengan Den Haag sebagai kota pengadilan internasional, masih dianggap serius dalam seruannya untuk meringkus Netanyahu, bahkan ketika salah satu politikusnya pergi menyalami sang penjahat internasional? Belanda tengah menulis sejarahnya, dan barangkali itulah mengapa buku seperti Captivating History perlu ada: untuk membuat pembacanya tertarik, kemudian jijik, dan pada akhirnya terpantik untuk senantiasa belajar dari sejarah.
메타데이터
- post_id
- 571bd85a4fcc
- slug
- ulasan-buku-history-of-the-netherlands-2023-571bd85a4fcc
- url
- https://medium.com/@rayansuryadikara/ulasan-buku-history-of-the-netherlands-2023-571bd85a4fcc
- canonical_url
- https://medium.com/@rayansuryadikara/ulasan-buku-history-of-the-netherlands-2023-571bd85a4fcc
- author_url
- https://medium.com/@rayansuryadikara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 13:34:43