← Back to list

Panas Dupa

Glosari a. Gongseng ; gelang kaki dengan lonceng. b. Kace ; aksesori leher pada penari (dapat dilihat pada penari Remo). c. Trance ; fase…

AMOREOSEN · 2026-05-12 14:38 · 67 claps · 9.8 min read
#boys-love #javanese #ryuyul #bxb
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Panas Dupa

Glosari a. Gongseng ; gelang kaki dengan lonceng. b. Kace ; aksesori leher pada penari (dapat dilihat pada penari Remo). c. Trance ; fase saat roh masuk kedalam tubuh. d. Indang ; roh yang dipanggil. e. Cemeti ; ujung tipis pada pecut yang menjadi sumber bunyi. f. Caplokan ; balok kayu yang diukir sebagai perumpaan kepala naga g. Slompret ; sebuah seruling khas pertunjukan jaranan

Content warning : trance/possession states, emotional jealousy, physical intensity (non-graphic), ritual performance setting.

Inspired by Tiktok video from gsky.1512

Inspired by Tiktok video from gsky.1512

Lampu panggung belum sepenuhnya menyala ketika Ryul bersiap di belakang panggung bersama dengan anggota yang lain, jemarinya menegang memasang kait peniti pada gelang tangannya. Nafasnya masih memiliki ritme yang tenang, belum ada aura liar yang biasanya muncul ketika gamelan mulai dimainkan.

Suasana cukup ramai dengan masing — masing temannya saling membantu untuk memasangkan kostum jaranan mereka. Suara gongseng yang berbunyi setiap kali bergerak membantu meramaikan suasana belakang panggung saat itu.

Ohyul datang dengan rangkaian bunga dan hiasan kace yang mulai dibagikan kepada masing — masing anggota, hingga kini gilirannya.

“Kencengin lagi.” Ryul mengangkat kepalanya melihat tangan Ohyul yang mulai mengambil alih kait peniti gelang tangannya. “Bisa sendiri.”

“Tapi maunya aku.” Ryul mendecih pelan, membiarkan Ohyul mengambil alih kait penitinya.

Kini tangan Ohyul beralih untuk terangkat naik memasangkan kace pada leher Ryul, dia sedikit berjinjit begitupun Ryul yang menundukkan kepalanya agar Ohyul dapat menjangkaunya. Jarak mereka terlalu dekat buat disebut biasa, tapi terlalu natural buat dianggap aneh. Tapi, Ohyul yang membenarkan kace dan memasangkan bunga dalam jarak dekat seperti ini adalah hal yang Ryul suka, bagaimana mata bulat itu menatap lekat pada leher dan bahunya.

Dari luar panggung suara penonton mulai ramai dengan tabuhan gamelan yang mulai melakukan gladhi mengisi kekosongan di sela penonton menunggu pertunjukan.

“Deg-degan?” Tanya Ohyul lirih sembari membenarkan ikat kepala Ryul.

Ryul hanya membalasnya dengan senyum seringai kecil. “Kalau kamu di pinggir, enggak.”

Dan itu cukup untuk membuat Ohyul menggeleng kecil dan tertawa pendek.

GONG.

Suara tabuhan gong gamelan pertama menggema. Ryul segera berbaris dengan jaranannya, membuat garis pada pintu masuk panggung bersama yang lainnya.

Panggung mulai terasa hidup. Asap tipis naik dari bawah sorot lampu dan panggung, kepulannya bercampur dengan aroma kemenyan dan tanah lembab. Gamelan mulai ditabuh bersama dengan gong dan slompret yang menambah intensi acara.

Ryul memasuki panggung lebih dahulu, memimpin barisan dengan langkah berat dan tatapan tajam yang spontan membuat penonton bersorak. Tubuhnya tinggi besar, bagian atas badannya hampir terbuka penuh kecuali kace hitam-merah yang menutupi dadanya. Bahu bidangnya terlihat semakin gagah pada setiap gerakannya, salah satu urat lengannya yang mulai muncul setiap kali tangannya mencengkram jaranan ayaman itu dengan kuat, sementara tangan lainnya mengayunkan pecut untuk berputar dan menghentak tanah disamping tubuhnya.

Keringat mulai tampak mengkilap tipis di bahu dan tulang lehernya, turun perlahan mengikuti pergerakan tubuhnya yang keras dan liar. Kace di dadanya bergerak mengikuti dadanya yang naik turun dengan nafas yang semakin berat, gemerincing gongseng yang bertengger di kakinya seolah berteriak mengikuti setiap hentakan kakinya, matanya menatap tajam menyapu seluruh panggung dan barisan penonton yang membuatnya semakin bergairah.

Sementara di sisi panggung, Ohyul berdiri untuk mengawasi dan menjaga bersama pawang yang lainnya. Ohyul menatap Ryul yang menari dengan tenaga penuh — liar, keras, hampir seperti menyerang udara yang berada depannya sendiri. Gerakan tubuhnya kasar tapi indah, sinkron dengan tabuhan gamelan yang ritmenya semakin meningkat.

Netra Ryul selalu mencari Ohyul. Hingga di saat akhirnya netra mereka bertemu, hanya seringai kecil dengan anggukan dagu yang saling dilemparkan.

Trance pertama dimulai, perlahan anggota yang menari dengan jaranan limbung keluar dari barisan. Satu per satu anggotanya mulai terjatuh dengan suara geraman. Masih familier dan masih seperti pertunjukan yang sebelumnya. Ohyul mengingat kapan Ryul akan mulai kehilangan sadar, kapan ia akan tumbang sebelum akhirnya berhamburan.

Nafas Ryul mulai berat, gerakannya melambat, bahunya gemetar kecil waktu indang mulai masuk ke tubuhnya. Penonton bersorak lebih keras, tak jarang suitan mulai terdengar bersamaan dengan penonton yang mulai maju untuk merekam.

Ohyul sudah berjalan masuk ke area panggung memunguti aksesori kostum yang mulai dilucuti. Ryul setengah sadar waktu tubuhnya goyah ke belakang. Bersamaan sebelum badannya limbung ke tanah, Ohyul menangkapnya. Satu tangannya memeluk pinggang Ryul untuk menahan tubuhnya tetap tegak dengan tangan yang satunya mengusap bunga di punggung dan dadanya pelan.

“Bunga favorite kamu,” gumam Ohyul pelan pada telinganya.

Ryul tertawa kecil dalam kondisi setengah sadar, nafas panasnya menyapu leher Ohyul bersama dengan badannya yang mulai goyah dan limbung. Penonton hanya bersorak menganggap itu adalah bagian dari pertunjukan, padahal itu adalah hal yang lebih dari sebuah pertunjukan.

Formasi demi formasi pada pola lantai dan gerak ditampilkan dengan para anggota yang mulai kalap, pawang dari pertunjukan itu mulai berjalan ke tengah, mendominasi lingkaran yang mulai dibuat oleh anggota yang telah hilang sadarnya. Tangannya dinaikkan bersama dengan pecut berbadan besar dengan gagang berbentuk ular, pecut itu disusuri dari ujung hingga cemeti. Mulut dengan kumis besar itu mulai meramalkan sesuatu pada cemeti yang digenggam sebelum akhirnya ditiup, dalam sedetik berikutnya pecut itu diayunkan dan mengentak tanah menciptakan bunyi letupan yang menggelegar.

CETAR

Trance kedua masuk dengan bunyi kendang yang ditabuh semakin cepat yang mulai terasa tak karuan. Para pemain berlarian, memberontak mencoba meninggalkan lapangan. Properti yang telah disiapkan mulai diangkat dan dihabiskan, kemenyan dengan arang yang tersaji diatas cobek di depan panggung mulai berantakan habis tak tersisa. Indangnya mulai aneh, mulai liar dan kasar. Penjaga yang berada di sisi panggung mulai berlarian mengejar dan menahan pemain yang kesurupan.

Ohyul bersama pawang yang lain berlarian mengejar pemain yang kesurupan, termasuk Ryul yang sudah berlari ke arah kerumunan penonton membawa sebuah caplokan. Ryul kesetanan, tangannya yang membawa caplokan dari bongkahan kayu itu terayun untuk menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Badannya berputar dan berguling, meninggalkan beberapa bekas lecet pada tubuhnya.

Tak terhitung berapa pemain yang mulai meninggalkan panggung, tak terhitung pula berapa penjaga dan pawang yang ikut berlari meninggalkan panggung pertunjukan untuk mengejar pemain yang kesurupan. Masing — masing memiliki pegangannya.

Dari kerumunan penonton yang mulai menepi, Ryul terlihat berjalan pelan kembali memasuki lapangan membawa caplokan di atas kepalanya, dengan Ohyul yang memegang tali di sampingnya. Matanya tertutup dengan mulutnya yang masih mengunyah bunga kenanga dialam bawah sadarnya.

Kini Ryul mulai didudukkan di depan panggung bersama yang lainnya yang berhasil ditenangkan, kepulan asap dari arang yang disirami kemenyan mulai menyeruak masuk ke dalam indra penciuman. Cemeti pecut mulai digenggam dengan doa yang mulai dirapalkan. Gagang pecut itu kembali dinaikkan, lalu dientakkan ke tanah sedetik kemudian. Meninggalkan para pemain ditarik kembali rohnya untuk menempati tubuhnya.

Para pemain yang sadar mulai dipinggirkan ke sisi panggung untuk dipisahkan dari yang masih kesurupan. Begitu juga dengan Ryul yang baru menyelesaikan trance pertamanya. Dadanya naik turun cepat, keringat menetes dari leher sampai perut telanjangnya. Rohnya belum sepenuhnya kembali.

Berbeda dengan Ohyul yang mulai berputar berkeliling panggung untuk menenangkan satu per satu pemain yang tumbang. Para pemain masih kalap dengan pawangnya yang menjaga panggung pertunjukan. Hingga suara salah satu pemain tiba — tiba kerasukan, membuat Ohyul harus menghampirinya.

Tubuhnya kejang sebentar sebelum tertawa pelan. “Mas pawang…”

Ohyul berhenti di depannya dan sedikit berjongkok “Iya, tenang dulu — ”

Lelaki itu justru semakin mendekat, dalam sedetik senyumnya berubah genit. “Masnya ganteng…”

Beberapa pawang dan penjaga mulai saling melempar tatapan, berbeda dengan penonton yang mulai bersorak kegirangan.

Ohyul tersentak mendengar itu, namun dia masih mencoba tenang dan profesional. “Iya, iya… sadar dulu.”

Bukannya menjauh, tangan pemain itu justru terangkat untuk menarik ujung baju Ohyul. Jemarinya yang lain ikut menyusuri tangan Ohyul yang mulai dibasahi peluh akibat panas panggung dan riuh kalapan yang tak kunjung mereda.

Ohyul menepisnya pelan sambil mundur selangkah demi selangkah, berusaha tetap tenang di tengah sorakan penonton yang mulai menggoda suasana.

Namun dari kejauhan Ryul melihat semuanya. Detik itu juga — kepalanya menoleh perlahan. Tubuhnya yang semula tenang kini mulai menegang. Nafasnya berubah berat, dada telanjangnya naik turun lebih kasar dari sebelumnya sementara tatapannya kosong namun penuh emosi mentah yang mendominasi sekitarnya.

Ohyul sadar dengan tatapan yang siap membunuhnya, ia menoleh dan mendapati Ryul yang menatap ke arah pemain sebelumnya.

Oh, tidak…

Ryul berdiri. Melangkah dengan berat menuju ke arah pemain yang sempat memegang ‘Ohyul’-nya. Aura panggung langsung berubah. Pemain yang sempat berdiri dan menari kini mulai menatap balik Ryul yang mulai berdiri. Menyadari ada ‘sesuatu’ lain yang datang menghampiri. Dalam sekejap, mendadak suasana berubah menjadi ajang adu tekanan.

Beradu tatap.

Beradu tenaga.

Ryul masih setengah kesurupan, tapi emosinya sudah meluap mentah hingga gerakannya mulai tampak tak terkendalikan. Bahunya bergerak naik turun bersama dengan nafasnya yang memburu, rahangnya mengeras hingga urat lehernya samar terlihat dan tatapannya tidak lepas dari pemain yang berani menyentuh Ohyul tadi.

Tapi bukannya menghindar atau mundur, pemain yang kesurupan itu justru semakin berani melangkah maju. Menantang indang mana pun yang memenuhi tubuh Ryul. Terlihat para penjaga dan pawang mulai panik, tak ada yang berani memisahkan Ryul yang kesetanan. Dan kini terlihat jelas, tinggal selangkah lagi untuk keduanya saling melempar pukulan.

Ryul nyaris menyeruduk maju. Mulutnya penuh dengan dupa yang diambil asal dari wadah sajen yang disediakan, dikunyah kasar di sela napasnya yang mulai berat. Serpihan hitamnya menempel di bibir dan lidah, aroma tajamnya mulai tercium dari jarak dekat. Membuat suasana semakin pekat.

Tatapannya kosong, liar. Sementara rahangnya bergerak pelan mengunyah dupa, seolah menahan sesuatu dalam dirinya. Aura yang dipancarkan lebih seram dari sebuah kalapan. Pemain yang kesurupan di depannya tak kunjung mundur, justru menatap lurus dengan senyum aneh yang membuat atmosfer panggung lebih seiring berjalan waktu.

Hingga saat jarak keduanya mulai menyempit.

“RYUL!” Ohyul langsung masuk diantara mereka sebelum mereka benar — benar bertabrakan.

Tangannya mendorong dada Ryul untuk mundur dan menjauh dari lawannya. Ohyul memaksa Ryul untuk fokus kepadanya. Ryul masih gemetar hebat, napasnya memburu panas, matanya liar seolah masih ingin mengahncurkan pemain itu dengan dupa yang masih dikunyah di dalam muulutnya.

Tangan Ohyul langsung mencengkeram rahang Ryul. “Lepas!”

Ryul menolak. Kepalanya berpaling menjauh sembari bernafas berat dari hidungnya.

“Ryul.” Ohyul mendekat mengikuti arah kepala Ryul. Jarinyanya menyentuh bibir Ryul yang masih mengigit dupa.

“Lepas, Ryul.”

Beberapa detik Ryul masih keras kepala, rahangnya tegang seolah emosinya masih berada di ujung kepala dan enggan untuk turun. Sampai akhirnya dupa itu berhasil ditarik keluar dari mulutnya oleh Ohyul.

Ryul mengeluarkan nafasnya kasar begitu dupa itu lepas dari mulutnya, sementara Ohyul langsung membuang dupa itu ke samping panggung. Detik setelahnya — dahi mereka bertemu dan menghantam cukup keras satu sama lain.

“Ryul. Hei.” Tangan Ohyul beralih menangkup rahang keras Ryul. Namun Ryul masih diam dengan nafas memburu dan mata terpejam.

“Liat aku.”

Nafas Ryul menabrak wajah Ohyul, rasanya panas, berat dan tidak stabil. Tangannya masih kaku disisi badannya.

“Udah,” bisik Ohyul pelan. “Aku di sini.”

Perlahan, bahu Ryul mulai turun. Tatapannya liar yang sempat terpejam kini mulai terfokus kembali kepada satu titik, Ohyul. Untuk beberapa detik di tengah suara gamelan dan penonton yang masih bersorak — dunia Ryul hanya pada Ohyul.

Setelah tekanan panas diatas panggung, Ryul ditarik turun ke belakang panggung. Badannya masih gemetar. Masih setengah sadar di tengah riuh gamelan yang masih terdengar. Ohyul mengikuti untuk turun ke belakang panggung dan masuk ke kamar yang telah disediakan, tirai belakangnya ditarik untuk tertutup sebelum yang lain ikut terlalu jauh.

Baru saja Ohyul berbalik, tubuhnya sudah ditarik dengan kasar oleh Ryul untuk dibawa ke dalam pelukannya. Lengan Ryul melingkar kuat di pinggangnya, menahan tubuh Ohyul rapat seolah takut lelaki itu ikut lepas dari genggamannya. Nafasnya memburu masih terasa panas di leher Ohyul.

“Ryul — ”

“Aku kesel.” Ucapannya dipotong oleh Ryul.

Suara Ryul terdengar rendah dan serak, terpotong napas beratnya sendiri. Tubuhnya masih terasa panas dan basah oleh keringat, dada telanjangnya menempel lengket di pakaian hitam Ohyul sampai aroma peluh, asap menyan, dan bunga kenanga bercampur jadi satu di ruangan sempit itu.

Tangan Ohyul dibawa untuk mengelus surai lepek Ryul. Helaiannya lembap dan sedikit kusut akibat trance dan gerakan liar pada pertunjukan tadi. “Iya aku tau.”

Ryul hanya diam, namun berat badannya justru semakin dilepaskan ke tubuh Ohyul yang mulai terhuyung ke belakang, tak kuat menahan badan bongsor Ryul yang sedang memeluknya. Nafasnya masih terasa berat dengan punggung yang mulai naik turun dengan ritme pelan. Seolah seluruh tenaga yang tadi dipakai buat ngamuk di panggung akhirnya runtuh begitu ketemu Ohyul.

Hening beberapa detik itu membuat Ohyul sedikit tak nyaman, wajah Ryul ditangkup untuk kemudian diangkat. Tatapan mereka bertemu. Ohyul yang menatap penuh kelembutan kepada Ryul, begitu pula Ryul yang menatap dengan mata memerah, amarahnya belum sepenuhnya turun. Keringat di pelipis dan lehernya terus turun perlahan membasahi kulitnya masih mengkilap.

“Tadi dia megang kamu.”

Nada suara Ryul terdengar pelan, tapi cukup untuk membuat Ohyul hampir melepaskan gelak tawanya. “Kamu kesurupan dua kali gara-gara itu?”

Bukan jawaban, namun Ryul mulai menatapnya lebih dalam dan lekat. Terlalu dekat, hingga tangan Ryul menyelip cepat di antara tengkuk Ohyul dan menariknya ke dalam sebuah ciuman kasar yang ter selipkan amarah. Ryul mencium Ohyul seperti orang yang masih setengah kesetanan — emosional, tergesa, dan terlalu haus untuk benar-benar pelan. Bahkan di sela ciuman itu, dadanya masih naik turun keras seperti tubuhnya belum selesai bertarung beberapa menit lalu. Kepala Ohyul sedikit terdorong ke belakang karena kuatnya tekanan Ryul, mungkin akan limbung jika tangan kasar Ryul tidak menahan pinggang dan tengkuknya.

Tangan Ohyul terangkat untuk meremat bahu tebal Ryul yang masih dibalut peluh. Kulit lelaki itu panas dan basah oleh keringat, otot bahunya masih tegang keras di bawah telapak tangannya. Bau keringat Ryul bercampur asap kemenyan dan bunga kenanga memenuhi jarak sempit di antara mereka. Pekat, hangat dan memabukkan.

Ohyul bahkan masih bisa merasakan sisa rasa dupa dan bunga kenanga yang sempat dikunyah Ryul beberapa menit lalu — pahit, hangat, bercampur aroma keringat dan asap panggung yang masih menempel di napasnya.

Napas Ryul memburu di sela ciuman itu, besar dan berat sampai dadanya yang lengket dengan keringat terus bergesekan dengan tubuh Ohyul. Tangannya mencengkeram pinggang Ohyul kuat, nyaris melukainya. Seolah memastikan lelaki itu benar — benar ada di depannya dan hanya dia yang dapat memilikinya

Telapak tangan Ohyul bisa merasakan otot punggung Ryul yang masih menegang di bawah kulit lembapnya. Peluh membuat sentuhan itu terasa licin dan panas, sementara tubuh Ryul sesekali masih bergetar kecil sisa emosi yang belum benar — benar turun. Lalu perlahan telapak tangannya naik sampai tengkuk, lalu menyelip ke rambut Ryul yang juga basah kuyup. Jemarinya menyisir perlahan ke belakang, mencoba menenangkan Ryul sedikit demi sedikit.

“Udah…” bisik Ohyul pelan di depan mulut Ryul sesaat ciuman mereka terlepas.

Namun wajah Ryul kembali maju, enggan melepas tautan itu. Ohyul seketika memundurkan wajahnya, lalu menggesekkan hidung mereka perlahan. Bibir Ryul nyaris menyentuh bibir memerah Ohyul sekali lagi sebelum akhirnya Ohyul buru — buru menahan dada bidang lelaki itu.

“Hei…” Ryul masih memaksa untuk mendekatkan wajahnya kembali. Tatapannya berat dengan setengah sadar. Ohyul sampai harus menahan rahang Ryul pelan agar lelaki itu berhenti mencium dia lagi.

“Ryul.” Suaranya merendah dan lebih lembut. “Tenang dulu.”

Napas Ryul jatuh panas di wajahnya. Tangannya masih melingkar erat di pinggang Ohyul, seolah belum rela melepas barang sedetik pun. Ohyul mengusap pelan rambut Ryul yang basah kuyup ke belakang, jemarinya sedikit tersangkut pada helaian rambut itu sebelum akhirnya terlepas dari helaian rambut lembap yang lengket oleh keringat dan asap kemenyan.

“Kita masih harus tampil.”

Di luar tirai, suara gamelan masih menggema tanpa peduli dunia mereka nyaris runtuh beberapa menit lalu. Pertunjukan masih berjalan. Penonton masih bersorak. Dan mereka masih harus kembali ke panggung seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

Ryul memejamkan mata sebentar lalu mengeluarkan dengusan nafas kasar dari hidungnya, dahinya jatuh lagi ke bahu Ohyul dengan frustrasi kecil yang membuat Ohyul terkikik pelan.


메타데이터
post_id
573dc03d9948
slug
panas-dupa-573dc03d9948
url
https://medium.com/@amoreosen/panas-dupa-573dc03d9948
canonical_url
https://medium.com/@amoreosen/panas-dupa-573dc03d9948
author_url
https://medium.com/@amoreosen
status
ok
fetched_at
2026-07-18 02:47:26