← Back to list

Outsourcing Otak

Teknologi yang mencegah otak kita untuk belajar berpikir

Wima S.Y in Berbagi & Berdampak · 2026-05-24 04:50 · 310 claps · 4.6 min read
#bahasa-indonesia #berpikir #kecerdasan-buatan #refleksi #berbagi-dan-berdampak
Open on Medium ↗

Outsourcing Otak

Teknologi yang mencegah otak kita untuk belajar berpikir

Photo by Belinda Fewings on Unsplash

Photo by Belinda Fewings on Unsplash

Sering saya dengar orang-orang di sekitar dengan gampang bilang :

“Googling saja”, “tanya ChatGPT saja” atau “Buat apa diingat, tinggal tanya Google atau Chatgpt.”

Memang pernyataan itu tidak salah, tapi buat saya itu adalah pemahaman yang keliru mengenai bagaimana otak bekerja untuk mengingat sesuatu, dan menurut saya, cepat atau lambat itu akan mengurangi kemampuan otak untuk berpikir.

Teknologi yang seharusnya membuat kita cerdas, sebenarnya justru mencegah otak kita untuk belajar berpikir.

Sekarang ini, ada kecenderungan terjadi penurunan performa kognitif dan beberapa studi menyimpulkan, ini terjadi lebih banyak karena pengaruh eksternal, yang artinya disebabkan oleh apa yang manusia lakukan.

Otak manusia terdiri atas milyaran neuron. Dan bekerja dengan membuat interkoneksi antar neuron-neuron. Perpustakaan pengetahuan dibuat dengan membuat interkoneksi antar neuoron. Baik interkoneksi baru, atau memperkuat interkoneksi yang sudah ada.

Ketika manusia belajar sesuatu yang baru, otak akan membuat interkoneksi baru. Itu sebabnya ketika pertama kali belajar sesuatu, terasa sulit, dan kita akan berpikir bagaimana melakukan langkah demi langkah.

Biasanya proses itu akan tidak sempurna, lambat, dan menghabiskan energi.

Namun setelah belajar berulang kali, hubungan antar neuron tersebut akan semakin kuat, dan proses melakukan sesuatu akan menjadi lebih mudah, efisien, dan tanpa perlu dipikirkan lagi.

Seseorang yang belajar gitar atau piano, akan selalu berpikir bagaimana penempatan jari-jari sesuai dengan pola yang ada. Namun, setelah berlatih berulang-ulang, penempatan jari akan secara otomatis.

Ketika pertama kali belajar, manusia menggunakan memori kerja, atau sistem kognitif yang menyimpan informasi untuk proses pemahaman, pembelajaran, kreativitas dan pemecahan masalah.

Memori kerja ini akan memproses informasi yang baru dan menghubungkan dengan informasi yang sudah disimpan sebelumnya pada bagian ingatan jangka panjang. Ingatan jangka panjang ini digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Memori kerja ini menghabiskan banyak energi, sedangkan ingatan jangka panjang tidak, bekerja seperti otomatis.

Berpikir juga sama. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, seperti konsep konsep matematika, fisika atau lainnya. Otak akan membuat hubungan-hubungan baru pada memori kerja.

Untuk kemudian disimpan di memori jangka panjang, dengan tujuan ingatan ingatan tersebut akan menjadi semacam perpustakaan yang bisa di akses kapan saja.

Jadi kita bisa menggunakan memori kerja untuk keperluan lain seperti memecahkan masalah dan proses kreatif.

Namun sekarang ini, proses untuk belajar berpikir, banyak diambil alih, atau bahkan lebih kasarnya, kita menyerahkan proses berpikir kita kepada mesin pencari, dan AI model bahasa besar.

Kita terjebak pada pengetahuan semu, tahu tentang sesuatu, tapi tidak sampai pada memahami sesuatu.

Kita bertanya kepada Google, atau Chatgpt tentang cara bermain gitar, tentang kunci nada pada gitar dan kita tahu posisi jari kita, tapi kita tidak memahami bagaimana cara memainkan gitar. Karena itu tidak ada pada sistem ingatan kita.

Ingatan kita bergantung pada sebuah alat, entah itu hp, laptop, atau apapun. Kita tidak memahami sesuatu, kita hanya menyewa informasi saja. Kita bisa melihat informasi, tanpa tahu bagaimana informasi itu bekerja.

Potongan-potongan informasi yang didapatkan secara instan, tidak akan berguna ketika dihadapkan kepada masalah yang menuntut kemampuan memecahkan masalah yang membutuhkan kreatifitas, analisa, dan sintesis.

Menyerahkan proses berpikir kepada mesin pencari dan AI, sudah merusak atau mengurangi kemampuan otak untuk berpikir.

Otak punya kemampuan otomatis, refleks, atau bekerja tanpa berpikir. Daniel Kahneman pada buku “Thinking, Fast and Slow” menyebut ini sebagai Sistem 1. Tujuan kemampuan ini adalah untuk mengurangi penggunaan energi.

Otak adalah organ manusia yang sangat boros energi. Berpikir akan sangat menghabiskan energi. Kemampuan otomatis ini bertujuan untuk menghemat energi.

Membaca tulisan, menggunakan kemampuan ini. Kita tidak perlu lagi menganalisis huruf satu persatu untuk membaca.

Sistem otomatis ini belajar dengan cara mengulangi sesuatu puluhan sampai ratusan kali, hingga menjadi otomatis. Jika kita menyerahkan kemampuan seperti menghitung, menghafal rumus, atau mengingat hal-hal kecil, kepada mesin pencari, otak kita tidak pernah membangun sistem otomatisnya.

Otak juga belajar ketika kita melakukan kesalahan. Proses belajar sebenarnya adalah proses penyesuaian antara keluaran dan hasil yang diharapkan. Ada bagian otak yang memprediksi hasil ketika dihadapkan pada suatu masalah.

Seorang pemain basket yang terlatih, akan mampu memprediksi apakah lemparannya masuk atau tidak. Otaknya akan memerintahkan otot-otot di tangannya dengan ukuran tertentu berdasarkan informasi dari mata, telinga dan indera lain, hingga akhirnya bola tersebut mengenai sasarannya.

Beberapa orang mampu memprediksi hasil dengan akurat ketika mendapatkan persoalan matematis. Bukan karena mereka punya kemampuan supranatural, tapi otaknya sudah terlatih untuk memprediksi dari pola persoalan tersebut.

Kemampuan ini tidak akan didapat ketika kita terbiasa menyerahkan sebuah persoalan kepada mesin. Kemampuan otak untuk memprediksi hasil akan tumpul, jika kita terbiasa menghitung dengan kalkulator, atau bahkan mesin pencari dan AI.

Otak kita tidak tahu mana hasil yang benar atau salah, karena tidak ada informasi mengenai itu. Kita melewatkan proses belajar untuk otak kita.

Model kecerdasan buatan bahasa besar atau large language model menurut sebagian orang adalah bentuk pengetahuan baru. Orang-orang berlomba untuk mempelajari prompt engineering. Sampai sampai, ada sebuah perguruan tinggi membuka jurusan tentang prompt engineering.

Mereka dilatih untuk menjadi pengguna AI, bukan pembuat atau pencipta AI. Mereka dilatih untuk berada di satu sisi AI, yaitu pengguna produk.

Entah apakah ini adalah penyebab menurunnya kemampuan kognitif pada manusia generasi baru.

Sebab wawasan, pemahaman, kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah muncul dari khazanah pengetahuan yang ada pada sistem neuron otak.

Tanpa dasar pengetahuan yang cukup, penggunaan AI hanya sekedar perintah masukan keluaran saja.

Itu perlahan membuat manusia belajar untuk kehilangan kemampuan untuk adaptasi, memecahkan masalah ketika dihadapkan pada situasi krisis.

Lalu bagaimana memperbaikinya ? Berikut cara saya :

Melatih kembali otak membantu membentuk hubungan antar neuron-neuron. Belajar kembali untuk mengingat sesuatu. Tujuan utama bukan untuk sekedar mengingat, tapi untuk mengingat untuk berpikir.

Banyak metode untuk ini. Salah satu yang saya lakukan adalah dengan mencatat hal-hal yang menarik, dari apa yang saya baca, lihat, dan dengar, kemudian menghubungkan catatan-catatn tersebut.

Ini melatih pikiran saya untuk memanggil kembali ingatan informasi, dalam usaha untuk membentuk pengetahuan.

Saya tidak anti AI, latar belakang pendidikan saya belajar mengenai teori-teori AI, dan saya menggunakan AI sebagai tools untuk membantu pekerjaan, supaya saya punya waktu banyak untuk melakukan kegiatan diluar pekerjaan utama. AI berfungsi sebagai komplemen.

AI harus digunakan sebagai alat yang memperkuat kemampuan kita berpikir, bukan sebaliknya.

Fakta bahwa ada penurunan kemampuan kognitif tidak bisa di hindari sebagai efek kolateral tekonologi. Bahwa kita lebih suka jawaban instan, dibanding mencari pengetahuan yang mendalam.

Sama seperti otot, yang akan melemah jika tidak pernah dipakai, kemampuan otak juga akan melemah ketika tidak pernah dipakai.

Setiap kali ada ketidaktahuan terhadap suatu informasi atau pengetahuan, kita tetap bisa memilih.

Apakah kita menghendaki jawaban instan dari mesin pencari atau AI yang cepat hilang, atau kita memilih untuk mempelajari dan mengekplorasi lebih jauh untuk jangka panjang.

Pilihan pertama terlihat mudah, cepat, efisien tapi cepat hilang dan berdampak besar. Pilihan kedua terasa sulit, tapi pengetahuannya bisa digunakan untuk secara kreatif memecahkan masalah dan banyak hal lain dalam hidup.

Sejak masa pemburu pengumpul, manusia cenderung memilih hal yang mudah. Itu adalah naluri bertahan hidup. Dan ketika itu terjadi, otak memberikan hadiah berupa rasa puas.

Ketika kita memilih pilihan pertama, pada saat itu dopamin akan mengalir. Dan manusia merasakan kepuasan dan merayakan keberhasilan semu.


메타데이터
post_id
575bbf5762d2
slug
outsourcing-otak-575bbf5762d2
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/outsourcing-otak-575bbf5762d2
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/outsourcing-otak-575bbf5762d2
author_url
https://medium.com/@wimasy
status
ok
fetched_at
2026-07-20 18:44:07