Bromo; Kali Pertama Dibayar untuk Jalan-jalan
Semakin kesini, menulis semakin terasa berat.
Bromo; Kali Pertama Dibayar untuk Jalan-jalan

Pemandangan lautan pasir Bromo. (Dokumentasi Penulis.)
Semakin kesini, menulis semakin terasa berat.
Saya kira, setelah rutin menulis dalam rentang waktu tertentu, saya tidak akan mengalami kesulitan menulis. Toh objek yang saya tulis bukan tulisan dengan syarat kualitas dan format tertentu, ia tulisan bebas sepenangkapan pikiran saat melamun.
Nyatanya tidak. Lalu saya memutuskan mengikuti kelas menulis.
Saya kira, dengan begitu saya punya bekal untuk mengudar kerumitan-kerumitan dalam perjalanan menulis. Nyatanya, tidak.
Memang banyak bekal diberikan dan kulahap, alih-alih membantu malah membebani. Membuat saya keberatan muatan. Dan akhirnya mogok.
Ya sudahlah, saya meletakkan “segelas air mineral”* tentang menulis. Mungkin sudah terlalu lama saya memegang gelas itu.
Belum sampai sebulan “segelas air mineral” itu saya simpan, dorongan menulis datang. Ia datang sebagai seorang kawan yang mengetuk pintu rumah. Mana mungkin saya tidak membukakan pintu. Saat pintu terbuka, baru saya tahu tidak hanya satu kawan, sekawanan kawan yang ingin masuk. Sebelum masuk, salah satu yang mengaku wakil mereka mengutarakan maksud kedatangan mereka. Mereka datang untuk mendengar ceritaku yang kusampaikan lewat tulisan.
Kukatakan, ceritaku payah. Hanya akan membuang waktu dan mengecewakan mereka. Namun, mereka tetap mengharapkan cerita itu. Pun tidak menuntut saya untuk bercerita setiap hari. Seinginnya, namanya juga tamu, tak mungkin memaksa tuan rumah.
Akhirnya, saya menyiapkan beberapa cerita untuk saya ceritakan beberapa hari ke depan.
.
Yap. Saya sedang mengimajinasikan pembaca/penyimak tulisanku. Dan inilah cerita keduaku, kali pertama saya dibayar untuk jalan-jalan.

Titik menikmati sunrise yang masih alami. Kini sudah banyak bangunan beton di area itu. (Dokumentasi Penulis)
Kampus tempatku belajar, punya program magang untuk mahasiswa. Magang dalam artian kerja part time, yang mendapatkan “gaji” berupa tambahan uang saku. Program yang sangat saya apresiasi.
Ada beberapa pilihan sesuai minat mahasiswa dan disesuaikan dengan kebutuhan kampus. Minat organisasi bisa bergabung di Badan Administrasi Kemahasiswaan (BAK), tempat arus informasi kegiatan mahasiswa berputar. Internal maupun eksternal. Eksternal misalnya informasi seminar, lomba karya literasi, informasi beasiswa dll. Magang di sini, berarti jadi orang pertama yang membaca informasi itu. Menerima dokumen. Ngefile surat menyurat. Menempel poster di Mading. Dan beberapa pekerjaan lainnya.
Minat buku; perpustakaan. “Ya begitulah kegiatan di perpustakaan.” pikir saya waktu ditawari magang di sana. Setelah magang beneran, baru tahu, masuk ke perpustakaan sebagai pembaca dan masuk ke perpustakaan sebagai pustakawan (yang magang) itu beda. Bergerak dalam diam dan tenang, tak pernah ada rasa bosan tinggal di dalamnya. Dan mikir gimana caranya agar orang mau berkunjung, betah, dan tidak mengganggu pengunjung lain.
Minat penelitian; litbang.
Minat Bahasa/pengajaran; prodi bahasa. Di sini bentuk kerjanya beragam. Surat menyurat, buka tutup ruang kelas, bantu panitia saat ada kegiatan, antar jemput guru native ke bandara, membantu mereka adaptasi awal kehidupan di surabaya, menemani mereka jalan-jalan, seperti yang akan saya ceritakan di sini.
Saya salah satu mahasiswa magang itu. Penempatan di prodi bahasa. Sesuai minat yang ingin saya kembangkan.
.
Menjelang suatu libur semesteran, saya dipanggil menghadap dekan. Beliau menugasi saya untuk menemani 5 orang dosen native magang jalan-jalan ke Bromo. Mereka adalah 5 mahasiswi jurusan pengajaran bahasa mandarin untuk orang asing dari China. Selama 6 bulan tinggal di Surabaya untuk praktek mengajar. Ada yang mengajar di kampus, salah satunya di kelas saya. Ada yang di SMA.
“Kamu pernah ke Bromo?”
“Pernah Bu.”
“Besok temani mereka ke Bromo. Mobil dan sopir sudah diatur. Ini uang bensin dan uang saku.”
“Baik.”
.
Kegiatan ke Bromo ini bukan kali pertama bagi saya berkegiatan bersama kelima mahasiswi itu. Kami sudah sering berkegiatan bersama; jalan-jalan ke mall, masak bareng untuk saling tukar masakan, saling belajar, mereka belajar bahasa Indonesia, saya belajar bahasa Mandarin.
Saya kira, dibanding di dalam kelas, sering-sering ngobrol dengan para native tsb di luar kelas, jadi booster lebih efektif yang semakin mempercepat dan memperlancar kemampuan bicara dalam bahasa Mandarin.
Dari sisi mereka, belajar bahasa Indonesia itu seperti kewajiban. Sebagai mahasiswa jurusan pengajaran bahasa mandarin untuk orang asing, semua mahasiswa satu angkatan akan disebar ke penjuru dunia tergantung pilihan masing-masing. Mereka hidup di sana dalam beberapa bulan. Saat kembali lagi ke kampus untuk tugas akhir, atau wisuda, ada semacam ajang pamer kemampuan bahasa dari negara yang telah mereka kunjungi.
Jadi kesempatan ngobrol dengan mereka mudah saya dapatkan. Di kelas, tempat makan, bersepeda/olahraga di kampus. Ngobrol itu menjadi hubungan simbiosis mutualisme.
Nah, jalan-jalan ke Bromo tentu saja membuat mereka riang gembira. Tentu saya juga.
Di perjalanan, apa yang terlihat mata menjadi bahan obrolan.
Saat melewati bundaran Institut Sepuluh November misalnya, kami ngomongin sejarah para pahlawan. Kenapa Surabaya dijuluki kota pahlawan.
Melihat baliho Antangin, mereka cerita, katanya di China mudah menjumpai mahasiswa/umum mengonsumsinya. Selain indomie untuk kalangan mahasiswa tentunya.
Jalan-jalan ke Bromo, jadi ngomongin wisata di China seperti apa. Sepanjang perjalanan itu, kami tak sulit menemukan topik obrolan.
Persiapan
Tidak ada kerepotan persiapan. Mereka mahasiswa yang tidak ribet. Dengan penjelasan singkat tentang profil Bromo, mereka sudah bisa menyiapkan apa yang perlu dibawa. Baju, makanan, obat. dll.
Saya hanya mengingatkan satu hal sebelum berangkat.
“Kamera tidak ketinggalan?”
“Ohhh tentu tidak. Itu yang utama.” Teriak mereka serentak. Saat itu awal-awal booming Hp blackbarry. Hanya sedikit orang yang mempunyai hp dengan kamera yang bagus. Kamera saku adalah pilihan.
23.00 WIB, kami berangkat dari Surabaya. Tiba pos wonokitri kisaran jam 02.00. Langsung menuju titik lokasi melihat sunrise. Naik kuda ke lautan pasir. Foto-foto. Naik tangga menengok kawah. Foto-foto Turun. Makan pulang. Menjelang sore, sudah tiba di Surabaya.

Peace. Ga perlu berkelahi demi spot foto. (Dokumentasi Penulis)
Kesan perjalanan
Sebenarnya tidak ada sumbangsih saya dalam perjalanan wisata satu hari itu. Semua sudah diatur sedemikian rupa.
Mereka senang, tentu saja. Mereka sudah senang dengan atau tanpa saya. Cuma lebih merasa aman dan seru saja karena ada orang lokal yang menemani.
Selama bersama mereka, tidak ada kendala berarti. Tidak ada tuntutan dari mereka. Mungkin karena sudah kenal, akrab, dan guru sendiri. Semua berjalan lancar. Eh kecuali satu hal, mereka enggan pulang. Setelah sopir 3–4 kali memberi kode, barulah mereka bersedia pulang.
Untuk berwisata ke Bromo, ada banyak cara. Ada travel yang semakin kompetitif memberikan pengalaman. Ada bus Damri jurusan Surabaya-Bromo. Sepertinya lebih seru. Ada yang sudah pernah coba?
.
Perjalanan ke Bromo itu adalah pertama kalinya saya dibayar untuk jalan-jalan. Pada kali kedua, ketiga dan seterusnya, baru saya sadar, jalan-jalan yang dibayar itu namanya kerja.
Karena kata “kerja” itu, kenikmatan jalan-jalan tereduksi. Bukan karena tanggung jawabnya, tapi karena ada potongan pph di akhir bulan, yang semakin kesini besaran persentasenya semakin membengkak.
Ngurusi enggak, njaluuukkk ae. Hah!
.
Note:
“Menaruh gelas”: beban ringan dan sepele yang membebani karena saking lamanya dipegang. Baca tulisan Pak Rudi berjudul [Sudah Berapa Lama Kamu Membawa Tas Punggungmu itu?](https://medium.com/komunitas-blogger-m/sudah-berapa-lama-kamu-membawa-tas-punggungmu-itu-f1d4025af0df)* bila tertarik tahu lebih lanjut.
메타데이터
- post_id
- 57bc19b68b3c
- slug
- bromo-kali-pertama-dibayar-untuk-jalan-jalan-57bc19b68b3c
- url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron/bromo-kali-pertama-dibayar-untuk-jalan-jalan-57bc19b68b3c
- canonical_url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron/bromo-kali-pertama-dibayar-untuk-jalan-jalan-57bc19b68b3c
- author_url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 03:48:11