Luntah Luntuh: Sepertiga Jalan
Berbagai lara telah ku tahan, berbagai ikhtiar telah ku langitkan pada-Nya; merindu untuk terlelap pulas— arah Pencipta.
Luntah Luntuh: Sepertiga Jalan
Berbagai lara telah ku tahan, berbagai ikhtiar telah ku langitkan pada-Nya; merindu terlelap pulas — arah Pencipta.

Barangkali ada raga yang dipaksa menandu menara adiguna — di kala retakan meruah nan abadi akan kilasan yang kian ringkih.
Sejatinya, raga ini telah lama mati; tiada satupun insan yang kian memandu — namun yang tersisa hanya raga yang luruh nan luntah luntuh di sepertiga jalan.
Tiada kala pula raga ini berhenti berteriak — menahan lara akan terjalnya jalan yang sedang diusahakan di kehidupan sekali ini; batas kedua puluh — tiada lagi menumpu.
Maka, biarlah raga ini terhenti; sebab berbagai lelah telah ku tempuh, berbagai lara telah ku tahan—berbagai hal lain pun telah ku usahakan sedemikian rupa.
”Apa yang sebenarnya daku cari selama ini, Tuhan? Berbagai ikhtiar telah ku langitkan pada-Mu, apakah setelahnya akan terbayar tuntas pula? Ataukah… segalanya hanya akan menjadi angan-angan semu dalam hidupku?”
tanyaku disepertiga malam; mendiami liang lahat di malam pertama.
메타데이터
- post_id
- 57d86b52031f
- slug
- luntah-luntuh-sepertiga-jalan-57d86b52031f
- url
- https://medium.com/@rrakhz/luntah-luntuh-sepertiga-jalan-57d86b52031f
- canonical_url
- https://medium.com/@rrakhz/luntah-luntuh-sepertiga-jalan-57d86b52031f
- author_url
- https://medium.com/@rrakhz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 21:11:36