Menutup Rasa Kantuk dengan Tertawa Selama Lima Detik
03; Untuk Dia, Sang Pemandu Acara
Menutup Rasa Kantuk dengan Tertawa Selama Lima Detik
A Kim Dohoon TWS Alternative Universe

https://i.pinimg.com/1200x/5d/30/f7/5d30f7d007471b1ce5a7b0a57c0b562f.jpg
Juni masih merasa aneh dengan Jenggala. Malam setelah bertemu Kak Keandra, Juni membuka laptopnya untuk mencari informasi yang lebih lengkap tentang Jenggala Alastar Radengga.
Juni juga menoton potongan-potongan klip film yang Jenggala perankan. Menurutnya, Jenggala sangat bagus dalam berakting, Jenggala menguasai. Namun, kenapa nama Jenggala tidak pernah terdengar ke telinga Juni?
Juni mengingat perkataan Kak Keandra tadi;
“Jenggala memiliki sisi yang akan membuat kamu terkejut, Juni. Sangat berbeda dari semua kesan yang ada di pikiranmu.”
Apa yang berbeda? Tidak mungkin, masa karena bertemu perempuan, sikap Jenggala menjadi berbeda. Juni tidak punya alasan khusus untuk mencari tahu tentang Jenggala. Dia hanya ingin tahu dan membayangkan, bagaimana Jenggala bekerja nanti.
Tiba-tiba, sebuah pesan pada laptop Juni, dari pak produser. Pak produser mengirim file berisi pertanyaan dan skrip percakapan antara Juni dan Jenggala nantinya. File itu juga dilengkapi dengan indentitas dan informasi menarik mengenai narasumber.
Juni mengirim ucapan terima kasih pada pak produser. Lalu, dia membaca skrip percakapan dirinya dan Jenggala. Juni tidak benar-benar membaca, dia hanya melihat lama. Tak lama, sebuah ide datang padanya.
Dengan cekatan, Juni mengambil poneselnya, mengirim file itu ke kontak Jenggala. Dia juga mengirim pesan;
Besok kamu ada jadwal? Kalau ada waktu kosong, kita ketemuan di kafe ( terserah di mana saja, asalkan bukan di Paris). Dari kiriman file tadi, aku yakin kamu mengerti tujuanku.
Juni mematikan ponsel dan laptopnya, dia mengira Jenggala sudah tidur. Jadi Juni biarkan dia membalas di pagi hari nanti. Baru menutup tubuh dengan selimut, ponsel sudah berbunyi, menandakan ada notifikasi.
Juni bangun dari kasur, berpindah posisi menjadi duduk. Lalu membuka ponsel. Oh, ternyata balasan dari Jenggala.
Kamu belum tidur?
Hah? Dari sekian jawaban yang bisa dikirim, dia mengetik itu?
Belum, kenapa, Je?
Besok aku enggak ada jadwal. Enggak usah kepedean aku ajak kamu ke kafe di Paris ( tahu kata mahal, kan?) Besok pagi aku kirim lokasinya. Aku mengerti tujuan kamu. Oke? Tidur, Juni. Udah tengah malam.
Juni membulatkan matanya dan mulut sedikit terbuka. Serius ini Jenggala? Kok kayak…manis banget?
Oke, kamu juga tidur.
Dan yap, hanya di baca oleh Jenggala. Tidak apa, Juni juga tidak mau memperpanjang percakapan mereka. Juni mematikan ponselnya, lalu tidur pulas sesuai rencana.
Oh… sisi ini yang dimaksud Kak Keandra?
Juni bangun pagi-pagi sekali, entah karena apa. Dia sedang tidak ada jadwal, istirahat dari syuting film sebentar. Juni mengecek ponselnya, ada banyak pesan dari Jenggala.
Location.
Itu tempatnya. Mau jam berapa?
Juni senyum, keciiil sekali hingga tak terlihat. Namun, senyuman langsung dia hilangkan. Jenggala menepati perkataannya. Jari-jarinya sibuk membalas pesan Jenggala.
Boleh. Jam 11, boleh?
Boleh, kok.
Ya, hanya itu balasannya. Tapi Juni tidak mempermasalahkan itu. Juni malah berusaha untuk cuek tapi tetap sopan. Eh, memang bisa?
“Halo,” sapa Juni ketika sudah di kafe pilihan Jenggala.
Jenggala yang sedang sibuk dengan tabletnya pun menoleh, ke sumber suara. Lalu tersenyum dan membungkuk sopan. Laki-laki itu berpakaian rapi, tas berwarna merah dan memakai jaket berwarna hijau. Juni juga tak kalah mempesona, dirinya memakai pakaian berwarna hijau. Entah kenapa bisa senada. Dan celana kulot jins.
“Halo.”
Juni duduk di depannya dan mengeluarkan tablet. Juni ingin membuka file, namun dihentikan oleh Jenggala.
“Mau pesan minum?”
“Oh iya, boleh deh. Biar aku aja yang pes-”
“Aku aja. Aku juga mau pesan.”
“Oke, makasih ya. Aku mau barley tea.”
Jenggala mengangguk, lalu berjalan dan memesan minuman. Juni merasa aneh, ini sangat berbeda saat pertama kali mereka bertemu. Namun, Juni berusaha menghilangkan pikiran itu. Hanya memesan minuman, kenapa harus dipikirkan?
Jenggala pun datang membawa dua minuman. Barley tea pun disodorkan ke depan Juni. Jenggala meminum americano.
“Kamu suka americano?”
“Lagi mau yang pahit.”
Juni hanya mengangguk, terus menyesap teh itu. Dia menyalakan tabletnya dan membuka file dari pak produser.
“Aku ajak kamu ke sini buat edit skrip yang dikasih dari pak produser. Setiap host selalu begini biar skrip nanti bisa terasa hidup.”
“Hidup? Skrip kan benda mati,” gurau Jenggala.
“Diam dulu deh, Je.”
Jenggala diam, tapi mulutnya tidak berhenti berbicara tanpa suara. Juni hanya bisa pasrah dan melanjutkan penjelasan.
Juni menjelaskan semuanya dari A-Z. Bagaimana intonasi mereka saat berbicara, Juni memberi tahu arti dari berbagai kalimat skrip agar Jenggala bisa tidak terlihat menghapal dan natural. Jenggala hanya diam saja menyimak, kadang mengangguk, menggeleng dan meminum americano.
Selesai berbicara panjang kali lebar, Juni bertanya, “Bagaimana? Ada yang mau diimprovisasi, Je?”
Jenggala sedang menahan kantuk karena mendengar penjelasan Juni. Jenggala mengerjapkan mata beberapa kali, “Hah?”
Juni nenautkan kedua alisnya, “Kamu enggak dengar penjelasan aku, ya?”
Jenggala yang merasa dirinya berasa dalam masalah pun menggeleng, “Dengar kok. Dari aku, enggak ada yang perlu Diimprovisasi, sih.”
“Beneran, Je? Soalnya percakapan ini kayak datar banget.”
“Kalau kebanyakan improvisasi, nanti kita akan melenceng ke tujuan awal, Ju.”
“Tapi kalau enggak ada improvisasi, siniar jadi enggak seru dan tidak menarik perhatian orang, Je. Narasumber juga akan merasa bosan.”
“Skrip awal sudah bagus, Ju. Kalau kamu mau kasih improvisasi, ya sudah. Tapi, aku tidak bisa membalas improvisasi dengan baik saat syuting, gimana?”
Juni menghela napas panjang, lalu menaruh kepalanya di meja dengan kedua lengan sebagai bantalan. Dia tidak pernah seribet ini saat berdiskusi dengan Kak Keandra. Namun, Juni sadar, ini Jenggala, bukan Kak Keandra.
“Ribet banget alasannya,” gumam Juni dengan nada pasrah.
Jenggala sebenarnya tidak sepenuhnya menolak. Tapi, dia tidak terlalu bisa berimprovisasi secara spontan dan luwes.
Mendengar keluhan Juni, Jenggala tertawa lepas tanpa sadar. Rasa Kantuk dari hilang karena tawa itu. Menurut Jenggala, Juni sudah stres menghadapinya.
Jenggala tahu dirinya menyusahkan, tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin dia menunjukkan sisi mengalah, sedangkan Jenggala tidak pandai. Ternyata, berakting juga dibutuhkan nanti ketika syuting siniar, ya.
Kepala Juni terangkat, tawa lepas dari laki-laki itu masuk ke telinga. Hah, pria sok keren ini bisa tertawa? Suara tawa yang menenangkan dan senyuman yang manis. Ah, tidak-tidak. Buat apa Juni terpesona?
Jenggala tertawa selama detik, lalu suaranya mulai mereda ketika tahu Juni sedang memperhatikan. Senyumnya tak pudar.
Jenggala hanya tersenyum canggung, “Maaf, kalau menyusahkan. Tapi, beginilah seorang Jenggala Alstar Radengga.”
Ini sisi Jenggala yang dimaksud?
메타데이터
- post_id
- 58303ece33ff
- slug
- menutup-rasa-kantuk-dengan-tertawa-selama-lima-detik-58303ece33ff
- url
- https://medium.com/@kayananalmeira/menutup-rasa-kantuk-dengan-tertawa-selama-lima-detik-58303ece33ff
- canonical_url
- https://medium.com/@kayananalmeira/menutup-rasa-kantuk-dengan-tertawa-selama-lima-detik-58303ece33ff
- author_url
- https://medium.com/@kayananalmeira
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 03:48:11