Ibu Pertiwi: Pelukan Abadi dari Rahim Nusantara
Asal-usul sebutan “Ibu Pertiwi” memang tak terikat pada satu arsip sejarah yang pasti. Ia lahir dan tumbuh di lidah rakyat, berakar dari…

Ibu Pertiwi: Pelukan Abadi dari Rahim Nusantara
Ibu Pertiwi: Pelukan Abadi dari Rahim Nusantara
oleh: Wahyu Santoso ( Relawan Lingkar Literasi Intensif)
Asal-usul sebutan “Ibu Pertiwi” memang tak terikat pada satu arsip sejarah yang pasti. Ia lahir dan tumbuh di lidah rakyat, berakar dari budaya agraris yang memandang tanah sebagai ibu yang memberi kehidupan.

Ibu Pertiwi (Dewi Prithvi) Nusantara versi AI (Artificial Intelligence)
LINTAS FENOMENA, NUSANTARA —Jika di Amerika ada Paman Sam, maka di bumi Nusantara kita mengenal sosok yang jauh lebih hangat: Ibu Pertiwi. Ia bukan sekadar lambang atau metafora, melainkan jiwa yang meresap di setiap detak negeri ini—dari pucuk gunung yang berselimut kabut, lautan biru yang berdesir pelan, hingga rimba raya yang menjadi paru-paru kehidupan. Ia adalah sumber air di mata air desa, aroma tanah basah selepas hujan, dan bisikan angin yang menyapu sawah.

Donald Trump memakai setelan khas Paman Sam Amerika dibuat dengan AI dan dipertajam dengan Picsart
Namun akhir-akhir ini, tanda-tanda sakitnya sulit untuk diabaikan. Gejala itu tampak di sungai yang menghitam, udara yang mengabur oleh debu, dan samudra yang dijejali plastik. Tidak ada lagi ruang ekosistem yang benar-benar bersih: darat, air, dan udara kita semua telah tercemar, sebagai buah dari kelalaian tangan-tangan yang justru seharusnya merawatnya.
Asal-usul sebutan “Ibu Pertiwi” memang tak terikat pada satu arsip sejarah yang pasti. Ia lahir dan tumbuh di lidah rakyat, berakar dari budaya agraris yang memandang tanah sebagai ibu yang memberi kehidupan. Pada masa pergerakan nasional, panggilan ini sering hadir dalam puisi, orasi, dan nyanyian, menyulut rasa cinta pada tanah kelahiran. (Sumber: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023).
Ibu Pertiwi, sosok sakral yang mengalir dalam nadi Nusantara sejak zaman Hindu-Buddha, adalah dewi bumi yang merangkul segala kehidupan. Dari lirih bisikan angin hingga gemuruh ombak, ia hadir sebagai Dewi Prithvi yang agung, penjaga alam dan tempat bernaungnya segala makhluk. Kini, dalam setiap helaan napas Indonesia, Ibu Pertiwi bukan hanya tanah dan langit, tapi jiwa yang memupuk cinta dan kebanggaan akan tanah air tercinta. (Historia.id)
Jejak makna itu juga tertanam kuat lewat lagu ciptaan Ismail Marzuki di tahun 1953. “Ibu Pertiwi” yang ia gubah bukan hanya lagu penghibur, tetapi ratapan seorang ibu terhadap penderitaan anak-anaknya. Melodi sendu dan syairnya memeluk pendengar, seolah mengingatkan bahwa luka bangsa adalah luka ibunya. (Sumber: Arsip Musik Nasional, 2019).
Kini, ratapan itu kian lantang. Di Kalimantan, rimba raya yang dulunya hijau abadi kini terhampar gundul karena tambang dan tebang habis. Di pantai-pantai utara Jawa, air laut merangsek masuk, mencium dan menenggelamkan pemukiman. Sementara di udara, partikel halus yang tak kasatmata perlahan masuk ke paru-paru, menggerogoti kesehatan warganya.
Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa kita sedang berada di titik rawan. Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2024 mencatat, enam dari sepuluh sungai besar di Indonesia sudah masuk kategori tercemar berat. Di sisi lain, laporan World Air Quality Report 2023 menempatkan beberapa kota besar Indonesia di daftar wilayah dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara. (Sumber: KLHK, 2024; IQAir, 2023).
Fenomena ini seperti jeritan lirih yang tak terdengar, karena suara mesin dan hiruk-pikuk pembangunan menenggelamkannya. Kita lupa bahwa hutan, laut, dan udara bukan sekadar sumber daya, tetapi nadi kehidupan yang bila putus, akan memutus kita juga.
Bumi tempat kita berpijak adalah rumah yang diwariskan, bukan hanya untuk kita nikmati, tetapi juga untuk kita titipkan kembali pada generasi setelah kita. Jika rumah ini rusak, ke mana lagi anak cucu akan pulang?
Ibu Pertiwi sedang menunggu. Ia tidak menuntut banyak, hanya agar kita memperlakukan tanah ini seperti kita memperlakukan seorang ibu—dengan kasih, dengan hormat, dan dengan rasa terima kasih. Sebab di setiap hela nafas kita, di setiap tetes air yang kita minum, dan di setiap butir nasi yang kita makan, ada cinta tak bersyarat yang ia berikan.
Dan mungkin, sudah saatnya kita berhenti berpaling, lalu menatap matanya yang letih, sambil berjanji untuk merawatnya kembali.
(WSLIFE | Ahad, 10 Agustus 2025 19.06 WITA)
메타데이터
- post_id
- 58ff6430ce7c
- slug
- ibu-pertiwi-pelukan-abadi-dari-rahim-nusantara-58ff6430ce7c
- url
- https://medium.com/@life_lintasfenomena/ibu-pertiwi-pelukan-abadi-dari-rahim-nusantara-58ff6430ce7c
- canonical_url
- https://medium.com/@life_lintasfenomena/ibu-pertiwi-pelukan-abadi-dari-rahim-nusantara-58ff6430ce7c
- author_url
- https://medium.com/@life_lintasfenomena
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 02:42:08