← Back to list

The History of Western Philosophy - Empedocles

Ada momen-momen tertentu ketika membaca sebuah buku lama terasa seperti tiba-tiba disentuh oleh seseorang yang sudah lama mati bukan dengan…

Febby B. Simanjuntak · 2026-06-25 07:51 · 0 claps · 13.3 min read
#empedocles #bertrand-russell
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

The History of Western Philosophy - Empedocles

Ada momen-momen tertentu ketika membaca sebuah buku lama terasa seperti tiba-tiba disentuh oleh seseorang yang sudah lama mati bukan dengan cara yang menyeramkan, melainkan dengan cara yang membuat bulu kuduk berdiri karena ternyata orang itu memahami sesuatu yang bahkan kita sendiri belum selesai memikirkannya.

Saya mengalami momen itu ketika sampai pada Chapter VI dalam The History of Western Philosophy karya Bertrand Russell. Bab yang membahas Empedocles. Seorang filsuf dari abad ke-5 SM, dari kota Akragas di Sisilia, yang telah lama terkubur dalam catatan-catatan kuliah filsafat yang membosankan tapi yang, ternyata, jauh lebih hidup dan lebih kompleks dari yang pernah saya bayangkan.

Russell sendiri membuka pemahamannya tentang Empedocles dengan nada yang tidak biasa untuk seorang filsuf analitik seperti dirinya. Ia menyebut Empedocles sebagai “a curious mixture of philosopher, prophet, man of science, and charlatan” campuran aneh antara filsuf, nabi, ilmuwan, dan penipu. Kalimat itu menggelitik saya. Jarang sekali Russell menggunakan kata charlatan untuk seseorang yang ia dedikasikan satu bab penuh. Tapi dalam konteks ini, rasanya seperti sebuah pujian yang dibalut dalam keraguan atau mungkin keraguan yang dibalut dalam kekaguman.

Saya duduk dengan buku itu lebih lama dari biasanya. Dan semakin saya baca, semakin saya menyadari bahwa Empedocles bukan sekadar nama dalam daftar panjang filsuf pra-Sokrates yang harus dihapal untuk ujian. Ia adalah manusia yang hidupnya sendiri merupakan sebuah argumen filosofis tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup, apa yang membentuk dunia, dan pertanyaan yang bahkan hingga hari ini belum benar-benar terjawab: apakah cinta dan konflik sungguh-sungguh merupakan dua kekuatan paling fundamental di alam semesta?

Lelaki dari Akragas yang Menolak Menjadi Biasa

Untuk memahami Empedocles, kita perlu memahami konteks dari mana ia lahir. Ia hidup sekitar 490–430 SM, di kota Akragas (kini dikenal sebagai Agrigento) di Sisilia salah satu kota paling kaya dan paling berbudaya di dunia Yunani pada masa itu. Bukan pusat filsafat seperti Athena, bukan pusat kekuasaan seperti Sparta, melainkan kota perdagangan yang makmur dengan selera estetika yang tinggi. Kota yang menghasilkan bangunan-bangunan megah, kemewahan, dan rupanya juga pemikir-pemikir eksentrik.

Empedocles bukan sekadar filsuf di kota itu. Ia adalah tokoh publik, politisi demokrat, dokter, penyair, dan apa yang kita sebut hari ini mungkin sebagai seorang influencer seseorang yang cara hidupnya sendiri adalah medium dari pesannya. Russell mencatat bahwa Empedocles konon menolak tawaran untuk menjadi raja Akragas, memilih untuk tetap hidup sebagai warga biasa meski tidak ada yang benar-benar “biasa” dari cara ia menjalani hidupnya.

Ia berjalan mengelilingi kota dengan jubah ungu kerajaan dan mahkota emas di kepalanya. Ia dikelilingi oleh pengikut yang memandangnya seperti dewa. Ia mengklaim telah menyembuhkan penyakit, menghentikan angin yang merusak panen, dan ini yang paling dramatis mengklaim bahwa dirinya sendiri adalah dewa yang sedang menjalani pengasingan di bumi dalam wujud manusia fana.

Ketika pertama kali membaca deskripsi ini, reaksi awal saya adalah skeptis. Ini terdengar seperti narsis tingkat lanjut yang dibungkus dalam terminologi spiritual. Tapi Russell tidak membiarkan kita berhenti di sana. Ia memaksa kita melihat lebih dalam bahwa cara Empedocles memposisikan dirinya bukan sekadar ekspresi ego, melainkan pernyataan filosofis yang konsisten dengan seluruh sistem pemikirannya.

Dan di situlah letak keunikannya: Empedocles adalah satu-satunya filsuf pra-Sokrates yang pemikirannya tentang alam semesta dan pemikirannya tentang jiwa manusia benar-benar saling terhubung dalam satu narasi yang koheren. Filsuf-filsuf sebelumnya seperti Thales, Anaximenes, atau Heraklitus masing-masing punya teori tentang materi atau tentang jiwa, tapi jarang keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh. Empedocles melakukan keduanya secara bersamaan.

Empat Akar yang Mengguncang Asumsi Paling Dasar

Sebelum Empedocles, perdebatan filosofis tentang substansi dasar alam semesta berlangsung seperti kompetisi tanpa pemenang. Thales berkata semuanya adalah air. Anaximenes bersikeras bahwa udaralah yang paling fundamental. Heraklitus memilih api sebagai prinsip dasar segalanya. Masing-masing membuat argumen yang terdengar meyakinkan, tapi masing-masing juga meninggalkan pertanyaan yang tidak terjawab.

Empedocles datang dengan solusi yang, dalam retrospeksi, terasa begitu. sederhana sehingga membuat kita bertanya-tanya mengapa tidak ada yang memikirkannya lebih awal: bagaimana jika semuanya benar?

Ia memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai “empat akar” (rhizomata) api, air, tanah, dan udara. Keempat elemen ini adalah substansi dasar yang membentuk segala sesuatu di alam semesta. Mereka bersifat abadi, tidak dapat diciptakan, dan tidak dapat dimusnahkan mereka hanya bercampur dan berpisah dalam berbagai kombinasi untuk menciptakan semua hal yang ada di dunia, mulai dari batu di tepi pantai hingga darah yang mengalir dalam tubuh manusia.

Russell menunjukkan bahwa Empedocles sedang merespons paradoks Parmenides filsuf yang berpendapat bahwa perubahan itu mustahil karena sesuatu tidak bisa menjadi ada dari kondisi tidak ada. Parmenides menggunakan logika yang sangat ketat untuk membuktikan bahwa seluruh realitas adalah satu, tidak berubah, dan tidak bisa dipecah-pecah. Argumen ini secara intelektual sangat kuat, tapi sekaligus membingungkan karena jelas bertentangan dengan pengalaman sehari-hari kita.

Empedocles menawarkan jalan tengah yang elegan: ya, tidak ada yang benar benar tercipta dari ketiadaan atau lenyap menjadi ketiadaan. Tapi perubahan itu nyata dan perubahan terjadi bukan karena ada materi baru yang muncul, melainkan karena materi yang sudah ada bergabung dan berpisah dalam pola yang berbeda-beda.

Bayangkan seperti sebuah palet cat dengan empat warna dasar. Dari empat warna itu, seorang pelukis bisa menciptakan ribuan nuansa yang berbeda. Warna-warna baru itu tidak muncul dari ketiadaan; mereka adalah hasil campuran dari keempat warna yang sudah ada. Dan ketika sebuah lukisan dihancurkan, warna-warnanya tidak hilang ke alam ketiadaan mereka hanya kembali ke bentuk aslinya, siap untuk dicampur kembali dalam komposisi yang baru.

Inilah yang Empedocles katakan tentang alam semesta. Dan perlu saya tekankan: ini bukan sekadar spekulasi puitis. Sistem empat elemen Empedocles bertahan selama hampir dua ribu tahun dalam sejarah ilmu pengetahuan Barat. Aristoteles mengadopsinya, menyempurnakannya, dan menjadikannya fondasi dari pemahaman ilmiah Eropa hingga abad ke-16 dan ke-17 Masehi. Selama dua ribu tahun, dokter-dokter yang mengobati pasien, alkimiawan yang mencoba mentransmutasikan logam, dan ahli kosmologi yang mencoba memahami struktur langit semuanya bekerja di atas fondasi yang diletakkan oleh lelaki eksentrik dari Sisilia ini.

Dua Dewa yang Tidak Pernah Berhenti Berperang

Tapi Empedocles tidak berhenti pada empat elemen. Jika empat elemen adalah “apa” yang membentuk alam semesta, ia masih perlu menjelaskan “mengapa” dan “bagaimana” mereka bergerak, bercampur, dan berpisah. Di sinilah ia memperkenalkan dua kekuatan yang mungkin merupakan konsep paling puitis sekaligus paling relevan dengan kehidupan manusi yang pernah dihasilkan oleh pikiran seorang filsuf kuno.

Philia => Cinta. Neikos => Pertikaian, atau Kebencian.

Dua kekuatan kosmis ini adalah motor penggerak seluruh alam semesta. Cinta menarik elemen-elemen itu satu sama lain, menyatukannya, menciptakan kompleksitas dan harmoni. Pertikaian memisahkan mereka, mendorong mereka menjauh satu sama lain, menciptakan diferensiasi dan konflik. Dan alam semesta seperti yang kita kenal adalah produk dari pertarungan abadi antara dua kekuatan ini.

Russell memberikan perhatian khusus pada konsep ini karena, menurutnya, ini adalah salah satu ide paling orisinal dalam sejarah filsafat awal. Tidak ada filsuf sebelum Empedocles yang berani memberikan peran kosmologis kepada sesuatu yang sangat personal dan emosional seperti cinta. Bagi Heraklitus, prinsip dasar alam semesta adalah Logos, sesuatu yang rasional, teratur, impersonal. Bagi Anaximander, ia adalah apeiron yang tak terbatas, tak terdefinisi. Tapi Empedocles berkata: tidak, kekuatan yang menggerakkan bintang-bintang di langit adalah hal yang sama yang membuat kamu mencari pasangan hidup, yang membuat ibumu memelukmu, yang membuat dua orang asing saling jatuh cinta.

Cinta adalah kekuatan fundamental alam semesta.

Menurut Empedocles, siklus kosmis bekerja begini: ketika Cinta sepenuhnya dominan, keempat elemen menyatu secara sempurna menjadi sebuah bola sempurna yang ia sebut Sphairos, bulatan yang homogen, dalam keadaan damai yang mutlak. Ia menggunakan kata-kata yang indah untuk menggambarkannya:

“Ia tidak memiliki dua cabang yang tumbuh dari punggungnya, tidak ada kaki, tidak ada lutut yang bergerak cepat, tidak ada organ reproduksi, tetapi ia adalah Bola dan sama dari segala sisi.”

Ini adalah kondisi harmoni sempurna suatu keadaan yang terdengar seperti apa yang dalam tradisi mistis banyak budaya disebut sebagai nirwana atau penyatuan dengan Tuhan. Tapi kemudian Pertikaian mulai menggerogoti harmoni itu. Api naik, tanah turun, air mengalir, udara bergerak. Diferensiasi terjadi. Dunia-dunia terbentuk dan makhluk-makhluk hidup muncul.

Sampai akhirnya Pertikaian sepenuhnya dominan semua elemen terpisah total, tidak ada campuran, tidak ada kompleksitas, dan dunia tidak bisa eksis. Lalu Cinta kembali, perlahan menyatukan yang telah terpisah. Siklus berulang dari awal, tanpa akhir.

Apa yang membuat konsep ini begitu menarik bukan hanya keindahan poetisnya, tapi implikasi filosofisnya. Empedocles sedang berkata bahwa dunia seperti yang kita kenal penuh dengan keragaman, konflik, dan kompleksitas bukan keadaan sempurna dan bukan juga keadaan terburuk. Kita berada di antara dua ekstrem, dalam perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai, didorong oleh dua kekuatan yang tidak pernah sepenuhnya menang.

Bukankah itu juga cara terbaik untuk memahami kehidupan manusia? Kita tidak pernah berada dalam harmoni sempurna dan tidak pernah dalam konflik total. Kita selalu berada di antara keduanya kadang lebih banyak cinta, kadang lebih banyak pertikaian dan mungkin itulah yang membuat hidup terasa begitu dinamis, kadang indah, kadang menyakitkan.

Darwin yang Terlahir Dua Ribu Tahun Terlalu Awal

Salah satu hal yang paling mengejutkan saya dalam pembacaan Russell tentang Empedocles adalah bagian tentang teori biologinya khususnya tentang bagaimana makhluk hidup muncul dan bagaimana adaptasi terjadi.

Russell tidak melebih-lebihkan ketika ia menyebut bahwa Empedocles mengantisipasi secara kasar tapi sungguh nyata teori seleksi alam Darwin. Ini klaim yang besar, dan saya ingin mengurainya dengan hati-hati.

Empedocles membayangkan bahwa pada masa awal pembentukan dunia, muncullah bagian-bagian tubuh makhluk hidup secara acak dari tanah. Kepala-kepala tanpa tubuh. Tangan-tangan yang tidak menempel pada bahu. Mata-mata yang tidak memiliki wajah. Organ-organ reproduksi yang tidak melekat pada makhluk yang utuh.

Kemudian, secara acak, bagian-bagian ini mulai bergabung. Sebagian besar gabungan menghasilkan makhluk yang monstros dan tidak fungsional lembu berkepala manusia, manusia berwajah sapi, makhluk dengan delapan tangan tapi tidak punya kaki. Makhluk-makhluk ini tidak bisa bertahan hidup dan tidak meninggalkan keturunan.

Tapi sebagian kecil dari gabungan acak itu menghasilkan makhluk yang fungsional yang bisa bergerak, mencari makanan, dan berkembang biak. Makhluk-makhluk inilah yang bertahan dan mengisi bumi.

Russell mengomentari ini dengan sangat tepat: “This is a remarkable anticipation of the doctrine of the survival of the fittest.”

Memang bukan teori Darwin yang lengkap Empedocles tidak memiliki konsep seleksi yang sistematis, tidak memiliki mekanisme hereditas, dan tidak memiliki waktu geologis yang panjang untuk membiarkan proses ini bekerja. Tapi inti dari idenya bahwa variasi acak menghasilkan berbagai bentuk, dan hanya yang cocok dengan lingkungannya yang bertahan adalah intuisi yang luar biasa untuk seseorang yang hidup 2.400 tahun sebelum Darwin menerbitkan On the Origin of Species.

Saya tidak bisa tidak memikirkan betapa berbedanya sejarah ilmu pengetahuan mungkin jika ide ini diambil lebih serius. Tapi Aristoteles yang pengaruhnya mendominasi pemikiran Barat selama berabad-abad menolak gagasan bahwa alam bekerja secara acak. Aristoteles percaya pada teleologi: bahwa segala sesuatu di alam memiliki tujuan (telos) yang sudah ditetapkan dari awal. Seekor pohon ek tumbuh karena ada “bentuk” pohon ek yang sudah ada secara potensial dalam bijinya.

Pandangan teleologis Aristoteles jauh lebih mudah disesuaikan dengan teologi Kristen abad pertengahan daripada gagasan evolusi acak Empedocles. Hasilnya, intuisi Empedocles tentang seleksi alam terkubur selama dua milenium, menunggu Darwin untuk “menemukannya” kembali melalui jalur yang sama sekali berbeda.

Aku Bukan Manusia, Aku Adalah Dewa yang Sedang Dibuang

Sekarang kita tiba pada bagian paling kontroversial dari Empedocles yang membuat Russell menyebutnya charlatan, tapi juga yang membuat Empedocles terasa lebih manusiawi dan lebih kompleks dari filsuf manapun di zamannya.

Empedocles menulis dua karya besar yang sampai kepada kita hanya dalam bentuk fragmen: On Nature (Peri Physeos) yang membahas kosmologi dan empat elemennya, dan Purifications (Katharmoi) yang membahas jiwa, reinkarnasi, dan status spiritualnya sendiri.

Purifications dibuka dengan cara yang tidak ada bandingannya dalam sejarah literatur filosofis. Empedocles memperkenalkan dirinya dengan kata-kata yang, bahkan setelah 2.500 tahun, masih membuat saya berhenti dan membaca ulang:

“Teman-teman, yang mendiami kota besar Akragas di tepian sungai kuning, yang peduli pada perbuatan baik, salam untukku aku melangkah di antara kalian sebagai dewa yang tak dapat mati, bukan lagi sebagai manusia fana, dihormati oleh semua sebagaimana mestinya, dimahkotai dengan pita dan karangan bunga segar. Setiap kali aku memasuki kota-kota yang makmur ini, aku dihormati oleh pria dan wanita; mereka mengikutiku dalam ribuan, mencari jalan menuju keuntungan…”

Ini adalah salah satu pembukaan paling provokatif dalam sejarah tulisan filosofis. Seorang pria yang berjalan ke kota dan berkata kepada semua orang: “Aku adalah dewa.”

Russell menghadapi bagian ini dengan campuran kekaguman dan ketidaknyamanan. Di satu sisi, ada sesuatu yang tampak seperti megalomania yang tidak tertahankan. Di sisi lain, klaim ini bukan sekadar delusi ego belaka ia berakar dalam sistem filosofis Empedocles tentang jiwa dan reinkarnasi.

Menurut kepercayaannya yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Pythagorean dan Orphic jiwa manusia adalah entitas ilahi yang pada suatu titik melakukan sebuah kejahatan kosmis sehingga harus menjalani serangkaian reinkarnasi sebagai hukuman dan pemurnian. Jiwa itu mengembara dari satu tubuh ke tubuh yang lain manusia, hewan, tanaman selama ribuan tahun, sebelum akhirnya dimurnikan dan kembali ke status ilahinya.

Dan Empedocles percaya bahwa dirinya sendiri berada di titik akhir perjalanan panjang itu. Ia telah melewati banyak kehidupan. Ia pernah menjadi ikan, menjadi semak berduri, menjadi burung, menjadi anak laki-laki, menjadi anak perempuan. Dan kini, dalam kehidupan ini, ia berada di ambang pemurnian total dewa yang hampir kembali ke tempatnya.

Dalam kerangka itu, pernyataannya bukan delusi. Ia adalah pernyataan teologis yang konsisten dengan keyakinannya.

Kepercayaan ini juga terhubung langsung dengan larangan Empedocles terhadap konsumsi daging hewan. Bagi Empedocles, semua makhluk hidup memiliki jiwa yang berada dalam berbagai tahap pemurnian. Memakan daging hewan berarti mengganggu proses pemurnian jiwa itu. Ia bahkan menulis bahwa adalah mungkin bagi seseorang untuk tanpa sengaja memakan anggota keluarganya sendiri yang telah bereinkarnasi sebagai binatang. Ini bukan metafora ia sungguh-sungguh percaya bahwa bisa saja ayah yang sudah meninggal kini hidup dalam tubuh lembu yang sedang disembelih di depan mata kita.

Tragedi Seorang Jenius yang Terlalu Percaya pada Mitos Dirinya Sendiri

Ada satu detail tentang kematian Empedocles yang selama berabad-abad menjadi semacam legenda dan yang Russell bahas dengan nada yang saya interpretasikan sebagai campuran antara ironi dan simpati.

Dikisahkan bahwa Empedocles meninggal dengan cara yang paling dramatis yang bisa dibayangkan: ia melompat ke dalam kawah Gunung Etna. Sebuah sandal perunggu miliknya konon ditemukan di tepi kawah.

Mengapa ia melakukan itu? Yang paling populer: ia ingin membuktikan bahwa dirinya memang dewa dengan mendemonstrasikan bahwa api tidak bisa membunuhnya. Atau mungkin ia ingin menghilang tanpa meninggalkan jejak kematian, sehingga orang-orang akan percaya ia telah naik ke langit dalam wujud ilahi.

Tapi sandal perunggu itu mengkhianati rencananya.

Saya tidak tahu apakah cerita ini benar secara historis dan Russell juga skeptis. Tapi sebagai metafora, ia sempurna. Seorang manusia yang begitu yakin dengan visi tentang dirinya sendiri sehingga ia rela mengambil risiko paling final untuk membuktikannya. Dan pada akhirnya, kemanusiaannya yang diwakili oleh sepasang sandal perunggu di tepi kawah adalah yang paling bertahan.

Tidak ada dewa. Hanya ada seorang lelaki luar biasa yang terlalu percaya pada mitos yang ia ciptakan tentang dirinya sendiri.

Tapi bahkan dalam kegagalan tragis itu, ada sesuatu yang membuat saya justru semakin respek. Empedocles adalah contoh langka dari seorang pemikir yang benar-benar menghidupi ide-idenya hingga ke konsekuensi terakhir. Ia bukan filsuf yang duduk di menara gading berbicara tentang jiwa ilahi sambil menjalani kehidupan yang sangat biasa. Pilihan hidupnya dari cara ia berpakaian, dari cara ia berjalan, dari cara ia berbicara, bahkan mungkin dari cara ia memilih kematiannya semuanya merupakan ekspresi dari apa yang ia percayai.

Ada keberanian yang menakjubkan dalam hal itu, bahkan jika keberanian itu berakhir dalam tragedi.

Apa yang Russell Benar-benar Pikirkan tentang Semua Ini

Salah satu hal yang membuat Russell sebagai penulis sejarah filsafat begitu menarik adalah bahwa ia tidak pernah sepenuhnya menyembunyikan pendapatnya sendiri. Ia mungkin seorang empirisis dan rasionalis yang berdedikasi, tapi ia juga seorang penulis dengan suara yang khas, dan Anda bisa merasakannya dalam cara ia membahas Empedocles.

Russell mengakui bahkan merayakan kontribusi ilmiah dan kosmologis Empedocles. Teori empat elemen yang bertahan dua ribu tahun. Antisipasi seleksi alam. Teori tentang cahaya dan kecepatan rambatnya. Semua ini Russell catat dengan hormat.

Tapi Russell juga tidak bisa menyembunyikan ketidaknyamanannya dengan dimensi religius dan mistis dari Empedocles. Ada nada sedikit geli, sedikit tidak sabar, ketika ia membahas klaim-klaim ilahi Empedocles. Russell adalah seorang ateis yang penuh keyakinan, dan baginya seorang filsuf yang berjalan-jalan mengklaim dirinya dewa adalah tanda campuran yang tidak menyenangkan antara rasionalisme dan mistisisme.

Tapi saya ingin menawarkan pembacaan alternatif.

Mungkin apa yang Russell anggap sebagai kontradiksi dalam Empedocles antara ilmuwan yang rasional dan nabi yang mistis sebenarnya bukan kontradiksi sama sekali. Mungkin Empedocles justru mewakili model yang lebih tua dan lebih utuh dari apa yang bisa dilakukan oleh pemikiran manusia.

Dalam tradisi modern, kita memiliki pemisahan yang sangat ketat antara “ilmuwan” dan “pemimpin spiritual.” Kita percaya bahwa keduanya harus bekerja dalam domain yang berbeda, menggunakan metodologi yang berbeda. Seorang ilmuwan yang mulai berbicara tentang jiwa atau pengalaman mistis dipandang dengan curiga oleh rekan-rekan profesionalnya. Seorang pemimpin spiritual yang membuat klaim tentang mekanisme alam fisik ditertawakan oleh komunitas ilmiah.

Empedocles hidup sebelum pemisahan itu ada. Dan mungkin justru karena itulah ia bisa melihat koneksi yang tidak terlihat oleh mereka yang harus memilih satu sisi.

Ketika ia mengatakan bahwa Cinta (Philia) adalah kekuatan kosmis yang sesungguhnya, ia tidak hanya membuat pernyataan mistis ia membuat pernyataan kosmologis bahwa prinsip yang mengatur pergerakan materi tidak bisa dipahami hanya melalui mekanisme dingin. Ada sesuatu yang analog dengan apa yang kita sebut “afinitas,” “daya tarik,” “kohesi” dan Empedocles memilih untuk menamai itu dengan nama yang paling manusiawi yang ia kenal: Cinta.

Apakah itu salah? Atau apakah itu justru lebih jujur dari terminologi teknis yang kita gunakan hari ini untuk menggambarkan fenomena yang pada dasarnya masih sama-sama misterius?

Warisan yang Tidak Pernah Benar-benar Terkubur

Setelah menutup Chapter VI dan duduk dalam diam beberapa menit, pertanyaan yang terus bergulir di kepala saya adalah: apa yang membuat Empedocles relevan hari ini?

Bukan sebagai sumber pengetahuan ilmiah jelas, fisika dan biologi modern telah jauh melampaui empat elemennya. Tapi sebagai cermin yang memantulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah kita selesaikan.

Pertama: pertanyaan tentang perubahan dan identitas. Solusi Empedocles bahwa sesuatu tidak pernah benar-benar diciptakan atau dihancurkan, hanya dikonfigurasi ulang masih merupakan cara paling intuitif untuk memahami dunia material. Dalam fisika modern, kita menyebutnya hukum konservasi massa dan energi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghayatinya ketika kita berduka atas kematian seseorang yang kita cintai dan menyadari bahwa “sesuatu” dari mereka tetap ada dalam kenangan, dalam pengaruh, dalam partikel-partikel yang pernah membentuk tubuh mereka dan kini menjadi bagian dari tanah, air, dan udara di sekitar kita.

Kedua: pertanyaan tentang dualitas. Cinta dan Pertikaian sebagai dua kekuatan kosmis bukan hanya teori kosmologis yang menarik ia adalah model paling jujur untuk memahami realitas sosial dan psikologis kita. Kita adalah makhluk yang secara bersamaan didorong oleh keinginan untuk menyatu, berkoneksi, dan bersama (Philia) dan oleh keinginan untuk mempertahankan diri, memisahkan diri, dan menjaga batas (Neikos). Keduanya bukan kekuatan yang saling mengalahkan keduanya perlu. Tanpa Cinta, tidak ada masyarakat, tidak ada budaya, tidak ada keluarga. Tanpa Pertikaian, tidak ada individualitas, tidak ada perbedaan pendapat, tidak ada inovasi.

Freud dengan Eros dan Thanatos-nya, psikologi positif kontemporer dengan konsep approach dan avoidance pada dasarnya masih berputar di sekitar dualitas yang sama yang Empedocles identifikasi 2.500 tahun lalu.

Ketiga: pertanyaan tentang integritas intelektual. Cara Empedocles menghidupi ide-idenya dengan segala eksesnya menantang kita untuk bertanya: seberapa sungguh-sungguh kita percaya pada apa yang kita klaim percayai? Seberapa jauh kita rela membawa keyakinan kita dalam kehidupan nyata, bukan hanya dalam diskusi-diskusi abstrak?

Ini bukan pertanyaan yang nyaman. Dan mungkin karena tidak nyaman itulah, ia terus relevan.

Russell menulis sejarah filsafat dengan agenda tersembunyi yang ia sendiri tidak sepenuhnya sembunyikan: ia ingin menunjukkan bagaimana pikiran manusia berkembang dari mitos menuju rasionalitas, dari kepercayaan menuju bukti. Dalam narasi itu, Empedocles adalah tokoh transisi seseorang yang satu kakinya berada di dunia ilmuwan dan satu kakinya lagi masih terjebak dalam lumpur mistisisme kuno.

Tapi saya membaca Empedocles secara berbeda. Bagi saya, ia bukan seseorang yang sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik. Ia adalah seseorang yang mencoba dengan segala keterbatasan zamannya dan dengan keberanian yang luar biasa untuk menjawab semua pertanyaan besar sekaligus. Tentang apa yang membentuk dunia. Tentang bagaimana makhluk hidup muncul. Tentang apa yang terjadi setelah kita mati. Tentang kekuatan apa yang menggerakkan bintang-bintang dan kekuatan apa yang menggerakkan hati manusia.

Ia gagal dalam banyak hal. Tapi ia gagal dengan cara yang mulia dengan cara yang membuka lebih banyak pertanyaan daripada yang ia jawab, dan yang memaksa setiap pembacanya untuk ikut berpikir.

Dan ketika saya menutup buku Russell dan meletakkannya di meja, pikiran saya tidak tertuju pada empat elemen atau pada siklus kosmis Cinta dan Pertikaian. Pikiran saya tertuju pada sandal perunggu itu benda kecil yang tertinggal di tepi kawah Etna, yang mengkhianati upaya seorang manusia untuk tampak lebih dari sekadar manusia.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam itu. Dan mungkin itulah yang membuat Empedocles meski telah mati dua setengah ribu tahun lalu masih terasa begitu dekat.


메타데이터
post_id
59ac66f1ea46
slug
the-history-of-western-philosophy-empedocles-59ac66f1ea46
url
https://medium.com/@febbybsimanjuntak/the-history-of-western-philosophy-empedocles-59ac66f1ea46
canonical_url
https://medium.com/@febbybsimanjuntak/the-history-of-western-philosophy-empedocles-59ac66f1ea46
author_url
https://medium.com/@febbybsimanjuntak
status
ok
fetched_at
2026-07-11 09:18:55