Menaruh benci di hierarki Maslow
Hari-hari ini, aku mengalami kesulitan melanjutkan penelitianku atau sekedar paragraf dan prosa berirama. Beragam esai atau puisi masih…
Menaruh benci di hierarki Maslow
Hari-hari ini, aku mengalami kesulitan melanjutkan penelitianku atau sekedar paragraf dan prosa berirama. Beragam esai atau puisi masih teronggok rapih di folder draf atau recycle bin. Alasannya, bukan karena writers block, justru karena mie ayam…
Jika mengikuti perkembangan humor dan meme suatu negara merupakan cerminan dari fenomena sosial-politik negara tersebut. Semakin bobrok sosio-politiknya, semakin absurd dan gak jelas meme-nya. Tentu klaim itu, tidak bisa kita buktikan secara empiris. Namun ketika rezim yang seharusnya “bermartabat” membela kebutuhan dan keinginan warga negara di jadikan bahan humor dan meme, membuat kita sepatutnya berfikir, mungkin humor adalah coping mechanism dari penderitaan kolektif kita sebagai warga negara.
Photo by Kitera Dent on Unsplash
Jadi, selayaknya young-adult yang bertransisi ke dunia professional lainnya. Mie ayam jadi kuliner favoritku, setelah nasi padang. Setelah menjadikan kuliner sebagai pelarian lain dari kemelut pra-mid life crisis, mie ayam berubah yang tadinya treats spesial hari tertentu atau reward pasca pencapaian, kini menjadi sejenis coping mechanism yang bersanding dengan humor yang berseliweran di media sosial.
Dan bayangkan se-menggurutu apa aku, ketika tahu mas-mas mie ayam favorit gerobak biru itu menaikkan harganya yang semula 15 ribu per mangkok, menjadi 17 ribu. Lalu, bagaimana cara memperburuk hari? Ya naikan harga bensin ditengah malam, tepat sehari sebelumnya menunda untuk mengisi ulang bensin setelah berpergian.
“Naik mas! Jadi 17 ribu sekarang”
Dalam hati tentu aku menggurutu, “bajngan… ini duluan yang mana, 19 ribu lapangan kerja, 19 ribu rupiah, atau mie ayam jadi 19 ribu juga?” gumamku dalam hati. Membayangkan diri menghardik kebijakan lansia nyenyenye itu dihadapan kabinetnya.*

Mungkin evolusi memberikan sumbangsih itu… bahwa kita suka sekali mencari kambing hitam dari segala masalah. Ada satu keinginan alamiah manusia untuk menemukan suatu bentuk atau proses terhadap hal-hal yang bisa mereka jadikan alasan atas hal yang merugikan atau memperburuk keadaannya. Komunitas yang belum sepenuhnya berevolusi, menaruh logika mistika menjawab segala penderitaan mereka. Komunitas yang modern, menjawab penderitaan itu sebagai bentuk kesalahan pemerintahan. Negara kita, entah berada dipersimpangan yang mana. Mungkin ditengah-tengah. Muak dengan proses politik tapi juga menaruh harapan secara buta.
Tidak ada muak yang paling bisa menggambarkan rakyat yang tidak pernah merasakan enaknya hidup di negara sendiri, hampir seperempat abad menjadi warga, segala bentuk memori indah menjadi warga negara selalu menjadi bentuk kolektif good old days. Dulu enak ya…
Ketika, negara menghukum seorang teknokrat atas pelanggaran yang mencurigakan, headline berita terkait vonis penjara bertahun-tahun itu, seakan mengatakan “Seorang tentara gugur, sebelum berperang”. Ketika para hakim langsung pergi dari persidangan terdakwa tidak bisa mengatakan statement akhirnya terhadap vonis hukumannya. Rasa pesimis ku akan masa depan negara meningkat. Kenaikan harga mie ayam menjadi satu domino rasa muak yang kian tumbuh tak terkendali.
Entah berapa banyak humor dan mie ayam yang di konsumsi sebagai coping mechanism hanya untuk membuat diri menjadi waras barang sejenak. Mungkin para psikolog perlu, merevisi hierarki kebutuhan Maslow. Dan menaruh benci dan muak bersanding dengan sandang, pangan dan papan. Negara seakan tidak pernah belajar, tidak pernah ada institutional memory, apa yang berhasil apa yang tidak, bentuk kebijakan mana yang menimbulkan resistensi besar, atau pelajaran mana yang bisa dipetik dari kejadian yang sudah-sudah.
Nusantara, sudah pernah dibanggakan para bangsawan, meneer, kaisar dan para pemuka agama. Kapan hal itu bisa dibanggakan kembali oleh para rakyatnya?
Ternyata benar, sulit menjaga api ketika angin beradu kearahmu. Berkorban jadi satu-satunya cara, menjaga api dengan kedua tanganmu atau mati kedinginan. Lebih dari pajak, pengorbanan warga negara adalah senantiasa bertanya dan mengingatkan, Revolusi perancis memberikan pelajaran bahwa masyarakat sadar akan kekuatan massa mereka. Represi generational ancien regime tidak bisa membendung kekuatan massa yang meluapkan amarahnya. Kerusuhan yang terjadi di tahun ’98 seakan tidak dijadikan bahan pertimbangan dalam menjaga kepercayaan publik pada proses bernegara. Negara sibuk membungkam warganya sendiri yang bertanya dan mengingatkan dengan caranya masing-masing.
Kenaikan harga mie ayam, merupakan permukaan gunung es yang menyimpan akar masalah lain.
Maka jika bisa mengajukan petisi, aku… akan mengatakan kepada para psikolog dunia. Tolong taruh rasa benci di hierarki Maslow, sandingkan dengan sandang, pangan dan papan.
Tepukan 👏🏻 dan komentar 💬 darimu sangat berarti buatku, aku merasa bersemangat untuk tulisan selanjutnya! Terima kasih. 🙏🏻
메타데이터
- post_id
- 59e56d7a63f4
- slug
- menaruh-benci-di-hierarki-maslow-59e56d7a63f4
- url
- https://medium.com/@jipauji/menaruh-benci-di-hierarki-maslow-59e56d7a63f4
- canonical_url
- https://medium.com/@jipauji/menaruh-benci-di-hierarki-maslow-59e56d7a63f4
- author_url
- https://medium.com/@jipauji
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 13:21:46