← Back to list

Arsip Keheningan

phylosof · 2026-07-09 05:57 · 0 claps · 2.4 min read
#stop-sexual-harrasment #poems-on-medium
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Arsip Keheningan

Photo by Ivan Samudra on Unsplash

Photo by Ivan Samudra on Unsplash

Di bawah negeri ini, aku bersaksi. Negeri yang gemar memahat monumen keadilan, Terhadap darah yang lebih mudah dibersihkan. Dibandingkan hanya sekadar mendengar kesaksian.

Menyusuri lorong-lorong panjang Dindingnya lembap oleh kata-kata. Yang dibangun dari tenggorokan. Dan tak pernah sampai ke permukaan. Menahan derai ombak di mata. Pikiran yang berkecamuk menahan kebenaran.

Tangannya yang usil menepis kesaksian. Katanya, itu hanya ketidaksengajaan. Di dalam ruang yang begitu terang, Namun, tak benar-benar terang. Di atas meja hijau persidangan. Mereka mengubur jerit di bawah pasal-pasal yang berdebu,

Menjahit mulut korban dengan benang berlabel jabatan. Di ruang sidang yang dingin, Luka berdiri sebagai terdakwa. Sementara kuasa duduk sebagai saksi yang dipercaya.

Dengan rasa yang tak pernah terbebani. Dalam hatinya, merasa tenang, Akan keadilan yang berlabel jabatan. Sungguh keji sang pemegang kekuasaan, Jeritan disusun rapi seperti arsip yang berderet.

Diberi nomor. Diberi tanggal. Lalu dikunci, Agar dunia terus tertidur.

Photo by Kristaps Ungurs on Unsplash

Photo by Kristaps Ungurs on Unsplash

Tanpa terganggu oleh kebenaran. Kebenaran seakan menjadi bayangan. Menjadi tubuh yang bernapas dalam keheningan,

Dan tak diakui kebenarannya. Mereka memungut serpihan diri, Yang tercerai di atas meja hijau persidangan. Seolah trauma harus menghadirkan notaris bagi setiap mimpi buruk,

Seolah air mata harus memiliki materai negara, Seolah luka yang menganga, Tak cukup membuktikan adanya pisau. Di balik meja-meja kebijakan, Jabatan dipelihara seperti hewan kesayangan.

Diberi makan oleh stigma, Dibesarkan oleh ketakutan Lalu dilepas ke jalanan, Untuk memburu mereka yang berani bersuara.

Sayangnya, suara mereka, Telah dipanen lebih dulu, Tinggal gema, Tinggal luka, Yang berjamur di atas langit ingatan.

Di atas negeri ini, Mereka menyebutkan ketertiban. Membangun gedung-gedung tinggi, Di atas tulang kesaksian.

Photo by Kenny Orr on Unsplash

Photo by Kenny Orr on Unsplash

Menanam bunga di atas kuburan bernama keberanian. Menggantungkan spanduk keadilan, Pada paku yang sama. Akhirnya, digunakan untuk menyalib pengakuan.

Bertepuk tangan. Seolah tak ada yang terkubur, Di bawah fondasi kebijakan. Seolah malam, Tak pernah mendengar suara,

Yang dipukul hingga menjadi sunyi. Setiap kali membuka mulut, Ribuan tangan keluar dari sela-sela tembok Begitu lihai menyumpal lidah kebenaran. Membalut luka dengan kepalsuan.

Bisikkan itu tumbuh, Menjadi akar. Menjadi hutan. Menjadi kerajaan bawah tanah Yang hidup dari ketakutan.

Di negeri ini, Keheningan bukanlah keadaan. Ia adalah industri. Mesin raksasa Yang bekerja siang dan malam, Menggiling jeritan debu.

Lalu, menaburkannya ke mata publik. Agar tak seorang pun mampu melihat, Siapa yang sebenarnya dikuburkan hidup-hidup.

Membakar sunyi yang diwariskan generasi. Melahap tembok-tembok pembukaman. Menghanguskam ketakutan yang selama ini, Dipakai untuk mengendalikan kebenaran. Dan ketika hari itu tiba,

Photo by Caroline Attwood on Unsplash

Photo by Caroline Attwood on Unsplash

Yang runtuh bukan hanya suara kebenaran, Melainkan sistem yang selama ini berdiri di atas keheningan.

Karya F,Faz

Sajak ini diciptakan sebagai bentuk kritik dan kepedulian terhadap kekejian yang telah terjadi sejak lama. Sajak ini pernah diikutsertakan dalam event sastra yang bertema “Melawan Diam: Mengurai Pembukaman Sistemik terhadap Korban Kekerasan Seksual.”


메타데이터
post_id
5a36095a502d
slug
arsip-keheningan-5a36095a502d
url
https://medium.com/@finfiii/arsip-keheningan-5a36095a502d
canonical_url
https://medium.com/@finfiii/arsip-keheningan-5a36095a502d
author_url
https://medium.com/@finfiii
status
ok
fetched_at
2026-07-18 07:26:19