Caleg Gerindra Jalur UAS
Caleg Gerindra Jalur UAS

Kartu nama calon legislatif ini tadi saya lihat tercecer di sebuah SPBU. Letaknya 30 cm dari ban kendaraan yang saya bawa.
Bagi saya, kartu nama ini menarik. Menampilkan secara jelas bahwa sang caleg adalah seorang "Haji" dan bergelar "Lc" yang merupakan akronim dari Licentiate, sebuah gelar yang terdapat di beberapa negara Arab dan Afrika bekas jajahan kolonialis Eropah.
Tapi dari semua itu, hal paling menarik adalah mengenai abstainnya tampilan wajah pendiri dan ketua umum partai dimana sang caleg ini mengikuti kontestasi, yaitu Partai Gerindra yang diketuai dan didirikan oleh Prabowo Subianto. Padahal saat ini Prabowo Subianto sedang mengikuti kontestasi calon presiden untuk kedua kalinya.
Uniknya, sang caleg malah mencantumkan wajah Ustad Abdul Somad di kartu nama ini, tanpa menyertakan wajah Prabowo sebagai pendiri, ketua, pemilik partai dan juga kandidat calon presiden. Sedangkan yang dicantumkan malah wajah Ustad Abdul Somad, yang di pilpres kali ini menjadi pendukung Anies Baswedan, capres no urut 1—yang ia dukung beberapa minggu yang lalu setelah sang capres memboyong ibundanya ke tempat UAS.
Bagi saya fenomena ini unik. Beberapa partai pengusung Prabowo, banyak yang tidak all in di kantong-kantong suara legislatif mereka karena takut suara mereka tergerus. Sehingga walaupun mereka secara partai mengusung Prabowo sebagai capres, tapi dalam atribut-atribut kampanye, sosok Prabowo jarang ditampilkan. Sebab bagi partai partai tersebut pemilu 2024 terdiri dari dua event. Event Pilpres dan event pileg. Dan mereka secara personal, tentunya ingin kemenangan dalam pemilu legislatif menjadi prioritas utama, dibanding menang di pilpres.
Ketakutan tergerusnya suara ini adalah hal yang wajar. Sebab di pilpres kali ini Prabowo berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi. Sehingga kemungkinan tergerusnya suara ini terjadi sebab Prabowo dianggap membelot dari pendukungnya dengan menjadi menteri di kabinet Jokowi, dan pilihannya kali ini yang berpasangan dengan anak Jokowi.
Sehingga bagi beberapa partai yang memiliki basis suara legislatif kuat di kantong-kantong masyarakat muslim, membuat mereka harus memasang standar ganda, dengan mengesampingkan dukungan formal terhadap pencapresan Prabowo, agar tetap menang di pemilu legislatif.
Tapi untuk partai lain, saya memaklumi. Semisal untuk PAN, Golkar, dan Demokrat. Tapi untuk Gerindra? Saya kira ini tidak masuk akal.
Bagaimana bisa ada caleg Gerindra yang tidak berkenan dan tidak terang-terangan mendukung pencapresan Prabowo? Tapi malah secara terang-terangan memasang wajah UAS yang notabene adalah pendukung Anies, lawan potensial Prabowo.
Bagaimana kita menjelaskan hal ini secara etik? Apakah sang caleg hanya menjadikan partai Gerindra besutan Prabowo sebagai tunggangan semata? Tapi untuk keterpilihan ia menunggangi kendaraan politik lain yaitu UAS dan kemahsyurannya untuk meraih kemenangan di pileg mendatang? Sedangkan secara nyata jelas-jelas UAS mendukung kandidat lainnya.
Ini fenomena menarik.
메타데이터
- post_id
- 5a553a67ff30
- slug
- caleg-gerindra-jalur-uas-5a553a67ff30
- url
- https://medium.com/@bentara/caleg-gerindra-jalur-uas-5a553a67ff30
- canonical_url
- https://medium.com/@bentara/caleg-gerindra-jalur-uas-5a553a67ff30
- author_url
- https://medium.com/@bentara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-17 11:23:13