← Back to list

Paradoks Kesetaraan Gender

Mengapa negara-negara paling setara justru tidak memiliki tingkat partisipasi kerja perempuan tertinggi?

Luthfiyyah Damayani in Perspektif Perempuan · 2026-06-15 03:00 · 300 claps · 6.3 min read
#kesetaraan-gender #paradoks #ekonomi #unpopular-opinion #perempuan
Open on Medium ↗

Paradoks Kesetaraan Gender

Mengapa negara-negara paling setara justru tidak memiliki tingkat partisipasi kerja perempuan tertinggi?

Editor: Dewi Cahyanti

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Seperti gerakan-gerakan lainnya, kita perlu mendefinisikan tujuan keseteraan gender, bahkan bila perlu secara kuantitatif, agar orang-orang dalam gerakan ini benar-benar memiliki tujuan yang sama dan bergerak ke arah yang tepat.

Apakah yang ingin kita capai adalah representasi yang setara antara perempuan dan laki-laki di dunia kerja, misalnya rasio 50:50 dalam bidang teknik pesawat atau bidang lain yang saat ini jumlah perempuannya masih sedikit?

Selama ini, salah satu indikator yang sering dipakai untuk mengukur kemajuan kesetaraan gender adalah persentase perempuan usia kerja yang bekerja atau aktif mencari kerja (FLFP). Indonesia berada di kisaran 56%. Angka global juga tak jauh berbeda, sekitar 48,9%, sementara laki-laki 73,1%.

Sekilas, angka ini menimbulkan asumsi sederhana: semakin tinggi partisipasi kerja perempuan, semakin setara sebuah negara.

Masalahnya, realitas tidak sesederhana itu.

Visualisasi data dibuat dengan bantuan AI | Sumber: World Bank

Visualisasi data dibuat dengan bantuan AI | Sumber: World Bank

Negara-negara yang sering dianggap paling setara, seperti Belanda, Swedia, Denmark, atau Jerman, tidak selalu memiliki tingkat partisipasi kerja perempuan tertinggi di dunia. Sebaliknya, negara dengan angka tertinggi justru sering berasal dari Afrika Sub-Sahara seperti Madagaskar, Tanzania, Burundi, atau Nigeria, dengan partisipasi perempuan di atas 75%.

Begitu pun dalam hal pendidikan.

Di Norwegia, hanya sekitar 20% lulusan STEM adalah perempuan, meskipun kesempatan pendidikan antara laki-laki dan perempuan relatif setara.

Di Swedia, sekitar 22% mahasiswa teknik adalah perempuan, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan negara yang secara umum dianggap kurang setara secara gender seperti Iran (sekitar 40%).

Jumlah perempuan yang mengambil jurusan STEM justru lebih tinggi di negara-negara yang tingkat kesetaraan gendernya lebih rendah, seperti Aljazair, Turki, dan Uni Emirat Arab.

Ini menimbulkan paradoks.

Apakah ini berarti kesetaraan gender di negara-negara Skandinavia belum berhasil? Menurutku, tidak.

Negara-negara Skandinavia menciptakan kebebasan dan perlindungan melalui regulasi sehingga perempuan dan laki-laki sama-sama dapat mengejar aspirasi hidup mereka. Dan hasil akhirnya ya apa adanya, bahwa perempuan, secara rata-rata, cenderung lebih tertarik pada hal-hal yang secara tradisional diasosiasikan dengan sifat feminin, bidang yang berkaitan dengan manusia, pendidikan, relasi sosial, atau perawatan.

Kesetaraan gender di negara-negara Skandinavia tidak dipandang sebagai tujuan berbasis angka, seperti memaksakan representasi 50:50 antara laki-laki dan perempuan di setiap sektor pekerjaan.

Lalu, mengapa jumlah perempuan di jurusan STEM lebih tinggi di negara yang tingkat kesetaraan gendernya lebih rendah, atau mengapa partisipasi kerja perempuan lebih tinggi di wilayah-wilayah tersebut? Salah satu penjelasannya bisa jadi adalah kebutuhan ekonomi.

Perempuan mungkin memilih bidang-bidang tersebut atau masuk ke pasar kerja bukan karena aspirasi pribadi, melainkan karena kebutuhan akan pendapatan yang lebih tinggi untuk menopang diri sendiri atau keluarga mereka.

Angka yang sama, realitas yang berbeda

Indonesia dan banyak negara maju sama-sama memiliki partisipasi angkatan kerja perempuan di kisaran 50–60%. Tetapi angka yang mirip tidak berarti realitas sosialnya sama.

Di Indonesia, perempuan yang tercatat “bekerja” bisa berarti buruh pabrik dengan shift malam disertai lembur. Perempuan yang bekerja 9 to 5 tetapi dengan waktu komuter 2 jam dan baru kembali pulang di malam hari. Perempuan yang bekerja lebih dari satu pekerjaan, karena rendahnya upah dan tingginya kebutuhan ekonomi. Serta banyak pekerjaan lainnya yang berada di sektor informal, dengan perlindungan minim dan pendapatan tidak stabil.

Sementara di negara Nordik atau Eropa Barat, pekerjaan perempuan lebih banyak berada di sektor formal, seperti pendidikan, kesehatan, profesi profesional, dan pelayanan publik.

Jadi, dua negara bisa punya angka partisipasi angkatan kerja perempuan yang mirip, tetapi kualitas kerja, keamanan kerja, dan sistem pendukungnya sangat berbeda.

Mengapa negara kaya tidak memaksimalkan semua orang untuk bekerja?

Ada asumsi ekonomi populer: semakin banyak orang bekerja, semakin tinggi PDB. Lalu jika semakin banyak perempuan berpendidikan, tentu keputusan logisnya adalah membawa mereka menjadi tenaga kerja. Namun, kenapa logika itu tidak digunakan oleh negara-negara kaya atau maju?

Menariknya, GDP tidak hanya ditentukan oleh jumlah pekerja, tetapi juga produktivitas per pekerja. Negara maju bisa tetap kaya walaupun partisipasi kerja perempuan hanya 55–65%, bahkan lebih rendah, karena produktivitas mereka sangat tinggi.

Seorang pekerja di negara maju, dengan teknologi, infrastruktur, pendidikan, dan modal yang baik, bisa menghasilkan output ekonomi jauh lebih besar dibandingkan dengan pekerja di negara berkembang.

Artinya, negara bisa kaya tanpa harus memaksa semua orang masuk pasar kerja penuh waktu.

Kasus Belanda: Mengapa banyak perempuan memilih part-time?

Belanda adalah contoh menarik.

Negara ini punya salah satu tingkat kerja paruh waktu perempuan tertinggi di dunia. Bahkan perempuan berpendidikan tinggi seperti dokter, dosen, atau profesional kantor juga banyak yang memilih kontrak 24–32 jam per minggu. Nah, kenapa?

Sebuah laporan dari OECD menunjukkan bahwa alasan utamanya bukan semata-mata layanan pengasuhan anak yang mahal. Banyak yang beralasan justru karena ingin lebih banyak waktu dengan anak dan keluarga serta komunitas, work-life balance, dan berbagai preferensi personal.

Nampak tidak seperti gambaran perempuan mandiri yang sering kita dengar, ya. Karena gambaran itu lebih dibentuk oleh budaya Anglo-Amerika, ketika sukses sering didefinisikan sebagai bekerja lebih banyak.

Di Belanda, banyak orang justru melihat sukses sebagai punya cukup uang dan masih punya waktu untuk hidup.

Apakah emansipasi perempuan telah dikooptasi oleh kapitalisme?

[embed]Capitalism's Crisis of Care - Dissent Magazine "I always thought that Sheryl Sandberg's 'lean in' idea was ironic; it is only possible for her readership to envision…dissentmagazine.org

Ada kritik dari sebagian ekonom feminis dan sosiolog, yang paling terkenal adalah Nancy Fraser, bahwa modernitas dan kapitalisme memiliki kecenderungan untuk hanya mengakui sesuatu sebagai “bernilai” jika ia masuk pasar. Selama ini aktivitas perawatan (care work) bernilai 0.

Jika seorang ibu memasak, merawat anak, merawat lansia, mengurus kebun, dan menjaga relasi sosial, PDB yang bertambah, nol.

Begitu pun jika tugas itu berpindah ke ayah atau terjadi pembagian kerja rumah tangga yang seimbang.

Tetapi jika aktivitas yang sama dipecah menjadi layanan pesan antar, industri ultra proses dan makanan instan, daycare, panti lansia, penyedia layanan kebersihan, jasa pekerja rumah tangga, jasa baby sitter, PDB menjadi naik.

Secara fisik, aktivitasnya sama. Yang berubah adalah statusnya: dari tidak berbayar menjadi berbayar.

Inilah paradoksnya. Semakin banyak aktivitas kehidupan yang dikomersialisasi, semakin tinggi GDP. Tetapi apakah itu selalu berarti masyarakat menjadi lebih sejahtera? Belum tentu.

Apa yang hilang saat semua orang bekerja penuh?

[embed]Kekerasan ekonomi: KDRT tersembunyi yang sangat merusak perempuan Meski perempuan semakin berpendidikan dan semakin banyak yang bekerja, kontrol ekonomi tetap mengakar dalam praktik…theconversation.com

Ketika laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja dari pagi sampai malam, ditambah waktu komuter yang panjang dan lembur, banyak aktivitas yang dulu dilakukan atas dasar kepedulian dan kemanusiaan mulai hilang atau diserahkan pada pasar, a.k.a membayar orang lain.

Kita ambil contoh pengasuhan anak.

Dulu anak diasuh langsung oleh orang tua, mungkin juga dibantu nenek, serta keluarga besar. Sekarang, ketika keluarga inti menjadi umum, ketika kedua orang tua bekerja, tidak ada pilihan lain selain menggunakan jasa daycare atau babysitter. Begitupun juga dalam perawatan lansia.

Contoh berikutnya, produksi makanan

Dulu makanan rumahan sangat umum. Dapur selalu digunakan setiap hari untuk memasak. Bahkan generasi sebelumnya punya kebun yang bisa ditanam untuk buah dan sayur. Kini, semakin umum rumah tangga membeli makanan jadi, apalagi dibantu dengan layanan pesan antar. Memang benar praktis, tapi cenderung terbatas dan ultra-proses, sampai-sampai generasi masa depan mungkin tidak punya masakan rumahan dan mengenal makanan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Ketika generasi sebelumnya mengenal buah dan sayur itu dari kebun dan tanamannya langsung, kini tempat di mana makanan berada adalah supermarket, yang didominasi oleh makanan instan dan kemasan.

Dan sebenarnya masih banyak lagi, seperti melemahnya kohesi sosial. Jika kedua orang tua bekerja penuh dan mungkin baru sampai di rumah setelah matahari terbenam, aktivitas sosial antartetangga semakin memudar.

Aktivitas sosial di lingkungan seperti arisan, ronda, santai di teras pada sore hari, dan kegiatan gotong royong semakin jarang ditemukan.

Apakah pendidikan tinggi berguna jika tak ada waktu?

Emansipasi perempuan memungkinkan pendidikan bisa diakses oleh semua orang, tanpa diskriminasi gender. Berkat pendidikan, perempuan tak hanya berpengetahuan, tetapi mereka juga menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan kerangka pikir dan nilai-nilai yang mereka dapatkan.

Ini paradoks berikutnya.

Pendidikan meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami gizi, membaca informasi medis, dan memahami pentingnya berpartisipasi dalam komunitas serta menjaga lingkungan.

Seseorang bisa berkecukupan, bahkan banyak uang, tetapi miskin waktu.

Misalnya, ketika seseorang harus bangun jam 5 pagi karena waktu komuter ke tempat kerja membutuhkan waktu 2 jam, dengan waktu kerja 8 jam sehari, dan lamanya waktu komuter untuk pulang sehingga ia kembali di saat malam hari, tak ada waktu dan hanya cukup waktu untuk beristirahat karena hal yang sama akan mereka ulang di hari berikutnya.

Lalu kapan ia menggunakan semua pengetahuannya mengenai stimulasi anak, makanan sehat, lingkungan, dan komunitas?

Inilah yang disebut kemiskinan waktu (*time poverty*) yang mungkin membuat orang yang berpendidikan cenderung merasa lebih bersalah.

Mereka paham nugget dan saus bukan makanan ideal dan screen time berlebihan bagi anak adalah hal yang buruk. Kohesi sosial dan lingkungan asri penting.

Mereka tahu masalahnya. Mereka tahu solusinya. Mereka tahu dampak jangka panjangnya. Tetapi tetap tidak bisa melakukan banyak hal. Sayangnya, bukan karena tidak peduli, tetapi karena kehabisan waktu, energi, dan kapasitas mental.

[embed]Perempuan 3x Lebih Banyak Mengurus Rumah Tangga? The above data is the average working hours spent by Jabodetabek and Surabaya in 2022. It turns out that the practice…lpem.org

Mungkin kesalahan terbesar dalam diskusi modern tentang kesetaraan gender adalah mengukur kemajuan hanya dengan satu angka: “Berapa persen perempuan yang masuk angkatan kerja?”

Inilah paradoks ketika kita membangun sistem ekonomi yang semakin produktif, justru menyisakan semakin sedikit waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sendiri tahu sangat penting: merawat anak, membangun keluarga, membangun komunitas, merawat lingkungan, dan mempertahankan budaya.

Ironisnya, semakin terdidik masyarakat, semakin sadar akan pentingnya menciptakan kehidupan yang baik, tetapi sering memiliki semakin sedikit waktu untuk benar-benar menjalaninya.


메타데이터
post_id
5a84db08ab42
slug
paradoks-kesetaraan-gender-5a84db08ab42
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/paradoks-kesetaraan-gender-5a84db08ab42
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/paradoks-kesetaraan-gender-5a84db08ab42
author_url
https://medium.com/@luthfiyyahdamayani
status
ok
fetched_at
2026-06-21 12:17:11