← Back to list

Mungkin Kita Perlu Bertanya Kembali: Benarkah Lelaki Hanya Pencari Nafkah?

Ada satu ironi yang belum banyak dipahami mengenai peran laki-laki dalam sebuah keluarga. Seorang laki-laki sering kali dianggap layak…

Rosyida Rahma · 2026-07-07 14:36 · 1 claps · 3.4 min read
#gender-roles
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General

Mungkin Kita Perlu Bertanya Kembali: Benarkah Lelaki Hanya Pencari Nafkah?

Ada satu ironi yang belum banyak dipahami mengenai peran laki-laki dalam sebuah keluarga. Seorang laki-laki sering kali dianggap layak menjadi kepala keluarga hanya jika ia mampu memenuhi kebutuhan nafkah. Harga dirinya pun kerap diukur semata-mata dari kemampuannya mencari penghasilan, bukan dari kemanusiaannya secara utuh — sebagai pribadi yang juga memiliki emosi, keterbatasan, kebutuhan akan penghargaan, serta peran lain sebagai pasangan dan ayah. Akibatnya, nilai seorang laki-laki sering direduksi menjadi sekadar pencari nafkah, padahal perannya dalam keluarga jauh lebih luas daripada itu.

Film The Seed of the Sacred Fig (2024) mengajak kita mencermati ironi tersebut. Berlatar demonstrasi besar di Iran yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini — sebuah gerakan yang mengusung slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” — film ini tidak hanya berbicara tentang pergolakan politik di ruang publik, tetapi juga tentang retaknya relasi di dalam sebuah keluarga.

Di tengah gejolak itu, kita mengikuti kisah sebuah keluarga dengan seorang ayah yang baru saja memperoleh promosi jabatan sebagai hakim investigasi di pemerintahan Iran. Secara umum, promosi jabatan dipandang sebagai pencapaian yang semestinya meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus relasi antar anggota keluarga serta mengangkat martabat sang ayah sebagai kepala keluarga. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kenaikkan jabatan malah membuat petaka bagi keluarganya, menjauhkan dirinya dari istri dan kedua anaknya. Alih-alih menjadi sumber kebahagiaan dan kedekatan, pekerjaannya berubah menjadi beban yang mengikis kepercayaan, kehangatan, dan ikatan di dalam keluarganya sendiri.

Seiring dengan jabatan barunya, sang ayah menerima sepucuk pistol sebagai alat perlindungan diri. Pistol itu bukan sekadar perlengkapan kerja, melainkan simbol bahwa posisi yang kini ia emban menuntut kesiapan menghadapi ancaman. Namun, bersamaan dengan itu, muncul konsekuensi yang jauh lebih berat daripada sekadar menjaga keselamatan dirinya.

Ia dipaksa menandatangani dokumen yang berisi persetujuan atas hukuman mati bagi para demonstran. Di titik inilah dilema moralnya muncul. Jabatan yang telah ia impikan dan perjuangkan selama bertahun-tahun kini tinggal beberapa langkah lagi, tetapi untuk sampai sana ia harus mengambil keputusan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Semakin dekat ia dengan puncak kariernya, semakin jauh pula ia dari nilai-nilai yang selama ini ia yakini.

Melalui konflik tersebut, The Seed of the Sacred Fig menunjukkan bahwa beban seorang laki-laki tidak selalu berupa tuntutan untuk mencari nafkah. Ada kalanya beban itu hadir dalam bentuk kompromi terhadap nurani demi mempertahankan status, pekerjaan, dan perannya sebagai kepala keluarga. Ironisnya, ketika ia memilih memikul beban itu seorang diri, justru keluarganyalah yang perlahan mulai kehilangan sosok ayah yang sesungguhnya.

Mungkin pada awalnya sang ayah meyakini bahwa mencari nafkah adalah bentuk cinta yang paling nyata. Selama ia mampu mempertahankan pekerjaannya dan memenuhi kebutuhan keluarganya, ia merasa telah menjalankan perannya sebagai seorang ayah dengan baik. Dalam keyakinannya, menjaga posisi dalam karier bukanlah persoalan, melainkan bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Namun, di sinilah letak ironi yang perlahan diungkap film ini. Kita sering luput melihat bahwa tuntutan untuk mempertahankan pekerjaan dan status dapat menyimpan sisi lain yang justru menghancurkan makna cinta dan tanggung jawab itu sendiri. Ketika seluruh harga diri seorang laki-laki dilekatkan pada pekerjaannya, ia mulai percaya bahwa kehilangan pekerjaan berarti kehilangan jati dirinya sebagai kepala keluarga.

Akibatnya, ia rela mengorbankan hal-hal yang semestinya menjadi inti dari perannya: kehadiran, kasih sayang, dan kepedulian terhadap keluarganya. Demi mempertahankan identitas sebagai pencari nafkah, ia justru mengesampingkan kewajiban yang paling mendasar, yaitu menjaga hubungan dengan orang-orang yang selama ini ia perjuangkan.

The Seed of the Sacred Fig menunjukkan bahwa kekuasaan sebuah rezim tidak hanya bekerja di ruang publik, tetapi juga menyusup ke ruang-ruang paling privat yaitu keluarga. Keluarga, yang selama ini dianggap sebagai tempat berlindung dari kerasnya dunia luar, ternyata tidak pernah benar-benar terpisah dari cara kerja kekuasaan.

Apa yang tampak sebagai persoalan politik di luar rumah perlahan mengubah cara seseorang memandang dirinya, pekerjaannya, dan keluarganya sendiri. Ketakutan, kecurigaan, serta tuntutan untuk patuh kepada negara akhirnya merembes ke dalam hubungan kepala keluarga terhadap istri dan anak-anaknya. Kehangatan yang dahulu dibangun atas dasar kepercayaan berganti menjadi relasi yang dipenuhi jarak dan rasa saling curiga.

Pada akhirnya, The Seed of the Sacred Fig menyampaikan bahwa ketakutan seorang laki-laki yang memaknai dirinya semata-mata sebagai pencari nafkah dapat perlahan mengikis hubungan keluarganya sendiri. Ketika seluruh harga diri disandarkan pada kemampuan mempertahankan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan ekonomi, peran-peran lain yang tak kalah penting — sebagai pasangan, ayah, sekaligus manusia — perlahan tersisihkan.

Film ini mengingatkan bahwa mencari nafkah bukanlah satu-satunya identitas seorang laki-laki. Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak peran yang ia jalani. Ironisnya, ketika peran tersebut dipandang sebagai syarat mutlak untuk menentukan nilai dirinya, ia dapat berubah menjadi beban yang justru menghancurkan tujuan awalnya: menjaga dan mencintai keluarga.

Di sisi lain, film ini juga mengajak kita mempertanyakan cara masyarakat memandang peran laki-laki dalam sebuah keluarga. Terlalu sering kita mengukur keberhasilan seorang kepala keluarga hanya dari kemampuannya menyediakan kebutuhan materi, seolah-olah nilai dirinya berhenti di sana. Padahal, laki-laki juga manusia yang memiliki ketakutan, dilema, luka, dan kebutuhan untuk dipahami. Ketika masyarakat hanya mengakui satu identitasnya sebagai pencari nafkah, kita tanpa sadar ikut membangun beban yang dapat menjauhkan seorang ayah dari keluarganya sendiri.

Dengan demikian, kritik film ini tidak hanya diarahkan kepada sebuah rezim yang mengintervensi kehidupan keluarga, tetapi juga kepada cara pandang kita terhadap maskulinitas. Sebab, keluarga tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu memberi nafkah, melainkan juga seseorang yang mampu hadir, mendengarkan, merawat, dan mencintai. Barangkali di situlah makna seorang kepala keluarga sebagai manusia seutuhnya.


메타데이터
post_id
5a88d26fe1fe
slug
mungkin-kita-perlu-bertanya-kembali-benarkah-lelaki-hanya-pencari-nafkah-5a88d26fe1fe
url
https://medium.com/@rosyidarahmayahya/mungkin-kita-perlu-bertanya-kembali-benarkah-lelaki-hanya-pencari-nafkah-5a88d26fe1fe
canonical_url
https://medium.com/@rosyidarahmayahya/mungkin-kita-perlu-bertanya-kembali-benarkah-lelaki-hanya-pencari-nafkah-5a88d26fe1fe
author_url
https://medium.com/@rosyidarahmayahya
status
ok
fetched_at
2026-07-11 15:31:54