Pahlawan Himmel, Pamrih, dan Guru Honorer
Pria Amal Jariyah Itu Lagi
Pahlawan Himmel, Pamrih, dan Guru Honorer
Pria Amal Jariyah Itu Lagi

Keputusan Terbaik Saya Tahun Ini
Akhir 2024, internet dikuasai oleh alunan lagu Yung Kai berjudul Blue. Setiap manusia yang punya media sosial saya rasa pernah mendengar lagu ini. Begitu pun saya. Tanpa saya sadari, di balik sound TikTok itu kadang terselip dialog dari sebuah anime berjudul Frieren, menampilkan percakapan antara karakter Himmel dan Frieren itu sendiri. Karena pada dasarnya saya tidak terlalu suka anime, saya masa bodoh dengan siapa karakter-karakter dua dimensi ini.
Sekian bulan kemudian, ada content creator lain yang membahas karakter Himmel, mengaitkannya dengan berita tentang seorang lelaki Taiwan yang berani melawan penjahat berpisau. Ketika ditanya apa alasan keberaniannya, lelaki itu menjawab, “Karena Pahlawan Himmel akan melakukan hal yang sama.” Dari titik ini, saya mulai respect dengan karakter tersebut. Tapi, itu pun belum cukup menjadi alasan untuk membuat saya menonton animenya.
Hingga beberapa minggu lalu, sebuah video mendarat di FYP saya. Sebuah pemandangan alam dengan teks terpajang: “30 tahun setelah kematian pahlawan Himmel, [nama tempat]”. Saya semakin kepo, apalagi melihat isi kolom komentarnya yang hampir seragam: “Pria amal jariyah itu lagi.”
10 April 2026, sebuah keputusan terbaik yang saya buat tahun ini terjadi. Saya mulai menonton anime Frieren dan tak sedetik pun saya lewati setelahnya tanpa mengagumi betapa indahnya karya ini. Tidak seperti kebanyakan anime klise yang menceritakan perjuangan mengalahkan villain besar, Frieren justru menyoroti apa yang terjadi setelah sang karakter utama berhasil mengalahkan villain terbesarnya. Sebuah premis yang segar dan impresif. Apa yang tersisa ketika cita-cita puncak itu sudah tercapai?
Sebuah Adegan
Saya tidak akan menjelaskan alur ceritanya secara utuh, karena jauh lebih baik jika kalian tonton sendiri. Namun, saya ingin menyoroti satu bagian yang menurut saya sangat mengusik pikiran. Ada sebuah adegan di mana Frieren bertanya pada Himmel, yang kurang lebih intinya begini:
“Kenapa kamu selalu minta imbalan ketika membantu orang? Bukankah itu memberatkan orang yang butuh bantuan?”
Himmel menjawab santai, “Justru sebaliknya. Aku meminta imbalan untuk meringankan orang yang butuh bantuan. Aku minta imbalan agar orang yang kita bantu tidak berutang budi pada kita, sesuatu yang justru membebani perasaannya.”
Setelah menonton adegan itu, saya terkesima. Logika ini terbalik dari yang selama ini kita percaya — bahwa meminta imbalan itu serakah, bahwa ketulusan sejati harus bebas dari pamrih. Himmel melawannya: justru tanpa imbalan yang jelas, bantuan bisa menjadi beban tersendiri bagi yang menerimanya. Ada rasa tidak enak, rasa sungkan, rasa “harus membalas suatu hari nanti” yang menggantung tanpa batas. Imbalan yang jelas memutus rantai beban moral itu. Dari situlah saya belajar satu hal penting: ternyata punya “pamrih” itu tidak apa-apa. Pamrih membuat sebuah hubungan menjadi setara dan manusiawi.
Dari titik ini pulalah, otak saya refleks teringat pada sebuah anomali di dunia nyata. Sebuah narasi usang yang selama puluhan tahun dicekokkan ke kepala kita: pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, gelar agung yang disematkan kepada para guru (dan guru honorer).
Ironi
Di dunia fantasi, seorang pahlawan sejati yang mempertaruhkan nyawa menyelamatkan umat manusia saja merasa perlu menetapkan “pamrih” — entah berupa uang receh, makanan, atau patung tembaga di alun-alun desa — agar hubungannya dengan masyarakat tetap logis.
Tapi di dunia nyata, sistem kita menuntut guru honorer untuk memiliki standar moral yang jauh lebih suci daripada Himmel. Mereka diminta mengabdi, mencerdaskan kehidupan bangsa, berangkat pagi-pagi buta ke sekolah, tapi ketika menyinggung soal kesejahteraan, mereka disodori tameng kalimat penenang: “Kerja itu pengabdian, hitung-hitung amal jariyah. Jangan mikir uang terus.”
Amal jariyah Himmel terbuat dari jejak kebaikan yang diakui dan dihargai dengan layak oleh orang-orang yang ditolongnya. Sedangkan “amal jariyah” yang dituntut dari guru honorer sering kali hanyalah alasan pembenaran untuk eksploitasi berkedok ikhlas.
Ketika seorang guru honorer digaji Rp300.000 sebulan — angka yang untuk membeli paketan internet dan bensin motor saja kembang kempis — sistem pendidikan kita sebenarnya sedang menciptakan “utang budi” masif yang tidak akan pernah bisa dibayar oleh negara. Tapi alih-alih merasa bersalah dan melunasi utang tersebut seperti penduduk desa yang ditolong Himmel, sistem kita justru cuci tangan dengan memberikan gelar “pahlawan”.
Seolah-olah, dengan memanggil mereka pahlawan tanpa tanda jasa, negara terbebas dari kewajiban logis untuk memberikan pamrih berupa upah yang manusiawi. Padahal, sama seperti Himmel, para guru honorer ini punya perut yang harus diisi, tagihan yang harus dibayar, dan masa depan yang harus dijamin.
Kita terlalu sibuk meromantisasi pengorbanan, sampai lupa bahwa menjadi pahlawan tidak seharusnya berarti rela dimiskinkan. Jika Himmel saja butuh pamrih agar eksistensinya tidak membebani orang lain, sudah saatnya kita berhenti membebani guru honorer dengan tuntutan keikhlasan yang tidak masuk akal.
Refleksi
Pada akhirnya, rasanya akan munafik jika kita lantang mengkritik sistem yang mengeksploitasi guru honorer, namun kita enggan bercermin pada keseharian kita sendiri. Jangan-jangan, dalam skala yang lebih kecil, kita sering bertindak layaknya “sistem” yang mengeksploitasi orang-orang di sekitar kita atas nama kedekatan?
Mari kita jujur. Seberapa sering, ketika kita meminta bantuan atau membeli jasa dari seorang teman, kalimat pertama yang meluncur dari mulut kita adalah, “Bisa kurang lah ya, harga teman, kan?” Kita memakai tameng pertemanan untuk menawar harga semurah mungkin. Kita merasa berhak mendapatkan diskon karena kita “kenal”. Padahal, kalau kita mau meminjam kacamata filosofis Himmel, pertemanan sejati seharusnya tidak bekerja seperti itu.
Jika kita benar-benar menghargai teman kita, apalagi yang sedang merintis usaha atau mengandalkan keahliannya untuk hidup, kita tidak akan membebani mereka dengan memangkas haknya. Justru karena dia teman kita, karena kita tahu persis seberapa keras keringat dan perjuangannya, kita seharusnya membayar dengan harga penuh. Bahkan, jika kita mampu, kita bayar lebih dari harga yang mereka patok untuk orang lain.
Membayar lebih bukanlah bentuk kasihan, melainkan bentuk apresiasi tertinggi. Itu adalah cara kita menerapkan “pamrih” yang sehat — memastikan bahwa bantuan atau jasa yang mereka berikan tidak meninggalkan rasa sungkan, utang budi, atau kerugian finansial yang membebani mereka.
Himmel sang pahlawan telah mengajarkan sebuah realita yang sangat ironis namun membumi. Pamrih bukanlah kata yang kotor. Mengharapkan imbalan yang layak atas sebuah dedikasi — baik itu mengajar puluhan anak di sekolah reyot, maupun meluangkan waktu mengerjakan proyek milik teman sendiri — adalah hak yang paling manusiawi.
Sudah saatnya kita berhenti menuntut orang lain untuk terus ikhlas menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Mungkin, langkah pertamanya bukan dengan mengubah sistem negara, tapi dengan mulai menjadi manusia yang tahu cara membalas jasa.
메타데이터
- post_id
- 5ad75588b533
- slug
- pahlawan-himmel-pamrih-dan-guru-honorer-5ad75588b533
- url
- https://medium.com/@alf.19x/pahlawan-himmel-pamrih-dan-guru-honorer-5ad75588b533
- canonical_url
- https://medium.com/@alf.19x/pahlawan-himmel-pamrih-dan-guru-honorer-5ad75588b533
- author_url
- https://medium.com/@alf.19x
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 00:55:29