Membaca Ramayana
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #66
Membaca Ramayana
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #66

sumber: dokumentasi pribadi penulis
Kitab Epos Ramayana karya C. Rajagopalachari menemani libur akhir pekan saya kali ini. Terdiri atas 75 bab yang dituliskan dalam 496 halaman, buku ini membantu saya untuk memperluas sudut pandang pemahaman terhadap epos favorit saya setelah Mahabharata tersebut secara lebih mendalam. Salah jika kebanyakan orang menganggap bahwa epos ini sekadar menceritakan kisah cinta Rama dan Sinta. Sebab lebih dari itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dari keseluruhan rangkaian cerita yang dimainkan oleh para tokohnya.
1. Persahabatan Berubah Menjadi Ikatan Keluarga
Sugriwa, Hanoman, para wanara, dan tokoh-tokoh yang ikut menyelamatkan Dewi Sinta bukanlah penduduk Ayodya, kerajaan asal Rama. Namun, meskipun tidak berasal dari latar belakang yang sama, masing-masing dari mereka memiliki alasan yang kuat untuk membantu Rama. Jangan tanyakan perjuangan mereka saat berperang melawan pasukan Rahwana di Alengka. Mereka mengangkat senjata di medan perang dan tidak gentar menukar nyawanya dengan kesempatan untuk mengalahkan adharma.
Sugriwa, Raja Kiskenda berada di pihak Rama dengan dasar balas budi karena sang putra Dasarata telah membantunya mengalahkan saudara kembarnya, Subali. Jatayu, raja burung garuda yang merupakan sahabat Dasarata — ayah Rama — terpaksa kehilangan sayap dan kakinya saat bertarung di atas kereta terbang Rahwana. Beberapa saat sebelum meregang nyawa, Jatayu ditemukan oleh Rama dan adiknya — Lesmana, dia yang menjadi saksi bahwa istri tercintanya telah diculik ke Alengka. Hanoman, putra Batara Bayu yang sekaligus adalah menteri Kerajaan Kiskenda memegang peranan besar dalam misi penyelamatan Dewi Sinta. Dia yang menemukan belahan jiwa Rama itu di Taman Asoka, serta membakar sebagian dari Alengka sebagai bentuk peringatan bahwa sebentar lagi Rama dan bala tentara wanara akan datang untuk memporak-porandakan seluruh negara demi menyelamatkan Dewi Sinta.
2. Jeli Membaca Pertanda, Menerima Takdir Sebagaimana Adanya
Berikut adalah beberapa peristiwa yang dituliskan dalam Kitab Epos Ramayana sebagai contoh pertanda dan ramalan yang pada akhirnya menjadi takdir seseorang. Hampir setiap tokoh tidak mencoba untuk menghindari ataupun mengeluh, meskipun takdir yang diterima terasa buruk. Sebab di balik itu semua, mereka percaya bahwa ketika tetap berada di jalan dharma, satu takdir akan membawa kepada takdir lainnya yang lebih baik di masa depan.
Di masa mudanya, Dasarata — ayah Rama — mendapat kutukan dari orang tua seorang anak yang tidak sengaja terbunuh oleh panahnya saat berburu di hutan. Mereka meramalkan bahwa suatu hari Dasarata juga akan mengalami kedukaan yang sangat berat, yaitu mati merana karena harus berpisah dengan sang putra.
— — —
Raksasa Kabanda terlepas dari kutukan Batara Indra setelah bertemu dengan Rama dan Lesmana, lalu ia memberi mereka petunjuk untuk meminta bantuan kepada Sugriwa yang tinggal di Bukit Risyamuka untuk menyelamatkan Dewi Sinta.
— — —
Ketika Hanoman menyamar sebagai seekor kera kecil agar dapat masuk ke Alengka, seorang dewi penjaga kota memukulnya karena dianggap mengganggu, kemudian pukulan tersebut dibalas oleh Hanoman hingga menyebabkan sang dewi terjatuh. Dengan adanya kejadian tersebut, tiba-tiba sang dewi teringat akan ramalan para dewa yang mengatakan bahwa jika seekor kera memukulnya jatuh, maka kota yang ia jaga sebentar lagi akan hancur.
3. Menjunjung Tinggi Dharma dan Nilai Kesatria
Maricha, saudara Rahwana yang diperintah untuk menyamar menjadi kijang kencana rupanya telah tahu bahwa menuruti permintaan Rahwana berarti membawa kematian bagi dirinya sendiri dan bangsa raksasa di Alengka. Awalnya ia menolak, namun, sifat kesatria Maricha membuatnya lebih memilih mati di tangan musuh yang ia hormati yaitu Rama, daripada mati di tangan Rahwana. Sedangkan Wibisana mengambil sikap lain, adik Rahwana ini membelot dari Kerajaan Alengka dan memilih mengabdi kepada Rama serta berperang di pihaknya. Wibisana adalah sosok yang juga mengetahui nasib malang bangsanya ketika Rahwana berani menabuh genderang perang melawan pasukan Rama. Bahkan, ia sempat meminta Rahwana untuk mengembalikan Dewi Sinta dan meminta ampun kepada Rama, jelmaan Sang Narayana. Namun, Rahwana sama sekali tidak mengindahkan nasihatnya.
Sikap ini berkebalikan dengan Kumbakarna, raksasa paling besar sekaligus adik Rahwana yang ini harus diinjak oleh 1000 ekor gajah terlebih dahulu agar bisa terbangun dari tidur lelapnya. Meskipun Kumbakarna tahu bahwa dia berada di pihak adharma, namun kecintaannya kepada sang kakak sekaligus kepada Alengka, justru membuatnya mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk melawan Rama beserta pasukan wanara.
Masih banyak lagi potongan-potongan kisah yang menjadi bagian dari keseluruhan alur epos Ramayana. Perang besar di Alengka hanyalah akibat dari sebab yang begitu kompleks, karena ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Bagi para pembaca yang ingin fokus dengan kisah cinta Rama dan Sinta, disajikan pula beberapa kisah romantis seperti bagaimana Sinta bertekad untuk mengikuti Rama yang diasingkan di Hutan Dandaka selama 14 tahun dan rela meninggalkan kehidupan serba mewah di kerajaan, bagaimana setiap hari Rama membantu memetik bunga-bunga kesukaan Sinta di pinggiran sungai, bagaimana Sinta membuktikan kesuciannya kepada Rama setelah berada di Alengka lebih kurang 10 bulan lamanya, dan lain sebagainya.
Buku ini hanyalah salah satu versi dari cerita Ramayana yang banyak beredar. Perbedaan ataupun persamaan dengan kisah lainnya adalah preferensi semata, sebab yang terpenting ialah para pembaca dapat memetik pembelajaran dari kisah-kisah yang disampaikan.
메타데이터
- post_id
- 5aedf9f7d87b
- slug
- membaca-ramayana-5aedf9f7d87b
- url
- https://medium.com/@artefactbydiy/membaca-ramayana-5aedf9f7d87b
- canonical_url
- https://medium.com/@artefactbydiy/membaca-ramayana-5aedf9f7d87b
- author_url
- https://medium.com/@artefactbydiy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13