Kebiasaan Kecil Yang Ikut Hilang Bersamanya.
20 tahun hidup ku kira hal dewasa adalah tentang menghasilkan uang sendiri, punya pekerjaan, dan menanggung penuh tanggung jawab atas…
Kebiasaan Kecil Yang Ikut Hilang Bersamanya
20 tahun hidup kukira hal dewasa adalah tentang menghasilkan uang sendiri, punya pekerjaan, dan menanggung penuh tanggung jawab atas hidupku. Tidak ada yang benar-benar memberi tahu aku bahwa hal paling dewasa justru melepaskan seseorang yang masih kucintai.
Sejak kecil aku diajarkan cara bertahan — bertahan dalam keadaan sulit, bertahan mengejar mimpi, bertahan demi orang yang kusayangi. Sayangnya, tidak ada yang pernah mengajariku bahwa ada kalanya bertahan bukan lagi bentuk kasih, melainkan penolakan halus untuk menerima kenyataan.
Dulu aku berpikir bahwa melepaskan seseorang terjadi ketika tidak ada lagi kupu-kupu di perut ketika mendengar namanya, ia tak lagi dirindukan, namanya tak lagi memenuhi kepala.
Nyatanya, tidak selalu begitu.
Ada kalanya melepaskan justru terjadi ketika kita masih ingin bertukar kabar setiap hari, masih ingin tertawa bersama pada lelucon-lelucon receh, masih menyimpan judul film yang dulu kami janjikan untuk ditonton berdua.
Sebetulnya, aku sudah mempersiapkan hari-hari ini. Aku tahu suatu hari nanti akan ada perpisahan dengan orang yang amat kukasihi, dan kupikir aku sudah siap dengan rasa sakitnya. Namun, yang tak pernah kusiapkan adalah hari-hari setelahnya.
Tak lagi kubaca ucapan selamat pagi yang menyambutku di layar kunci ponsel. Tak ada lagi nama yang otomatis kucari setiap kali menemukan video lucu di For You Page ku. Tak ada lagi nama yang diam-diam menjadi tujuan dari setiap cerita kecil yang ingin kubagikan hari itu.

Kalau dipikir-pikir, yang tersisa bukan hanya rasa itu. Ada beberapa potongan percakapan yang, entah mengapa, terus tinggal.
Beberapa kali aku tertidur di toilet kantor. Bangun dengan kaki yang terasa pegal dan layar ponsel yang masih menyala. Hal yang aku lakukan selalu sama: membuka aplikasi biru itu dan mencari namanya. Tapi kemarin terasa berbeda — aku tak lagi menemukan nama yang biasa kusemat di urutan paling atas. Baru saat itu aku sadar, aku sudah tidak punya dia untuk mendengar hal sekonyol ini.
Tak pernah terbesit dipikiranku, cerita-cerita receh itu yang justru paling kurindukan.
Barangkali ini yang disebut kehidupan dewasa. Bukan soal kehilangan orang yang dicintai. melainkan bagaimana tetap menjalani hari — dengan segala kejadian receh yang sama — namun kini tanpa ada lagi tujuan dari semua cerita absurd itu.
Aneh sekali. Yang hilang bukan orangnya, namun kebiasaan-kebiasaan kecil yang kubangun bersamanya.
Aku masih ingin berbagi cerita dengannya. Kalaupun tidak sebagai pasangan, mungkin sebagai teman pun bisa, pikirku waktu itu.
Berkali-kali kuubah bentuk hubungan itu di kepalaku sendiri. Mungkin ini akan berhasil kalau kami hanya berteman. Mungkin aku hanya perlu mengurangi perasaanku sedikit demi sedikit sampai terbiasa. Mungkin aku hanya perlu berhenti berharap lebih.
Sayangnya, kenyataan tak sesederhana itu.
Aku masih ingin bercerita padanya bagaimana hariku berjalan, bersama kejadian-kejadian absurd yang ada aja setiap harinya.
Sampai mungkin, pada akhirnya aku mengerti.
Mau tidak mau, aku harus menerima bahwa tidak semua yang pernah menjadi “kita” akan selamanya tetap demikian. Ada hal-hal yang, pada akhirnya, harus kubiasakan untuk dijalani seorang diri.
메타데이터
- post_id
- 5afe0fe94dcd
- slug
- kebiasaan-kecil-yang-ikut-hilang-bersamanya-5afe0fe94dcd
- url
- https://medium.com/@sherafim/kebiasaan-kecil-yang-ikut-hilang-bersamanya-5afe0fe94dcd
- canonical_url
- https://medium.com/@sherafim/kebiasaan-kecil-yang-ikut-hilang-bersamanya-5afe0fe94dcd
- author_url
- https://medium.com/@sherafim
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 09:29:11