Refleksi Sebagai Insan Akademik Soal Isu Lingkungan
Beragam riset dan publikasi ilmiah telah dilakukan untuk membuktikan dampak mikroplastik terhadap kehidupan masyarakat. Artinya, tidak ada…
Refleksi Sebagai Insan Akademik Soal Isu Lingkungan
Beragam riset dan publikasi ilmiah telah dilakukan untuk membuktikan dampak mikroplastik terhadap kehidupan masyarakat. Artinya, tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Riset yang telah dilakukan perlu dikuatkan melalui penyebaran melalui media massa, media sosial, dari mulut ke mulut dan perlu diolah sedemikian rupa agar informasi mudah diterima oleh masyarakat. Mengolah bahasa riset menjadi bahasa sehari-hari masyarakat atau bahasa “warung kopi” merupakan langkah penting yang telah dan harus terus kita upayakan. Terkadang, riset yang kita lakukan sebagai akademisi mendapatkan apresiasi yang besar dari sesama akademisi. Namun, riset yang baik bukan hanya yang bisa terpublikasi pada indeks kelas tinggi atau mendapatkan banyak sitasi. Riset yang baik juga seharusnya bisa dicerna dan diterima oleh masyarakat dengan bahasa yang melokal, dengan bahasa sehari-hari, dan bahkan dengan bahasa “kearifan lokal”.

Masyarakat mungkin tidak menyadari bahwa mikroplastik, nanoplastik, dan plastik dengan ukuran berapapun yang masuk ke dalam tubuh akan berpengaruh terhadap kerja otak, masuk ke dalam sel darah, hingga menurunkan kualitas hormon reproduksi. Maka, kita sebagai akademisi memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat untuk terus menyuarakan bahaya plastik jenis apapun dan dalam bentuk apapun. Kita perlu memaksimalkan seluruh sumberdaya yang kita punya untuk memperjuangkan semua hal yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan dan tentunya untuk kesehatan masyarakat itu sendiri. Terdapat satu kalimat yang bisa menjadi penyemangat kita dari Tan Malaka, “Bila kaum muda terpelajar merasa dirinya terlalu tinggi untuk berbaur dengan masyarakat, maka lebih baik pendidikan itu tidak pernah ada”. Menjadi penguat bagi kita para kaum muda, kaum terpelajar, akademisi, untuk terus hidup bersama masyarakat. Kita tidak akan bisa memiliki koneksi dengan masyarakat apabila tidak hidup berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat perlu untuk ditemani, masyarakat perlu untuk diajak bergerak maju, masyarakat sangat memerlukan peran akademisi seperti kita juga memerlukan masyarakat.
Kita sebagai akademisi juga tidak berjuang sendirian. Kita memiliki kelompok yang besar. Kita memiliki koneksi yang sangat luas. Kita memiliki sumberdaya manusia, sumberdaya operasional, sumberdaya keilmuan, dan sumberdaya untuk melangkah maju. Mungkin kita tidak bisa melakukan semuanya sekaligus. Ada akademisi yang memiliki nilai lebih dalam riset dan penelitian, ada juga akademisi yang memiliki nilai lebih dalam mengolah informasi dan komunikasi dengan masyarakat, dan masih banyak nilai-nilai yang bisa dimiliki oleh akademisi. Mungkin akademisi sendiri perlu memberikan ruang untuk masing-masing keahlian akademisi berperan pada porsinya. Mencari gelar mungkin mudah untuk saat ini. Namun, mencari makna dan nilai-nilai kemasyarakatan menjadi hal yang tidak boleh dilupakan oleh akademisi.

Sumber: Tribunnews.com
Masalah-masalah lingkungan yang timbul saat ini sejatinya merupakan muara yang dihasilkan dari kompleksitas sosial masyarakat kita. Maka dari itu, mendalami ilmu lingkungan bukan hanya mendalami tentang ilmu-ilmu biologis, fisika, kimia. Namun, juga belajar tentang perilaku, sikap, persepsi, hingga kondisi sosial-ekonomi yang ada di masyarakat. Belajar tentang ilmu lingkungan menuntut kita untuk mendengar lebih banyak suara, menuntut kita untuk merasakan lebih dalam problematika yang muncul di masyarakat sehari-hari. Tidak cukup untuk kita melihat satu sebab akan menghasilkan satu akibat. Akan tetapi, kita dituntut untuk merasakan bahwa satu akibat yang dirasakan oleh masyarakat timbul oleh puluhan hingga ratusan sebab yang memiliki benang merah sehingga ilmu lingkungan akan terus relevan dengan perkembangan waktu dan zaman. Ilmu yang dimiliki manusia akan tumbuh perlahan dari waktu kelahiran hingga menjadi profesor. Maka, pada saat itu juga permasalahan yang timbul di masyarakat dan lingkungan juga mengalami perubahan yang bisa dan memang harus kita pecahkan.
Lingkungan dan masyarakat merupakan dua hal yang sangat kompleks. Maka, ilmu lingkungan perlu meracik resep untuk mengatasi kompleksitas dua entitas penting yang sudah ratusan kali disebut dalam tulisan ini. Resep yang diracik harus mencakup tiga aspek penting yakni abiotik-biotik-kultur yang siklusnya tidak akan pernah habis. Ketiga unsur penting tersebut merupakan ringkasan bahwa seluruh bagian yang ada di bumi merupakan aspek penting pada lingkungan. Salah satu aspek rusak yang lain akan terkena dampaknya. Maka, menjaga ketiga aspek tersebut adalah satu-satunya cara untuk manusia tetap hidup dan lingkungan tetap lestari.
메타데이터
- post_id
- 5b4f60a0abca
- slug
- refleksi-sebagai-insan-akademik-soal-isu-lingkungan-5b4f60a0abca
- url
- https://medium.com/@asyamamr/refleksi-sebagai-insan-akademik-soal-isu-lingkungan-5b4f60a0abca
- canonical_url
- https://medium.com/@asyamamr/refleksi-sebagai-insan-akademik-soal-isu-lingkungan-5b4f60a0abca
- author_url
- https://medium.com/@asyamamr
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-02 17:34:46