Teguran Keras
Sumber : Dompet Alquran
Teguran Keras

Sumber : Dompet Alquran
Hey kaum apatis, apakah dirimu tidak merasa malu kalau sekitarmu bergerak, dan kamu masih diam saja di tempat?
Sering kali saya ingin berteriak, kesal, gedeg, karena menemukan orang yang cukup bebal untuk dikatakan sesuatu namun tetap meneruskan hal yang sudah salah, tapi sudah dikoreksi orang lain, eh malah masih dilakuin.
Duh.
Saya makin teryakinkan setelah nanya Chat GPT, “apakah Anda tahu apa itu tindakan apatis?”
Apatis adalah sikap tidak peduli atau kurangnya minat dan perhatian terhadap sesuatu, baik itu peristiwa di sekitar, masalah sosial, atau bahkan kondisi pribadi. Orang yang apatis cenderung tidak tergerak untuk bereaksi, berpendapat, atau mengambil tindakan terhadap situasi yang seharusnya memerlukan respon.
Yaaa begitulah kiranya, saya pun yang awalnya sudah tahu arti itu, semakin disadarkan dan mulai berani menclaim orang-orang tertentu yang ternyata masih apatis terhadap sesuatu.
Lewat reels yang dikirimkan Pak Yusuf di grup Marketing saya mulai menerka-nerka, ada gebrakan apa lagi nih?
Ternyata setelah saya menonton kali kedua, akhirnya paham bahwa maksud yang ingin disampaikan adalah kita harus vokal terhadap sesuatu. Pak Yusuf secara khusus meminta tim untuk menonton reels tersebut agar kami sadar pentingnya bersuara ketika melihat ketidakadilan.
Bukan hanya sekadar berani bicara, tapi juga memastikan informasi tersampaikan merata, termasuk kepada tim yang mungkin sedang terkendala atau memiliki agenda lain. Dengan begitu, tidak ada lagi alasan bagi siapapun untuk mengabaikan hal-hal yang seharusnya diperbaiki.
Karena saya orang yang termasuk dalam golongan yang cukup vokal di kantor, jadi tidak begitu relate dan malah memiliki pikiran,
“Aih, akhirnya muncul juga part yang saya tunggu, teguran untuk si kaum apatis!”
Sudah beberapa hari terlewat dari nobar reels yang dilakukan, kalau tidak salah ingat hampir semua tim menonton hal yang sama juga, tapi sejauh ini belum ada dampak yang secara universal berubah. Maksud saya — yaa tidak merata.
Saya jadi kepikiran, kalau semua orang di kantor memilih diam saat ada yang salah, apa jadinya tim ini? Apa jadinya perusahaan ini? Saya pribadi nggak bisa membayangkan bekerja di tempat yang penuh dengan kesalahan, tapi semua orang pura-pura nggak lihat.
Tapi itu ya cuma keresahan saya saja, di lapangan masih ada yang sulit diatur juga.
Seperti halnya pekerjaan rutin yang saya lakukan sekarang, point of view saya jadi lebih luas, saya mengecek banyak hal dan saya menerima banyak hal. Ada beberapa yang saya koreksi publik dengan harapan bisa jadi sebuah catatan dikemudian hari untuk diingat kembali, namun terkadang orang bersangkutan yang saya infokan itu malah memilih abai terhadap hal yang perlu diperhatikannya secara mandiri.
Kesal? Tentu.
Merasa tidak dihargai? Betul.
Tapi kembali lagi, kalau mengambil kutipan dari Filosofi Teras, “Ada hal yang tidak bisa kita kendalikan, yaitu hal yang ada di luar dari diri kita.”
Saya tidak bisa mengendalikan sepenuhnya seseorang, tapi saya bisa membuatnya perlahan berubah.

Sumber : Dokumentasi Pribadi, Telegram Topik Grup Chibi
Dari potongan gambar di atas, saya mengetik dengan rasa kecewa. Akhirnya, saya tiba di satu kesimpulan yang rasanya cukup pahit — ucapan saya sebagai ‘pemimpin’ sepertinya tidak didengar. Saya pun mulai ragu, apakah chat saya benar-benar diperhatikan dan diresapi, atau hanya sekadar di-mark as read saja?
Padahal, saya sudah mention beberapa chat yang terlambat dibalas dan berujung ke BEJ. Materi serta spoiler narasi tentang apatis dan harapan vokal ini juga sudah turun sejak beberapa waktu lalu, tapi nyatanya belum benar-benar diterapkan dalam keseharian.
Saya pernah melihat bagaimana satu orang yang berani menegur bisa menciptakan perubahan besar. Tapi sayangnya, kalau yang vokal hanya satu-dua orang sementara yang lain memilih diam, perubahan itu berjalan lambat. Lama-kelamaan, mereka yang awalnya vokal pun bisa kehilangan semangat.
Saya tidak berharap semua orang tiba-tiba menjadi vokal dalam semalam. Tapi setidaknya, kalau ada yang salah, jangan pura-pura tidak tahu. Jangan biarkan kebiasaan buruk bertahan hanya karena kita malas bersuara. Diam bukan solusi, dan membiarkan kesalahan terus terjadi hanya akan membuat segalanya semakin buruk.
Pada akhirnya, saya sadar bahwa mengubah pola pikir dan kebiasaan orang bukanlah hal yang mudah. Tapi kalau saya berhenti berbicara hanya karena merasa lelah, bukankah itu justru membiarkan masalah semakin membesar?
Bersikap vokal bukan berarti suka mencari kesalahan orang lain, melainkan peduli terhadap lingkungan sekitar. Karena kalau kita semua terus memilih diam, lantas siapa yang akan membawa perubahan?
Jadi, kalau hari ini masih ragu untuk bersuara, setidaknya jangan mengabaikan hal yang jelas-jelas keliru. Karena membiarkan kesalahan terjadi tanpa perlawanan sama saja dengan ikut berkontribusi dalam kehancuran.
Jakarta Timur, kostan bintang 7 enjoy
21 Februari 2025
메타데이터
- post_id
- 5b810c9de3dc
- slug
- teguran-keras-5b810c9de3dc
- url
- https://medium.com/@lusyocta/teguran-keras-5b810c9de3dc
- canonical_url
- https://medium.com/@lusyocta/teguran-keras-5b810c9de3dc
- author_url
- https://medium.com/@lusyocta
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 08:21:59