Ruined long weekend
A sehun x oc oneshot AU
Ruined long weekend
Cw : slight mature, romance, 3S (suka suka sarah wkwk), rada gajelas maap and im sorry if this is cringeworthy atau ngak nyambung atau ga make sense 👊🏻😭
Buat YBBA (yang Mau baca baca aja)
Fiction garis keras
All characters are mine, the visual behind my characters belongs to themself
No hard feeling
Enjoy…

“Kamu tidur?” Adalah kata sambutan yang Tanaya terima sesaat membukakan pintu apartemen. Dilihatnya Aksa dengan posisi jongkok di sebelah pintu. He looks like a lost puppy. Dengan raut bersalah sekaligus menahan tawa juga gemas, Tanaya merentangkan tangannya dan membantu lelaki itu berdiri.
Tak biasanya Aksa membunyikan bel unit. Passcode unit apartemen Tanaya sudah dihafal di luar kepala. Biasanya juga main masuk aja. Lantas kenapa ia melakukan hal demikian? Dan kenapa pula dia berjongkok?
“Ngak kok. I’m so sorry kamu nunggu lama, aku… gatau kamu dateng. Kenapa ga langsung masuk?”. Dengan Aksa yang tegap berdiri, Tanaya harus mendongak untuk menatap wajahnya. Tanpa sadar dia mendengus samar.
“Gapapa sayang…” Aksa berkata dengan nada kelewat tenang. Rautnya pun kelewat tenang.
“Aku nge bell karena takut ganggu me time kamu.” Lanjutnya.
Aneh.
Aksa memang menghargai waktu “me time” Tanaya. Aksa paham betul Tanaya dengan jiwa INFP nya butuh lebih banyak me time away from people dan bahkan dirinya. Tetapi, kadang, jika Aksa ingin berkunjung di sela – sela me time tersebut, cowok itu langsung mengabari Tanaya. Lalu, kalaupun itu sudah dilakukan, dia akan langsung masuk ke dalam unit tanpa repot – repot untuk memencet bel. Dan sekarang hal itu tidak terjadi.
“Kalau kamu tanya kenapa, hp ku mati aku gabisa hubungin kamu, makanya aku nge-bell.”
Sekarang Tanaya mengerti, “Aww,, thank you for being considerate, tapi kamu kan bisa langsung masuk aja. Biasanya juga gitu.”
Masih merasa ini ganjil, Tanaya lanjut bertanya, “kamu kan lagi nongkrong sama temen temen SMA, kok malah samper aku?”
“Technically, acara nya udah selesai. Semua “rundown” yang sok sok an dibikin sama Chakra udah terlaksana semua, tapi si anjing Barca dan Dennis ngide buat lanjutin di Valhalla cause according to them the night is still young.” Ujarnya sembari duduk bersebelahan dengan Tanaya.
Dengan raut bingung sekaligus curiga, Tanaya menimpali, “loh, ya bener kan the night is still young it’s barely evening loh, Sa. Biasanya kamu nongkrong sampe pagi. Kamu juga ga masalah tuh kalau lanjut ke club.” Aksa datang pukul 6 sore, tentunya itu masih “pagi” sekali baginya.
Aksa menatap Tanaya dengan raut yang sulit diartikan. Gerak – gerik yang tidak seperti biasanya…
“Sa.. kenapa? Jangan bikin aku panik dong…” Tanaya paham betul sikap Aksa yang seperti ini, kelewat tenang dan terlalu considerate bukan Aksa dalam kondisi normal. Pasti ada sesuatu hal terjadi yang membuatnya panik. Tenang karena panik. Iya itu Aksa, dia akan tenang dan hati – hati ketika panik.
“You know i love you right, Ta. Aku sayang sama kamu dan gak akan khianatin kamu.”
Tanaya makin bingung dibuatnya. Aksa dengan khawatir dan terlihat putus asa menyatakan cinta sambil mengenggam erat tangannya. Menatapnya dengan raut yang sama sekali sulit diartikan.
Panik pun segera menyergap Tanaya. Pikiran – pikiran negatif mulai bercokol dibenaknya. “Maksud kamu apa, Sa?”
Menghela napas panjang dengan tangan yang mengelus lembut pipi Tanaya, Aksa mulai menceritakan secara perlahan apa yang terjadi beberapa jam lalu.
“Maaf, Ta. Aku terlalu kaget untuk menghindar.” Untuk beberapa menit yang sangat terasa menyiksa bagi Aksa, ruangan itu hening. Tak ada dari respon dari Tanaya.
Genggaman itu makin erat dan tatapan itu makin jelas dengan raut khawatir dan…. Bersalah.
Sejujurnya, Tanaya kecewa dan marah. Satu sisi itu bukan sama sekali bukan salah Aksa. Tetapi di sisi lain, ini Jemima, orang yang sekian kali membuat hubungan mereka tidak baik – baik saja.
Jemima – teman dekat Aksa semasa SMA – mencium dan memagut bibir Aksa dalam keadaan mabuk saat membantu mengantar perempuan itu mengambil kudapan ke area kitchen pantry. Aksa yang terlampau kaget dan dalam pengaruh alkohol, walaupun ia belum mabuk, diam mematung dengan bibir yang menyatu dengan Mima. Baru lah ketika, Mima mendorong tubuhnya ke dinding lorong apartemen Bima – tempat dimana nongkrong reunian itu diadakan – Aksa sadar dan mendorong tubuh Mima.
“I am sorry sayang, i should’ve shoved her right away.” Tanaya melepas tangannya dari genggaman dan menjauhkan tubuhnya dari Aksa
“Ta… Please say something.”
Tanaya memutus pandangan dengan Aksa. “Jujur aku marah dan kecewa. Kamu tau kita dulu sering berantem karena Mima dan segala tingkah anehnya dan pas dia udah gaada di Indonesia itu buat aku lega. Aku tau dia teman dekat mu, dia baik sama kamu dan nemenin hari hari kamu pas SMA, tapi pas denger kamu cerita begitu dengan apa yang dia lakuin ke kamu tadi, itu udah di atas batas toleran antar temen deket. Selama dulu kamu ketemuan berdua sama Mima aku masih bisa ngerti karena kalian memang temenan jauh sebelum kamu kenal aku dan aku percaya sama kamu. Mungkin kalau kamu lupa aku udah sempet saling jujur sama Mima bahwa emang dia nganggap kamu hanya teman despite her behaviour towards you. Katanya perhatian perhatian dia itu kasual – antar teman and she said i dont have to worry about that. Dia juga minta maaf kalau aku udah bikin salah paham dan ngak enak karena jadi alasan chaos hubungan kita waktu itu. Itu terjadi sebelum dia pergi kerja ke US. Dan karena itu kan hubungan kita jadi baik – baik aja, termasuk hubungan ku ke dia dan dia ke kamu.”
“Tapi, setelah ternyata dia balik dan ngelakuin hal itu ke kamu, bahkan dalam keadaan mabuk, itu sangat memperjelas niatan dia ke kamu selama ini itu apa. Dan semua yang dia bilang ke aku tempo hari semuanya bohong. temen deket do not kiss, Prakarsa!” Tanaya terkejut dengan dirinya yang bisa tanpa menangis mengutarakan itu semua, walaupun terdengar memutar – mutar. Mungkin saking kecewanya dia bisa seperti itu.
“Aku minta maaf, Ta. Aku gatau Seharusnya emang ngak aku anterin dia ke pantry.” Penyesalan terlihat jelas di wajah gantengnya. Melihatnya membuat Tanaya tambah sebal.
“Makanya jadi cowok jangan kebaikan. Kan dia punya temen ceweknya atau yang lain yang bisa anter. Kenapa pula harus kamu?!” Sifat Aksa yang kelewat gentleman sama semua perempuan ini yang membuat Tanaya ingin sekali menggigitnya.
“Maaf, Ta. Yang lain nolak ambilin snack. Opsinya cuman aku.” Tanaya sempat kira, Aksa akan memberi pembelaan bahwa hubungan dia dan Mima sudah baik, termasuk hubungan Tanaya dengan Mima, lepas konflik kemarin, sehingga tidak apa – apa untuknya membantu teman dekatnya itu.
“Kamu tuh IQ tinggi, tapi masa gini aja gapaham??! Mereka itu sengaja, Aksa..” mendegarnya membuat Tanaya kesal.
“Kamu perlu sering – sering introspeksi. Kalau kamu baik sama semua cewek, bisa – bisa kamu kehilangan yang paling berharga.”
“Iya.” Ucapnya kalah. Jarang sekali Aksa mengiyakan tanpa argumen. Segalanya harus dengan argumen dahulu. Harus masuk ke logikanya dahulu. Tidak semudah itu membuat seorang Prakarsa kalah dengan menundukkan kepalanya.
“Jadi kamu mau maafin aku? Aku mohon, Ta.” Dan ingat susah sekali membuat Aksa memohon, bahkan dengan Tanaya.
Menatap penuh mata pacarnya, Tanaya menghela napas, “Iya aku maafin, jangan kamu ulangin lagi, Sa. Kurang – kurangin baik mu ke cewek – cewek, terutama sama Jemima. Sekarang udah gaada alasan lagi kamu baik sama dia. Dia udah kelewatan batas, mungkin dia mabuk, tapi dengan dia mabuk itu udah sangat cukup nunjukin niat dia terhadap kamu itu apa.”
“Iya, Ta.” Jawabnya pasrah.
Mungkin ini salah, tapi Tanaya masih kesal sekaligus ingin mengetes pacarnya. “Aku capek, ini udah malam, aku mau tidur. Kamu jangan ganggu aku.”
“Iya, Ta. Tidur aja.” Aksa noleh ke Tanaya masih dengan muka pasrahnya.
Melihatnya, Tanaya ingin ngetes Aksa lagi, sekali lagi. “Kamu tidur di sofa bed aja. Jangan masuk ke kamar ku.” Tanaya beranjak masuk ke kamar. Tetapi, dipertengahan jalan, respon Aksa membuat Tanaya tercengang.
“Iya, kalau gitu aku pamit pulang ya, Ta. Selamat bobo. Aku sayang kamu.” Suaranya lemah dan tetap pasrah. Aksa berjalan menuju pintu dan tak lama sosoknya hilang dibalik pintu unit Tanaya.
Kok dia lemes banget, aduh muka gantengnya pasrah banget, kenapa pula jadinya pulang. Tanaya sedikit menyesal atas kelakuannya. Tapi, mungkin Aksa harus digituin agar sadar. Aduh tapi kasihan.
Mau mu apa sih, Ta?
메타데이터
- post_id
- 5b84aa4b59fb
- slug
- ruined-long-weekend-5b84aa4b59fb
- url
- https://medium.com/@sarahotwin/ruined-long-weekend-5b84aa4b59fb
- canonical_url
- https://medium.com/@sarahotwin/ruined-long-weekend-5b84aa4b59fb
- author_url
- https://medium.com/@sarahotwin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 18:59:05