Memaafkan Kota Lewat Konser Intim Banda Neira di Bojonegoro
Langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Memaafkan Kota Lewat Konser Intim Banda Neira di Bojonegoro

Penampilan Banda Neira di Karinah, Bojonegoro (30/1/2026)
Langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Kami memasuki venue tepat saat pembawa acara memanggil Banda Neira naik ke atas panggung. Pukul delapan malam lebih sepuluh menit. Sebelumnya, saat memarkir motor, perasaan saya sudah tidak enak, pasti penonton sudah meluber dan menutupi yang datang terlambat. Tapi waktu menukar tiket, seorang kru mengarahkan kami ke sisi kiri panggung. Di sana masih banyak kursi kosong, katanya.
Kami pun berjalan memutar ke kanan, menerobos sesak penonton, pergi ke tempat yang disarankan. Benar, beberapa kursi masih kosong. Para penonton lebih banyak memadati tempat di depan panggung, berderet sesak sampai gerbang depan pintu masuk.
Sejenak lampu panggung meredup. Kami duduk saat duo folk asal Jakarta ini, bersiap di podium. Lampu menyala, dan Banda Neira, unjuk menyambut penonton langsung dengan sebuah lagu.
Saya datang berdua bersama Agis. Janji untuk datang ke konser ini sudah sejak akhir tahun lalu, tepat saat informasi resmi acara mengudara. Beruntung sekali, Bojonegoro bisa menghadirkan Banda Neira, dan ini jadi pengalaman pertama mereka hadir di kota ini. Setelah sebelumnya, duo folk yang resmi bubar pada 2016 dan nyaris hanya jadi mitos ini bangkit lagi dari kubur dan muncul lagi sejak tahun 2024.
Di awal tahun ini, Banda Neira sedang menjalani tur bertajuk “Berjalan Lebih Jauh”, di delapan kota di Jawa Timur. Bojonegoro menjadi tempat singgah kedua setelah Jombang.

Tur konser intim di delapan kota di Jawa Timur, Duo Folk Banda Neira (Instagram)
Selanjutnya, gigs mengalir. Dari respon penonton, terasa di awal suasana agak canggung. Hanya beberapa penonton saja yang ikut bernyanyi, dan sebagian menikmati lagu dengan menyimak tenang. Kedai Karinah Bojonegoro, tampak seperti ruang perjumpaan awal yang lumayan berat untuk Banda Neira.
Sampai setelah dua lagu dibawakan. Ananda Badudu dan Sasha menyapa penonton. Mereka mengatakan salam dan menginformasikan bahwa, Bojonegoro menjadi salah satu titik singgah yang tiketnya habis paling cepat.
Memang benar, sehari setelah saya membeli tiket, tiket sudah sold, tidak sampai dua hari. Ucapan Sasha ini lantas disambut riuh tepuk tangan penonton. Suasana menjadi lebih cair.
Interaksi antara penonton ini berlangsung beberapa kali. Di jeda lagu. Tema panggung intim yang diusung terasa lebih hidup. Juga Sasha, memberi kabar bahwa, selalu ada lagu yang dibawakan khusus di masing-masing kota tur mereka.
Dia menanyakan dimanakah jalan paling enak untuk dipakai bersepeda di Bojonegoro. Seorang penonton menjawab di Jalan Kartini. Beberapa yang lain tampak berpikir. Setelah beberapa kali bertanya, Sasha mengamini jawaban itu, dan mengatakan akan menyanyikan lagu khusus di Bojonegoro kali ini; dengan “Senja di Kartini”. Sebuah judul yang disesuaikan dari lagu asal berjudul, “Senja di Jakarta”.
Nikmati Jalan Kartini, Maafkan Jalan kartini
Terdengar beberapa kali teriakan penonton mengikuti suara Sasha saat lagu dibawakan, ubahan dari lirik asli, “maafkan Jalan Jakarta”. Saya sendiri lebih suka jika yang dimaafkan bukan Jalan Kartini belaka, melainkan tertuju pada seluruh kota dan segala isinya ini; Bojonegoro.
Kota ini berjarak enam ratus delapan puluh kilometer dari Jakarta, sudah saya tinggali selama dua puluh tujuh tahun. Dan saya tahu betul, meski tidak ada Kopaja di sini, kota ini sama panas dan keparatnya dengan Jakarta. Maka saat yang lain berteriak dengan lirik di atas, Jalan Kartini, saya memilih mengutarakan yang lain. Tak apa kalau nadanya jadi agak kurang pas;
Nikmati Kota Bojonegoro, Maafkan Kota Bojonegoro
Saya sudah lupa urutan ke berapa lagu itu dimainkan, tetapi beberapa lagu tampil dengan bagus. Terdengar sesekali suara biola Sasha mengalun menyayat, disela petikan gitar Ananda Badudu, menemani kami dengan lembut di sepanjang pentas. “Di Beranda”, “Hujan di Mimpi”, dan “Di Atas Kapal Kertas”. Semuanya dibawakan menjadi pengalaman konser intim yang punya suasana spiritual.
Apalagi saat lagu “Langit dan Laut” dibawakan. Dari mulai intro sampai lirik pertama dinyanyikan, saya menyimaknya dengan seksama, melihat Agis yang duduk disamping. Lalu saat sampai pada bagian tengah lagu, nyawa dari lagu ini, entah mengapa, benar-benar hidup dan terdengar berbeda.
Langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan Biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hirup, dan sesalkan, jiwa
“Langit dan Laut” ada dalam album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti, yang dirilis tahun 2016. Tepat di malam penampilan di Bojonegoro, album ini genap berusia satu dekade. Maka ini jadi momen yang paripurna untuk lagu ini. Juga untuk lagu yang ada di album yang sama lainnya, yang dibawakan di Bojonegoro.

Setelah lebih dari empat puluh menit tampil. Ananda Badudu yang sebelumnya berdiri dan bermain gitar, beranjak duduk di depan piano. Sudah bisa ditebak, dia sedang bersiap menyanyikan lagu pamungkas yang paling banyak dinantikan; “Sampai Jadi Debu”.
Saat dia menekan tuts piano, di intro yang magis, “Sampai Jadi Debu”. Penonton bertepuk tangan sebentar, kemudian suasana menjadi hening. Lampu panggung pun berganti warna dalam kuning yang samar. Sasha menaruh biola, dan wajahnya jadi serius. Keduanya menjadi hening. Dan saya melihat Agis di samping.
“Lagu penghujung” Kataku.
“Nggak kerasa sudah hampir satu jam”.
“Sampai Jadi Debu”, mungkin jadi lagu yang paling tidak asing. Karinah malam itu berubah menjadi tempat karaoke dadakan. Hampir semua penonton terbius dan bernyanyi, suasana jadi sendu dan tenang.
Selamanya, Sampai kita tua, sampai jadi debu Ku di liang yang satu Ku di sebelahmu
Nuansa hening itu berlanjut sampai pada lagu “Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti”, setelahnya. Sasha mengabarkan, ini jadi lagu terakhir malam ini. Sayang sekali, “Biru” atau “Derai-derai Cemara” atau “Rindu”, lagu favorit saya tak dimainkan. Tapi ya sudahlah. Ini tetap jadi malam yang sempurna. Dan ditutup tanpa cela oleh Banda Neira dengan; “Berjalan Lebih Jauh”.
Saya mengikuti irama lagu pamungkas itu, mengikuti suara Sasha dan Nanda. Menutup malam bersama orang di samping kanan saya dengan tenang dan pasti. Kami pun ikut mendendangkan lagu ini, mengucapkannya dengan lirih, serupa doa terakhir yang harus ada di penghujung malam ini:
Berjalan lebih jauh (berjalan lebih jauh) Menyelam lebih dalam (menyelam lebih dalam) Jelajah semua warna (jelajah semua warna) Bersama, Bersama, Bersama
Parapapaparapa Parapapaparapa
Karinah — Jumat 30, Januari 2026
메타데이터
- post_id
- 5b911852fd72
- slug
- memaafkan-kota-lewat-konser-intim-banda-neira-di-bojonegoro-5b911852fd72
- url
- https://medium.com/@labirin/memaafkan-kota-lewat-konser-intim-banda-neira-di-bojonegoro-5b911852fd72
- canonical_url
- https://medium.com/@labirin/memaafkan-kota-lewat-konser-intim-banda-neira-di-bojonegoro-5b911852fd72
- author_url
- https://medium.com/@labirin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-17 12:55:20