← Back to list

Menemukan Diri di Antara JOMO dan Barisan Kata yang Tertunda

Beberapa minggu terakhir, jempol saya berhenti menggulir. Layar ponsel yang biasanya menjadi jendela dunia kini terasa seperti dinding kaca…

Rizal Wicaksono · 2026-01-28 02:00 · 8 claps · 3.2 min read
#jomo #joy-of-missing-out #life-lessons #learning
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment EDU · Education & Learning

Menemukan Diri di Antara JOMO dan Barisan Kata yang Tertunda

Photo by JOYUMA on Unsplash

Photo by JOYUMA on Unsplash

Beberapa minggu terakhir, jempol saya berhenti menggulir. Layar ponsel yang biasanya menjadi jendela dunia kini terasa seperti dinding kaca yang menyesakkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menekan tombol deactivate dan hibernate pada hampir seluruh akun sosial media, bahkan beberapa akun pekerjaan yang selama ini menuntut kehadiran saya secara konstan.

Saya ingin “break”. Dan jujur saja, kali ini saya ingin jedanya bertahan lama.

Ada kelelahan yang sulit dijelaskan ketika kita terus-menerus terpapar oleh pencapaian orang lain, kurasi hidup yang tampak sempurna, dan kebisingan tren yang tidak ada habisnya. Kita dipaksa untuk selalu “ada”, selalu “update”, dan selalu “terlihat”. Namun, di balik layar yang terang itu, saya justru merasa semakin redup.

Insekuritas yang Dikemas sebagai Koneksi

Kita sering membohongi diri sendiri bahwa sosial media adalah alat untuk tetap terhubung. Nyatanya, bagi saya — dan mungkin bagi banyak dari kalian — ia lebih sering menjadi panggung perbandingan yang kejam. Frustasi akan sosial media itu nyata. Ia mampu menciptakan insekuritas yang merayap perlahan; membuat kita merasa tertinggal hanya karena kita tidak sedang berlibur, tidak sedang naik jabatan, atau sekadar tidak memiliki sarapan seindah estetik orang lain.

Saya merasa lelah menjadi penonton bagi hidup orang lain sambil melupakan hidup saya sendiri. Saya merindukan masa-masa sebelum semua ini menjadi “hip”. Masa di mana pencapaian adalah milik pribadi, di mana kegagalan tidak perlu dikomentari oleh orang asing, dan di mana kebahagiaan tidak perlu divalidasi oleh jumlah likes.

Penggalan dari “Ruang yang Tersembunyi”

Di tengah keheningan tanpa notifikasi ini, saya kembali membuka draf buku yang sempat berdebu. Salah satu bagiannya berbicara tentang pencarian identitas yang jujur — sebuah tema yang juga sedang saya hidupi saat ini:

“Dunia seringkali terlalu berisik untuk mendengarkan bisikan hati kita sendiri. Kita sibuk membangun menara-menara eksistensi di tanah yang bukan milik kita, hanya agar orang lain bisa melihat bahwa kita sedang mendaki. Namun, di puncak sana, seringkali hanya ada hampa. Ternyata, keberanian sejati bukan terletak pada seberapa banyak orang yang mengenal namamu, tapi pada seberapa berani kamu tetap tegak saat tak ada satu pun mata yang melihat.”

Kalimat itu saya tulis untuk karakter dalam buku saya, namun hari ini, kalimat itu menampar saya kembali. Saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu sibuk membangun “menara” di Instagram dan LinkedIn, hingga lupa merawat “pondasi” di dalam diri.

Memeluk JOMO: Hak untuk Tidak Berpartisipasi

Dulu, kita takut ketinggalan (Fear of Missing Out). Sekarang, saya justru menemukan kemewahan dalam ketidaktahuan. Inilah Joy of Missing Out (JOMO). Ada kebahagiaan yang ganjil saat saya tidak tahu apa yang sedang viral hari ini.

Dalam salah satu draf pekerjaan saya beberapa waktu lalu tentang Meaningful Youth Participation (MYP), ada prinsip utama: “Nothing about us without us”. Ironisnya, dalam hidup pribadi, saya justru merasa “tidak ada” dalam hidup saya sendiri karena terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain di layar. JOMO adalah cara saya merebut kembali hak partisipasi atas hidup saya sendiri.

Saya ingin mengejar pekerjaan yang selama ini saya dambakan dengan ketenangan penuh. Tanpa gangguan notifikasi yang memecah konsentrasi, tanpa tekanan untuk memamerkan proses kerja. Saya ingin bekerja karena saya mencintainya, bukan karena ingin dianggap produktif oleh publik.

Medium dan KaryaKarsa: Sudut untuk Bersuara

Lalu, ke mana saya akan pergi? Saya tidak benar-benar berhenti berkarya. Saya hanya mengganti panggungnya.

Saya memilih “mojok” di Medium. Platform ini akan menjadi tempat saya menumpahkan unek-unek, refleksi, dan pemikiran yang mungkin terlalu panjang untuk platform lain. Di sini, saya tidak mencari pengikut; saya mencari ruang bernapas. Menulis di sini adalah cara saya memproses rasa capek ini menjadi sesuatu yang bisa saya pelajari.

Selain itu, energi yang tersisa akan saya curahkan sepenuhnya ke KaryaKarsa. Saya memiliki utang pada diri sendiri: 2–3 buku yang selama ini tertunda. Salah satunya mengisahkan tentang mereka yang berjuang menemukan suara di tengah keterbatasan — seperti semangat inklusivitas yang selama ini saya geluti di dunia kerja. Saya ingin menulis bukan untuk memuaskan algoritma, tapi untuk meneruskan napas cerita yang sudah lama ingin lahir.

Biarkan Hidup Berjalan Selayaknya

Ke depannya, hidup akan berjalan seperti ini. Tanpa hiruk-pikuk, tanpa pameran, tanpa kepura-puraan. Menjalani hidup selayaknya manusia di jaman dulu — yang bangun pagi, bekerja, merasa lelah, bercengkrama dengan orang terdekat, lalu tidur tanpa beban harus memeriksa handphone.

Saya ingin merasakan kembali betapa berharganya menjadi “anonim”. Menjadi seseorang yang tidak harus memiliki opini atas segala hal. Menjadi seseorang yang cukup dengan dirinya sendiri.

Bagi kalian yang mungkin merasakan hal yang sama — merasa sesak oleh layar yang terlalu terang — ketahuilah bahwa tidak apa-apa untuk pergi sejenak. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kita tidak mengunggah cerita hari ini. Justru, mungkin saat itulah dunia kita yang sebenarnya baru saja dimulai.

Saya memilih untuk pulang ke diri sendiri. Sampai jumpa di barisan kata dalam buku-buku saya nanti.


메타데이터
post_id
5bbc1de57af7
slug
menemukan-diri-di-antara-jomo-dan-barisan-kata-yang-tertunda-5bbc1de57af7
url
https://medium.com/@pnyijal/menemukan-diri-di-antara-jomo-dan-barisan-kata-yang-tertunda-5bbc1de57af7
canonical_url
https://medium.com/@pnyijal/menemukan-diri-di-antara-jomo-dan-barisan-kata-yang-tertunda-5bbc1de57af7
author_url
https://medium.com/@pnyijal
status
ok
fetched_at
2026-06-22 00:13:37