Bugs dalam Sarung
Menyoal glitch yg tak seharusnya ada
Bugs dalam Sarung
Di sebuah masa, yg kini terasa semakin sayup di beranda musholla kita, ketika kebesaran tak diukur dari seberapa keras seseorang berteriak. Di masa ketika kiai-kiai kita hadir layaknya mata air di musim kemarau. Mereka lirih, tapi menyejukkan.
Pengetahuan agama mereka, ilmu yg diraih dan ditempa bertahun-tahun dari kedisplinan mujahadah dan riyadlah, tak memantul sebagai arogansi intelektual, tapi ia menjelma menjadi akhlaq yg melayani.
Kita mengenang mereka dg rasa ta’dhim yg dalam. Nama-nama seperti KH. As’ad Situbondo, KH. Romli Tamim, KH. Munawwir Jogya, KH. Baidlowi dan KH. Ma’shoem Lasem, KH. Arwani Kudus, KH. Hamid Pasuruan, hingga KH. Faqih Langitan, membuat NU begitu disegani. Bukan karena kepiawaian menggerakkan mesin politik, melainkan karena wibawa batin dan kearifan yg otentik. Mereka adalah jangkar di tengah gelombang zaman.
Buya HAMKA, ulama besar Muhammadiyah, yg di masa mudanya kerap bersilang argumen dg kalangan tradisionalis, pada akhirnya menyampaikan penghormatan yg tulus. HAMKA, dg kebesaran jiwanya, pernah mengakui bahwa NU adalah benteng pertahanan Ahlussunnah wal Jamaah yg kokoh; penjaga gawang yg menyelamatkan kekayaan tradisi dan menghidupkan harmoni Islam di Nusantara.
Di mata dunia, citra itu juga tak kalah terang. Para pengamat luar negeri kerap memandang NU dg kekaguman. Mereka memotret NU sebagai pilar utama civil society, wajah Islam moderat yg sanggup tersenyum, yg merajut sarung kedamaian dg prinsip demokrasi modern. Bagi mereka, NU adalah oase di atas dunia yg tengah disengat panasnya ekstremisme.
Namun, waktu agaknya selalu membawa paradoksnya sendiri.
Ketika kalender berganti dan lanskap sosial berubah, NU tumbuh meraksasa. Ia tak lagi sekadar himpunan kiai bersahaja di pelosok desa. Organisasi ini membesar, meluas, dan menyentuh pusat-pusat kekuasaan, menampilkan lebih banyak warna dan nilai yg saling silang. Dan di titik inilah, sebuah “anomali” perlahan merayap naik ke atas panggung.
Kita mulai dipertontonkan pada kemerosotan yg cukup vital. Kapasitas ilmu tak lagi selalu menjadi syarat mutlak kepemimpinan; sementara keagungan akhlaq kadang tergeser oleh kelihaian pragmatis dalam berebut posisi. Ada wibawa yg tampak rontok begitu saja ketika sebagian pengurusnya tak lagi mencerminkan kedalaman sosok kiai di masa lalu.
Walhasil, kebesaran memang senantiasa mengandung godaan. Untuk tidak mengatakannya kutukan.
NU, dg jaringannya yg luar biasa dan kekuatannya yg powerful untuk menebar kemanfaatan, telah tumbuh menjadi pohon rimbun yg dinilai ajeg meneteskan madu. Dan madu, secara niscaya, selalu mengundang kumbang-kumbang. Kumbang yg datang bukan untuk merawat kelopak bunga, melainkan sekadar menghisap nektar demi kenyangnya sendiri.
Dalam bahasa komputasi hari ini, kita mungkin diijinkan untuk sekedar membuat analogi NU sebagai sebuah program. Sebuah aplikasi perangkat lunak raksasa. Yg tadinya dibangun dari barisan kode algoritma yg luhur. Namun, belakangan layar sering kali berkedip. Terjadi misbehavior. Ada penurunan standar yg mencemaskan. Gangguan ini, glitch ini, bisa jadi tidak muncul dari desain aslinya, melainkan dari masuknya bugs atau kumbang-kumbang oportunis tadi. Mereka menyusup, menggerogoti memori sistem, dan membuat program itu kerap gagal menampilkan output akhlaq yg semestinya. Karena sejatinya para bugs selalu punya agenda sendiri yg berbeda dg command prompt yg dikehendaki oleh programernya.
Mungkin, begitulah nasib institusi yg membesar. Ia rentan pada parasit. Namun kita tahu, sebuah program yg tangguh selalu memiliki cara untuk melakukan debugging.
Sambil menanti pembersihan itu, kita hanya bisa menengok ke belakang, merindukan kiai-kiai yg ilmunya tak butuh panggung, dan akhlaqnya senantiasa menuntun dalam diam.
(DM, 26 Muharram 1448)
메타데이터
- post_id
- 5bd7fcddefc5
- slug
- bugs-dalam-sarung-5bd7fcddefc5
- url
- https://medium.com/@tejosuroso/bugs-dalam-sarung-5bd7fcddefc5
- canonical_url
- https://medium.com/@tejosuroso/bugs-dalam-sarung-5bd7fcddefc5
- author_url
- https://medium.com/@tejosuroso
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 09:39:55