← Back to list

iPhone Lebih Mahal dari Motor, dan Itu Konyol

Harga iPhone sekarang lebih mahal dari harga motor, bahkan kadang lebih mahal dari MacBook yang seharusnya komputer penuh, bukan sekadar…

Alifio · 2025-10-13 14:03 · 0 claps · 2.5 min read
#appl #satire #capitalism #consumerism #society
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔒 · Cybersecurity 😂 · Humor & Satire 🌐 · Society · General

iPhone Lebih Mahal dari Motor, dan Itu Konyol

Harga iPhone sekarang lebih mahal dari harga motor, bahkan kadang lebih mahal dari MacBook yang seharusnya komputer penuh, bukan sekadar telepon genggam. Logikanya sederhana: dengan harga segitu, mestinya iPhone bisa membawa kita pergi kerja, bisa jadi kendaraan, bahkan bisa masak nasi. Tetapi kenyataannya tidak. Ia tetap benda kecil yang fungsi utamanya hanya memamerkan diri di cermin elevator dan menguras dompet dengan notifikasi cicilan.

Kita seperti sedang dipaksa hidup dalam ekosistem yang absurd. Apple tidak lagi menjual telepon, mereka menjual gaya hidup. Mereka tidak hanya menjual produk, mereka menjual identitas. Dengan iPhone di tangan, Anda dianggap bagian dari kasta yang lebih tinggi. Tidak peduli apakah isi dompet Anda bolong, asalkan ada logo apel yang digigit, dunia akan memperlakukan Anda sedikit lebih sopan. Ironinya, banyak orang lebih bangga punya iPhone daripada punya motor, padahal motor bisa membawa kita bekerja, sementara iPhone hanya bisa membawa kita lebih dalam ke hutang.

Harga iPhone yang selangit adalah manifestasi kapitalisme tahap lanjut: kita dipaksa percaya bahwa the ultimate human experience adalah scroll layar dari bangun sampai tidur lagi. Kalau dulu kerja itu artinya bangun pagi, pergi ke kantor, berpeluh di jalan, sekarang kerja versi Apple adalah membuka aplikasi kalender dan membaca email sambil rebahan. Motor memberi mobilitas nyata, iPhone memberi mobilitas digital. Masalahnya, kita tidak bisa membeli beras dengan mobilitas digital.

Tetapi di balik keangkuhan harga itu, justru tersembunyi benih kelemahan Apple sendiri. Setiap sistem yang terlalu rakus akan menciptakan ruang bagi pesaing. Apple percaya mereka bisa terus menaikkan harga karena orang tidak mungkin lepas dari ekosistemnya. Tetapi sejarah kapitalisme menunjukkan: selalu ada celah. Nokia pernah berpikir begitu. BlackBerry pernah percaya dirinya tak tergantikan. Mereka semua lupa bahwa teknologi adalah seperti agama: begitu umat merasa ritual terlalu mahal, mereka pindah ke sekte baru yang lebih ramah kantong.

Hari ini kita melihat tanda-tanda itu. Perusahaan lain mulai mengisi gap yang ditinggalkan Apple. Mereka menawarkan produk dengan harga lebih masuk akal, dengan fitur yang bahkan lebih berguna. Kamera yang tidak kalah canggih, baterai yang lebih awet, memori yang lebih longgar, tanpa harus menjual ginjal untuk membelinya. Apple mungkin masih berjaya, tetapi setiap tahun jarak antara kebanggaan dan kebosanan semakin tipis. Ketika harga naik lebih cepat daripada inovasi, loyalitas berubah menjadi kejengkelan.

Ironinya, strategi Apple yang begitu pintar justru terlihat bodoh di mata realitas. Mereka mendorong konsumen menjadi budak layar, tetapi lupa bahwa manusia pada akhirnya tetap butuh makan, tetap butuh bergerak, tetap butuh hidup di luar notifikasi. Semakin mahal iPhone, semakin orang sadar bahwa benda itu hanya alat, bukan tujuan. Semakin Apple mengunci orang dalam ekosistem, semakin banyak orang yang mencari pintu keluar.

Mungkin, suatu hari nanti, kita akan menertawakan era ini seperti kita menertawakan ponsel lipat jadul. Kita akan berkata: “Ingat dulu, ketika orang rela bayar lebih mahal untuk iPhone daripada motor? Ingat betapa gila dunia waktu itu?” Dan generasi berikutnya akan geleng-geleng kepala, sama seperti kita sekarang geleng-geleng melihat orang dulu beli pager mahal hanya untuk menerima pesan satu baris.

Pada akhirnya, Apple sedang menulis tragedinya sendiri. Dengan menjadikan iPhone lebih mahal daripada motor, mereka secara tidak langsung mengakui bahwa produk mereka bukan lagi alat, melainkan simbol. Dan simbol, betapapun kuatnya, selalu punya batas. Karena simbol tidak bisa mengantar anak sekolah, simbol tidak bisa mengangkut belanjaan, simbol tidak bisa membuat kita sampai ke kantor ketika bensin habis.

Jadi biarlah Apple terus menaikkan harga. Biarlah mereka percaya bahwa dunia akan selalu tunduk pada apel yang digigit itu. Kita tahu, cepat atau lambat, selalu ada perusahaan baru yang akan muncul, menutup celah, menawarkan logika sehat di tengah kegilaan ini. Dan ketika hari itu datang, iPhone tidak lagi jadi simbol gengsi, melainkan jadi simbol kebodohan massal di era kapitalisme digital.


메타데이터
post_id
5c7a2b454a89
slug
iphone-lebih-mahal-dari-motor-dan-itu-konyol-5c7a2b454a89
url
https://medium.com/@alifio/iphone-lebih-mahal-dari-motor-dan-itu-konyol-5c7a2b454a89
canonical_url
https://medium.com/@alifio/iphone-lebih-mahal-dari-motor-dan-itu-konyol-5c7a2b454a89
author_url
https://medium.com/@alifio
status
ok
fetched_at
2026-07-16 21:05:47