← Back to list

aku adalah pusat dari duniaku sendiri

karena jika bukan aku yang peduli pada duniaku sendiri, lalu siapa lagi?

Iquilibrium · 2026-06-11 15:45 · 0 claps · 2.2 min read
#bahasa-indonesia #indonesia #life #self-awareness #self
Open on Medium ↗

aku adalah pusat dari duniaku sendiri

karena jika bukan aku yang peduli pada duniaku sendiri, lalu siapa lagi?

Photo by Kristina Flour on Unsplash

Photo by Kristina Flour on Unsplash

Orang-orang sering berkata bahwa aku terlalu membesar-besarkan masalah. Mereka bilang, untuk apa aku terus-terusan memikirkan hal-hal kecil, untuk apa aku bertingkah seolah-olah seluruh dunia sedang memperhatikan gerak-gerikku. “Kamu bukan pusat semesta”, kata mereka, seolah kalimat itu adalah obat penenang yang mujarab untuk meredakan badai di kepalaku.

Tapi, bagiku, kalimat itu keliru.

Memangnya kenapa kalau aku menganggap diriku adalah pusat dunia? Bukankah pada kenyataannya, bagi diriku sendiri, memang begitulah adanya? Aku melihat dunia melalui mataku, merasakan sakit melalui kulitku, dan memproses kesedihan melalui hatiku. Di dalam kepalaku ini, akulah satu-satunya sutradara sekaligus aktor utamanya. Jadi, ketika orang lain memintaku untuk berhenti merasa menjadi pusat segalanya, mereka sebenarnya sedang memintaku untuk mengabaikan keberadaanku sendiri.

Aku tidak naif. Aku tahu betul bahwa seratus atau dua ratus tahun dari sekarang, keberadaanku akan menguap tanpa sisa. Namaku tidak akan tercatat di buku sejarah, dan tidak akan ada orang yang mengingat bagaimana aku menangis di sudut kamar atau bagaimana aku tertawa sampai kehabisan napas. Di hadapan waktu yang membentang luas, aku hanyalah setitik debu yang tidak berarti.

Namun, bukankah justru karena waktu yang singkat ini aku berhak untuk egois?

Selama jantungku masih berdetak, selama darahku masih mengalir, akulah pusat dari duniaku saat ini. Masa depan yang berjarak ratusan tahun itu tidak sedang menjalani hari ini; akulah yang sedang menjalaninya. Rasa sakit yang kurasakan saat ini nyata, kebingunganku nyata, dan ketakutanku juga nyata.

Aku tidak bisa menenangkan diriku yang sedang terluka hari ini hanya dengan kalimat, “Ah, lagipula dua ratus tahun lagi aku sudah mati”. Itu tidak adil untuk aku yang sedang berjuang bertahan hidup detik ini.

Mereka juga sering mempertanyakan mengapa aku harus berpikir berlebihan. Mengapa aku harus mengulang-ulang percakapan yang sudah lewat di dalam kepala, atau mencemaskan skenario buruk yang belum tentu terjadi. Mereka menyebutnya overthinking, seolah itu adalah sebuah kelemahan yang memalukan.

Memangnya kenapa kalau aku berpikir berlebihan? Memangnya apa salahnya jika aku bersikap terlalu waspada pada hidupku sendiri?

Mari kita jujur satu sama lain. Di dunia yang berjalan begitu cepat dan sering kali acuh tak acuh ini, memangnya siapa yang benar-benar peduli pada diriku selain diriku sendiri? Orang lain punya dunia mereka sendiri untuk diurus. Mereka punya kecemasan mereka sendiri untuk ditenangkan.

Pada akhirnya, ketika seluruh keriuhan hari ini mereda, satu-satunya orang yang tertinggal untuk memeluk dan menguatkanku adalah aku sendiri.

Jika aku tidak memikirkan diriku sendiri dengan kapasitas penuh, jika aku tidak mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa menjatuhkanku, lalu siapa yang akan melakukannya untukku? Pikiran yang berlebihan ini, seberapa pun melelahkannya, adalah caraku untuk bertahan hidup. Ini adalah bentuk perlindungan diri dari dunia yang sering kali tidak memberi peringatan sebelum memukul kita hingga jatuh.

Jadi, biarlah kepalaku tetap bising. Biarlah orang-orang menganggapku terlalu rumit atau terlalu egois karena menganggap diriku sebagai pusat dari segalanya. Aku tidak merugikan siapa pun dengan menjadi tokoh utama di dalam hidupku sendiri.

Aku memilih untuk berhenti meminta maaf karena telah berpikir terlalu banyak. Aku memilih untuk menerima bahwa bagiku, duniaku adalah hal terpenting yang harus kujaga.

Karena jika aku tidak menjadi pusat dari duniaku sendiri, aku hanyalah orang asing yang menumpang lewat di dalam hidup yang seharusnya menjadi milikku sepenuhnya.


메타데이터
post_id
5c8798e1fa63
slug
aku-adalah-pusat-dari-duniaku-sendiri-5c8798e1fa63
url
https://medium.com/@qbal/aku-adalah-pusat-dari-duniaku-sendiri-5c8798e1fa63
canonical_url
https://medium.com/@qbal/aku-adalah-pusat-dari-duniaku-sendiri-5c8798e1fa63
author_url
https://medium.com/@qbal
status
ok
fetched_at
2026-06-12 07:40:50