← Back to list

Still Waiting at 10:09.

The cave was never a prison—until she refused to walk out of it.

dèargene. · 2026-03-27 10:26 · 1 claps · 4.8 min read
#fanfiction #enhypen #engene
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative ⚖️ · Law & Justice

A small story by @wrotenbyU

A small story by @wrotenbyU

Still Waiting at 10:09.

10 Maret, 2026.

‎Aku tidak pernah ingat bagaimana aku bisa sampai di sini. ‎ ‎Yang aku tahu, terakhir kali… aku masih tertawa. ‎ ‎Suara kami memenuhi ruang sempit di dalam gua, memantul di dinding batu yang lembab. Tawa itu ringan, nyaris seperti tidak punya beban. Aku bahkan ingat bagaimana langkah kami terdengar—tidak terburu-buru, tidak takut. ‎ ‎Seolah kami tidak sedang tersesat. ‎ ‎Seolah kami memang tidak ingin keluar. ‎ ‎Udara di dalam gua dingin, tapi tidak menusuk. Justru menenangkan, seperti pelukan yang terlalu lama hingga perlahan membuatmu lupa bagaimana rasanya berada di luar. ‎ ‎Di sini… tidak ada waktu. Tidak ada dunia lain. Hanya kami. ‎ ‎Dan itu cukup. ‎ ‎Heeseung berjalan di depan. ‎ ‎Aku tidak selalu bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tahu itu dia—dari cara dia melangkah, dari suaranya yang stabil, dari bagaimana dia sesekali menoleh hanya untuk memastikan kami semua masih ada. ‎ ‎“Stay close.” Sederhana. ‎ ‎Tapi cukup untuk membuatku merasa aman. ‎ ‎Aku selalu mengikuti suaranya. Selalu. ‎ ‎Hari itu… semuanya terasa sama. Sampai tiba-tiba— ‎ ‎Whoosh. ‎ ‎Bukan suara keras. Hanya sesuatu yang kecil. Tapi cukup untuk membuat semuanya berubah. ‎ ‎Cahaya yang selama ini bahkan tidak kusadari keberadaannya… hilang. ‎ ‎Seketika. ‎ ‎Gelap. ‎ ‎Bukan gelap biasa—ini seperti seluruh ruang ditelan oleh sesuatu yang tidak menyisakan apa pun. Aku mengangkat tanganku, mencoba melihat, tapi bahkan bayangannya pun tidak ada. ‎ ‎Aku tidak bisa melihat mereka. Aku tidak bisa melihat apa pun. ‎ ‎“Jangan panik.” ‎ ‎Suara itu. ‎ ‎Heeseung. ‎ ‎Lebih jelas dari sebelumnya, seolah hanya suaranya yang diizinkan bertahan di tengah kegelapan ini. ‎ ‎“Aku di depan. Ikutin aku.” ‎ ‎Nafasku yang sempat tertahan perlahan kembali. Lalu, aku mengangguk, refleks. ‎ ‎Setelahnya, kami mulai berjalan. ‎ ‎Langkah kami tidak lagi santai. Ada jeda di setiap pijakan. Ada keraguan di setiap gerakan. Tapi, selama suara itu masih ada… aku tidak berhenti. ‎ ‎Dan entah bagaimana—aku tahu waktunya. ‎ ‎10.09 pagi. ‎ ‎Tidak ada jam. Tidak pula ada cahaya. ‎ ‎Tapi angka itu muncul begitu saja di kepalaku, seperti sesuatu yang sudah tertanam sejak awal. ‎ ‎Dan tepat di saat itu—suara di depan… menghilang. ‎ ‎Langkahku terhenti setelah menyadarinya. ‎ ‎“Heeseung?” ‎ ‎Sunyi. ‎ ‎“Heeseung…?” Ucapku sekali lagi. ‎ ‎Hanya gema yang kembali, lebih pelan, lebih kosong. ‎ ‎Aku melangkah satu langkah ke depan, tanganku terulur, berharap menyentuh sesuatu—apa pun. ‎ ‎Tapi yang kutemukan hanya... udara dingin. Kosong. Seolah tidak pernah ada siapa pun di sana. ‎ ‎Suara lain mulai muncul. ‎ ‎Panik. Bingung. Memanggil. ‎ ‎Mereka mencoba mencari jalan, mencoba tetap bergerak. ‎ ‎Tapi aku… tidak bisa. Aku berdiri di tempat. Memanggil satu nama yang tidak pernah menjawab. ‎ ‎Dan di saat mereka terus berjalan—‎aku tertinggal. ‎ ‎Aku tidak tahu kapan tepatnya aku benar-benar sendirian. Mungkin sejak aku berhenti. Mungkin sejak dia menghilang. ‎ ‎Atau mungkin… sejak awal. ‎ ‎Hingga, hari-hari berlalu tanpa bentuk. ‎ ‎Dua minggu. Atau lebih. ‎ ‎Aku berjalan. Kadang temponya cepat. Kadang hanya menyeret langkah. Kadang berhenti hanya untuk memastikan aku masih bisa bernapas. ‎ ‎Tidak ada arah. Tidak ada suara. ‎ ‎Hanya gema langkahku sendiri yang semakin lama semakin terasa asing. Seperti aku sedang mengikuti orang lain. ‎ ‎Sampai—sebuah suara muncul. ‎ ‎Tidak datang dari satu arah. Tidak memiliki sumber. Ia hanya… ada. ‎ ‎Mengisi seluruh ruang. Dingin. Rata. Tanpa emosi. ‎ ‎“Dia tidak lagi bersama kalian.” ‎ ‎Seketika aku membeku. ‎ ‎Suara itu tidak meninggi. Tidak memaksa. Tapi setiap katanya terasa berat, seperti sesuatu yang tidak bisa dibantah. ‎ ‎“Keputusan telah ditetapkan.” ‎ ‎Nafasku disaat itu mulai tidak teratur. Aku menggeleng, meski tidak ada yang melihat. ‎ ‎“Tidak…” suaraku nyaris tidak terdengar. ‎ ‎“Tidak ada yang bisa diubah.” ‎ ‎Aku menutup telingaku. Tapi suara itu tidak berasal dari luar. Ia ada di dalam kepalaku. ‎ ‎“Kenapa kamu masih mencarinya?” ‎ ‎Krek. ‎ ‎Retakan. ‎ ‎Suara itu datang dari bawah kakiku. Yang awalnya pelan, berubah menjadi semakin keras. Aku melihat—atau mungkin hanya merasakan—dinding gua mulai runtuh. ‎ ‎Sebuah batu jatuh tepat di sampingku. Dan bersamaan dengan itu— ‎ “Heeseung hyung is the best.” ‎ Suara itu terdengar jelas. Terlalu jelas. Sehingga, aku membeku. ‎ Batu lain menghantam lenganku. ‎ “I always depends on heeseung hyung.” ‎ Nafasku tersendat. ‎ ‎Lalu, satu lagi. Lebih berat. ‎ “Enhypen would be incomplete without your voice, hyung.” ‎ ‎“Stop…” suaraku pecah. Tapi semuanya tidak berhenti. ‎ “I only have one hyung.” ‎ ‎“Thank you for being my hyung.” ‎ ‎“I’m glad I have someone to talk… thank you.” ‎ ‎Suara-suara itu bertumpuk, saling menimpa—sama seperti batu-batu yang menekan tubuhku. Terlalu banyak. Terlalu berat. Seolah semuanya mencoba mengatakan hal yang sama… ‎ ‎bahwa dia benar-benar pernah ada. ‎ ‎Disaat itu, aku terjatuh. Batu-batu itu berjatuhan sambil menghantam tubuhku, menekan, membuatku hampir tidak bisa bernapas. Tapi, rasa sakitnya bukan di situ.

‎Setiap batu yang jatuh… membawa sesuatu. ‎ ‎Tawa. Suara. Potongan momen. ‎ ‎Aku melihatnya. ‎ ‎Sekilas—cepat, sangat cepat. Terlalu cepat untuk ditahan.

‎Kenangan yang pernah aku genggam erat selama lebih dari 5 tahun… sekarang jatuh menimpaku tanpa ampun. ‎ ‎Aku menangis saat aku mencoba bangkit. Tanganku mendorong batu di atasku. Mereka gemetar. Lemah. Tapi aku tetap mencoba.

‎Aku tidak mau tetap di sini. ‎ ‎Aku tidak bisa. ‎ ‎Sampai—

cahaya itu muncul. ‎ Cahaya itu kecil. Dan samar. Tapi cukup untuk membuatku melihat mereka.

‎Mereka berdiri di sana. Mereka utuh dan selamat. Mereka tidak terlihat seperti sehabis ditimpa oleh batu. ‎ ‎Tanpa seseorang yang menuntun kami keluar dari gua yang gelap. ‎ ‎Aku melihatnya secara jelas. Wajah-wajah itu tersenyum. Tapi senyum itu terasa… berbeda. Seperti sesuatu yang dipakai, bukan dirasakan. Senyum itu tetap hangat. Tapi juga… rapuh.

‎Setelah mereka melihatku, mereka mendekat. Tidak juga banyak bicara. Mereka hanya langsung membantu menyingkirkan batu-batu yang menimpaku. ‎Seolah mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. ‎ Seolah mereka sudah pernah melewati ini.

‎Sang pemimpin, Jungwon, berhenti tepat di depanku. Dia menatapku dengan tatapan yang... entah bagaimana aku langsung mengerti.

‎Dan untuk pertama kalinya… aku sadar bagaimana keadaanku. ‎ ‎Kotor. Bajuku lusuh. Nafasku berat. ‎ ‎Mataku terasa panas, bengkak, seperti sudah terlalu lama menangis tanpa kusadari. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa detik.

‎Lalu—tangannya terulur. Hangat. Nyata.

‎Dia menggenggam tanganku erat, tidak ragu. Lalu, menarikku perlahan.

‎“Kita masih di sini.” ucapnya pelan. ‎ ‎Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku retak. ‎ ‎Setelah aku merapihkan sebagian dari diriku—rambut dan pakaian, kami mulai berjalan. Pelan.

‎Disaat itu, langkahku tidak stabil, kakiku masih menginjak pecahan batu yang berserakan. ‎ ‎Dan saat aku hampir mencapai ujung, hampir menyentuh tanah yang berbeda—‎sebuah suara terdengar. ‎ ‎Suara itu lembut. Namun terasa jauh. Seperti datang dari tempat yang tidak bisa dijangkau.

‎Disaat itu juga, aku membeku. Nafasku berhenti.

‎Itu… aku kenal suara itu.

‎“Heeseung…?” ‎ ‎Aku langsung menoleh cepat. Mencari. Lalu, menunggu.

‎Tapi... tidak ada siapa-siapa. ‎ ‎Hanya keheningan yang kembali menelan semuanya. ‎ ‎Karena tidak mendapatkan apapun, aku kembali menatap arah depan. Lalu, menutup mata. Merasa lelah. Sambil memanjatkan doa dan berharap. ‎ ‎Berharap saat kubuka… aku benar-benar keluar. ‎ ‎Tapi saat aku membuka mata— ‎ ‎aku kembali berada di sana. ‎ ‎Di dalam gua. ‎ ‎Gelap. ‎ ‎Sunyi. ‎ ‎Dengan tujuh bayangan di sekitarku. ‎ ‎Dan satu suara di depan. ‎ ‎“Stay close.”

‎ ‎Aku tidak pernah benar-benar pergi. ‎ ‎Dan mungkin…

‎aku tidak pernah ingin pergi.


메타데이터
post_id
5cd1ee1768f4
slug
still-waiting-at-10-09-5cd1ee1768f4
url
https://medium.com/@wrotenbyU/still-waiting-at-10-09-5cd1ee1768f4
canonical_url
https://medium.com/@wrotenbyU/still-waiting-at-10-09-5cd1ee1768f4
author_url
https://medium.com/@wrotenbyU
status
ok
fetched_at
2026-07-11 16:58:28