Terima kasih.
Malam itu, malam perayaan kerja kerasku setelah aku memberikan segala usaha terbaik ku pada acara itu. Bertepatan dengan malam kepamitanku…
Terima kasih.
Malam itu, malam perayaan kerja kerasku setelah aku memberikan segala usaha terbaik ku pada acara itu. Bertepatan dengan malam kepamitanku pada kota yang membentuk ku. Semangkuk tempura kesukaanku dengan orang orang yang telah bekerja keras bersama ku kala itu. Mula nya, tak terbesit dipikiranku untuk berpamitan pada segerombolan orang orang yang duduk di seberang tempatku bahwa aku akan meninggalkan kota ini selamanya. Bagiku, kehadiranku di hidup mereka tidak sepenting itu. Lalu, satu diantara nya pernah membantuku melewati segalanya, diawali dengan hijrah dari rumah ke rumah lain, dan saat dunia serasa membenciku, pada saat itu ia yang menemani tangisanku. Mengingat itu semua, aku rasa setidaknya si rambut keriting dengan kacamata itu berhak tau, aku tak lagi di kota ini, dan berterimakasih atas uluran tangannya selama ini. Disampingnya, ada beberapa kawan lama yang sudah lama belum datang lagi ke pintu kehidupanku, beberapa diantaranya memang pernah sedekat itu, diantara lainnya hanya teman sebatas menyapa di koridor kelas. Benar benar kumpulan manusia yang hangat. Untuk pertama kali sejak lama nya sudah tak kuingat, satu satu dari mereka secara serempak mengucapkan terimakasih atas kerja kerasku. “Aku gak tau bisa ketemu kalian lagi atau engga, tapi aku gak di beppu lagi, aku minta maaf ya kalo aku ada salah, aku rasa kalian berhak tau, jadi sekalian deh aku pamit sama semuanya” ucapku. Wajah bingung dan sedih mungkin sudah kuduga untuk mereka yang memang dekat, tapi tak pernah kusangka mereka yang hanya berinteraksi saat berpapasan akan ikut bingung dan sedih. Dua adik kecil yang kita biasa panggil, si Qatar dan si kacamata dengan rambut poni nya itu serempak kaget dan sedih, “Kak alisha please main untuk yang terakhir kalinya, kita sedih bgt”. Kupikir, saat itu tak ada lagi orang yang peduli padaku. Aku pikir seluruh warga di kota kecil ini sudah membenciku dan menghukumku. Aku sudah siap dibenci, tujuanku hanya ingin berpamitan pada si keriting yang kebetulan ia bersama dengan yang lain. Disambut dengan wajah bingung kawan yang menemaniku melewati proses kehidupan cintaku kala itu, meski sempat tidak berinteraksi, si kacamata yang baru saja pindah ke tempat tinggal dengan satu kamar itu hampir menangis mendengar kabar ini. Disitu berdiri laki laki 2007 an dengan wajah sedih diujung tanpa mengucapkan sepatah kata sampai akhirnya, “aku ga pernah nemuin orang yang kaya kak alisha lagi, sedih banget” ucapnya. Aku kenal dia tak sengaja selepas pertemuan dengan komunitas kami, aku hanya ingin terhubung kembali setelah lama berada di jalan yang memang bukan jalanku. Malam itu, aku buta peta, tak tahu jalan pulang kala itu, ia yang menuntunnya. Percakapan kami sesingkat menebak ia seperti si kutu buku. Kita membahas buku yang waktu itu sedang kubaca. Hanya sesingkat itu tapi berkesan.
Singkatnya, mereka datang ke rumah membawa kue merayakan kepergianku. Hanya di mata mereka, apa yang kualami adalah hal menakjubkan dan mereka tau aku akan jauh lebih bahagia disana. Mereka seperti tahu, aku tidak suka dikasihani dan tidak perlu ada yang dikasihani dari ini semua. Tak banyak sedih, mereka hanya ingin membuat aku bahagia. Pertemuan ke dua adalah pertemuan yang membuat aku merasa akhirnya aku diterima seutuhnya ditempat itu. Disaat yang lain pergi merayakan masing masing kerja kerasnya di club kecil ujung jalanan, aku memilih untuk ke rumah teman seperjuanganku di acara itu yang sekarang memegang peran terpenting dalam hidupku. Satu persatu dari mereka datang tanpa direncanakan. Awalnya, kami hanya bercanda gurau sampai salah satu dari kami, seseorang yang dulu pernah sedekat itu denganku lalu entah gimana semesta bekerja, aku akhirnya didekatkan lagi setelah ujian pertemanan yang kami alami, panggil saja ia teman belajarku dulu sampai akhirnya ia pindah jurusan. “Guys aku punya kartu we’re not really strangers” Ucapnya. Satu kartu yang keluar, satu jam untuk masing masing kita. Kala itu, aku bisa melihat diri mereka yang sebenar benarnya, akupun menunjukan diriku yang sekurang kurangnya, setiap dari mereka mengajarkan aku nilai nilai yang tak pernah aku dapatkan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ternyata pertemanan seharusnya sehangat ini. Ah, tak berapa lama, adik kami semua yang pandai bernyanyi ini datang, ia duduk sampingku, melihatku dengan mata kucing nya itu. Lebih banyak diam dan mendengarkan, lalu menangis mendengar ceritaku. Lucunya.
Pertemuan kita berlanjut di kaki gunung Tsurumi. Iya, permintaan terakhirku untuk bisa mendakinya. Banyak banyak terimakasih sudah membantu sampai di puncak ya, untuk si kutu buku.
Hari itu, si Qatar bertambah umur, kami merayakannya dengan menonton Sore. Paginya, di tempat pemberhentian bus, seseorang memanggilku, sontak aku kaget, rupanya kakak tingkat yang dikagumi semua orang itu memanggilku berkali kali tapi suaranya gagal masuk ke telingaku karena aku sedang mendengarkan lagu, aku sempat berbincang beberapa kali dengannya, apalagi saat ini semua terjadi. Melamban dalam pendidikan adalah hal yang tabu dikamus duniaku, tapi aku ingin seseorang mengubah perspektif itu. Aku tau ia orang yang tepat. Pesan terakhirku hanya dibaca, tapi aku tahu betul memang dunianya sibuk. Lalu, semesta mempertemukan kami. “Bagaimana perasaanmu?” untuk pertama kali, seseorang mementingkan perasaanku dulu. Di bus, aku mendapatkan banyak sekali kalimat yang secara drastis mengubah cara pandangku. Ia sukses membuatku takjub akan pemikirannya. Memberikan aku kabar baik bahwa melamban pada pendidikan bukanlah hal yang tabu. Aku selalu punya pilihan untuk diam dan memulai dari awal. Percakapan kami berlanjut di toko kue kecil samping jalanan daerah rumahku, ia membawa adiknya yang baru tiba waktu itu. Si kutu buku tiba tiba datang, dan untuk pertama kalinya selama 3 jam berbincang, yang isi nya hal yang seharusnya aku dengar. Bahwa sebenarnya, ini bukan kabar buruk untukku, ini kabar baik. Banyak hal yang bisa aku lakukan lebih baik lagi dengan memulai dari awal. Malamnya, si kakak tingkat, adiknya, dan kutu buku ini ikut menonton Sore bersama.
Dan kemarin, ulang tahunku, ke 21. Tepat di hari ulang tahunku, aku meninggalkan kota kecil yang membentukku untuk selama lama nya. Ah, pasti akan kembali, tapi harumnya tak akan sama lagi. Bukan lagi seseorang yang menimba ilmu disana. Hanya turis asing yang mengingat kembali memori memori itu. Mereka datang ke rumahku, berkumpul untuk terakhir kalinya. Entah pembaca pikiran atau gimana, semuanya memberikan aku surat. Hadiah terbaik sepanjang hidupku di hari ulang tahunku. Memberikan aku hadiah hasil karya tangan nya pula. Lalu kami semua menuju stasiun dengan muatan koperku yang kelebihan, Aku pikir hanya akan ada mereka. Mereka yang tahu aku sekurang kurangnya yang datang entah tau darimana, masih menyetorkan wajahnya seolah memberi pesan bahwa mereka sayang denganku, dan masih ingin berteman denganku. Tiba saatnya aku pergi, aku melihat belakang untuk terakhir kalinya, sebanyak inikah orang yang sayang padaku? bukan nya aku si penjahat itu ya? bukankah seharusnya kalian tidak menemaniku? bukannya seharusnya aku sendiri? kenapa tiba tiba sebanyak ini? “tuhkan sha, banyak yang sayang sama kamu” ucap Rachel. Iya, ia seseorang yang bersamaku dari acara itu yang sekarang punya peran besar dalam hidupku. Aku ditemaninya ke kota besar untuk pulang ke Indonesia. “you’re so loved” Ucap nada. Yang ini teman seperjuanganku di kelas jurusanku sebelum dia pindah, diapun sama. Punya peran besar dalam duniaku.
Terima kasih ya teman teman, di versi paling terburukku, kalian menemukan aku, mengulurkan tangan, dan mengenalkan aku pada pertemanan yang hangat. Di versi terburukku juga, kalian masih bisa melihat sisiku yang paling baik. Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku. Semoga nasi kalian selalu hangat, bantal kalian selalu dingin dan nyaman, ramen kalian selalu panas, kamar kalian selalu hangat disaat musim dingin, aku harap segala kebaikan selalu membersamaimu. Diantara rasa sepi, semoga kalian tak pernah merasa sendiri. Dan dari jarak yang paling jauh, doaku berulang ulang untukmu, untuk kebaikanmu, setiap saat.
Sampai nanti.
-Sha
메타데이터
- post_id
- 5cd5273f06fd
- slug
- terima-kasih-5cd5273f06fd
- url
- https://medium.com/@lavenshaa/terima-kasih-5cd5273f06fd
- canonical_url
- https://medium.com/@lavenshaa/terima-kasih-5cd5273f06fd
- author_url
- https://medium.com/@lavenshaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 10:16:43