Aku Kira Masalahnya di Gaji, Ternyata di Masa Lalu
Berbicara tentang finansial agaknya tidak akan pernah ada habisnya, bahkan untuk Raditya Dika yang sudah mencapai tahap financial freedom…
Aku Kira Masalahnya di Gaji, Ternyata di Masa Lalu
Berbicara tentang finansial agaknya tidak akan pernah ada habisnya, bahkan untuk Raditya Dika yang sudah mencapai tahap financial freedom dan (harusnya) sudah bisa retire early. Ia masih senang menjalani pekerjaannya yang sudah pasti menghasilkan uang, dan tidak jarang perjalanan dia untuk mampir dari podcast ke podcast lain justru digunakan untuk membahas tentang how to manage his finance rather than his career. Raditya tumbuh dari keluarga yang bisa dibilang cukup atau bahkan lebih secara finansial, aku pernah mendengarkan salah satu podcastnya yang menceritakan bagaimana orang tuanya membesarkan dia dengan serba berkecukupan. Meskipun dia pasti juga memiliki perjuangannya sendiri saat awal-awal karir dan bertumbuh menjadi penulis hingga komika, tapi bisa dibilang dia sudah memiliki bekal pendidikan finansial dan cara melihat uang tidak hanya berdasarkan emosi tetapi juga keilmuan (terlihat dari cara dia untuk membuat uang yang bekerja untuk dia).
Aku kemudian bertemu dengan tulisan menarik oleh koh Fellexandro Ruby di Instagram yang membahas tentang “Money & Relationship: Pahami “Rasa” Sebelum Bicara Angka” dalam tulisannya, uang dilihat tidak hanya sebagai angka melainkan jauh lebih dalam sebagai value atau rasa. Dia menggunakan Gottam Institute: Four Money Archetype sebagai pondasi dasar melihat uang tidak hanya dari sebatas angka. Kurang lebih di antaranya sebagai berikut:
- Security: Uang Adalah Perlindungan
- Freedom: Uang adalah Kebebasan Memilih
- Power: Uang Adalah Bukti
- Love: Uang Adalah Kepedulian
Dari 4 archetype tersebut, aku semakin memahami bagaimana makna uang di setiap individu bisa sangat beragam. Untuk tahu lebih detail terkait pembahasan masing-masing dasar itu, kalian bisa mengunjungi langsung laman IG-nya di @fellexandro.
Aku selalu bertanya-tanya apa yang membuat aku susah sekali untuk bisa konsisten menabung, rasanya hidup dari paycheck to paycheck aja. Bener-bener hampir selalu mengalami namanya tanggal tua dan muda padahal kita selalu tahu gaji sebulan berapa. Secara logika harusnya aku bisa mengolah gaji sebulan tersebut untuk tidak langsung habis di awal bulan atau untuk tetap ada sisa di akhir bulan dan harusnya bisa menyisihkan untuk menabung! But then, I can’t! Aku kemudian menganalisa makna uang dari tulisan koh Ruby, dan aku sadar bahwa ternyata aku masih menerapkan uang hanya sebagai Power dan Love saja. Sedangkan otakku membayangkan harusnya uang bisa menjadi Security dan Freedom. Agaknya seperti ada dua entitas dalam diriku, dimana sisi dewasa merasa bahwa aku harusnya bisa mengelola uang agar tidak mengulangi kesalahan finansial seperti orang tuaku (yang bahkan di masa tuanya harus terus bekerja dan tidak memiliki tabungan) tapi sisi diriku yang lain melihat bahwa uang yang kumiliki sekarang adalah tanda bahwa aku sudah lebih baik daripada masa kecilku dulu.
Seperti halnya yang dibahas dalam buku “Psychology of Money” yang mengatakan bahwa mengelola uang lebih banyak ditentukan oleh perilaku daripada kecerdasan. Dan perilaku kebanyakan dibentuk dari hasil interaksi antara emosi, pikiran, kebiasaan, nilai, dan lingkungan. Sedangkan kecerdasan dibentuk melalui genetik dan lingkungan. Maka faktor “perilaku” menang dalam kasus diriku, karna dia dipengaruhi oleh lebih banyak faktor-faktor masa kecilku. Aku sadar bahwa masa kecil yang serba kekurangan memiliki dampak yang bisa jadi dua hal, yakni saat dewasa individu akan sangat takut kekurangan (lagi) makanya ia hidup hemat dan menyimpan uangnya sebisa mungkin, dan di satu sisi bisa juga individu menjadi mudah untuk menghabiskan uang karena saat kecil ia tidak pernah bisa melakukan itu (seperti balas dendam dari inner child). Lantas bisakah aku berada di antaranya saja? Maka keseimbangan untuk tidak terlalu hemat dan tidak terlalu boros memang harus bisa ditemukan!
Keseimbangan itu sepertinya akan aku temukan setelah aku benar-benar memahami mengapa aku memperlakukan uang hanya sebagai Power dan Love, bukan berarti aku tidak melihatnya sebagai Security dan Freedom melainkan kita berbicara tentang “perilaku” yang mendasari aku mengelola uangku bahkan saat aku di situasi genting sekali pun. Aku pernah di situasi dimana keluarga besar (dari sisi ayahku) yang memberikan bantuan uang pendidikan untukku saat acara keluarga (which is semua orang berkumpul di sana) bersama dengan ayah dan ibuku yang di sana. Di momen itu aku merasa dipermalukan, aku seperti di santunin padahal aku bukan anak yatim piatu. Aku kecil merasa keluargaku saat itu mempertontonkan ketidakmampuan orang tuaku dalam menyekolahkan aku dan mereka menunjukkan betapa tidak sesuainya perilaku mereka dengan apa yang sering diajarkan di sekolah bahwa “saat memberi dengan tangan kanan maka tangan kiri tidak boleh tahu”.
Jika aku yang dewasa saat ini melihat momen itu kembali, aku sebenarnya bisa lebih bijak menilai bahwa tujuan mereka baik dan perasaan dipermalukan itu hanya asumsiku saja karena memang saat itu orang tuaku tidak mampu dan hanya itu satu-satunya cara aku bisa sekolah. Namun, ironinya aku masih tidak benar-benar meyakini perkataan dewasaku. Ternyata deep down aku masih berkaca-kaca jika mengingat momen itu dan bahkan sekarang saat aku menuliskan ini, rasanya seperti mencongkel koreng yang telah lama kering tapi ternyata di dalamnya masih basah. Mungkin sejak kejadian itu, aku bertumbuh sebagai individu yang berpemahaman bahwa uang ternyata bisa memberi garis batas yang cukup besar antara si kaya dan si miskin, serta si kuat dan si lemah, dan aku tidak akan pernah mau menjadi pihak yang lemah (karna itu yang kurasakan saat ayah atau ibu menerima bantuan dari keluarga lain).
Aku akhirnya bertumbuh menjadi individu yang melihat uang sebagai Power, rasanya aku ingin terus membuktikan bahwa anak yang “disantuni” oleh keluarganya sendiri sekarang sudah mampu, bisa menghidupi dirinya sendiri dan bahkan membantu menghidupi keluarganya yang lain. Aku tidak keberatan saat harus membeli sesuatu yang mahal, atau aku akan membeli apa saja yang membuatku senang di satu sisi juga seperti ada pride yang ingin aku jaga saat aku membeli sesuatu yang mahal. Bahkan di awal kerja aku benar-benar gila-gilanya belanja (sekarang masih, tapi berusaha untuk lebih mindful sebelum check out wkwk), saat itu seperti selalu ada wishlist yang harus terus dituruti.
Pada akhirnya uang menjadi harga diri bagiku. Dan aku sampai pada satu pertanyaan tentang harga diri ini sebenarnya untuk apa? Membuktikan ke orang-orang bahwa aku sudah lebih mampu kah? Lantas kalau mereka melihat aku sudah mampu, kenapa?
Selain Power perilakuku dalam menghabiskan uang juga didasarkan pada faktor Love atau kepedulian, aku peduli ke adikku dan keluargaku, oleh karenanya aku rela menyisihkan sedikit banyak gajiku untuk kepentingan mereka. Ya meski di awal memang karena tuntutan kondisi dimana aku adalah sandwich generation, tapi seiring berjalannya waktu tekadku untuk juga membahagiakan mereka dari hasil jerih payahku juga menguat, apalagi saat melihat mereka bahagia bisa merasakan hidup yang lebih baik. Tidak hanya keluarga, aku menyadari bahwa love language (dalam hubungan romantis) yang ingin aku dapatkan dan yang ingin aku berikan ke pasangan ternyata cukup berbeda. Dimana aku senang ketika bisa quality time (yang aku dapatkan) dengan pasangan, kita tidak harus selalu ngobrol bareng tapi aku akan tetap puas saat kita bisa lari atau olahraga bareng misalnya. Di satu sisi aku juga senang saat bisa memberi barang atau sesuatu untuk pasanganku (yang aku berikan). Aku bahkan baru menyadari bahwa keinginanku untuk memasak lebih tinggi saat aku punya pasangan, entah kenapa rasanya aku siap menghabiskan uang untuk bisa memberikan sesuatu untuk dia. Aku juga sedang merencanakan meal prep untuk bisa kita nikmati berdua, dan sebagai anak perempuan pertama, aku selalu merasa ada tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik saat itu untuk orang yang kita sayangi. Uang akhirnya jadi alat aku untuk menunjukkan rasa sayang.
Jika aku telusuri lebih dalam, pandangan tentang uang sebagai ungkapan cinta atau sayang memang sudah terbentuk kuat dari kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah perhitungan untuk segala pengeluaran yang mereka habiskan untuk anaknya (yang mana memang pasti kebanyakan orang tua pasti begitu). Tapi aku sudah melihat love language kedua keluarga besar ayah dan ibu yang memang melihat uang sebagai alat untuk menyenangkan orang lain juga. Kita tidak pernah merasa menyesal saat uang dihabiskan untuk bisa mentraktir saudara yang lain, kebanyakan saudaraku melihat bahwa uang bisa dicari tapi kebersamaan bisa sangat jarang terjadi. Jadi kita selalu all out jika ada saudara jauh yang datang atau saat kita sekadar kumpul-kumpul main kartu kemudian kepikiran untuk jajan dan berlibur bersama. Meski begitu, aku juga harus belajar untuk berkata tidak untuk setiap pengeluaran yang harusnya bukan tanggung jawabku, bukan karna aku tidak peduli melainkan kadang rasa sayang ini bisa menutupi kadar kemampuan finansial yang bisa aku toleransi. Kalau dulu mau berapa pun saudara pinjam hampir aku kasih, aku bahkan pernah di titik pinjam uang untuk dipinjamkan ke saudaraku yang lain hahaha.
Dari dua cara aku melihat uang tersebut, butuh 25 tahun hidup untuk aku akhirnya menyadari bagaimana masa kecilku ternyata sangat berpengaruh terhadap caraku melihat uang saat ini. Dan entah butuh berapa lama aku akan sampai pada keseimbangan antara tidak hemat dan tidak boros itu sehingga aku bisa menerapkan uang tidak hanya sebagai Power. Serta mana batas toleransi finansial ku supaya uang yang aku lihat sebagai bentuk Love juga tidak kebablasan. Butuh banyak waktu dan kesadaran untuk aku bisa mencapai perilaku penerapan uang juga harusnya bisa sebagai Security dan Freedom. Karena pada akhirnya finansial tidak hanya tentang angka (seberapa banyak income dan expenses) melainkan juga kondisi mental dan pengambilan keputusan yang ternyata harus tetap berkesadaran. Dan setidaknya saat ini aku sudah di tahap menyadari pola finansialku dan memiliki ilmu untuk menavigasi finansial yang tepat, tinggal penerapan dan konsistensinya yang harus jadi momentum sesungguhnya.
메타데이터
- post_id
- 5cdfd6f915ea
- slug
- aku-kira-masalahnya-di-gaji-ternyata-di-masa-lalu-5cdfd6f915ea
- url
- https://medium.com/@fadiarachmaazizah/aku-kira-masalahnya-di-gaji-ternyata-di-masa-lalu-5cdfd6f915ea
- canonical_url
- https://medium.com/@fadiarachmaazizah/aku-kira-masalahnya-di-gaji-ternyata-di-masa-lalu-5cdfd6f915ea
- author_url
- https://medium.com/@fadiarachmaazizah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-20 06:08:33