← Back to list

Perayaan 20 tahun hidup di dunia. Selamat ulang tahun!

cr: pinterest

Fitria Humairoh Hanaan · 2025-11-26 17:01 · 0 claps · 5.4 min read
Open on Medium ↗

Selamat bertumbuh satu kepala hari ini!

cr: pinterest

cr: pinterest

Selamat bertumbuh satu kepala hari ini!

Aku ucapkan terlebih dahulu ucapan selamat teruntuk orang yang memiliki hari spesial hari ini, yang hanya datang satu tahun sekali.

Tapi sepertinya kali ini harus lebih fokus pada diri sendiri. Karena aku terjebak! Di tangga, tangga biasa sebetulnya, tangga yang biasanya kamu lihat di gedung-gedung tinggi, atau di rumah dengan tingkat dua. Tangga dengan anak-anaknya, sudah kupijak di anak tangga ke 20. Tapi untuk turun kok tidak ada lagi anak tangganya ya? Aku terjebak, tidak bisa turun. Hanya ada anak tangga ke atas, tapi aku tidak mau, aku kan mau turun. Pilihannya hanya dua, aku naik atau aku diam. Tapi keinginanku tidak ada di pilihan itu. Jadi, aku terjebak!

“Tolong! Ini bagaimana caranya turun ya?” Aku mencoba berteriak meminta tolong. TOLONG!

“Kak! Tahu caranya turun?” Aku mencoba bertanya pada perempuan yang ada di tangga seberang.

“Tidak, tidak bisa juga kak! Saya juga mau turun. Sudah injak anak tangga ke 25, tapi anak tangga 24 sampai seterusnya tidak ada!”

Ya sudah aku menyerah. Nyatanya tidak ada anak tangga ke 19 dan seterusnya untukku. Mungkin besok-besok anak tangga ke 20 yang aku pijak ini tidak akan ada juga.

Eh, aku teringat lagi. Seseorang yang hari ini sedang bertumbuh kepalanya sudah dapat kue dan tiup lilin belum ya?!

“Hei, kamu yang sedang bertumbuh kepala! Sudah dapat kue dan tiup lilin?” Aku berharap dia mendengar suara tulus ini.

Aku tidak pernah mendapatkan kue ulang tahunku. Ya ini hanya memberi tahu. Inginku orang itu bisa mendapatkan kuenya, tidak seperti aku. Aku belum pernah punya kue ulang tahun. Apalagi lilin yang menyala untukku tiup, itu juga tidak ada. Aku rayakan dengan…

Dengan apa ya? Dengan ucapan syukur? Dan doa-doa lainnya. Doa yang berharap aku bisa hidup dengan lebih baik, panjang umur, dan sehat selalu. Aamiin.

Tapi kok lain dengan si bungsu, adikku di rumah? Hampir setiap tahun dia mendapatkan kue spidermannya untuk merayakan hari lahir dia. Lain dengan aku. Padahal setiap ke toserba dekat rumah, etalase penuh kue warna-warni itu ku pandang, berharap tanggal 27 nanti aku dapat memakannya. Setiap hari, bulan, dan tahunnya aku pelototi kue-kue ulang tahun itu. Tanpa pernah berhasil mendapatkannya. Mungkin belum rezeki kawan. Tidak mengapa.

Aku selalu menyukai ulang tahun. Ulang tahun itu hari untuk merayakan hari lahirku kan? Aku selalu suka. Kadang aku dapat hadiah sebagai perayaan hari lahirku. Kadang orang mau merayakan hariku dengan memberi hadiah. Tapi rasa suka ini sampai di hari kemarin saja. Hari ini tidak.

Aku sudah tidak senang. Aku gundah. Dan perasaan gundah bukan hal yang menyenangkan kan? Jadi aku sudah tidak suka dan tidak senang. Ulang tahun bukan lagi hal yang perlu dirayakan…

Karena untuk merayakan apa? Tahun yang terus bertambah? Merayakan berapa lama kamu hidup di dunia? Merayakan semakin besar tubuh dan semakin tinggi umur? Merayakan keharusan menjadi dewasa mungkin ya? Yaa sudah tidak menyenangkan kalau begitu. Siapa yang senang menjadi dewasa? Siapa yang suka menjadi dewasa? Aku sih tidak.

Kembali teringat dengan adik bungsu dan doa-doa perayaan ulang tahunku. Mungkin memang cara perayaan kami berbeda yaa… Aku yang dirayakan dengan doa-doa. Mungkin agar aku bisa hidup dengan baik. Dan besok bisa lebih diandalkan. Dan besok-besoknya lagi selalu ada untuk adik-adikku. Dan besok-besok-besoknya lagi aku bisa lebih tegar. Agar aku panjang umur dan sehat selalu. Aamiin.

Karena memang begini kan jadi anak pertama? Harus tegar, harus kuat, harus jadi contoh. Karena besok adiknya melihat. Karena besok-besok menjadi tanda langkah berhasil milik orang tuanya. Karena besok-besok-besok dia harus selalu memikirkan keluarganya… keluarga di rumahnya… rumahnya tempat berpulang. Ini hanya sebuah balas budi yang tulus. Seharusnya…

Bicara tentang orang yang sedang bertumbuh kepala. Dia sedang bertumbuh kepala menjadi dua! Selamat!

AHAHAHA. Aku jadi teringat sesuatu. Aku dulu berpikir kalau orang yang berkepala dua, atau tiga, atau empat, atau lima. Artinya kepala dia betulan tumbuh menjadi dua, menjadi tiga, menjadi empat, menjadi lima. Kepala yang tumbuh bukan di samping kepalanya yang lain, tapi kepalanya tumbuh di atas kepalanya yang lain. Jadi kepalanya tinggi. Tinggi tubuhnya jadi bertambah juga.

Itu dulu tapi. Saat aku masih kecil. Saat umurku masih bisa dihitung dengan kesepuluh jariku. Sudah beberapa tahun yang lalu. Sudah lama.

Kalau sekarang sih sudah tahu. Artinya umurnya yang sudah sampai di kepala dua, angka depannya bukan lagi 1 atau angkanya sudah bukan lagi berjumlah 1, tapi sudah 2. Sudah masuk bilangan puluhan. Sudah mulai menyentuh satu per lima dari 100 tahun, untuk dia yang berkepala dua.

Aku jadi sadar sesuatu juga. Kepala dua juga tanda orang sudah tidak bisa waras. Karena apa yang aku bayangkan dulu dengan sekarang berbeda. Aku sudah tidak bisa memandang kepala dua itu menyenangkan. Mungkin dulu menyenangkan membayangkan kepala tumbuh di atas kepala yang lain. Namun kenyataan membuka mataku lebar-lebar.

Aku harus lebih khawatir. Karena sudah menyentuh kepala dua. Karena hidup ini sudah menjadi milikku sendiri. Dan ini aku sendiri. Hanya sendiri. Kalau besok-besok aku harus lari, yaa itu pilihanku. Aku yang membuat pilihan, aku yang menentukan sendiri. Aku takut.

Padahal dulu tidak pernah mengkhawatirkan token listrik di depan rumah berbunyi. Karena pasti ada yang matikan bunyinya. Kalau sekarang, aku yang harus matikan sendiri. Dulu juga tidak perlu mengkhawatirkan uang yang sangat pas pasan untuk makan, harus bolak balik pasar atau warteg untuk mendapatkan makan. Karena dulu makanan itu pasti aku dapatkan dengan mudah di rumah. Dulu tidak perlu khawatir dengan baju yang harus dipakai besok sudah dicuci atau disetrika belum ya? Karena dulu bajunya sudah tinggal dipakai. Jadi yaa itu melelahkan.

Begini saja sudah melelahkan? Bagaimana dengan besok yang harus mengais lembaran uang di gedung-gedung, di tangan-tangan orang yang punya uang. Aku bisa tidak yaa seperti itu sendiri. Aku takut.

Aku juga takut dengan diriku sendiri di masa yang akan datang. Aku takut membayangkan semua itu. Aku takut bayanganku yang terlalu indah tidak berhasil aku capai di masa depan. Aku takut. Nanti juga apakah aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri? Harus bisa! Kan jadi contoh. Nanti-nanti harus berhasil yaa…

Mungkin sekarang kita bayangkan sebuah bunga di taman yang indaaaaaah sekaliii… taman yang berisikan bunga mawar merah dan putih.

Lihat kebunku penuh dengan bunga!

Ada yang putih dan ada yang merah.

Setiap hari, kusiram semua.

Mawar, melati, semuanya indah.

Aku berharap bunga-bungaku juga bisa seindah bunga yang ada di dalam lagu itu. Aku selalu berharap bunga itu bisa tumbuh dan mekar dengan baik di suatu harinya. Suatu hari yang aku takutkan itu. Suatu hari di masa depan. Tapi dengan aku siram semua bunga-bungaku mereka akan tumbuh dengan indahkan nantinya? Aku berharap aku bisa seperti bunga itu. Tumbuh dan mekar cantik di taman bunga, dengan akarnya sendiri. Dengan kakiku sendiri.

Aku berharap di tahun yang kedua puluh aku hidup ini, aku akan menjadi orang yang lebih tumbuh dan akan mekar dengan baik nantinya. Kuucapkan selamat untuk diriku sendiri yang sedang berulang tahun hari ini! Selamat telah memasuki kepala dua di detik ini! Aku tidak ingin berharap, aku akan bersumpah bahwa aku akan mekar dengan indah nantinya. Aku akan bisa berdiri dengan akar yang kuat dan kokoh nantinya, aku akan bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Selamat yaa, tahunmu masih panjang, masih ada kepala-kepala lain yang akan tumbuh. Masih banyak anak tangga lain yang perlu kamu pijak di tahun berikutnya.

Aku memang tidak akan pernah bisa turun dari tangga ini, karena nyatanya umur tidak akan bisa turun kan? Dia akan terus tinggi mencapai tujuan yang ditentukan penciptanya. Jadi aku akan memilih untuk naik, dan terus naik, sampai akhirnya aku harus berhenti di salah satu anak tangga. Sampai akhirnya aku sudah selesai mekar di hidup ini. Jadi ayo terus naiki tangga ini. Tahun depan kita akan menaiki anak tangga ke 21, jadi sekarang isi dengan pupuk, dengan air, dan matahari yang cukup untuk menumbuhkan bunga-bunga taman ini yaa. Selamat ulang tahun sayanggg…

Catatan: cerita ini aku buat untuk merayakan hari ulang tahunku yang ke-20. Walau banyak hal yang sekiranya tidak harus disampaikan saat ulang tahun, tapi nyatanya hal-hal inilah yang aku rasakan, yang aku takutkan untuk menuju umur yang ke-20. Aku takut dengan kepala dua. Aku takut dewasa, tapi aku punya bunga yang harus tumbuh kan? Jadi aku akan terus hidup. Selamat ulang tahun Fitri! Teruslah tumbuh dengan baik dan mekar di kemudian hari ya?


메타데이터
post_id
5ce6f56f7bc3
slug
perayaan-20-tahun-hidup-di-dunia-selamat-ulang-tahun-5ce6f56f7bc3
url
https://medium.com/@fitriaja/perayaan-20-tahun-hidup-di-dunia-selamat-ulang-tahun-5ce6f56f7bc3
canonical_url
https://medium.com/@fitriaja/perayaan-20-tahun-hidup-di-dunia-selamat-ulang-tahun-5ce6f56f7bc3
author_url
https://medium.com/@fitriaja
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01