Passion
Fluffy/dirty talk/kissing/mature.

Jikyu
Passion
Fluffy/dirty talk/kissing/mature.
Jihoon baru saja keluar bilik mandi dengan pakaian yang telah berganti. Auranya tampak sedikit lebih segar di banding beberapa menit lalu saat setengah tipsy. Kemudian yang di lakukan setelahnya ialah menghampiri sosok manis yang kini terbaring lemah di kasur lantas mensejajarinya.
Sejak tadi jihoon dibuat sibuk dengan memandangi junkyunya yang tengah terlelap disertai mulut sedikit terbuka. Ia tumpu kepalanya dengan sebelah tangan seraya menghadap kearah sosok yang kini berstatus sebagai kekasihnya. Perlahan tangannya yang menganggur bergerak lembut dan konstan demi menata rambut berantakan sang pujaan.
Merasa tak kunjung bosan, tangan itu terus bergerak acak di bagian rambut halus tersebut. Bahkan tiba-tiba telunjuknya sudah tampak bermain-main di area pipi gembil yang dihiasi rona akan alkohol. Lalu diikecupnya dahi junkyu yang terekspos bersamaan dengan perasaan cinta yang tercurah. Matanya pun ikut terpejam seolah menghayati perbuatannya.
Perlahan Ciumannya turun menyusuri dua alis indah bak lukisan. Membuat sang empu yang tadinya lelap kini mengernyit sebagai pertanda bahwa dirinya mulai sadar.
Jihoon terkekeh pelan. Saat ini bibirnya menjelajah pelan sepasang ranum manis bercampur alkohol milik kekasihnya. Tak cukup lama, ia segera melepasnya setelah beberapa detik.
Saat junkyu mulai mengerjapkan matanya, lelaki manis itu seolah di hadiahi dengan tampang menawan Jihoon yang kini menaikkan sebelah bibir sehingga wajah tersebut tampak berseri dimatanya.
“eungh jihoon~” Junkyu merengek seraya sebelah lengannya yang langsung menggapai pundak kekar kekasihnya, disusul dengan kepalanya yang turut bergerak masuk ke perpotongan leher beraroma maskulin dan sedikit menusuk indra penciumannya. Ia Mendusal, serta menghidu wanginya beberapa kali dan terus saja menggumamkan nama lelakinya.
“yes, sweetie?” Balas yang lebih tua disertai kecupan lembut tepat di telinganya. “Mabuk banget? Pusing nggak?”
“Gua nggak mabuk, gua nggak pusing~” jawabnya dengan nada yang mencicit lucu. Tak lupa pula bibirnya yang mengerucut itu seolah wajib untuk jihoon terkam sekarang juga. Junkyu lantas menyembulkan wajahnya ia sebagian, bak tengah mengintip dengan binar mata sayu yang indah. Menatap lugu kearah jihoon. “Nggak mabuk gimana sih Lo?, pipinya merah gini~ mana dari tadi ngerengek Mulu?—ini loh, ngerengek lagi?” Ujar jihoon dengan telunjuk yang menoel-noel hidung juga pipi yang lebih muda sembari menampakkan smirk-nya.
“pusing nggak?” lelaki itu mengulang kembali pertanyaannya.
“cium biar nggak pusing~” balas junkyu dengan rengekan yang terdengar spontan tanpa ada pikir panjang.
“ciuman bisa ngilangin pusing?” sebenarnya jihoon agak terkejut saat ini.
“heung? Iya kan?”
“how adorable this boy, istg!” kekeh jihoon kembali terdengar.
Tahu-tahu junkyu berusaha bangkit terduduk dengan aura sempoyongan, membuat jihoon turut mengikuti pergerakannya. Ia menatap heran kearah pria yang kini menggosok hidungnya menggunakan punggung tangan beberapa kali. Matanya setengah terpejam bak masih di ambang batas kesadaran.
“ngapain?”
“…mau kamar mandi, hmngh” jawab junkyu lirih “…kebelet pipis…” lanjutnya seraya mulai beranjak. Sontak jihoon ikut beranjak guna memegangi bahu lemah si manis dan menuntunnya ke kamar mandi yang berjarak sekitar sepuluh langkah. “Kebiasaan kalo mabuk kebelet pipis”
Setelah junkyu masuk kedalam kamar mandi, terdengar air kran yang segera dinyalakan. Sehingga jihoon pikir mungkin junkyu akan sedikit lebih lama di dalam sana. Ia pun memilih beralih ke dapur untuk membuatkan teh pereda pengar bagi keduanya.
Saat jihoon sudah selesai dari keperluannya di dapur, kakinya melangkah penuh hati-hati seraya membawa dua cangkir teh hangat menuju kamar dimana ia meletakkan kekasihnya saat mabuk tadi. Yaitu kamar miliknya.
Mata boba legamnya kini sudah melihat junkyu dengan pakaian yang telah berganti. Lelaki itu kembali tampak tergeletak acak di kasur empuk bernuansa hitamnya seperti beberapa menit lalu.
Ia tersenyum, lantas meletakkan bawaannya di atas nakas dekat tempat pembaringan.
“sweety, ayo bangun.—ugh!” Ujarnya seraya berusaha menarik lengan junkyu agar sang empu duduk kembali. Membuat yang ditarik merengek dan menghentak kaki beberapa kali lantaran kesal.
“haha, maaf-maaf. Ini minum dulu coba” diarahkannya bibir cangkir berbahan kaca tersebut kearah bibir mengerucut kekasihnya. Tak butuh waktu lama untuk membujuk pria itu lantaran saat ini tangan lentik si manis sudah mengambil alih dan meneguk teh hangat buatannya secara perlahan. Bersamaan dengan itu, jihoon pun turut melakukan hal yang sama.
“yang lain balik kapan Hoon?”
“dari tadi lah…”
Junkyu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia kembali meneguk teh hangatnya terus menerus bahkan sampai tandas. baru setelah itu menyerahkan cangkir kosongnya pada lelaki di sebelahnya.
“dah habis”
“good boy!” Puji jihoon lalu mengacak sebentar rambut junkyu lantas menerima cangkir kosong dari tangan lemah sang empu.
Jihoon kira junkyu akan langsung kembali merebahkan tubuh seperti tadi. Namun tampaknya pria itu lebih memilih terpejam dengan posisi duduk sambil menumpu dagunya dengan dua kepal tangan. Ia lantas menghabiskan minumannya. Setelah itu sibuk memerhatikan sosok yang menurutnya sangat menarik untuk di perhatikan tiap saat.
Chup!
Iseng dirinya mengecup cepat sebelah pipi junkyu. Membuat yang di kecup terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya. Matanya membola lucu kearah jihoon seolah kesadarannya terkeumpul di satu waktu. Tapi pria itu seakan bingung bagaimana hendak mengata-ngatai lantaran alkohol masih saja lebih kuat memengaruhi kesadaran.
“hahaha! Lucuu” Pipi junkyu di cubit gemas. Membuat rona merah yang tadi samar-samar malah semakin kontras. “Apasih Hoon” pria yang di cubit malu-malu.
“ayo, tidur yuk” Bukannya menuruti ajakan jihoon, pria berinisial junkyu itu malah semakin memperlihatkan sisi manja-nya. Tiba-tiba ia memeluk sebelah lengan jihoon dengan menampakkan binar mata sayunya seakan mengharapkan sesuatu. “Apa?” respon jihoon singkat.
Tak ada jawaban, melainkan sebuah perubahan gerak yang junkyu buat dengan makin mempererat pelukan. Jihoon dapat mendengar sedikit suara rengekan yang keluar dari pita suara lelaki yang kini me-lendoti lengan kekarnya.
“kenapa sih sayang?” Orang yang mendengar penuturan barusan kini semakin tersipu malu. Ia merasa senang saat jihoon memanggilnya dengan embel-embel ‘sayang’, serta elusan di kepalanya . Sebenarnya tak hanya itu yang ia inginkan. Hanya saja dirinya terlalu gengsi untuk mengungkapkannya secara gamblang. Mungkin efek sudah mulai sadar sehingga ia tak lagi seberani beberapa waktu lalu ketika berucap ingin dicium.
Junkyu sibuk menatap jihoon — lama, membuat yang ditatap menaik turunkan alisnya. Merasa harus memberanikan diri, junkyu mulai berdiri perlahan dengan tangan bertumpu di bahu jihoon. Akhirnya ia berhasil mendaratkan pantatnya di pangkuan jihoon serta sambutan menyenangkan sang empu yang kini balas melingkarkan lengan di pinggang rampingnya.
“Manja banget” kata jihoon. ia menepuk pelan pantat junkyu yang kini tampak kaku dan malu. Tangannya mengalung erat di leher yang lebih tua sedangkan kepalanya sudah mulai masuk ke perpotongan leher jihoon. Ia Mendusal disana, membubuhkan rangsangan geli yang membuat perut jihoon tergelitik.
“jihoon nggak suka?” Gumam junkyu pelan. Ada nada sedikit khawatir yang jihoon dengar.
“bukan nggak suka, heran aja. Inget nggak dulu Lo sensi banget ke gue? nyentuh aja nggak mau”
“hehe, kan dulu lo nyebelin”
“sekarang gue masih nyebelin kok. Kenapa mau manja? Hmm?”
“kan sekarang gue suka sama Lo, jadi nyebelinnya jadi nggak terasa nyebelin” jawaban yang jihoon dengar bagai anak kecil dengan ocehannya. Jantung jihoon rasanya hampir merosot ke pinggang. berdegup tak karuan setelah mendengar pengakuan secara implisit bahwa si manis sudah benar-benar jatuh padanya.
“bucin!”
“jihoon juga bucin kan?”
“iya” Jawabnya lantas kembali menciumi pipi gembil yang menggoda. Keduanya terkekeh bersamaan, seolah ada percikan aneh yang membuat perut mereka teraduk geli.
Kini tubuh hangat junkyu tahu-tahu tegak dengan arah pandang menatap teduh kearah jihoon. Junkyu semakin berdegup tak karuan ketika melihat rupa kekasihnya yang rasanya kok semakin tampan saja(?). Dengan berani ia torehkan ciuman di bibir jihoon, dan ini merupakan kedua kalinya dia melunturkan gengsi. Junkyu rasanya benar-benar ingin menghabiskan waktu yang lama dengan saling memberi afeksi malam ini.
“pipi Lo merah Hoon, haha!”
“bisa aba-aba nggak sih Kyu?. Gua jantungan” Ah, ternyata jihoon tetap saja salah tingkah menghadapi sikap manis junkyu.
“ciee salting salting”
‘Chup!’
Ia cium lagi bibir jihoon tanpa aba-aba. Membuat yang dicium tiba-tiba menyembunyikan wajah di dadanya. Tanpa disangka lelaki itu lantas berteriak heboh dan mendusal-dusal gemas beberapa kali.
Junkyu di buat terbahak tak karuan. Jihoon ini lucu sekali kalau sedang salah tingkah. Padahal sendirinya lebih lucu lagi!?.
Dari afeksi kecil yang ia beranikan terhadap kekasihnya barusan, kini membuatnya percaya diri untuk melakukan hal yang lebih. Telapak tangannya menggapai kedua pipi jihoon yang ternyata memerah bak buah peach. Entah kenapa rasanya tangan itu turut merasakan degup jantung yang tiba-tiba menyebar ke segala titik saraf nya.
Begitu juga jihoon dengan perasaan yang sama, sehingga keduanya merasa sulit untuk meredakan senyuman.
beberapa detik setelahnya, junkyu menunjukkan aksinya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah jihoon, menyatukan dahi mereka sampai lingkup mereka hanya diisi dengan terpaan nafas. bulu mata lentik milik junkyu beberapa kali menyapu permukaan wajah jihoon dan menimbulkan rasa geli. Sedangkan hidung keduanya semakin menempel dan bersikukuh. lantas junkyu raup pelan ranum manis jihoon yang sejak tadi ia damba. Sedangkan yang menerima ciuman tampak segera terpejam menikmati apa yang di perbuat kekasihnya. Tak lama, jihoon akhirnya membalas pergerakan lembut junkyu dengan lumatan yang tak kalah lembutnya.
Jemari junkyu yang lentik mulai bereaksi, meremas rambut bagian belakang jihoon ketika merasakan pinggangnya diremas dibawah sana. Punggungnya semakin ditekan sehingga dada mereka sangat rapat. Diiringi kecipak dan desahan yang kontras.
Sebentar-sebentar ciuman keduanya terlepas demi menatap kondisi wajah masing-masing. Mereka sama-sama sayu lantaran larut dalam manisnya afeksi yang memabukkan. Saat mereka kembali menyatukan bibir maka gairahnya pun akan semakin meningkat. Membuat lumatan demi lumatan kian dalam dan Lamat. Deru nafas terdengar makin ribut seiring berjalannya waktu. Junkyu terus saja menekan tengkuk jihoon seolah tengah kehausan.
Tangan jihoon tanpa sadar mulai menelisik kedalam kaos yang junkyu kenakan, menyentuh langsung kulit lembutnya. Telapaknya serasa turut berkedut geli disaat pinggul junkyu bergerak mengikuti pergerakan tangannya itu. Mengusap intense dari punggung bawah junkyu hingga keatas sampai-sampai ia dapat merekam cukup jelas garis tubuhnya.
Junkyu seakan hilang kewarasan. Bulu halus di area punggung bawahnya sontak meremang. Rematan pada rambut jihoon semakin dikencangkannya. Netranya kian sayu tatkala desiran darahnya tiba-tiba menghangat.
“hhh—hoonh?”
“hm?” Jihoon mendongak dengan bibir basah akan saliva. Hal itu membuat pipi junkyu panas. Ia suka melihat jihoon yang berantakan karena dirinya yang mengacaukan lelaki itu.
Peduli setan atas apa yang merasukinya lagi. Kini pinggulnya sengaja ia gerakkan untuk menggoda benda tak bertulang di bawah sana yang mengganjal pantatnya. Membuat hidung jihoon mengkerut dengan suara sedikit mengerang.
“Let’s f-fuck tonight, I-i want you t-to come inside— me?” junkyu terbata. Netranya bergerak liar tak berani menatap kearah jihoon. Sedangkan lawannya saat ini tak bergeming dengan bola mata yang masih setia menatap matanya pula. Bahkan Junkyu tak dapat menebak ekspresi apa yang jihoon perlihatkan detik ini.
“kita tidur ya?” jihoon memecah keheningan setelah diamnya yang ia buat selama beberapa menit. Tangannya bergerak membenarkan poni junkyu demi melihat manik bulat menggemaskannya. Namun manik itu berubah mengerjap cepat dan tampak lucu, menunjukkan bahwa ia kebingungan.
“i said let’s fuck, don’t u hear me?” junkyu terheran.
Namun Jihoon di buat terkekeh akan ekspresi kesal yang junkyu buat, juga nada bicara nya yang agak meninggi hanya karena ia tampak tak menyetujui permintaannya.
“nanti-nanti aja ya?” jihoon masih tersenyum.
“are you serious jihoonie?. Kemaren gua emang nggak mau gara-gara lu belum nembak gue. Tapi sekarang, let’s do it. Gue nggak akan nolak lagi, janji deh. Your dick is already hard, I know!. Let’s finish it tonight. I’ll help you.” panjang lebar Junkyu berucap dengan wajah dan binar mata yang meyakinkan. Meskipun jihoon tahu ada rasa malu yang menyelingi tiap perkataan pria itu. Namun yang jihoon bisa ialah kembali terkekeh gemas. Jujur dirinya begitu senang pun tergoda di satu waktu. Akan tetapi ada sebuah ketakutan tersendiri kalau ia harus menyakiti junkyu nantinya. Perlakuannya kemarin-kemarin memang tampak begitu ingin melakukan sex dengan pria di pangkuannya ini. akan tetapi hal itu hanya semata flirt atau keusilan belaka. Dirinya tidak begitu serius ketika dirinya sendiri mengetahui bahwa perbuatan tersebut harus menyakitkan pihak lainnya.
*l“I don’t wanna hurt you junkyu. tenang aja, yang kemarin itu jangan di anggap serius okay?, sekarang kita tidur ya?. Gue nggak lagi keras kok. Ya kalo Lo gerak-gerak bakalan makin bangun dia nya.” Ucap jihoon lembut bagai tengah memberikan pemahaman terhadap anak kelas lima SD. Dan junkyu faham akan hal itu.
Si manis kini tersenyum malu. “Lo nggak akan nyakitin gue kok Hoon, gue percaya sama lo.” ujarnya lantas kembali memeluk erat leher yang lebih tua. Bibirnya dengan lembut menggesek serta menciumi dahi jihoon. Setelah itu ia terlihat senang ketika pipinya sengaja bergesekan dengan pipi jihoon pula. Rasa ingin terus menempel itu timbul ketika mencium aroma dan hangat tubuh jihoon yang terasa berbeda dengan hari biasanya. It’s hottie and sexiest.
“Thank you for trusting me. But I can’t believe myself. Gue masih belum siap liat Lo kesakitan di bawah gue.” Jihoon berbisik ke telinga junkyu dengan nada intense. Namun ternyata Perkataannya barusan malah membuat adrenalin lawannya semakin bangkit dan makin dibuat ingin merasakannya. rasanya junkyu bisa gila detik ini. Kenapa jihoon bertingkah jual mahal sekali(?). Sengaja ia gesekkan bibirnya di rahang tegas jihoon, sambil bernafas riuh. Ia pun sedikit menjilatnya dan merasa senang ketika jihoon bereaksi mengeratkan pelukan.
“yaudah, Hoon. Kalo lo nggak mau liat gue di bawah lo—What if I come inside you? Hmm?” Begitu congkak ia tampakkan smirk horor nya demi menundukkan jihoon. Namun hal itu tentu tidak bertahan lama. Begitu gesit dan gagah Jihoon bergerak merubah posisi dengan sedikit membanting tubuh junkyu ke kasur ber-sprei gelap yang kini menjadi alas punggungnya. Kedua tangan junkyu seakan terlempar di sisi kepalanya sendiri, sedangkan matanya membola lucu, serta dadanya yang bergerak cepat naik turun. Ia kaget. Junkyu berani bersumpah bahwa ingin terus memutar waktu berkali-kali demi melihat aksi gagah jihoon tadi. Kini pria bermarga Park itu yang ganti bersmirk sombong kearahnya, dan junkyu semakin di buat senang saja. That so attractive and he loves it!.
Tubuhnya sangat bergidik hebat ketika merasakan telapak jihoon yang menggenggam erat sebelah pergelangan tangan miliknya—kayak yang ada di drama-drama — Demikian batinnya ribut. Sedangkan telapak jihoon satunya dibuat mengelusi sebelah pipinya yang terasa sangat panas.
“gegayaan ngomong kayak gitu, tapi Lo nampak excited banget pas posisi kayak gini, hm?”
Demi tuhan, rasanya sekarang otak junkyu hanya di penuhi jeritannya sendiri. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat lantaran malu bukan main. Kepalanya menoleh kesamping demi menghindari tatapan legam lelaki di atasnya. Sedang di bawah sana, kakinya sendiri sudah saling membelit lantaran menahan euforia aneh yang bergelanyar dari atas hingga ke ujung jari-jari kaki.
Jihoon dapat melihat dada junkyu yang bergerak cepat karena pernafasannya. Di posisi ini junkyunya selalu tampak cantik sekali. Jelas saja ia tergoda, akan tetapi bayangan junkyu akan menangis kesakitan membuatnya selalu menahan diri. Ia lantas bergerak menciumi pipi junkyu. Memberikan sapuan halus yang tentu membangkitkan bulu-bulu halus di wajah manis itu.
“bobo ya?. Besok lusa kan lo harus ke lokasi syuting lagi. Besok juga gue bakal berangkat pagi ke agensi”
Junkyu sontak menoleh kearah jihoon sampai-sampai hidung mereka berbenturan. Bibirnya mengerucut lucu sehingga mendapat kecupan dari jihoon. Sampai akhirnya ia menganggukkan kepala beberapa kali sebagai tanda persetujuan. Setelah itu dirinya minta di gendong oleh jihoon untuk di benarkan posisinya.
“gemes banget sih astaga, pengen gue makan” gumam jihoon saat dirinya sibuk memindahkan posisi lelaki manisnya.
“eat me then!” respon junkyu seolah-olah masih saja ingin melanjutkan kegiatan yang ia dambakan tadi. Jihoon membalasnya dengan kekehan seraya beralih sibuk menggapai saklar lampu.
Saat seluruh ruangan berubah remang. Keduanya pun kembali berpelukan mesra. Lengan jihoon kini menjadi bantalan kepala junkyu, tak peduli kalau akan kebas nantinya. Masing-masing mulai memejamkan mata, meninggalkan ruangan yang berangsur hening.
“lu tegang anjir Hoon” tiba-tiba junkyu buka suara dengan napas yang menerpa ceruk leher jihoon.
“kaga anjir Kyu, masih aja dah ni orang.”
“kok—, ini terasa anjir di gue?.”
“Oh jelas, punya gua mah bangun gak bangun tetep terasa, beyond the standard soalnya.” jawab jihoon santai tanpa merasa malu.
“ANJING LU!” Junkyu makin menekan wajahnya ke ceruk leher jihoon, sedang tangannya memukul kuat punggung yang lebih tua. Entah kenapa malah dirinya yang malu ketika mendengar perkataan lelaki itu.
“hahahahh! Kicep kan lu?. Makanya bobo atuh Manis”
“heem”
“hitungan tiga detik jangan ngomong lagi pokoknya. 1, 2,3”
“…..”
“…..”
“aaa~hoon ih! Jangan gelitikin kek!”
“haha! maap maap, okay ini beneran diem nih”
“…..”
“…..”
“JIHOOON! Katanya diem! Kok gelitikin sihh”.
“hahah! Gemesin sih” Wajah jihoon bergerak acak menekan wajah junkyu.
“habis ini beneran dieeem”. Rengek junkyu.
“iyaaaap”
“…..”
“…..”
“…..”
“….”
“….”
“AAAK! ANJING TITIT GUA—UGH!!”
“kkkkk HAHAHHAH!”
Pelukan mereka buyar seketika. Pasalnya, junkyu barusaja iseng atau bisa dibilang tega membenturkan lututnya tepat kearah milik jihoon ‘yang katanya besar itu’ lumayan keras.
Jihoon tampak berguling di kasur seraya memegangi selatannya yang berdenyut perih tiap detik—muncul hilang. Sedangkan junkyu turut berguling di kasur lantaran terbahak tak karuan seraya menutup mulut dan memegangi perutnya. Namun setelahnya dia inisiatif mendekat kearah lelaki yang benar-benar tampak kesakitan. Tentu saja masih dengan sisa-sisa tawanya juga perasaan bersalahnya itu.
“maaf Hoon maaf—kkk. Sakit banget ya? Maaf yaaa? Hoon! Dimaafin yaaa?”
“sumpah l-lu?—agh—” jihoon bak kehilangan kata. Hidungnya sesekali mengkerut demi menahan perih yang tiada henti.
“maafff, maaf ya Hoon? Yaaaa?. Nggak lagi-lagi deh, maaf loh yaa? Jangan diem aja Hoon. Ih jangan nangis juga ya Hoon?” Bak anak kucing tengah memohon pada tuannya; Junkyu tampak berjongkok sambil menatap jihoonnya yang meringkuk kesakitan. Tangannya mengelusi bahu jihoon di sertai harap semoga sakitnya segera reda.
“Hoon? Jangan marah yaaa?. Gue beneran minta maaf” ujar lelaki manis itu sekali lagi.
Hening. Dan junkyu mengerti bahwa jihoon sepertinya sulit untuk mengeluarkan suara. Ia memberi ruang bagi jihoon untuk fokus meredakan sakitnya. Semakin lama, semakin merasa bersalah yang ada. Lantas dirinya beralih memposisikan diri di belakang pria itu kemudian memeluknya dari belakang. Masih juga dengan usapan-usapan lembut yang dia berikan di tiap sisi tubuh kekar lelaki itu. Ia benar-benar menyesali perbuatannya, bahkan rasanya ingin menangis saat itu juga.
“Hoon maaf” gumamnya lirih sekali lagi, kemudian ganti mengecupi tengkuk pria yang membelakangi nya. Berharap jihoon merespon setidaknya dengan deheman saja.
Keheningan yang sedang tercipta kini membuat kantuk junkyu menyerang. Matanya amat berat bagai diganduli sesuatu yang berat sehingga hendak menutup perlahan.
Akan tetapi semua itu kembali buyar saat dirinya merasa bahwa jihoon bergerak dan membalikkan tubuh kearahnya. Junkyu melebarkan maniknya yang tadi hampir terpejam erat. Ia langsung memeluk leher jihoon dengan tetap memberi jarak di area bawahnya dan kembali mengucapkan kata maaf tiada henti. “Maaf hoonie”
Jihoon terkekeh. “Untung gua sayang sama Lo. Kalo nggak udah gua tendang balik tuh punya Lo”
“maaf~”
“iya udah sekarang tidur” Ucap Jihoon dengan membuat gestur ajakan terhadap junkyu untuk masuk kembali ke pelukannya. Akan tetapi pria itu tampak ragu dan takut. “Emang udah nggak sakit?”.
“nggak. Sini peluk”
“humm, maaf”
“iya bayi”
Keduanya berharap bahwa esok akan memulai hari dengan pelukan yang sama.
©HANA
메타데이터
- post_id
- 5cfd6d94253d
- slug
- passion-5cfd6d94253d
- url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/passion-5cfd6d94253d
- canonical_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/passion-5cfd6d94253d
- author_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 18:52:03