#4 Perjalanan Duka Siddharta Gautama
Siddharta Gautama, tokoh yang saya kenal dan dengar untuk pertama kalinya saat menonton sinema “Journey to The West” pada saat kanak-kanak…
#4 Perjalanan Duka Siddharta Gautama
Siddharta Gautama, tokoh yang saya kenal dan dengar untuk pertama kalinya saat menonton sinema “Journey to The West” pada saat kanak-kanak dahulu. Saat itu, setelah dari musholla habis mengaji, saya langsung beranjak ke rumah untuk menonton sinema dengan tokoh Sun Go Kong, Cu Pat kai, Wuching, dan Biksu Tong yang diceritakan ditugaskan mengambil kitab suci ke barat dalam rangka untuk menyelamatkan umat manusia.
Dalam suatu episode diceritakan bahwa ada anak Raja Suddhodana yang sangat lembut hatinya bernama Siddharta Gautama. Diceritakan saking lembut hatinya, dia tidak tega melihat hewan untuk disembelih. Maka dari itu, dikarenakan takut bila anaknya strees apabila keluar rumah, ayahnya bertitah untuk “memenjarakan” anaknya dalam istana saja.
Dasarnya Siddharta orangnya keras kepala, dia selalu punya akal untuk kabur dari tembok istana dengan sedikit bantuan para pembantu istananya. Dalam kenekatannya itu, dia dengan 4 perkara yang tidak dilihat saat di istana: bertemu orang tua, bertemu orang sakit, melihat orang mati, dan bertemu pertapa.
Dia terkaget, Siddharta saat “dipenjara” tidak pernah melihat hal itu sebelumnya dikarenakan semua telah dikondisikan oleh ayahnya. Istilahnya dia terkena “shock culture”.
Dia melihat orang tua langsung kaget, apakah kelak manusia akan menjadi rapuh?
Dia melihat melihat orang sakit juga terkaget lagi, apakah kelak manusia akan menjadi tidak berdaya dan rapuh seperti itu.
Terakhir, melihat orang mati. Jadi terkaget-kaget tidak karuan.
Ditengah-tengah kekagetan tersebut dia sejenak berpikir. Apakah hidup di Istana akan seenak itu? Bila suatu saat kita bisa mati kapan saja, menjadi rapuh karena sakit, serta berujung menjadi tua. Akhirnya dia memutuskan untuk berkelana keluar istana untuk menjawab kegelisahan-kegelisahan hatinya.
Dalam perjalanan panjangnya, dia melakukan segala sesuatu cara untuk menjawah kegelisahannya dari yoga, semedi, bertapa sambil telanjang, meditasi. Tapi ujungnya dia masih merasa kosong, apakah laku batinnya sesuai dengan apa yang manusia normal kerjakan? Apakah bila Tuhan benar-benar ada, perilaku seperti ini akan direstuiNya?
Hingga akhirnya dia merenungkan pengalaman hidupnya dibawah pohon Bodhi dan mendapatkan pencerahan. Dari nama pohon tersebutlah melahirkan ajaran yang kita kenal sekarang sebagai Budha — Orang yang tercerahkan.
Ajaran pokok dari Siddharta Utama ada 4 kebenaran mulia
- Dukkha Sejatinya hakikat manusia adalah penuh penderitaan. Penderitaan dari segala hal yang membuat hati gelisah. Baik penderitaan fisik seperti sakit, menjadi tua, cacad. Ataupun penderitaan batin seperti patah hati, kecewa, iri, stres, hingga depresi. Jalan Dukkha akan banyak sekali terjadi, ketika nikmat-nikmat yang kita nikmati secara tiba-tiba dicabut. Tindakan kita yang tidak dihargai dengan baik. Asumsi pikiran kita yang direspon berkebalikan dengan kenyataan.
- Sebab Dukkha (Samudaya) Penderitaan ini hakikatnya karena diakibatkan oleh diri kita sendiri. Asumsi yang menghantui pikiran, menuruti nafsu akan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, kebodohan berpikir yang berakibat salah tindakan. Disini ditekankan bahwa segala hal yang membuat tidak tenang berasal dari isi pikiran kepala kita sendiri.
- Lenyapnya Dukkha (Niroda/Nirvana) Segala penyebab dukkha sudah bisa kita atasi. Nafsu sudah bisa ditekan, takdir sudah diterima. Dalam ajaran Islam seperti konsep sufi yang sudah tidak punya jahat. Ditingkat ini bisa dikatakan hidup sudah stabil. Drama kehidupan sudah dianggap sebagai sewajarnya perjalanan hidup
- Jalan Akhir menuju Dukkha (Magga) Inti manusia pada jalan terakhir ini apabila sudah bisa berkata dengan benar (samma-vaca), berbuat dengan benar (samma-kammanta) dan bekerja dengan benar (samma-ajiva) yang didasari pertama kali oleh olah pikiran yang benar serta memahami yang benar. Dari sinilah jalan kebijaksaan akan muncul, bisa mengambil apa yang baik dan yang buruk. Tingkah laku menjadi tidak serampangan karena didasari berpikir sebelum bertindak.
Dalam perjalanan hidup kita sebagai manusia, hal-hal tersebut akan sering terulang seperti sebuah algoritma yang akan diproses ulang dengan loopback hingga menemukan sebuah kebijaksanaan baru.

Flowchart kehidupan
Dari terpuruk diawal yang menyalahkan keadaan, lalu menuju fase perenungan, dilanjutkan oleh fase penerimaan, dan pada akhirnya akan menemukan kebijaksanaan.
Pelan-pelan dengan banyaknya duka serta ditambah dengan perenungan kita akan meningkatkan langkah-langkah kecil menuju tangga kebijaksanaan baru.
Disinilah menurut saya, setiap pribadi ditempa kehidupan dengan lingkungan berbeda yang akan membuat karakter unik dalam diri manusia. Perlunya pemahaman yang lebih dalam ketika dua kebijaksanaan saling dipertandingkan.
Tapi terkadang brengseknya, hidup akan membuat duka lebih susah lagi untuk dipahami. Semakin tinggi kebijaksanaan yang didapat, semakin berat pula cobaan yang akan datang lagi.
Namun dengan kebijaksanaan yang telah dilalui sebelumnya, kita akan bisa memahami masalah untuk hidup yang lebih baik lagi.
Karena Hakikatnya manusia hidup adalah sebuah penderitaan. Seperti Albert Camus sampaikan dalam The Myth of Sysiphus. Hidup itu absurb, cuman jalani saja dengan senyuman.
Terakhir, saya jadi teringat dengan cerita lagu dari Bob Dylan tentang pertanyaan eksistensial seorang manusia melalui perjalanan duka yang diambil dari lagu Blowing In The Wind
“How many roads must a man walk down Before you call him a man?”
“Berapa banyak jalan (re:masalah) yang harus seorang pria jalani Sebelum kamu bisa memanggilnya seorang pria?”
“The answer, my friend, is blowin’ in the wind The answer is blowin’ in the wind”
Jawabannya adalah bersama angin yang berhembus. Lalui saja kawan duka yang datang, terkadang memang tidak ada jawabannya. Karena jawaban yang pasti dalam kehidupan adalah kematian.
DAFTAR PUSTAKA
- Fahruddin Faiz — Menghilang, Menemukan Diri Sejati
메타데이터
- post_id
- 5d11fc2cd54e
- slug
- perjalanan-duka-siddharta-gautama-5d11fc2cd54e
- url
- https://medium.com/@faizal.wakhid/perjalanan-duka-siddharta-gautama-5d11fc2cd54e
- canonical_url
- https://medium.com/@faizal.wakhid/perjalanan-duka-siddharta-gautama-5d11fc2cd54e
- author_url
- https://medium.com/@faizal.wakhid
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 17:43:02