Parashat Yitro: Sukacita Yitro dan Kelemahlembutan Hati Moshe
Dikhotbah oleh Gmb. Benyamin Obadyah Gereja Kehilat Mesianik Indonesia (GKMI)
Parashat Yitro: Sukacita Yitro dan Kelemahlembutan Hati Moshe
*Dikhotbah oleh Gmb. Benyamin Obadyah Gereja Kehilat Mesianik Indonesia (GKMI)*
Pembacaan Torah minggu ini membawa kita sampai pada Parashat Yitro. Pada bagian ini, kita melihat secara mendalam bagaimana kerendahan hati dan kelemahlembutan Moshe (Musa) menjadi kesaksian yang sangat nyata bagi mertuanya, Yitro. Melalui teladan sikap Moshe, Yitro pada akhirnya mengenal dan mengakui kebesaran Elohim Israel, yang kemudian membawanya menjadi orang percaya.

“Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir.” (Keluaran 18:9)
Komentator Torah terkemuka, Rashi, menjelaskan bahwa kegembiraan Yitro ini bukanlah suatu hal yang biasa. Sebagai seorang non-Yahudi dari bangsa Midian, sebenarnya tidak mudah baginya untuk bersukacita atas kejatuhan Firaun. Bagi bangsa-bangsa lain pada masa itu, jatuhnya Firaun adalah berita yang sangat menggemparkan, sebab ia dipandang sebagai penguasa besar dunia yang sangat dihormati, termasuk oleh bangsa Midian sendiri. Secara logika manusiawi, Yitro seharusnya tidak bergembira atas peristiwa tersebut.
Lalu, mengapa Torah mencatat bahwa Yitro justru bersukacita atau Vayichad (וַיִּחַד)? Untuk menjawabnya, kita perlu merunut kembali kisah hidup Moshe.
Bagian 1: Panggilan di Tengah Zona Nyaman
Kisah ini bermula saat Moshe melarikan diri dari Mesir setelah membunuh seorang Mesir yang menyiksa bangsa Israel (Keluaran 2:15). Ia melarikan diri ke tanah Midian, berkenalan dengan Zipora (anak perempuan imam Midian bernama Rehuel atau Yitro), dan menikahinya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak laki-laki: Gershon dan Eliezer.
Namun, di tengah kenyamanan hidupnya, Adonai berfirman agar Moshe kembali ke Mesir (Keluaran 4:19–20). Moshe taat dan membawa serta istri dan anak-anaknya. Ketaatan ini menunjukkan kualitas iman yang luar biasa; meskipun hidupnya sudah mapan dan tenang, ia rela keluar dari zona nyamannya demi menjadi alat pembebasan Tuhan. Moshe adalah teladan bahwa panggilan Tuhan tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berkeluarga.
Torah tidak mencatat secara eksplisit kapan Zipora pulang kembali ke Midian. Namun, Keluaran 18:2 dan 18:5 memberikan petunjuk bahwa Zipora pernah dipulangkan kepada ayahnya. Commentary Torah menjelaskan alasannya: tugas Moshe di Mesir berhadapan dengan kerasnya hati Firaun dan 10 tulah yang dahsyat. Situasi yang penuh ketidakpastian ini tidak memungkinkan Moshe memberikan perhatian penuh kepada keluarganya. Dengan memulangkan keluarganya sementara waktu, Moshe dapat fokus sepenuhnya menerima wahyu ilahi tanpa terbebani kekhawatiran.
Di sisi lain, Yitro yang menerima kembali anak dan cucunya tentu diliputi tanda tanya. Sebagai seorang ayah dan mertua yang dahulu menampung Moshe saat menjadi buronan, ia mungkin bertanya-tanya: Apakah Moshe sudah melupakan keluarganya di Midian?.
Bagian 2: Kekhawatiran Sang Mertua dan Ujian Hati
“Yitro, imam di Midian, mertua Musa, mendengar tentang segala yang dilakukan Adonai Elohim kepada Moshe dan kepada Israel…” (Keluaran 18:1)
Frasa “ia mendengar” dalam bahasa Ibrani ditulis Vayishma Yitro (וַיִּשְׁמַע יִתְרוֹ). Yitro mendengar kabar dahsyat tentang bagaimana Adonai memakai Moshe membebaskan Israel. Ia kini melihat Moshe bukan lagi sebagai buronan, melainkan pemimpin besar yang menundukkan Firaun.
Exodus Rabbah menafsirkan bahwa Yitro memiliki kekhawatiran tersendiri. Ia takut keberhasilan itu mengubah karakter Moshe menjadi penguasa yang angkuh. Apakah Moshe masih mengingatnya dan menghargainya sebagai mertua?
Karena khawatir, Yitro mengirim pesan kedatangannya terlebih dahulu (Keluaran 18:6). Midrash Shemot Rabbah(27:2) memparafrasakan pesan Yitro: “Aku, Yitro… datang kepadamu. Ingatlah hari-hari ketika engkau duduk di rumahku dan aku memberimu roti… Ingatlah kasih yang pernah kami tunjukkan kepadamu. Terimalah kami”.
Namun, respons Moshe sungguh di luar dugaan. Bukannya bersikap angkuh layaknya pahlawan penakluk, Moshe justru bergegas menyongsong Yitro, sujud, menciumnya, menyapanya dengan hangat, dan membawanya masuk ke kemahnya (Keluaran 18:7).
Moshe kemudian bersaksi, “segala yang telah Elohim lakukan… oleh karena orang Israel” (Keluaran 18:8). Ini adalah bukti kelemahlembutan Moshe. Ia tidak mengklaim keberhasilan itu karena kecerdasan atau siasatnya, melainkan murni karya Adonai demi komunitas (Israel), bukan untuk meninggikan diri sendiri.
Prinsip Rohani: Berkat dan kemampuan dari Tuhan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk membangun umat. Hal ini selaras dengan ajaran Rasul Paulus (Rav Shaul) dalam Brit Chadashah (Efesus 4:11–12), bahwa setiap karunia pelayanan diberikan oleh Mesias Yeshua semata-mata untuk memperlengkapi dan membangun Tubuh Mesias.
Bagian 3: Memahami Karakter Anav (Kelemahlembutan)
Rabbi Norman Lamm dari Yeshiva University menjelaskan bahwa Moshe memiliki kerendahan hati yang begitu mendalam, seolah ia melupakan perannya sendiri dan menyadari bahwa segalanya berasal dari Tuhan.
Ketika Moshe menulis Kitab Bilangan 12:3, ia mencatat:
וְהָאִישׁ מֹשֶׁה עָנָו מְאֹד מִכֹּל הָאָדָם אֲשֶׁר עַל־פְּנֵי הָאֲדָמָה׃
Veha’ish Moshe ‘anav me’od mikol ha’adam asher ‘al p’nei ha’adamah.
“Adapun Moshe ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.”
Moshe menulis ini tanpa kesombongan. Kata Anav melampaui sekadar kerendahan hati; ia mencerminkan sikap tenang, peduli, dan tidak meninggikan diri walau memiliki peran besar.
Orang yang Anav tidak menonjolkan dirinya, tetapi juga tidak merendahkan harga dirinya sendiri (inferior). Anav dapat diartikan sebagai orang yang “sudah selesai dengan dirinya sendiri” — ia tidak lagi haus akan pengakuan. Ia sadar akan ketergantungannya pada Tuhan dan menerima porsinya dengan penuh rasa syukur.
Bagian 4: Sukacita yang Membawa pada Keselamatan
Melihat sikap Moshe yang begitu luar biasa, Torah mencatat: Vayichad Yitro — “dan Yitro bersukacita” (Keluaran 18:9).
Sukacita ini meluap menjadi sebuah pengakuan iman. Yitro tidak dapat menahan diri untuk memuliakan Adonai Elohim (Keluaran 18:11). Ia akhirnya menjadi orang percaya dan penyembah Adonai, yang dibuktikannya melalui persembahan korban bakaran (ʿOlah) dan korban sembelihan (Zevachim) (Keluaran 18:12).
Ketika Moshe merendahkan diri, Yitro justru melihat kebesaran Tuhan Israel. Inilah kekuatan sejati dari kelemahlembutan. Kemuliaan Tuhan hanya bisa dinyatakan saat kita berhenti menyombongkan diri. Kelemahlembutan Moshe mencerminkan buah roh dalam Brit Chadashah (Galatia 5:22–23). Moshe tidak hanya taat pada aturan Torah, tetapi karakternya memancarkan keilahian yang mengubah hidup orang lain.
Artikel ini berdasarkan khotbah Parashat Yitro yang disampaikan oleh Gmb. Benyamin Obadyah dan disadur oleh Elizabeth Sinaga.
메타데이터
- post_id
- 5d44c4c368dc
- slug
- parashat-yitro-sukacita-yitro-dan-kelemahlembutan-hati-moshe-5d44c4c368dc
- url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia/parashat-yitro-sukacita-yitro-dan-kelemahlembutan-hati-moshe-5d44c4c368dc
- canonical_url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia/parashat-yitro-sukacita-yitro-dan-kelemahlembutan-hati-moshe-5d44c4c368dc
- author_url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 00:33:17