← Back to list

Matahari Kembar di Lereng Bromo: Ketika Beduk dan Lonceng Bertemu dalam Harmoni Adat Tengger

Kawasan lereng Gunung Bromo selama ini akrab dikenal dengan keindahan alamnya yang magis dan budaya suku Tengger yang kuat. Namun, di balik…

indana zulfa · 2026-05-17 00:27 · 0 claps · 3.8 min read
#toleransi-agama #suku-tengger #hindu #islam #bromo
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Matahari Kembar di Lereng Bromo: Ketika Beduk dan Lonceng Bertemu dalam Harmoni Adat Tengger

Kawasan lereng Gunung Bromo selama ini akrab dikenal dengan keindahan alamnya yang magis dan budaya suku Tengger yang kuat. Namun, di balik daya tarik wisatanya, ada sebuah realita sosial yang tidak kalah menakjubkan: sebuah harmoni kehidupan beragama yang begitu organik dan mengakar rumput. Pada Rabu, 29 April 2026, kami dari program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Salatiga berkesempatan mendalami sisi humanis ini melalui kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kampung Quran Bromo, Desa Wonokerto. Melalui penuturan Ustadz Muhibbin, seorang pengajar yang telah mengabdi selama 12 tahun di sana, kami melihat bagaimana Islam dan Hindu tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga saling menjaga.

Geografi Keagamaan dan Hukum Adat Pernikahan yang Unik

Jika kita memetakan wilayah lereng Bromo, kita akan menemukan sebuah pola demografi keagamaan yang sangat unik berdasarkan tinggi rendahnya geografis tempat tinggal. Masyarakat Tengger yang menetap di daerah atas yaitu area yang lokasinya paling dekat dengan Gunung Bromo mayoritas penduduknya beragama Hindu. Sebaliknya, masyarakat yang tinggal di daerah dataran yang lebih bawah mayoritasnya memeluk agama Islam. Desa Wonokerto, tempat di mana Kampung Quran Bromo berada, merupakan wilayah dengan mayoritas muslim namun posisinya benar-benar dikelilingi oleh desa-desa berpenduduk mayoritas Hindu di atasnya, seperti Desa Ngadas, Desa Jetak, Desa Wonotoro, dan Desa Ngadisari.

Uniknya, pembagian bentang alam ini melahirkan sebuah kesepakatan sosial atau aturan adat tidak tertulis yang mengatur pernikahan beda agama secara otomatis. Apabila ada warga Hindu yang tinggal di area atas Bromo menikah dengan warga Wonokerto yang berada di area bawah, maka secara otomatis mereka akan memeluk agama Islam dan mengikuti tradisi di bawah. Sebaliknya, jika ada warga muslim dari daerah bawah menikah dengan warga Hindu kemudian mereka memutuskan untuk hidup dan menetap di daerah atas, maka secara otomatis mereka akan berpindah memeluk agama Hindu. Aturan ini diterima dengan lapang dada oleh kedua belah pihak tanpa memicu konflik, karena masyarakat setempat mengutamakan keselarasan sosial.

Bentuk toleransi geografis ini juga terlihat sangat kental pada bulan suci Ramadhan. Karena tidak adanya tempat ibadah muslim di area atas, warga muslim yang menetap di daerah atas Bromo pasti akan berjalan turun ke daerah bawah demi bisa melaksanakan ibadah shalat tarawih berjamaah. Perbedaan jarak dan medan yang berbukit tidak menjadi halangan untuk tetap menjaga ibadah, sekaligus menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar.

“Kito Sedoyo Sedulur”: Tradisi Saling Mengunjungi Saat Hari Raya

Bagi masyarakat Tengger, perbedaan keyakinan teologis bukanlah sebuah sekat pembatas yang memisahkan. Mereka memegang teguh prinsip persaudaraan bahwa mereka semua berasal dari satu leluhur yang sama. Di wilayah ini, terdapat dua hari raya besar yang menjadi momentum puncak perayaan kebersamaan, yaitu Hari Raya Idul Fitri untuk umat muslim dan Hari Raya Yadnya Karo (atau Yadnya Karo) untuk umat Hindu.

Pemandangan indah akan tersaji ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Alih-alih hanya dirayakan oleh sesama muslim, rumah-rumah warga muslim justru ramai dipadati oleh kunjungan silaturahmi dari tetangga-tetangga mereka yang beragama Hindu. Mereka datang untuk memberikan ucapan selamat dan ikut bersukacita. Begitu pula sebaliknya, ketika Hari Raya Yadnya Karo tiba, warga muslim dengan sukarela dan penuh kehangatan akan berjalan mengunjungi rumah-rumah orang Hindu, baik itu rumah sahabat, tetangga, maupun kerabat yang merayakannya. Tradisi saling kunjung ini menjadi perekat sosial yang menjaga lereng Bromo dari gesekan konflik antaragama yang kerap terjadi di belahan daerah lain.

Bahkan, dalam ritual adat tahunan yang sangat sakral bagi umat Hindu seperti Yadnya Kasada di kawah aktif Gunung Bromo, kebersamaan ini tidak luntur. Upacara adat Kasada ini pada kenyataannya diikuti oleh seluruh elemen masyarakat Tengger tanpa memandang agama. Warga muslim setempat juga ikut pergi ke sana dengan mengenakan pakaian yang rapi, membawa perbekalan nasi, lalu duduk dan makan bersama-sama dengan warga Hindu di lokasi ritual. Kehadiran warga muslim di sana adalah bentuk penghormatan terhadap budaya lokal dan simbol persaudaraan, tanpa sedikit pun mengaburkan batasan akidah masing-masing.

Dakwah Kultural di Tengah Kuatnya Tradisi Leluhur

Menjaga harmoni di tengah masyarakat yang memegang teguh tradisi lama tentu menjadi tantangan tersendiri bagi dakwah Islam, terutama saat awal mula Kampung Quran berdiri pada tahun 2010. Berdasarkan kisah sejarahnya, Kampung Quran yang menempati Mushola Al Ikhlas wal Barakah ini awalnya didirikan atas inisiatif 9 sampai 11 orang warga mualaf yang dulunya merupakan mantan pejudi dan pemabuk yang ingin bertaubat. Mereka sowan ke sesepuh desa untuk mendirikan tempat ibadah dari kayu pohon cemara, yang bangunannya sengaja dibuat unik agar berbeda dari tembok penuh pada umumnya.

Ketika Ustadz Muhibbin datang 12 tahun yang lalu atau sekitar tahun 2014, masyarakat muslim di sana masih menjalankan sinkretisme yang sangat kuat. Ibadah shalat hampir tidak ada, dan selamatan wajib menggunakan sesajen serta kemenyan. Bahkan setiap Jumat Legi, ada sajian ayam, nasi, kopi, dan ikan yang diyakini untuk memberi makan leluhur. Jika dakwah dilakukan dengan cara yang keras dan kaku, tentu hal itu akan merusak jalinan toleransi dengan umat Hindu di sekitar mereka.

Oleh karena itu, Ustadz Muhibbin memilih pendekatan dakwah kultural yang sangat halus. Beliau ikut turun ke sawah, mengobrol santai dengan warga saat bertani, dan menanamkan nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit tanpa kekerasan kata-kata. Hasilnya luar biasa. Tanpa menimbulkan ketegangan antarumat beragama, kini masyarakat muslim Tengger mengalami transformasi spiritual yang besar: 80 persen perempuannya kini mantap berhijab, anak-anak sudah bisa mengaji di TPQ Kampung Quran, dan kegiatan mingguan seperti khotmil Quran, yasin tahlil, serta istighosah berjalan makmur di masjid setempat.

Kunjungan KKL kami di lereng Bromo ini membuka mata bahwa toleransi sejati tidak lahir dari teori-teori di dalam buku, melainkan dari kedewasaan sikap masyarakat yang saling menghormati di kehidupan nyata. Suku Tengger telah membuktikan bahwa agama bisa menjadi tali pengikat persaudaraan, bukan pemisah di antara manusia.

Referensi :

  1. Wawancara langsung dengan Ustadz Muhibbin, kader dari PPPA Darul Qur’an, dan warga Tengger (supir jeep).

  2. Situs Resmi PPPA Darul Qur’an (pppa.id)


메타데이터
post_id
5ddb1dc48a91
slug
matahari-kembar-di-lereng-bromo-ketika-beduk-dan-lonceng-bertemu-dalam-harmoni-adat-tengger-5ddb1dc48a91
url
https://medium.com/@indana1725/matahari-kembar-di-lereng-bromo-ketika-beduk-dan-lonceng-bertemu-dalam-harmoni-adat-tengger-5ddb1dc48a91
canonical_url
https://medium.com/@indana1725/matahari-kembar-di-lereng-bromo-ketika-beduk-dan-lonceng-bertemu-dalam-harmoni-adat-tengger-5ddb1dc48a91
author_url
https://medium.com/@indana1725
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30