← Back to list

Catatan dari Negeri Para Hakim

Orang-Orang yang Sibuk Menghitung Dosa

Rafif Shaquille · 2026-07-17 04:41 · 0 claps · 7.7 min read
#agama #penganiayaan
Open on Medium ↗

Catatan dari Negeri Para Hakim

Orang-Orang yang Sibuk Menghitung Dosa

Kau tumbuh di negeri yang aneh. Negeri yang bisa menangis bersama ketika ada bencana, tetapi juga bisa beramai-ramai melempari seseorang dengan kata-kata hanya karena hidupnya berbeda.

Di negeri ini, agama sering kali bukan lagi kompas, melainkan pengeras suara. Ia dibawa ke mana-mana. Ke ruang tamu, ke kolom komentar, ke rapat RT, ke pemilihan umum, sampai ke urusan ranjang orang lain yang bahkan tidak mereka kenal.

Mereka menyebutnya kepedulian.

Kau menyebutnya kebiasaan mencampuri hidup orang lain.

Ketika seseorang berpacaran, mereka datang dengan kitab di tangan dan vonis di lidah. Ketika seseorang berbeda orientasi seksual atau identitas gender, mereka datang dengan kemarahan yang dibungkus kesalehan. Ketika seseorang jatuh, mereka tidak bertanya mengapa ia terluka. Mereka sibuk memastikan apakah lukanya pantas diterima.

Di media sosial, kau melihat orang-orang berbaris seperti hakim yang baru dilantik. Tidak ada sidang. Tidak ada pembelaan. Tidak ada ruang untuk menjadi manusia yang rumit. Yang ada hanya dua kotak: suci dan berdosa.

Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.

Kau pernah melihat orang yang paling keras berteriak tentang zina, tetapi diam ketika melihat kebohongan. Kau pernah melihat orang yang paling lantang berbicara tentang surga, tetapi gemar mempermalukan sesama manusia di depan umum. Kau pernah melihat mereka mengutuk dosa dengan penuh semangat, namun menikmati penghinaan dengan jauh lebih gembira.

Mungkin memang lebih mudah mengawasi cinta orang lain daripada memeriksa isi hati sendiri.

Lalu suatu hari, sebuah video beredar. Seorang transpuan dikejar, dihina, dipukul, disiram. Di bawah video itu, ribuan komentar berdatangan. Sebagian tertawa. Sebagian bertepuk tangan. Sebagian lagi menganggap kekerasan sebagai ibadah tambahan.

Kau membaca semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bukankah mereka selalu berkata bahwa agama mengajarkan kasih sayang?

Bukankah mereka selalu berkata bahwa manusia diciptakan dengan martabat?

Tetapi entah bagaimana, ketika kebencian menemukan alasan yang tepat, martabat manusia menjadi barang yang murah sekali.

Yang membuatmu heran bukan hanya tindakan para pelaku. Yang membuatmu heran adalah betapa mudahnya orang-orang biasa berubah menjadi penonton yang bersorak. Seolah penderitaan orang lain adalah tontonan malam minggu.

Barangkali itulah penyakit paling tua di negeri ini: kegemaran merasa paling benar.

Kita mencintai label. Kita menyukai kategori. Kita ingin dunia sesederhana daftar hadir. Yang ini baik. Yang itu buruk. Yang ini masuk surga. Yang itu masuk neraka.

Padahal manusia tidak pernah lahir sebagai label.

Mereka lahir sebagai cerita.

Dan setiap cerita membawa luka yang tidak selalu terlihat.

Maka kau mulai bertanya-tanya: mengapa begitu banyak orang sibuk menghitung dosa orang lain?

Mungkin karena menghitung dosa sendiri jauh lebih menakutkan.

Mungkin karena menghakimi memberikan ilusi bahwa mereka berada satu tingkat lebih tinggi.

Atau mungkin karena dunia yang rumit terasa lebih nyaman ketika dipaksa menjadi hitam dan putih.

Namun hidup terus berjalan. Dan pada akhirnya, sejarah jarang mengingat siapa yang paling keras berteriak soal moral. Sejarah lebih sering mengingat siapa yang tetap menjaga kemanusiaannya ketika semua orang memilih untuk melempar batu.

Di negeri yang gemar menghakimi ini, barangkali keberanian terbesar bukanlah menjadi paling suci.

Melainkan tetap mampu melihat manusia sebagai manusia.

Dan kau mulai menyadari sesuatu yang ganjil.

Orang-orang yang paling sering berbicara tentang neraka ternyata jarang sekali berbicara tentang belas kasih.

Mereka hafal larangan, tetapi lupa memahami manusia.

Mereka tahu siapa yang harus disalahkan, tetapi tidak pernah benar-benar ingin tahu mengapa seseorang menjadi seperti itu.

Mereka mengira kehidupan adalah lembar ujian pilihan ganda. Benar atau salah. Halal atau haram. Surga atau neraka.

Padahal hidup lebih menyerupai novel yang kusut. Penuh halaman yang sobek, tokoh yang terluka, dan keputusan-keputusan yang dibuat dalam keadaan tidak sempurna.

Kau pernah bertanya dalam hati, mengapa begitu banyak orang yang tampak marah atas nama Tuhan?

Bukankah kemarahan itu seharusnya menjadi milik manusia?

Bukankah Tuhan, jika memang Maha Besar, tidak memerlukan pasukan sukarelawan untuk menghajar sesama ciptaan-Nya?

Tetapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali tidak disukai.

Di negeri ini, keraguan dianggap ancaman. Pertanyaan dianggap pembangkangan. Dan berpikir terlalu lama dianggap jalan pintas menuju kesesatan.

Maka banyak orang memilih diam.

Lebih aman mengikuti arus.

Lebih aman mengangguk ketika kerumunan menunjuk seseorang dan berkata, “Dia salah.”

Karena melawan kerumunan membutuhkan keberanian yang tidak semua orang miliki.

Kerumunan adalah makhluk yang menakutkan.

Ketika sendirian, seseorang mungkin ramah. Ia bisa tersenyum, menyapa tetangga, memberi makan kucing liar di depan rumah.

Tetapi ketika menjadi bagian dari kerumunan, ia bisa berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Ia tidak lagi berpikir sebagai individu.

Ia berpikir sebagai gema.

Ia mengulang apa yang didengar.

Ia membenci apa yang diperintahkan untuk dibenci.

Ia marah karena orang-orang di sekitarnya juga marah.

Dan seperti itulah kebencian tumbuh.

Bukan karena semua orang jahat.

Melainkan karena terlalu banyak orang berhenti berpikir.

Kau melihatnya setiap hari.

Di kolom komentar.

Di mimbar-mimbar.

Di percakapan keluarga.

Di grup WhatsApp.

Orang-orang membicarakan moralitas dengan penuh semangat, tetapi jarang membicarakan kemiskinan yang membuat anak putus sekolah.

Mereka berdebat tentang siapa yang masuk surga, tetapi tidak peduli mengapa banyak orang kesulitan mengakses pendidikan.

Mereka mengutuk gaya hidup seseorang, tetapi diam ketika melihat ketidakadilan.

Seolah-olah dosa selalu berada di tubuh orang lain.

Tidak pernah di dalam sistem yang membiarkan sebagian orang lahir dengan kesempatan dan sebagian lainnya lahir dengan kesulitan.

Tidak pernah di dalam kebiasaan mempermalukan.

Tidak pernah di dalam kegemaran merendahkan.

Tidak pernah di dalam rasa puas ketika melihat orang lain dipermalukan di depan umum.

Padahal mungkin, jika ada sesuatu yang benar-benar merusak dunia, itu bukan hanya keburukan.

Melainkan hilangnya empati.

Karena ketika empati hilang, manusia bisa melakukan apa saja sambil merasa dirinya sedang melakukan kebaikan.

Ia bisa menghina sambil merasa sedang berdakwah.

Ia bisa menyakiti sambil merasa sedang membela moral.

Ia bisa merendahkan sambil merasa sedang membela kebenaran.

Dan itulah hal yang paling menakutkan.

Bukan kebencian yang datang sebagai kebencian.

Melainkan kebencian yang datang dengan wajah kebajikan.

Maka semakin dewasa, kau tidak lagi terlalu tertarik pada orang yang mengaku paling suci.

Kau lebih tertarik pada orang yang tetap baik meskipun memiliki alasan untuk menjadi kejam.

Orang yang berbeda pendapat tetapi tidak kehilangan rasa hormat.

Orang yang memegang keyakinannya tanpa merasa perlu merendahkan keyakinan orang lain.

Orang yang memahami bahwa menjadi manusia sering kali jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi hakim.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai menunjuk dosa.

Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang mampu memahami luka.

Dan mungkin, di tengah negeri yang gemar menghakimi ini, itulah bentuk keberanian yang paling langka.

Dan kau tahu apa yang paling getir?

Bukan karena mereka menghakimimu.

Bukan karena mereka menyebutmu berdosa.

Bukan pula karena mereka begitu yakin mengetahui isi buku catatan Tuhan.

Yang paling getir adalah ketika kau menyadari bahwa sebagian dari mereka bahkan tidak sedang berbicara tentang moralitas.

Mereka sedang berbicara tentang kekuasaan.

Sebab menghakimi selalu memberikan perasaan yang menyenangkan. Ia membuat seseorang merasa lebih tinggi tanpa perlu benar-benar menjadi lebih baik.

Tidak perlu belajar.

Tidak perlu bekerja keras memperbaiki diri.

Tidak perlu mengakui kesalahan.

Cukup tunjuk seseorang yang dianggap lebih buruk.

Lalu berdirilah di atas punggungnya.

Dan kau akan tampak lebih suci.

Mungkin itulah sebabnya kerumunan begitu menyukainya.

Mereka membutuhkan kambing hitam seperti seorang pecandu membutuhkan candunya.

Hari ini seorang perempuan yang dianggap terlalu bebas.

Besok seorang laki-laki yang dianggap terlalu dekat dengan perempuan.

Lusa seorang transpuan.

Minggu depan entah siapa lagi.

Kerumunan selalu lapar.

Dan manusia adalah santapan favoritnya.

Kau melihat bagaimana satu kesalahan bisa lebih terkenal daripada seribu kebaikan.

Bagaimana satu foto bisa menghapus bertahun-tahun perjuangan.

Bagaimana satu gosip bisa lebih dipercaya daripada kenyataan.

Di negeri ini, reputasi seseorang sering kali lebih rapuh daripada gelas tipis yang jatuh dari meja.

Sekali pecah, semua orang datang bukan untuk membantu membersihkan serpihannya.

Mereka datang untuk memastikan gelas itu benar-benar hancur.

Lalu mereka pulang dengan perasaan telah melakukan sesuatu yang mulia.

Padahal tidak.

Mereka hanya menjadi penonton lain dalam pertunjukan penghukuman publik.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, semua itu sering dilakukan sambil membawa nama Tuhan.

Seolah-olah Tuhan adalah bendera yang bisa dikibarkan ke mana saja.

Seolah-olah Tuhan membutuhkan pembelaan dari manusia yang bahkan gagal mengendalikan amarahnya sendiri.

Kadang kau membayangkan bagaimana rasanya hidup di dunia yang lebih jujur.

Dunia tempat orang mengakui bahwa mereka juga penuh kekurangan.

Dunia tempat seseorang bisa berkata, “Aku tidak setuju denganmu, tetapi aku tidak akan merendahkanmu.”

Dunia tempat manusia lebih sibuk memperbaiki hidupnya sendiri daripada mengawasi hidup orang lain.

Tetapi dunia seperti itu tampaknya terlalu mahal.

Yang lebih murah adalah kemarahan.

Yang lebih mudah adalah penghinaan.

Yang lebih praktis adalah kebencian.

Karena empati membutuhkan usaha.

Memahami membutuhkan kesabaran.

Sedangkan menghakimi hanya membutuhkan jari telunjuk.

Maka jari-jari itu terus bergerak.

Mengetik.

Menuduh.

Mengutuk.

Menghukum.

Sementara di balik layar, orang-orang yang mereka hina tetap harus menjalani hidupnya.

Tetap harus bangun pagi.

Tetap harus bekerja.

Tetap harus menahan tangis yang tidak pernah mereka lihat.

Tetap harus memikul luka yang tidak pernah mereka pedulikan.

Kau lalu mengerti sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah, di mimbar, atau di kolom komentar.

Bahwa kesepian terbesar bukanlah ketika tidak ada orang di sekelilingmu.

Kesepian terbesar adalah ketika semua orang merasa berhak menghakimimu, tetapi tidak seorang pun mau memahamimu.

Barangkali itulah yang dirasakan begitu banyak manusia yang hidup di pinggir.

Mereka yang dianggap berbeda.

Mereka yang dianggap gagal.

Mereka yang dianggap berdosa.

Mereka yang dijadikan bahan ceramah, bahan lelucon, dan bahan kemarahan.

Mereka hidup di tengah masyarakat yang berbicara tentang cinta kasih hampir setiap hari.

Namun jarang sekali merasakannya.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika keramaian sudah tidur dan suara-suara penghakiman mulai mereda, kau bertanya pada dirimu sendiri:

Mengapa manusia begitu mudah memaafkan keburukan yang dilakukan oleh kelompoknya sendiri, tetapi begitu sulit memaafkan orang yang tidak mereka sukai?

Mengapa kebohongan bisa dimaafkan jika datang dari orang yang dianggap sejalan?

Mengapa penghinaan bisa dianggap bercanda jika dilakukan oleh pihak yang benar?

Mengapa kekerasan bisa berubah menjadi kebajikan hanya karena memiliki alasan moral?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar menemukan jawaban.

Mungkin karena jawabannya terlalu memalukan.

Bahwa sering kali manusia tidak sedang mencari kebenaran.

Mereka hanya mencari pembenaran.

Dan pembenaran adalah benda yang sangat murah.

Ia bisa ditemukan di mana saja.

Di kitab yang dibaca setengah-setengah.

Di kutipan yang dipotong.

Di ceramah yang hanya didengar bagian yang disukai.

Di kerumunan yang lebih mencintai kepastian daripada kejujuran.

Maka kau berjalan terus.

Dengan sedikit keyakinan yang tersisa.

Bahwa di tengah dunia yang gemar menunjuk siapa yang pantas dibenci, masih ada orang-orang yang memilih untuk tetap menjadi manusia.

Jumlahnya mungkin sedikit.

Sering kali kalah berisik.

Sering kali kalah populer.

Tetapi dari merekalah harapan itu bertahan.

Karena ketika semua orang berlomba menjadi hakim, seseorang masih harus memilih menjadi manusia.

Dan pada akhirnya, kau berhenti bertanya siapa yang paling suci.

Kau berhenti menghitung siapa yang paling berdosa.

Kau berhenti mempercayai orang-orang yang terlalu yakin mengetahui nasib manusia setelah mati, sementara mereka sendiri gagal memperlakukan manusia dengan layak ketika masih hidup.

Sebab semakin jauh perjalananmu, semakin kau mengerti bahwa dunia tidak kekurangan moralitas.

Dunia kekurangan belas kasih.

Tidak kekurangan orang yang pandai menunjuk kesalahan.

Dunia kekurangan orang yang mau memahami alasan di baliknya.

Tidak kekurangan mereka yang berbicara tentang surga.

Dunia kekurangan mereka yang mampu menghadirkan sedikit rasa kemanusiaan di bumi.

Maka biarlah mereka terus sibuk menghitung dosa.

Biarlah mereka terus berdebat tentang siapa yang lebih dekat dengan neraka.

Biarlah mereka terus membangun panggung-panggung penghakiman yang suatu hari akan mereka tinggalkan sendiri.

Sementara kau memilih sesuatu yang lebih sederhana.

Melihat manusia sebagai manusia.

Dengan segala luka yang tidak terlihat.

Dengan segala kesalahan yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Dengan segala perjuangan yang tidak pernah masuk ke dalam ceramah, berita, atau kolom komentar.

Karena pada akhirnya, ketika semua teriakan telah reda, ketika semua penghakiman telah kehilangan penontonnya, dan ketika sejarah selesai mencatat segala kebisingan yang pernah terjadi, yang tersisa bukanlah siapa yang paling keras mengutuk.

Melainkan siapa yang tetap mampu menjaga kemanusiaannya di tengah dunia yang perlahan kehilangan rasa itu.

Dan mungkin, di zaman yang begitu gemar melempar batu, bentuk keberanian yang paling langka bukanlah menjadi orang yang paling benar.

Melainkan menjadi orang yang, meski berkali-kali disakiti oleh sesamanya, tetap menolak untuk kehilangan hati nuraninya.


메타데이터
post_id
5de01b7340b2
slug
catatan-dari-negeri-para-hakim-5de01b7340b2
url
https://medium.com/@rafif.shaquille2015/catatan-dari-negeri-para-hakim-5de01b7340b2
canonical_url
https://medium.com/@rafif.shaquille2015/catatan-dari-negeri-para-hakim-5de01b7340b2
author_url
https://medium.com/@rafif.shaquille2015
status
ok
fetched_at
2026-08-09 09:41:19