← Back to list

Kiat-kiat Kehilangan

Sensasi nyeri dada hingga mengganggu pernafasan tidak tertahankan

Naufalol · 2024-07-30 13:34 · 1 claps · 3.2 min read
#kehilangan #kepergian #melupakan #terlupakan #cinta
Open on Medium ↗

Kiat-kiat Kehilangan

Photo by Jonas Denil on Unsplash

Photo by Jonas Denil on Unsplash

Sejauh sepuluh kilomoter ring road jogja telah kuputari, setidaknya teriakan-teriakankuku di jalanan dapat mewakili luka menganga di hatiku. Hampir satu tahun kita berpisah, aku masih saja merasakan hatiku sesak seperti luka segar kemarin sore. Sensasi nyeri dada hingga mengganggu pernafasan tidak tertahankan. Bayangan akan dirimu, terus saja melemahkanku. Kusibukkan diriku dengan menambah pekerjaan, membuat tubuhku lelah, tapi tetap saja kepalaku juga bekerja paling sibuk memikirkanmu. Seolah hatiku mengontrol semuanya. Tidak ada logika dalam hal ini, semuanya tentang perasaan, semuanya tentang hati yang tidak bisa bekerja normal karena penjaganya telah pergi.

Selain ibuku, kamulah perempuan yang paling kusayang. Ironisnya, kamu juga perempuan yang paling kubenci. Agar dapat melupakan dan merayakan kehilanganmu, kurajut skema tentangmu di kepalaku bahwa kamu adalah seorang psikopat, berkeegoisan tinggi, pembantah berdarah dingin. Namun, kamu juga adalah obat penenang paling manjur untukku. Berdusta terhadap isi kepala memang kegiatan sia-sia. Tidak jarang kucari dirimu dalam bentuk orang lain. Ada yang persis dengan tawamu tapi sedihku tidak sanggup ia redakan, ada yang punya alis tebal sepertimu tapi senyumnya tidak sanggup merobohkanku, ada juga yang lebih darimu, ia begitu perhatian dalam hal-hal kecilku, tapi pacar orang lain.

Apakah kamu sudah melupakanku? Ingin sekali aku menghubungimu, sekedar memastikan bahwa kamu baik-baik saja, kerjaanmu lancar dan apakah rindu itu telah membludak? Membuatmu sesak hingga ingin kamu tumpahkan kepadaku?. Hm, aku menepis kabar burung tentang kekasih barumu. Aku yakin, hatimu masih milikku, seperti hatiku yang masih milikmu. Lagi-lagi aku dikuasai hatiku sendiri. Mana ada aku masih pemilik hatimu. Jika masih, kenapa kamu bisa biasa-biasa saja tanpa kabarku? Sudah tidak kan? Jawab iya!

Aku menyadari bahwa aku tidak pantas menjadi pendampingmu. Dengan tubuh ringkih ku, aku tidak cukup kokoh menghalau badai yang menghadangmu. Tetes-tetes keringat jerih payahku tak mampu membuatmu bertahan, bukan? Aku memang tidak semampu itu. Aku juga laki-laki yang tidak punya rencana. Katamu juga “aku laki-laki paling egois” tapi, toh, lakumu hanya membenarkan tindakanmu sendiri. Iya, aku tidak sabar. Kamulah orang paling sabar. Dengan sabar dan sadarnya kamu perlahan pergi meninggalkanku.

Aku memutuskan untuk menelponmu, “Hai, gimana kabarmu?” Tanyaku, “Baik-baik saja, kenapa?”. Kemudian canda dan tawa memenuhi percakapan kita. Gejolak hatiku kembang kempis. Aku menanyakan tentang hari-harimu, kabar keluargamu, juga pekerjaanmu. Aku juga menawarkan bantuan untuk kerjaanmu yang tertunda karena cukup berat dan banyak. Kita berbincang ngalor-ngidul sampai pada kalimat yang sulit kucerna, isinya begini: “eh, saat ini aku udah ada orang baru”, “oh yaa?” Tanyaku dengan nada kaget.

“Tahu kan, kalau aku susah banget bercerita ke orang-orang? Tapi dengan dia, aku juga bisa bercerita panjang lebar” kalimatmu yang menceritakan sosok penggantiku dengan nada yang seolah aku setuju pendapatmu. Hatiku kaget, ia cepat mengirimkan sinyal-sinyal ke tanganku sehingga membuat tanganku kaku, dingin, dan gemetar. Ternyata kabar burung itu benar. Kabar burung yang kutepis kemarin pasti sedang menertawakan kebodohanku sekarang. Aku timpal dengan kalimat manis seolah aku setuju dan baik-baik saja, lalu kubatalkan tawaran bantuan kerja sama tadi. Enak saja, memakai tenaga asing, padahal punya tenaga lokal yang bisa kamu perdaya.

“Kan, aku bilang juga apa?” Gertak logikaku terhadap hatiku. Setelah percakapan usai, hatiku yang berharap ada peluang kembali bertemu setidaknya bisa bertatap mata, ternyata di luar rencana, aku patah sekejap mata. Aku jatuh cinta padamu bukan dalam waktu singkat; seiring cerita dan canda, diam-diam cinta tumbuh perlahan. Pikirku, cinta itu juga akan perlahan memudar seiring waktu, celakanya, waktu-waktu yang bergulir hanya menyiksaku saja, bayangan-bayangan tentang dirimu tidak mau pergi.

Sebenarnya, aku sudah mulai fokus pada apa yang sedang kujalani serta mengejar kebahagianku sendiri, tapi ketika bahagia-bahagia itu kudapatkan, aku kebingungan, kepada siapa akan kubagikan bahagiaku ini? Siapa yang akan mendengar cerita-cerita keberhasilanku?. Sejak bersamamu, kamulah satu-satunya tempatku bercerita. Aku kaku bercerita kepada ibu dan ayah, malu rasanya. Sialan, kesepian ini menyiksaku. Selain kehilanganmu, aku juga kehilangan diriku sendiri.

Setidaknya, aku sadar bahwa aku tidak dimiliki siapa-siapa, tidak bergantung juga dengan siapa-siapa, langkah-langkahku bisa kutentukan sendiri. Perilah sakit yang kurasa juga dari ekspektasi yang kubuat sendiri. Mungkin, puncak kesedihan ini adalah jika dirimu telah dipinang orang lain. Kupastikan aku tidak akan hadir, bukan benci atau tidak mau, hanya tidak sanggup saja melihatmu mengenakan gaun putih nan cantik dan disanding pria yang bukan aku.

Sekali lagi aku masih mencintaimu. Apa namanya jika kita tetap menunggu seseorang yang tidak akan mungkin datang kembali? Cinta, bukan? Begitulah kerumitan cinta yang kualami. Melupakan atau terlupakan sama-sama butuh waktu. Semoga saja semesta bekerja sama denganku. Nantinya, ketika cintaku telah berlabuh pada dermaga hati orang lain, maka kulepas semua doa-doaku yang menyertaimu sampai saat ini. Tenang saja, kisah kita akan tetap kusimpan. Kelak akan kuceritankan kisah ini kepada anak perempuanku bahwa kasihmu pernah mengiringi kisah hidupku. Orang hanya akan benar-benar mati jika ia terlupakan.


메타데이터
post_id
5de7eb9a31b8
slug
kiat-kiat-kehilangn-5de7eb9a31b8
url
https://medium.com/@naufalol/kiat-kiat-kehilangn-5de7eb9a31b8
canonical_url
https://medium.com/@naufalol/kiat-kiat-kehilangn-5de7eb9a31b8
author_url
https://medium.com/@naufalol
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:20:27