Perbincangan Dingin di Tengah Selat
Ini adalah pertama kalinya aku keluar kota setelah Covid-19. Bayangin, udah 5 tahun nggak ke mana-mana. Tapi sekalinya keluar kota, aku…
Perbincangan Dingin di Tengah Selat

Sebelum kapal lepas landas dari Pelabuhan Merak
Ini adalah pertama kalinya aku keluar kota setelah Covid-19. Bayangin, udah 5 tahun nggak ke mana-mana. Tapi sekalinya keluar kota, aku bertemu seorang ibu yang tadinya bikin badan dan hati dingin membeku, lama-lama menghangat.
Kamis, 23 Oktober 2025
Aku pulang dari Bogor setelah melihat idolaku dari dekat untuk pertama kalinya dengan mata berbinar dan mulut gagu (star struck kayak dr. Tirta ketemu Nikita Willy di podcast Bang Radit wkwkwk, dan yang pemilik podcast bikin aku star struck 🤣). Saat naik kapal, aku sempat memikirkan ibuku sendirian di rumah yang ingin kuajak jalan-jalan ke Tanah Suci… suatu hari nanti.
Oh ya, sebelumnya aku bertemu seorang ibu di bus menuju Palembang. Aku bersyukur bisa bertemu ibu itu sehingga aku tidak menjadi wanita sendiri di bus. Kami lalu naik kapal bersama. Sepertinya baru kali ini aku mendapat kapal yang bagus, terlihat baru dan bersih. Di tingkat atas ada kafetaria yang dikelilingi oleh tali lampu kuning kecil dan angin sepoi-sepoi dari selat.

Kafetaria Kapal

Wajah kucelku saat berfoto dengan Ibu
Kami kemudian duduk di pinggir kapal, menikmati derasnya angin dan hujan sambil memakan biskuit cokelat.
“Ibu baru ketemu anak bungsu Ibu,” ibu tersebut memulai cerita.
“Wah, gimana Bu pertemuannya?” balas aku.
“Senang, sempat jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, habis itu pamit sama anak.”
“Jadi habis ini Ibu mau ke mana?”
“Ibu mau ke rumah mertua di Palembang, rumah Ibu di Jambi (atau Pekanbaru, jujur aku lupa).”
“Sekalian silaturahmi ya Bu, hehe.”
“Iya, di rumah sepi, cuma berdua sama Bapak. Ibu punya 3 anak, semuanya ke Jawa. Padahal yang bungsu ini cewek, Ibu kira bakal mantap-mantap di Palembang, eh nggak nyangka akhirnya ke Jawa juga nurutin kakak-kakaknya.”
“Oh, emang anak Ibu ngapain di Jawa?”
“Kerja, katanya cuma magang 3 bulan, eh dipanggil lagi sama atasannya. Atasannya mau dia kerja lagi dikontrak beberapa tahun. Jadi Ibu bantu packing sama antar dia ke sana. Atasan sama teman-teman kerjanya baik banget, nyambut Ibu dan [nama anaknya] pas sampai.”
“Tapi pas pulang, Ibu nangis di bandara pas curhat sama petugas di sana,” lanjutnya. (Sebenarnya aku lupa ini nangis di bandara pas pergi atau pulang, karena Ibu ini pergi naik pesawat. Cuma kata Ibu itu nangisnya pas nggak ada anaknya. Tapi aku nggak tahu pastinya, suaranya kurang jelas karena deru angin laut malam itu).
“Anak Ibu bilang pulang naik pesawat aja, tapi Ibu pengen naik bus aja sekalian mau tengok mertua,” tambah Ibu itu lagi.
“Iya Bu, aku juga suka naik bus + kapal kalau mau menikmati perjalanan alias melamun, hehehe,” jawabku.
“Hahaha, kamu ngapain aja di Bogor?” tanya Ibu itu.
“Aku kerja Bu, tapi cuma sehari aja. Habis ngeliput langsung pulang.”
“Oh sebentar banget, ini pulang ke Palembang?”
“Iya ke rumah. Aku juga tinggal berdua sama Ibu di rumah. Ada kakak juga, tapi jarang di rumah. Aku juga anak bungsu, Bu.”
“Sama kayak anakku yang cowok, kakaknya [nama anak bungsunya],” sahut Ibu itu. Tatapan sedihnya langsung tertumpah ke laut. “Jarang pulang ke rumah, bahkan Lebaran nggak pulang. Bilangnya cuma sebentar kerja motret di Jawa karena udah janji, eh keterusan sampai sekarang. 2 sampai 3 tahun baru pulang. Kirain mau menetap, eh malah ambil barang dia semuanya mau pindah.”
Ibu itu tertawa kecil, tapi terdengar pilu. “Ini si bungsu juga ngikut lagi sama kakaknya, haha.”
“Ibu nggak ikut juga tinggal di Jawa atau pindah aja Bu ke Palembang tinggal dekat mertua, hehe,” aku menimpali.
“Bisa… tapi masih ada suami juga di rumah, nggak tahu kalau dia mau pindah juga.”
Kami lanjut mengobrol ngalor-ngidul tentang keluarga. Walau hujan dan angin deras membuat pipi, tangan, dan kakiku membeku, tapi hatiku merasa hangat sudah bisa bercerita dengan Ibu ini.
Setelah hujan reda, aku foto Ibu tersebut untuk laporan ke anak bungsunya bahwa dia baik-baik saja. Terus kami video call sebentar sama anak bungsunya sambil memperkenalkan penggantinya, yaitu aku, wkwkwk.

Foto Ibu tersenyum cantik.
Setelah sampai Pelabuhan Bakauheni, kami turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan ke Palembang. Sepanjang perjalanan, aku mengingat Ibuku di rumah sendirian. Ingin rasanya segera bertemu dan mencicipi hangat makanannya.

Turun dari kapal
[Fm]
메타데이터
- post_id
- 5df42a7638ca
- slug
- pertemuan-dingin-di-tengah-selat-5df42a7638ca
- url
- https://medium.com/@fatimahalmadihij96/pertemuan-dingin-di-tengah-selat-5df42a7638ca
- canonical_url
- https://medium.com/@fatimahalmadihij96/pertemuan-dingin-di-tengah-selat-5df42a7638ca
- author_url
- https://medium.com/@fatimahalmadihij96
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 03:40:03