Dilahap Api Suci
Konon katanya, dalam beberapa mitologi Timur, api itu tidak sekadar sanggup membakar dan melahap benda jadi serpihan, bahkan ia diklaim…
Dilahap Api Suci
Konon katanya, dalam beberapa mitologi Timur, api itu tidak sekadar sanggup membakar dan melahap benda jadi serpihan, bahkan ia diklaim sebagai medium penyucian manusia. Masih ingat kisah Sinta yang dibakar Rama karena dianggap tak lagi suci. Ia harus membakar diri agar dianggap setia. Kasihan Sinta.
Sambil memutar lagu Sara Bareilles berkali-kali, saya sampai menitikkan air mata. Sepertinya, agensi api ini dalam konteks relasi kuasa gender, bisa jadi metafora untuk represi terus-menerus yang menuntut perempuan memurnikan dirinya demi melayani struktur ideal kaum lalaki.
Nawal El Saadawi, pemikir dan feminis Mesir menguraikan kalau penindasan terhadap perempuan bukan cuma anomali sebuah kondisi sosial, tapi juga rangka dasar sistemik yang sengaja dirawat untuk menopang institusi keluarga, agama, dan negara. Fyyuuhhh…
Lapis-lapis kuasa itu bisa kita telusuri lewat tiga figur: ayah, pasangan, dan lagi-lagi yang belakangan bikin kita geleng-geleng… NEGARA.
Ayah itu simbol otoritas absolut seorang perempuan di ruang privat. Seolah ia menjelma jadi tuhan minor yang memegang hak prerogatif atas batas-batas mana yang boleh dan tidak, ia menentukan seberapa boleh seorang perempuan bebas menentukan maunya.
El Saadawi mengingatkan kita, kalau struktur keluarga patriarkal lah, yang jadi institusi pertama dalam menanamkan rasa takut pada perempuan, memotong sayap otonomi mereka sejak dini. Rumah yang sering kali dikonstruksi dengan hierarki yang mengerdilkan subjektivitas dan membunuh kemerdekaan berpikir seorang anak perempuan. Lagi-lagi, jadi teror mengerikan berbagai bentuk.
Begitu pula dengan institusi pernikahan dan relasi pasangan, yang sering kali dikonseptualisasikan sebagai penyatuan individu. Tapi kenyataannya, banyak terjadi relasi timpang yang membuat perempuan merasa wajib melakukan banyak hal di luar consent. Data global dari UN Women tahun 2021 saja, menunjukkan kalau sepertiganya perempuan dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual, yang mayoritas pelakunya adalah pasangan intimnya sendiri. Dimulai dengan hal sederhana, membiarkannya sejak awal.
Seperti yang digaris bawahi El Saadawi, bahwa institusi pernikahan dalam kerangka patriarki, telah mereduksi perempuan jadi entitas kepemilikan. Perempuan dituntut buat jadi pengasuh, pendamping, dan objek ideal, memikul beban kerja perawatan tak berbayar (unpaid care work) yang menguras fisik dan mental, tanpa ada privilese gender yang memerdekakan dirinya menentukan yang dia mau, bahkan dalam hal yang paling sederhana.
Pada eskalasi tertinggi, presiden dari sebuah negara adalah figur bapak makro buat banyak perempuan. Negara bekerja dengan caranya sendiri, yaitu lewat instrumen hukum, kebijakan publik, dan kontrol biopolitik atas organ-organ reproduksi, atas kelelahan fisik kaum perempuan pekerja, juga pada stereotipe toksik domestifikasi.
Tubuh perempuan jadi aset demografis dan jadi sekadar angka statistik. Di Indonesia, misalnya, Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih berkisar di angka 189 per 100.000 kelahiran hidup, ini kata Long Form Sensus Penduduk 2020, merupakan bukti konkret kalau negara ini seperti tak peduli pada keselamatan mendasar nyawa perempuan. Semata hanya jadi pergerakan angka sebuah indikator.
Apa hubungannya sama lirik Sara tadi?
She Used to Be Mine, lirik Sara Bareilles yang saya looping dari tadi, semacam jadi pisau analitis personal. Ini bukan soal sentimentalitas, tapi jadi respons saya atas tragedi hilangnya identitas personal. Sebuah elegi buat perempuan yang merasa kediriannya tercerabut dari hal yang paling personal, rasa tenang buat dirinya. Perempuan dalam lirik itu, adalah representasi ketika dirinya diintervensi oleh ketiga lapis relasi kuasa yang saya sebutkan di atas tadi.
Sebuah fyuhhh yang sangat huh!
Apa hubungannya dengan api Sri Rama buat Sinta?
Karena otonomi tubuh yang merdeka, seperti sedang dibakar oleh api penyucian. Bukan buat membersihkan, tapi supaya subjek perempuan mau paham akan eksistensi kekuasaan, memaksanya menyerahkan otoritas atas tubuh dan pikirannya yang merdeka.
Seperti Al-Hallaj yang hangus dibakar karena mabuk oleh kebenaran ilahiah, begitupun subjek kedirian perempuan dalam relasi kuasa yang timpang. Ia akan mematikan identitas pribadinya, dibakar oleh api suci kekuasaan dari lapis ke lapis.
Fyyuuhhh…
메타데이터
- post_id
- 5e8059d7e8a4
- slug
- dilahap-api-suci-5e8059d7e8a4
- url
- https://medium.com/@FoggyFF/dilahap-api-suci-5e8059d7e8a4
- canonical_url
- https://medium.com/@FoggyFF/dilahap-api-suci-5e8059d7e8a4
- author_url
- https://medium.com/@FoggyFF
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 14:51:46