Tentang Pertemuanku dengan Tere Liye di Gramedia — Opini
Beberapa waktu lalu, aku dihubungi Om ku untuk mengunjungi beliau yang sedang di Yogyakarta. Waktu itu posisiku masih di Purwokerto…

Tentang Pertemuanku dengan Tere Liye di Gramedia — Curhat
Beberapa waktu lalu, aku dihubungi Om ku untuk mengunjungi beliau yang sedang di Yogyakarta. Waktu itu posisiku masih di Purwokerto, sedang menunaikan tugas dari pesantren yang aku bina. Setelah dari Purwokerto rencanaku adalah langsung bertandang ke Solo, tapi karena mendapatkan pesan untuk ke Yogyakarta, akhirnya aku memutuskan membeli tiket menuju Stasiun Yogyakarta untuk bertemu Om ku.
Singkat cerita, aku mengunjungi Gramedia Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Sudirman. Awalnya niatku kesana hanya untuk melihat-lihat buku keluaran terbaru, tapi ketika aku sampai ke lantai 3 ternyata ada Tere Liye yang sedan mengadakan bedah buku terbarunya.
“Akhirnya, aku bertemu dengan salah satu penulis favoritku”, pikirku dalam hati.
Sudah banyak karya beliau yang kutelan. Dari yang ringan sampai yang membuat air mata deras mengalir. Dan kali ini, beliau hadir untuk membedah buku barunya (aku lupa apa judulnya). Sayangnya karena aku datang terlambat, aku hanya sempat menangkap sebagian dari apa yang beliau sampaikan. Dan apa yang beliau sampaikan, aku catat sebagai ilmu baru untukku. Percayalah. Meski sedikit, ilmu baru ini cukup membuat aku berdecak kagum. Dan rasanya sayang kalau tidak kubagikan.
1. Produktivitas atau Kreativitas?
Ada satu pertanyaan yang cukup menarik dari audiens: “Mana yang lebih penting, kreativitas atau produktivitas?”
Banyak orang mungkin akan menjawab kreativitas. Karena tanpa kreativitas, suatu karya akan hambar. Tanpa ide segar, semua akan terasa monoton dan membosankan. Tentulah ini yang aku juga pikirkan, awalnya. Tapi Tere Liye menjawab dengan lugas: produktivitas.
Menurutnya, orang yang produktif pasti kreatif. Karena produktivitas memaksa kita untuk terus bergerak, terus mencari jalan, terus menemukan solusi. Dan dari situ akan lahir kreativitas. Lain halnya jika orang itu hanya kreatif tapi semua itu hanya berputar di kepalanya. Tidak akan jadi apa-apa. Kita juga sepakat kalau kreativitas itu juga bukan sesuatu yang datang begitu saja. Tidak bisa didapatkan dengan menunggu inspirasi turun dari langit. Ia justru muncul karena kita memaksa diri untuk terus menghasilkan sesuatu. Terus menulis. Terus bekerja. Terus berkarya.
Dan aku setuju. Karena terlalu banyak orang yang terjebak menunggu “mood yang tepat” atau “inspirasi yang datang”. Padahal inspirasi itu tidak akan datang kalau kita hanya duduk diam sambil melamun. Ia datang justru ketika kita bergerak. Ketika tangan kita mulai mengetik, meski awalnya mungkin terasa berat dan bingung.
2. “Semua Fiksi Adalah Fiksi”
Ada juga yang bertanya tentang novel atau film yang diangkat dari kisah nyata. Apakah itu masih bisa disebut fiksi? Atau itu sudah menjadi karya non-fiksi?
Jawaban Tere Liye sederhana: “Semua fiksi adalah fiksi.”
Karena meski diadaptasi dari kisah nyata, pada akhirnya pasti tetap akan ada bumbu, dramatisasi, dan sudut pandang yang dipilih oleh penulisnya. Tidak ada cerita yang benar-benar murni tanpa sentuhan imajinasi. Bahkan dalam biografi sekalipun, setiap penulis tetap akan memilih bagian mana yang ingin ditonjolkan dan bagian mana yang ingin kaburkan bahkan disembunyikan. Jadi pada akhirnya, semuanya adalah fiksi. Karena kita sebagai manusia, tidak pernah bisa sepenuhnya objektif.
3. Soal AI dan Teknologi
Dan yang paling membuatku tak terpikirkan akan jawabannya adalah sikap Tere Liye terhadap AI dan perkembangan teknologi. Di tengah-tengah banyak orang yang panik, khawatir, bahkan marah karena kehadiran kecerdasan buatan, beliau justru santai saja.
Menurutnya, AI hanyalah alat. Dan tetaplah manusia yang memegang kendali atas alat itu. Bahkan beliau bilang, kalau ada perusahaan AI (seperti OpenAI, Anthropic, Google dll) yang meminta karya-karyanya untuk dipelajari oleh mesin AI mereka, dengan senang hati akan beliau berikan. “Yang jelas mesti ada royaltinya, hehe,” katanya sambil tertawa.
Tapi yang lebih penting dari itu, beliau percaya bahwa pada akhirnya, kita, manusia, akan tahu mana tulisan yang ditulis oleh sesama kita (manusia) dan mana yang di-generate oleh AI. Ada rasa, jiwa, dan kedalaman subjektif yang hanya bisa muncul dari tulisan yang memang ditulis dari pengalaman hidup seorang manusia. Dan itu tidak bisa ditiru oleh mesin algoritma manapun.
4. Banyak Buang Waktu ke Hal yang Gak Penting
Terakhir yang kucatat adalah pesan beliau untuk anak muda zaman sekarang, beliau menyinggung soal keribetan orang dengan informasi yang bergerak di media. “Jangan nganggep itu hal penting. Jangan pusing sama hal itu. Kebanyakan orang cuma ribet sama informasi yang bergerak di media.”
Dan ini bener banget. Aku setuju 100%.
Satu contoh yang bisa aku ambil dari singgungan ini adalah waktu kita terlalu pusing dan heboh dengan kebijakan pemerintah untuk buka tambang di Raja Ampat sampai muncul tagar #SaveRajaAmpat. Maksudku, kita terlalu sibuk sama isu yang terlalu besar itu, tapi justru kita lupa kalau kita sendiri masih suka buang sampah sembarangan. Masih ngeyel untuk berhenti merokok. Masih gak mau tahan gas sampai lampu merah benar-benar berubah jadi lampu hijau.
Kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk hal-hal yang sebenarnya bukan ranah kita. Terlalu sibuk memperhatikan drama orang lain, terlalu sibuk komentar soal hal-hal yang bahkan tidak kita pahami seutuhnya.
5. Fokus di Ranahmu Sendiri
Beliau juga bilang, “Jangan sibuk sama apa yang bukan di ranah kamu.”
Fokus aja sama pilihan kita sendiri. Di pekerjaan dan karir kita. Di pencapaian kita ke depan. Bukan di kehidupan orang lain yang kita pikir lebih baik dari kita. Bukan di hal-hal yang hanya menguras tenaga tanpa memberikan hasil apa-apa.
Ini reminder banget sih buatku. Pengingat juga kalau hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hal-hal yang gak penting. Bahwa energi kita terbatas, dan kita mesti bijak memilih untuk apa energi itu digunakan.
Aku pulang dari acara itu dengan hati penuh syukur. Bukan karena senang bisa liat langsung penulis buku “Bumi the series” yang juga pencipta karakter Bujang di novel seri Pulang Pergi. Tapi justru karena dapat pengingat sederhana dari beliau untuk “Tetaplah produktif dan jangan terlalu pusing dengan hal yang bukan ranahmu”. Mindful banget.
Dan mungkin itulah yang kita semua butuh, sebagai manusia. Bukan nasihat yang muluk-muluk dari motivator A atau si orang sukses B. Kita butuh sekedar pengingat sederhana yang bisa kita praktikkan hari ini juga. Wallahu a’lam bi shawab.
메타데이터
- post_id
- 5ec5beaefa5f
- slug
- tentang-pertemuanku-dengan-tere-liye-di-gramedia-opini-5ec5beaefa5f
- url
- https://medium.com/@bezghy/tentang-pertemuanku-dengan-tere-liye-di-gramedia-opini-5ec5beaefa5f
- canonical_url
- https://medium.com/@bezghy/tentang-pertemuanku-dengan-tere-liye-di-gramedia-opini-5ec5beaefa5f
- author_url
- https://medium.com/@bezghy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 16:26:26