Sejenak Buta
Kalau diminta menyebutkan berbagai macam permasalahan yang ada di dunia ini, meski sedikit, saya pribadi jelas tidak kuasa dan tentu saja…
Sejenak Buta
Photo by Jenny Huang on Unsplash
first published on 1 April 2021
Kalau diminta menyebutkan berbagai macam permasalahan yang ada di dunia ini, meski sedikit, saya pribadi jelas tidak kuasa dan tentu saja tidak mau.
Tapi dari sekian banyak permasalahan itu, terkadang ada beberapa hal yang sanggup membuat diri ini buta.
Ya, buta.
Bahkan, ia mungkin terlalu sepele untuk disebut sebagai suatu masalah.
Entah itu hanya gesekan kecil, ketersinggungan, salah paham, atau apa pun itu. Yang jelas, ia benar-benar bisa membuat diri ini buta.
Puncak
Hanya karena suatu hal yang mungkin terlihat sangat sepele, saya merasa bahwa saya merasa sebagai pihak yang paling benar, paling berhak, dan paling segalanya.
Pada kondisi tersebut, hati sudah tidak bisa lagi dan tidak akan mau disalahkan, apalagi dituntut.
“Saya merasa sudah menunaikan kewajiban saya, tapi kenapa saya belum juga mendapatkan hak saya?
Intinya, saya harus mendapatkan itu, saya harus begini, saya tidak mau dibantah, saya mau ini, dst.”
Pernah merasakannya?
Ya, saya pun tak jarang dihinggapi perasaan semacam itu.
Momen ketika hati seakan sudah mencapai puncak keegoisannya. Ia tidak mau kehendaknya ditolak atau bahkan diacuhkan.
“Pokoknya, harus!” gertak si hati.
Ketika mencoba menyadarkannya dengan berbagai nasihat pun, ia tetap kukuh pada pendiriannya.
“Kamu itu masih mending. Coba lihat orang-orang selainmu.”
Nasihat semacam ini juga tidak akan mempan jika hati sudah menapaki puncak keegoisannya. Ia sama sekali tidak bisa diajak “turun”, meski selangkah.
Sebuah kehendak yang membutakan. Kurang lebih seperti itu yang saya rasakan.
Datar Saja
Di sini, saat semua itu sedang terjadi, saya pribadi kembali mencoba dan terus memaksa diri ini untuk diam.
Benar. Sekali lagi, diam.
Saya tidak pernah membungkam hati yang terus saja berteriak. Tapi saya juga tidak serta merta menuruti kehendaknya.
Saya sadar, jika dibungkam paksa, akan semakin keras pula teriakannya. Semakin ditahan, semakin berontak.
Karena itu, walau saya biarkan ia berteriak, pada waktu yang sama saya juga mengajak raga ini untuk diam. Tidak melakukan apa pun dan tidak berkata apa pun.
Biarkan hati mengeluarkan isinya. Hati berteriak, tapi raga tetap diam.
Lalu apa?
Pada momen ketika kita diam inilah, beberapa teriakannya yang penuh gelora itu perlahan mulai bisa terurai dan dinalar.
Ketika kita memaksanya untuk diam dan patuh pada segala nasihat, gejolak itu justru tidak akan padam, bahkan akan semakin menjadi-jadi.
Sebab, yang terjadi adalah kita hanya menyumpal “mulut”-nya dan sama sekali tidak meredakan gejolaknya.
Ibarat menutup mulut bayi yang sedang kelaparan, ketika tangan kita dilepaskan dari mulutnya, tentu ia akan berteriak kembali.
Tapi di sisi lain, menuruti semua kemauannya pun tidak akan menjadikannya lebih baik. Orang tua yang bijak tentu tidak akan menuruti semua keinginan anaknya. Mungkin kurang lebih seperti itu.
Saat hati sedang “rewel” dan berontak, menuruti semua keinginannya hanya akan memunculkan kepuasan semu. Senang sebentar, lalu kumat dan murung lagi.
Bayi yang kelaparan juga tidak akan puas bila hanya diberi permen, meski ketika menerimanya mungkin ia akan senang.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Saya pribadi selalu berusaha untuk diam, bagaimanapun sulitnya itu.
Biarkan hati meronta, tapi raga jangan. Raga harus tetap tenang.
Menurut saya, hati itu laksana bayi. Kita hanya harus mendengarkan dan memahami setiap apa yang dicelotehkannya.
Hati itu labil, pun dengan bayi. Hati juga rapuh, persis seperti bayi.
Jangan sampai kita justru dibuat kerepotan karena ingin menuruti semua keinginan si bayi, tapi jangan pula kita terlalu kejam sampai tidak membiarkan ia menangis, bahkan sekadar membuka mulut pun tidak boleh.
Bayi menangis itu wajar. Yang perlu kita lakukan adalah mendengarkan dan memahami makna di balik tiap tangisannya. Jadi, jangan gegabah.
Ajak ia keluar untuk melihat-lihat, biarkan ia sendiri yang memilih dan menentukan kehendaknya. Tapi tentu tetap dengan pengawasan yang bijak.
Hanya Diam?
Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Dari diam itu justru kita belajar untuk mengambil jeda guna memahami dan memutuskan tindakan yang tepat.
Bila momen tersebut tiba-tiba datang menghampiri, biasanya pada waktu itulah sebuah hobi bisa menjadi alternatif yang sangat baik.
Gawai tidak banyak membantu, bahkan kalau bisa tinggalkan dulu. Jika bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat, itu bagus.
Saya sendiri biasanya akan tergerak untuk membaca sejumlah buku yang belum ditamatkan atau bisa pula keluar ngeluyur, menggembel sebentar.
Iya, menggembel.
Tidak perlu terlalu wah atau sampai berwisata ke tempat yang jauh, tidak.
Kalau saya lampiaskan dengan terlalu bersenang-senang, biasanya setelah pulang nanti akan kumat lagi.
Jadi, yang saya pribadi lakukan adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang mengasyikkan, tapi bukan pula sesuatu yang menjemukan.
Terlihat seperti tidak memecahkan masalah, ya?
Benar, apa yang saya lakukan ini memang bukan sebuah solusi, tapi setidaknya itu adalah awal yang cukup bagus untuk mengambil sikap.
Masalah di dunia ini mungkin terlalu kompleks untuk bisa diteorikan.
Jadi, sebelum bertindakan secara spontan, cobalah diam sebentar. Dengarkan dan pahami rengekan hati. Bisa jadi sesuatu yang kita maksud bukanlah sesuatu yang ia mau, atau sebaliknya.
Dan menariknya, juga syukurnya, Islam telah memberikan bimbingan melalui sabda Rasul-Nya,
Dari Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika marahnya hilang, maka itu baik. Jika belum hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.”
HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, no. 4782 & Ahmad dalam Musnad Ahmad
(Dinilai hasan oleh sejumlah ulama. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Dari Athiyyah as-Sa’di, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan. Setan diciptakan dari api, dan api dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.”
HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, no. 4784
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.”
HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad
(Dinilai hasan oleh sebagian ahli hadis)
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda,
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 6114 & Muslim dalam Shahih Muslim no. 2609
(Muttafaq alaih. Termasuk hadis paling sahih dalam tema pengendalian emosi)
Dari Abu Hurairah. Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ,
“Berilah aku nasihat.”
Nabi ﷺ bersabda,
لَا تَغْضَبْ
“Jangan marah.”
Orang itu mengulanginya beberapa kali, dan Nabi ﷺ tetap bersabda,
لَا تَغْضَبْ
“Jangan marah.”
HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 6116
Bersama hari-hari yang terus berjalan, nikmati selalu perjalanan bersama hati.
Kemudian, coba tunggu hingga beberapa tahun ke depan dan ingatlah kembali masa-masa ketika kita sedang sibuk-sibuknya menghadapi hati yang tengah “rewel”:
- apakah kita akan cengar-cengir sendiri karena mengingat kelakuan kita yang begitu gegabah kala itu,
- atau kita justru bisa tersenyum puas, melihat betapa dewasanya kita dalam mengambil sikap.
Saya menulis ini bukan karena saya sudah memahami betul bagaimana cara menundukkan hati.
Tapi justru karena hari ini saya baru saja mengalami itu semua, saya mencoba menulis apa yang sejauh ini sudah saya lakukan:
tentang bagaimana saya mencoba untuk tetap berkepala dingin di depan hati yang sedang panas, untuk kemudian mencoba menalar dan merunutkan setiap momen yang sedang berlangsung.
Tapi tentu, jalan terbaik untuk menenangkan hati tetaplah dengan memohon kepada Dzat yang Mahakuasa membolak-balikkannya.
Intinya, jangan sampai kita dibuat gelap mata hanya karena emosi yang menyala sesaat. Cobalah meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memahami hati sendiri.
Selama yang dimainkan bukan hati orang lain, bukan tidak mungkin kegiatan bermain-bermain dengan hati sendiri akan bermanfaat di kemudian hari.
Jadi, sudah siapkah kita membesarkan hati?
Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini
메타데이터
- post_id
- 5eeb59e2f640
- slug
- sejenak-buta-5eeb59e2f640
- url
- https://medium.com/@helmisantosa/sejenak-buta-5eeb59e2f640
- canonical_url
- https://medium.com/@helmisantosa/sejenak-buta-5eeb59e2f640
- author_url
- https://medium.com/@helmisantosa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31