Erotis
Telanjang, menungging, sikut menjadi tumpuan, lengan menjadi bantal untuk kening. Napasku memburu, meleguh pelan berkali-kali.
Erotis
Telanjang, menungging, sikut menjadi tumpuan, lengan menjadi bantal untuk kening. Napasku memburu, meleguh pelan berkali-kali.
Tabu dan erotis katanya. Tidak sopan. Tidak tau norma dan etika.
Coba lihat ke belakang. Sosok besar di belakang sibuk menusuk tombak di punggungku. Membongkar punggungku agar berubah menjadi sayap. “Beautiful … like blood eagle,” katanya. Berupaya merogoh jantungku dari belakang. Tidak mau di depan, tidak mau berhadapan, tidak mau aku mati dalam satu cabutan.
Aku mengerang bagai nyawa di ujung pusat. Menggonggong meminta kesempatan untuk bertahan lebih lama. Entah mana yang lebih baik. Bertahan lebih lama atau mati lebih cepat.
Malu. Mudah sekali menyerah. Orang lain hidupnya lebih berat kan? Bersyukur!
Dengan sisa tenaga dan nyawa, aku memberontak untuk menerkamnya.
Sayang. Pipis dan nyawaku keluar lebih dulu sebelum aku bergerak.
메타데이터
- post_id
- 5efffa0c08fc
- slug
- erotis-5efffa0c08fc
- url
- https://medium.com/@alikanatha/erotis-5efffa0c08fc
- canonical_url
- https://medium.com/@alikanatha/erotis-5efffa0c08fc
- author_url
- https://medium.com/@alikanatha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-28 14:44:19