Yang Berbulu dan Berkaki Empat
A Piece of Writing about Cats and Their Dian
KISAH KUCING
Yang Berbulu dan Berkaki Empat
A Piece of Writing about Cats and Their Dian
“Pets are the new kids, and plants are the new pets.” — Douglass Ruskhoff
Photo by Gabriella Clare Marino on Unsplash
Seorang teman suatu hari bertanya pada saya, sejak kapan saya peduli dan menyukai kucing? Pertanyaan spontan nan simpel, tentang hal yang sudah begitu melekat pada diri saya sejak lama, namun membuat saya perlu menyusuri kenangan sambil ikut mempertanyakan diri, sejak kapan ya?
Jika teman itu bertanya, sejak kapan saya memelihara Snuggle, Tortie, Dedek, Menul, dan Twister, saya bisa dengan lancar dan detail menceritakan pertemuan saya dengan kelima anak bulu berkaki empat saya tersebut.
Not a member yet? **Click here** to keep reading.
Snuggle adalah kucing oyen-putih yang umurnya hampir 2 tahun, anak semata wayangnya kucing half-Persian milik orangtua saya, Manda, sebelum dia disteril. Tentu saja semua kucing saya anggap seperti anak sendiri, tapi khusus Snuggle, saya mengategorikannya sebagai “anak kandung”, sebab dia sudah bersama saya sejak lahir.
Karena “anak kandung”, saya tentu punya dokumentasi perkembangan Snuggle dan kadang-kadang saya bernostalgia melalui foto dan video yang tersimpan di galeri ponsel saya.
Snuggle saat masih bayi, terlentang lalu berguling ke kanan dan ke kiri saat saya kelitiki lembut perutnya. Snuggle ABG, yang jatuh sakit dan tak bisa pipis, sampai harus dibawa ke vet (veterinarian, dokter hewan) untuk diobati dan sekalian disteril. Snuggle versi adult cat yang suka bersikap sok jagoan dengan menyerang kucing-kucing lain yang beredar di sekitar rumah —sesuai tabiat kucing oyen.
Pernah suatu kali sepulang kerja, saya menemukannya duduk rapi a la kucing di seberang rumah. Saat saya gendong, barulah saya tau kaki kiri depannya ternyata bengkak dan memar. Entah dia terserempet kendaraan atau menginjak benda tajam, yang pasti luka itu mengharuskannya menjalani operasi kecil dan menginap seminggu di vet.
Ada saat di mana dia ingin bermanja-manja, juga saat di mana dia berperilaku random, seperti iseng meminum sisa air rebusan yang sudah adem di panci atau bahkan diam-diam mencicipi air di WC jongkok. Snuggle tau betul bahwa itu dilarang, maka saya tidak perlu menjerit dulu (dulu saya menjerit) dan mengomel soal biaya vet — yang jumlah minimalnya bisa untuk berlangganan Medium setengah tahun — supaya dia berhenti. Cukup “Snuggleee…” dan dia akan lari ke ruangan lain.
Walau bagaimanapun, Snuggle sangat jinak di rumah, tak pernah marah apalagi mencakar, dan sangat gampang diberi vitamin bahkan obat cacing.

Snuggle yang punya nama lain Nugget dan dia tau itu — dok. pribadi
Tortie, kucing berjenis tortoiseshell — saya sering menyebutnya awuk-awuk saking semrawut motif bulunya — awalnya hanya seekor kucing liar yang cukup sering numpang makan di rumah. Saya tidak pernah yakin untuk benar-benar memeliharanya, sampai suatu malam hujan deras berderai membuat saya tak sampai hati untuk tak membiarkannya tidur di dalam rumah.
Sisanya, tentu saja, efek dari pelet kucing yang misterius dan termahsyur seantero bumi. Awalnya, saya luluh akan sikap manis Tortie yang bersedia dielus-elus, sambil membatin, kasihan sekali kamu, kalau seumur hidup harus berjuang di tengah kerasnya kehidupan jalanan.
Semakin lama, kucing betina itu semakin sering menginap di rumah saya dan akhirnya, you have a name now, it’s Tortie. Kemudian, you have a home now, Tortie. Kemudian, ketika Tortie akhirnya membiarkan saya menaruhnya di pangkuan dan terlelap di sana selama puluhan menit, timbul perasaan terharu dan bangga di hati saya. Saya berhasil memenangkan hati seekor kucing liar dewasa.

Tortie, si Awuk Awuk saat melek dan saat kriyep-kriyep — dok. pribadi
Dedek saya temukan di halte Trans Jakarta dekat kantor saya, sekitar awal tahun lalu. Setiap beberapa hari sekali, memang selalu ada penampakan kucing baru yang muncul dan hilang di halte busway itu, entah mereka ada di sana karena dibuang atau tersasar. Entah bagaimana nasib mereka saat tiba waktunya saya tidak melihat mereka lagi. Saya tentu prihatin, namun berusaha keras untuk tidak overthink.
Sebenarnya, beberapa bulan sebelum hari itu, saya mulai menanamkan di hati bahwa saya sebaiknya tidak terlampau mudah memungut seekor kucing (kenapa saya merasa perlu bersikap tegas pada diri sendiri akan saya ceritakan di Part 2) sebab saya perlu mawas diri mengenai kemampuan finansial dan mental saya.
Namun sudah berhari-hari si kucing calico betina itu menetap di sudut tertentu halte. Dia masih tergolong kitten, mungkin usianya sekitar 4–5 bulan. Saya cukup rutin memberinya dry food dan minuman, dan memang berniat melakukannya secara konsisten selama kami masih bertemu setiap saya berangkat dan pulang bekerja.
Hingga tibalah hari kerja terakhir sebelum cuti bersama Idul Fitri 2023.
Kekhawatiran yang besar seketika muncul, bagaimana nanti jika dia masih akan di sini dan kelaparan selama hampir seminggu ke depan. Sebab melihat kondisi Dedek yang kurus dan tidak sehat, saya tidak yakin ada yang memberinya makan selama ini selain saya. Saya merasa sangat galau..
Mungkin sebagian orang akan mengganggap ini lebay.
Tinggalkan saja dia di sana, tak usah terlalu melankolis. Masih banyak kucing liar terlantar di kota ini selain dia, lantas kamu harus menyelamatkan semuanya? Kamu bukan superwoman, Dian..
Akhirnya, bukannya naik Trans Jakarta seperti biasa, saya sore itu memesan GoCar, agar bisa membawa pulang si Dedek. Benar, saya bukan superwoman. Benar pula, saya tidak bisa berbuat banyak untuk secara signifikan menolong kucing-kucing terlantar lain di luar sana. Tapi saya optimis mampu menyelamatkan dan merawat yang ini.
Jadilah saya masukkan Dedek ke dalam tote bag besar yang entah kenapa sudah lama tersedia di dalam tas kerja saya. Tentu saja saya memberinya nama Dedek bukan karena otak sudah buntu untuk memikirkan nama lain yang lebih keren dari itu — tapi bohong — melainkan karena saya saat itu menetapkan hati, bahwa ia akan menjadi anak bontot saya.
Hingga tak ada angin tak ada hujan, cat distribution system menyodorkan saya Menul dan Twister.

Dedek, dengan selaput putih mata yang rusak dan taring atas yang lenyap sejak pertama kali ditemukan (pojok kiri atas). Dedek pasca operasi (pojok kanan bawah) — dok. pribadi
Terimakasih sudah membaca sampai akhir.✨️ Claps dan komentar dari pembaca akan sangat berarti bagi saya untuk menyalakan semangat menulis. 😇🙏🏻
Beri semangat lebih dengan mentraktir saya **es kopi 😉✨️**
메타데이터
- post_id
- 5f16f94bd232
- slug
- yang-berbulu-dan-berkaki-empat-part-i-out-of-2-5f16f94bd232
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/yang-berbulu-dan-berkaki-empat-part-i-out-of-2-5f16f94bd232
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/yang-berbulu-dan-berkaki-empat-part-i-out-of-2-5f16f94bd232
- author_url
- https://medium.com/@dianlarasati
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-03 03:34:50