← Back to list

Satu Dekade Perjuangan Seorang Ibu Dibalik Tumpukan Bumbu

Sebuah cerita singkat perjalanan hidup Maryam tentang keteguhannya yang tak pernah jemu.

Zalfa Izzah Kamila · 2026-03-25 16:32 · 5 claps · 5.3 min read
#lebaran #pasar #kebaikan-tanpa-batas
Open on Medium ↗

Satu Dekade Perjuangan Seorang Ibu Dibalik Tumpukan Bumbu

Sebuah cerita singkat perjalanan hidup Maryam tentang keteguhannya yang tak pernah jemu.

Lebaran tahun ini tak terasa baru saja melambai pamit, namun lidah ini seolah masih dijajah oleh gurihnya kuah opor buatan ibu yang enggan beranjak dari ingatan. Masakan ibu memang tak ada duanya! Bagaimana bisa mereka memiliki jemari ajaib yang mampu menyulap air dan api menjadi kenikmatan yang nyaris mustahil? Rasanya luar biasa, begitulah keajaiban para ibu, mereka barangkali adalah alkemis yang memasak dengan bumbu cinta yang tak ada di buku resep manapun.

“Hanya perlu bahan dan bumbu yang jujur kalau ingin membuat makanan enak,” pungkas ibuku di atas motor, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pagi.

Potret hamparan sawah dan segarnya es dawet ireng seharga lima ribu rupiah

Potret hamparan sawah dan segarnya es dawet ireng seharga lima ribu rupiah

Baru semalam aku menginjakkan kaki di tanah kelahiran Ibu, sebuah daerah di Jawa Tengah bernama Kutoarjo. Jika kau penyuka minuman Dawet Ireng yang pekat itu, mungkin di sinilah surganya. Di pagi yang cerah ini, Ibu membawaku kembali ke kepingan masa kecilnya, sebuah pasar tradisional yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumah. Sebuah radius yang cukup dekat untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Pintu masuk Pasar Grabag

Pintu masuk Pasar Grabag

Suasana di dalam pasar

Suasana di dalam pasar

Pasar Grabag namanya. Ini bukanlah kunjungan pertamaku kesana, setiap kali pulang ke kampung halaman, pasar ini ibarat perhentian wajib yang tak boleh alpa untuk dikunjungi. Sesampainya di sana, aroma khas pasar tradisional menyergap indra penciumanku. Wanginya tak pernah berubah sejak aku masih kecil, perpaduan antara tanah basah, sayuran segar, kue-kue manis, dan kenangan yang menetap di setiap sudutnya. Sembilan belas tahun umurku, namun aku tetaplah seorang pengekor di belakang Ibu. Ingatanku payah, tak pernah sanggup merekam denah pasar ini dengan benar. Hingga langkah kami baru benar-benar terhenti ketika aroma rempah Nusantara menyeruak dari sebuah lapak sembako, tempat bumbu-bumbu dapur khas Nusantara dijajakan rapi.

Bu Maryam bersama dengan dagangannya

Bu Maryam bersama dengan dagangannya

Di sudut itulah, aku bertemu dengan sang penjaga lapak, namanya Ibu Maryam (55). Seorang perempuan tangguh yang setiap fajar mencuri waktu dari tidurnya demi menempuh jalanan sunyi dari arah Pantai Ketawang, tempat di mana deburan ombak dan pasir hitam menjadi saksi keberangkatannya. Ibuku dan Ibu Maryam segera larut dalam perbincangan dengan bahasa yang hingga detik ini tak pernah mudah kukuasai. Lidahku memang kaku dan seringkali kelu, namun telingaku masih sanggup menangkap frekuensi di balik kosakata khas pasar yang bisa kukenali. ‘Setunggal’ atau ‘piro?’ . Mohon maklumi saja keterbatasanku ini, kuakui aku adalah pendengar yang payah di tanah kelahiranku sendiri.

Sebenarnya, aku bukan tipe manusia yang betah berlama-lama dalam sunyi. Biasanya, setiap kali berhadapan dengan pedagang, mulutku seolah tak memiliki rem. Aku senang bertingkah sok akrab, membedah tiap pertanyaan apa saja yang melintas dibenakku. Namun saat itu, ada kekhawatiran konyol bahwa jika aku memulai percakapan, Ibu Maryam akan menodongku dengan pertanyaan dalam bahasa ibu yang tak kukuasai itu. Aku takut lidahku makin kelu. Namun, melihat ketenangan di wajahnya, aku akhirnya membuang gengsi dan ketakutan itu jauh-jauh. Aku menyapanya dengan Bahasa Indonesia, bersiap untuk segala kemungkinan. Tak disangka, ia menyambutku dengan tangan terbuka dan bahasa yang sama, ia mengerti bahwa aku bukan orang asli sini.

Dagangan Bu Maryam

Dagangan Bu Maryam

“Ibu sudah jualan dari kapan?”

“Sudah lama, Mbak. Sudah sepuluh tahun jualan di sini,” jawabnya.

Sejak 2016, lapak sembako ini bukan sekadar tempat transaksi jual-beli. Baginya, berjualan adalah napas yang menghidupi denyut nadi keluarganya. Sepuluh tahun ia berdiri di sana, tak pernah sekalipun berpikir untuk berpaling ke pasar lain. Lapak ini pun setia pada titiknya sejak dulu.

“Karena sudah sepuluh tahun, saya sudah tidak menyewa lagi, Mbak. Ini sudah milik sendiri,” tuturnya.

Aku lanjut bertanya,

“Ibu dulu kerjanya apa?”

“Dulu di sawah bantu suami, tapi sekarang di pasar saja, bantu-bantu ekonomi.”

Ada garis perjuangan yang melintang jelas dalam sejarah hidupnya. Ketika suaminya berpeluh di bawah terik sawah, Ibu Maryam menjaga garis depan pertahanan ekonomi mereka. Ia mengakui, pasar inilah yang menjadi penopang utama hidup keluarganya. Kini, anak perempuannya yang sudah berkeluarga setia menemani beliau berjualan, bahkan seringkali sang cucu ikut meramaikan lapak kecil itu.

Rasa penasaran membawaku berlanjut pada pertanyaan berikutnya,

“Kalau boleh tahu, ibu dulu pendidikan terakhirnya apa?”

“Saya nggak sekolah. Namanya orang dulu ya, kita banyak yang tidak sekolah,” ucapnya, tanpa sedikit pun gurat sesal atau minder.

Ibu Maryam mungkin tak pernah mengecap bangku sekolah formal, namun ketangguhannya sudah selayaknya ijazah kehidupan yang nilainya tak terhingga. Ia tidak ingin anaknya mewarisi nasib serupa, dengan jemarinya yang setiap hari melayani pembeli, ia berhasil mengantar putrinya hingga lulus dibangku SMA. Tak ada yang mustahil baginya untuk membangun tangga masa depan yang lebih layak bagi buah hatinya.

Ada binar cahaya yang berbeda di matanya saat ia bercerita tentang hiruk-pikuk Lebaran kemarin. Baginya, hari raya bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan juga muara keberkahan. Di momen puncak mendekati lebaran, tak kurang dari 30 kilogram dagangan bisa ludes dalam sehari. Lelah itu pasti, tetapi ia menjalaninya dengan prinsip yang sangat legowo.

“Ya sudah, dijalani saja.”

Baginya, ramai atau sepi pasar tetaplah rezeki yang harus diterima dengan lapang dada, serela ia menerima nasib.

Sepanjang perbincangan itu, aku tersadar bahwa kehidupan sebenarnya bisa dilewati dengan cara yang sangat bersahaja. Rintangan dan cobaan memang keniscayaan, namun bukankah itu hal yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan? Apa yang kita inginkan mungkin menurut kita baik, tapi Tuhan selalu punya skenario-Nya sendiri.

Waktu itu, aku tidak melakukan hal besar. Hanya sekadar membeli dagangannya dan mendengarkan ceritanya. Namun, aku menyadari bahwa memunculkan empati tidak melulu membutuhkan aksi yang megah. Terkadang, empati hadir dalam kesediaan untuk melihat, mendengar, dan peduli. Hidup tidak selalu tentang seberapa tinggi kita bisa melangkah, tetapi tentang seberapa kuat kita bertahan.

Di balik hal-hal yang mungkin dianggap sepele, ada perjuangan yang seringkali tidak disadari dan terabaikan oleh mata. Kita mungkin tidak bisa mengubah nasib hidup setiap orang, tapi kita bisa memulai dari langkah kecil, karena kebaikan tidak harus dimulai dari hal yang besar untuk menjadi berarti.

Berfoto dengan Bu Maryam (kanan) dan anak perempuannya (kiri)

Berfoto dengan Bu Maryam (kanan) dan anak perempuannya (kiri)

Tak terasa, dua puluh menit berlalu dalam percakapan singkat itu. Ibu sudah menentukan bahan masakan yang akan dibeli, dan tibalah saatnya aku berpamitan. Sebelum kaki melangkah pergi, Ibu Maryam menyelipkan doa yang begitu tulus. Layaknya seorang ibu kepada anaknya, ia menyemangatiku agar terus melangkah maju.

“Semangat ya, sukses terus,” ucapnya sederhana.

Doa itu menjadi momen yang kuingat sebelum beranjak pamit. Ia mengingatkanku bahwa selalu ada doa tulus yang mengiringi langkah kita, bahkan dari mereka yang baru saja kita temui.

Berfoto dengan Bu Maryam

Berfoto dengan Bu Maryam

Terima kasih, Bu Maryam, sudah memastikan bumbu dapur dan menjaga rasa masakan kami selama satu dekade ini. Kini, aku menemukan penghargaan baru untuk sosok ibu, mereka tidak hanya ahli meracik masakan yang nikmat, tetapi juga pejuang tangguh yang memastikan cinta dan kehidupan tetap tersedia hangat di meja makan keluarga.


메타데이터
post_id
5f522b5058e6
slug
satu-dekade-perjuangan-seorang-ibu-dibalik-tumpukan-bumbu-5f522b5058e6
url
https://medium.com/@zalfakamila/satu-dekade-perjuangan-seorang-ibu-dibalik-tumpukan-bumbu-5f522b5058e6
canonical_url
https://medium.com/@zalfakamila/satu-dekade-perjuangan-seorang-ibu-dibalik-tumpukan-bumbu-5f522b5058e6
author_url
https://medium.com/@zalfakamila
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30