← Back to list

Overcoming Reality, We Made Our Own Gregory

The world is cruel, they never listen to us. Yet here we are, watching it fall apart with you in my arms. Nothing better than this.

sasva🥛☕️ · 2026-05-24 16:47 · 69 claps · 4.9 min read
#taesan #leehan #taeshan #alternate-universe #boy-next-door
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Overcoming Reality, We Made Our Own Gregory

The world is cruel, they never listen to us. Yet here we are, watching it fall apart with you in my arms. Nothing better than this.

Senan dan Sara sudah sampai di rumah setelah mengantarkan Ian kembali ke rumahnya terlebih dulu. Menghabiskan hari bersama Sara menjadi salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan baginya, sejenak rehat dari banyaknya tuntutan dan bisingnya dunia. Sepanjang jalan Senan tidak ada habisnya bercerita tentang apa yang dialaminya selama di kantor. Terutama perbincangan di meeting room mengenai tanggapan PR tentang huru-hara artikel berita yang simpang siur itu. Bahkan sudah di kamar Sara saja pun, Senan tidak ada habisnya cerita, ia melepas kaus kakinya, melepas jaketnya kemudian mendudukan diri dipinggir ranjang Sara. Sara yang melihatnya hanya tertawa sembari mendengarkan dengan seksama. “Jadinya, kamu dan Suara Kedua final decisionnya apa?” tanya Sara padanya, Senan tersenyum seperti anak kecil, “Aku sama anak-anak lainnya mau gopublic bareng-bareng, yeay!” ujarnya. Sara terkekeh, ia menarik kursinya dan menaruh tepat di hadapan sang kekasih. Sara menggenggam tangan Senan dan dielusnya penuh sayang, “Let’s do it, I’m not afraid of everything. Aku bakal jaga kamu dari semua orang jahat, dari media-media jelek, dari netizen tukang hujat itu” ujar Sara dengan semangatnya, Senan mengangguk. “I’ll protect you no matter what, my precious one” Senan menarik tangan Sara sehingga posisi mereka sekarang Sara menimpa Senan, posisi sangat intim. Senan menatap lekat mata Sara yang berbinar itu. Pandangannya berpindah dari mata, hidung, hingga bibir Sara. Saat Senan hendak memajukan kepalanya, handphone Sara berdiring. Nomor tidak dikenal menelponnya, saat melihat pesan masuk dari Ashie, ia tahu ini nomor abang ojek online yang dipesan tetehnya.

“Sayang, I think we need to eat first, teteh beliin makanan enak katanya untuk kamu, abang ojeknya udah didepan” jelas Sara, “What’s wrong with abangnya nunggu sebentar?” kemudian Senan langsung mencium bibir Sara dengan penuh sayang, Sara tersenyum disela-sela ciuman itu. Benar kata Senan, toh abangnya bisa menunggu sebentar. Mereka saling membagi kasih dari setiap lumatan cumbuan itu. Hingga akhirnya ciuman mereka harus terhenti karena nomor tidak dikenal itu menelpon untuk kedua kalinya. “Aku aja yang ambil” ujar Senan, Sara mengangguk. Sebelum pergi mengambil makanan Senan masih sempat-sempatnya mencium pipi Sara terlebih dulu. Sara malu bukan kepalang, mukanya memerah. Ia memegang bibir dan pipinya itu bergantian, kemudian ia tertawa benar-benar tersipu malu. Bukan kali yang pertama namun Sara selalu saja salah tingkah.

Senan keluar dari rumah dan mencari keberadaan tukang ojek online itu, “Maaf bang tadi saya habis dari toilet” ujarnya bohong. “Oh iya gapapa mas, ini makanannya” ujar abang ojek itu, Senan menerimanya dengan senang dan tidak lupa mengatakan terima kasih kepada abang ojek itu sebelum ia masuk kembali kedalam rumah. Senan kembali masuk ke dalam rumah, pas sekali Sara keluar dari kamarnya. “Apa yang dibelikan teteh?” tanyanya penasaran, saat Sara membuka plastiknya ternyata teteh membelikan bakso kesukaan Senan dan Sara. “Bakso!” pekik Sara kegirangan, “Bakso? Baksooo” timpal Senan tidak kalah gembira. “Sayang minta tolong ambilkan mangkuk boleh?” pinta Sara, Senan mengangguk. Bak rumahnya sendiri, ia sudah hafal tata letak dimana perabotan makan diletakan. Senan mengambil dua mangkuk dan juga beberapa piring kecil untuk kondimen-kondimen seperti saus, sambal, dan kecap, tidak lupa dengan sendok dan garpunya. Senan dengan tangannya yang penuh itu berjalan menuju meja makan dimana Sara sudah menantinya. Ditaruhnya perlahan, matanya berbinar. Sara melirik dan terkekeh pelan, “Siapa yang mau pakai bihun?” ujar Sara, Senan mengangkat tangannya tinggi. “Okaaay” kata Sara sembari ia meletakan bihun di mangkuk Senan. Kemudian Sara dengan hati-hati menuangkan bakso ke mangkuk Sena, disaat yang bersamaan Senan menaruh kwetiau di mangkuk Sara dan memindahkan beberapa kondimen ke piring kecil.

“Terima kasih sayang” ujar Senan, “Kembali kasih” jawab Sara dengan senyum manisnya. Setelahnyamereka berdua sibuk meracik kuah dan saling menyicipi. Sara menganggukan kepalanya, “Enak sayang kuah kamu” ujarnya, “Iyakan ini aku diajarin racikan ini sama mbo di rumah! Glad to know kalau kamu suka juga” ujar Senan dengan antusias. Mereka berdua menghabiskan makanan mereka dengan tenang bersama, gantian Sara yang menceritakan tentang hal yang terjadi di kantornya. Ditengah mereka berdua menikmati bakso hangatnya Senan berdiri mengambilkan dua gelas air untuknya dan kekasihnya itu. Senan yang sudah habis terlebih dulu memperhatikan Sara dengan lekat dan tersenyum mendengar semua celetukan Sara. “Habis?” tanya Senan dengan pelan, Sara mengangguk. Senan langsung berdiri setelah itu dan membawa mangkuk kotor mereka ke sink di dapur untuk di cuci. “Sayang taruh aja gak perlu dicucikaan” ujar Sara, “Tidak apa-apa sekalian, kamu bersih-bersih saja nanti aku akan menyusul ke kamar” ujarnya. Sara meleleh mendengarnya, “Aku ke kamar duluan ya” setelahnya Sara benar-benar masuk ke kamarnya. Senan asik mencuci mangkuk bekas makan mereka. Sudah seperti berpacaran lama rasanya, Senan senang.

Mencuci piring sudah selesai, saat ia hendak kembali menuju kamar Sara, Senan melewati satu kabinet besar yang berisikan banyak foto, piala, dan piagam penghargaan. Senan pandangi satu-satu foto disana, ada foto Sara kecil yang sedang menggunakan baju taekwondonya, Sara dan Ashie yang memegang mendali emas, lalu foto Sara, Ashie, dan Oma dikebun strawberry. Satu hal yang Senan sadari, foto-foto disana tidak ada foto keluarga lengkap Sara. Banyak hal yang belum Sara ceritakan tentang dirinya ternyata, dan Senan dengan senang hati untuk menunggu hingga Sara siap. Senan masuk ke kamar Sara, pas sekali Sara sudah selesai mandi dan menggunakan piyama lucunya. “Sayang mau mandi?” tanya Sara, Senan mengangguk. “Pakai ajaaaa kamar mandinya aku sudah kok” ujar Sara, Senan tersenyum dan mengadahkan tangannya. “Sebentar” Sara mencari handuk kering dilemarinya dan memberikannya pada Senan.

Sara keluar dari kamarnya dan menyiapkan teh panas untuk kekasihnya, ia juga menyiapkan buah potong. Saat hendak menaruh cangkir teh dan piring buah di nakas, Sara mendapati handphone Senan yang tidak henti-hentinya dihujani notifikasi, namun ia silent handphonenya tersebut. Sara duduk dengan buku novelnya di kasur dan memakan buahnya sembari menunggu Senan bebersih. Ashie mengabarkan dia akan pulang larut, sehingga menyuruh adiknya untuk tidur terlebih dulu dan mengunci pintu. Setelah Senan keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang tersipu malu itu, dia langsung merebahkan diri disamping Sara dan memeluknya dengan kencang. “Kenapa ih kok ngumpet-ngumpet” goda Sara, “Seneng, pakai kaos kamu, terus wangi aku kaya wangi kamu sekarang” ujar Senan. “Eh apasih lucu banget” Sara menaruh piring buah itu dan novelnya di nakas sebelahnya persis. Ia membalas pelukan itu, dibelai sayang pipi sang kekasih. Ditatapnya begitu lekat, Senan tersenyum. “Dulu waktu aku cuma berani berdiri di samping kamu waktu didepan monas, aku gak pernah ngebayangin bisa sedeket ini. Tidur disebelah kamu, pakai baju kamu, udah dianggap keluarga sendiri sama teteh… I’m beyond happy, aku gatau gimana ngungkapinnya” jelas Senan, Sara tersenyum mendengarnya. “Rasanya tiga tahun nyariin kamu, ambisi aku buat kenal sama kamu dibayar tuntas tuhan. Aku beruntung banget bisa jadi Senan star mu, aku beruntung bisa dapet petname lucu dari kamu” lanjutnya. “Aku bakal jaga kamu, ngebahagiain kamu… aku bakal pamerin kamu ke satu dunia, aku punya pacar yang luar biasa indahnya, ga cuma parasnya, pemikirannya, tingkah lakunya, tutur katanya, keberaniannya, segalanya” Senan tidak berhenti bicara, ia mengeratkan pelukan itu. “I’ll make the whole new world just for you, I’ll keep you safe and sound…” Dibalik pelukan itu diam-diam air mata Sara menetes. Disayangi sebegininya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sara menongak, ia tersenyum hingga matanya menghilang. “I’ll exactly do the same, sayang” ujarnya. “Aku bakal selalu ada disisi kamu sampai kapanpun itu!” lanjutnya. “Aku sayang kamuuuu” ucap Senan, Sara mengangguk, “I know” godanya. Senan terkekeh dan menggigit gemas hidung Sara, “Aduh” pekik Sara, Senan mengelus rambut kekasihnya dengan perlahan menjemput kantuk untuk sang cinta. Suara Sara sudah terganti dengan dengkuran halus, Senan tetap membelai surai kekasihnya dengan lembut, sampai akhirnya ia juga terlelap. Hari yang cukup panjang untuk mereka berdua, terutama Senan. Semoga cinta akan selalu memeluk mereka hangat, layaknya tidak ada hari esok.


메타데이터
post_id
5f5bc57c2df4
slug
overcoming-reality-we-made-our-own-gregory-5f5bc57c2df4
url
https://medium.com/@lilithgaze/overcoming-reality-we-made-our-own-gregory-5f5bc57c2df4
canonical_url
https://medium.com/@lilithgaze/overcoming-reality-we-made-our-own-gregory-5f5bc57c2df4
author_url
https://medium.com/@lilithgaze
status
ok
fetched_at
2026-07-13 12:51:24