← Back to list

Kaki-Kaki Sepakbola Indonesia di Tulehu

Sependek pengetahuan beta, tempat belajar sepakbola terbaik di Ambon mungkin ada di Desa Tulehu. Mereka punya beberapa sekolah bola dan…

Alfian Al-Ayubby Pelu · 2021-02-05 14:47 · 0 claps · 3.8 min read
#tulehu #tarkam #liga-amal #rizki-pellu #sepakbola
Open on Medium ↗

Kaki Kaki Sepakbola Indonesia di Tulehu

Sependek pengetahuan beta, tempat belajar sepakbola terbaik di Ambon mungkin di Desa Tulehu. Mereka punya beberapa sekolah bola dan klub-klub amatir (yang bermain di luar rantai Liga Indonesia PSSI) yang rajin ikut kompetisi, baik antar kecamatan atau kabupaten.

Dalam hal terbaik, beta kira ini bukan saja menyangkut ketersediaan lapangan, sekolah bola, jadwal kompetisi yang rapi dan berjenjang, perangkat aturan, akses atas sponsor dan keuangan. Tapi juga menyangkut contoh dan bukti. Sejak 80-an, pemuda Tulehu sudah main di klub-klub di Jawa, keluar masuk Timnas Garuda.

Ompal dan Effenberg

Suami dari bibi beta yang kini telah wafat (Alfatiha!), katong biasa memanggilnya Ompal, adalah pesepakbola asal Tulehu. Ia pernah bercerita, sewaktu muda ia kerap diundang merumput pada keseblasan di beberapa daerah di Maluku. Kadang keseblasan dari provinsi.

Ompal adalah pemain bertahan dengan tendangan yang kuat. Selain Carlos Valderrama dari Kolumbia, pemain idola Ompal yang lain adalah Stefan Effenberg. Cheffe, begitu gelandang bertahan Jerman itu disapa, sekali waktu pernah menjadi kapitan Bayern Munchen, dan ia benar-benar menjadi tiang alif klub asal provinsi Bavaria itu di laga final Liga Champions 1999 melawan Manchester United.

Beta ingat Ompal beberapa kali mengenakan baju kedua (away) Bayern Munchen di 2000-an awal, dengan nomor 11 dan tulisan Effenberg di punggung. Baju kedua itu berwarna dasar putih dan bergaris-garis merah, dengan sponsor perusahaan mobil Opel di dada. Ingin sekali beta mengenakan baju serupa, dengan tulisan (Hasan) Salihamidžić dan nomor punggung 20.

Di rumahnya dulu, ada banyak tumpukan koran-koran olahraga, selusin sepatu, bola kaki dengan beberapa ukuran, poster-poster pemain dunia, foto-foto kusam ia jadi pemain, dan cerita-cerita tentang sepakbola dan pemain yang bergema di dinding.

Dalam karir bola, Ompal tidak berhasil bermain di klub di Jawa. Meskipun demikian, ia kenal nama-nama dari Tulehu yang tersohor. Lagipula, beliau pernah bermain setim dengan mereka, atau melawan mereka, ketika meniti karir dari kampung.

Hingga meninggal, Ompal aktif dalam kegiatan bola di Tulehu atau di luar Tulehu. Setelah berada di umur pensiun, ia ikut kursus wasit dan menjadi salah satu wasit penting di Ambon.

Legenda Matawaru

Kita ingat para pemain beken dalam bola kaki Indonesia seperti Chairil Anwar Ohorella (Persebaya), Imran Nahumarury (Persija), Dedi Umarella (Persija), Bakri Umarella (Indocement Cirebon, Persikota Tangerang), Rachel Tuasalamony (Persebaya), lalu muncul anak-anak muda macam Rizki Pellu, Ramdani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, dan banyak nama lain.

Mereka semua besar di Tulehu dan pernah menginjak rumput Taremball Matawaru yang bersebelahan dengan dinding rumah penduduk itu. Di umur 12 tahun, beta pernah berselonjor di rumput itu juga, menyaksikan Ompal bermain dengan apik.

Keistimewaan Tulehu dan sepakbola sudah dijadikan karya fiksi. Tempat syuting ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’, sebuah film yang menjahit tema sepakbola dan perdamaian, adalah di kampung ini.

Gambar-gambar di film itu cukup bagus, namun plotnya tidak begitu rapi. Peran Chico Jericho sebagai pelatih Sani Tawainella di film tampak canggung, tapi itu tak menghalanginya dapat Piala Citra untuk aktor terbaik. Rekaman soal desa ini juga dikerjakan oleh Zen RS di novelnya ‘Jalan Lain ke Tulehu’.

Pemain-pemain profesional asal Tulehu sering bermain dalam pertandingan amal antar kampung/komplek (tarkam) ketika mereka mudik. Biasanya ini adalah kegiatan mengumpulkan dana untuk memperbaiki fasilitas umum desa.

Banyak orang datang dan mau membayar tiket demi menonton dari jarak dekat bagaimana kaki-kaki terbaik Indonesia itu menyepak bola dan menggasak lawan di Matawaru.

Matawaru adalah sebuah lapangan bola yang legendaris dan paling sibuk di Ambon, yang nyaris setiap minggu menggelar latihan atau pertandingan.

Liga Amal Tulehu dan Liga Indonesia

Di 2020–2021 ini, ada gelaran Liga Amal Tulehu. Setiap keseblasan yang bermain di liga amal adalah mereka yang seumuran atau berada di tingkat yang sama ketika di bangku sekolah. Orang Ambon biasanya menyebut lekteng atau alumni.

Bukan hanya di Tulehu sebetulnya. Dalam musim pandemi ini, banyak pertandingan bola antar lekteng dilakukan di beberapa desa di Pulau Ambon. Ada yang dilakukan untuk menggalang donasi, yang lainnya sebagai tempat politikus menabur benih suara untuk pemilu/pemilukada berikutnya.

Tak peduli bersekolah di mana, jika dianggap sebagai alumni, seseorang yang bagus mengolah bola akan diikutsertakan bermain atau ikut dalam kegiatan-kegiatan lain alumninya.

Beberapa kawan memberi informasi bahwa sejumlah pemain dari Liga Indonesia yang sedang libur kompetisi karena pandemi, bermain di Liga Amal Tulehu.

Rizki Pellu (PSM Makassar, Liga 1), Rifan Namuharury (Mitra Kukar, Liga 1), Hendra Bayauw (PS Tira-Kabo, Liga 1), Ridwan Tawainella (Arema, Liga 1), Ricky Ohorella (Arema, Liga 1), Haris Tuharea (Madura United, Liga 1), Alwi Slamat (Persebaya, Liga 1), Rifad Marasabessy (PS Tira-Kabo, Liga 1), Hamsa Lestaluhu (Bhayangra FC, Liga 1), Sedek Tuakia (Bhayangkara FC, Liga 1), Irsan Lestaluhu (Persiba Balikpapan, Liga 2), Ridwan Maidullah (PSIM Yogyakarta, Liga 2), dan nama-nama lain jebolan timnas umur junior, ikut merumput.

Sayang, halaman olahraga media-media online di Ambon sedikit sekali meliput liga amal. Padahal banyak sisi yang bisa dikerjakan sebagai liputan. Mereka bisa meliput dari cerita pemain, opini keluarga, cerita dari pemain-pemain tua yang sudah pensiun, cerita dari panitia penyelenggara, atau menulis benturan antara tradisi sepakbola di Tulehu yang bersemangat dengan kebijakan PSSI yang ingin agar tradisi tersebut tunduk pada aturan.

Bagi beta, kalau halaman bermain bola sudah berkurang, paling tidak medianya punya halaman olahraga untuk pembaca. Kecintaan pada bola (olahraga) perlu didorong dengan menonton dan membaca.

Beta menikmati pertandingan tarkam dari dulu. Namun terkait liga amal, ada rasa senang sekaligus heran. Apakah klub resmi dari para pemain itu tidak melarang mereka berlaga?

Kaki-kaki pemain adalah asset, dan dibanyak klub kaya, kaki pemain diasuransikan. Pemain dilarang keras menggunakan kaki mereka di luar ketentuan kontrak. Merupakan kerugian yang besar jika seorang pemain bagus patah kaki ketika karena bermain di pertandingan tarkam.

“Menurut saya itu (pemain profesional main pada laga tarkam) adalah sesuatu hal yang tidak wajar di dunia sepak bola professional. Barangkali ini adalah keunikan sepak bola Indonesia”, ucap veteran lapangan asal Brazil, Jackson F. Tiago, ketika diwawancara menanggapi fenomena pemain bola profesional bermain di tarkam (Bola.com 20/11/2020).

Sewaktu di Napoli, Maradona pernah dilarang pengelola klub dan perusahaan asuransi, ketika dia minta izin untuk bertanding tarkam untuk menggalang dana. Maradona nekat, dia memilih bermain di sebuah lapangan yang tidak disupervisi oleh “otoritas” sepakbola. Dia dikatakan sangat bahagia.


메타데이터
post_id
5f9cc9f56eb7
slug
kaki-kaki-sepakbola-indonesia-di-tulehu-5f9cc9f56eb7
url
https://medium.com/@alfianpelu/kaki-kaki-sepakbola-indonesia-di-tulehu-5f9cc9f56eb7
canonical_url
https://medium.com/@alfianpelu/kaki-kaki-sepakbola-indonesia-di-tulehu-5f9cc9f56eb7
author_url
https://medium.com/@alfianpelu
status
ok
fetched_at
2026-07-28 13:28:24