← Back to list

2 — Pengawal

> trivia : Jemparingan adalah seni panahan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta — yang sering kali disalah­­­pahami sekadar cabang…

Koala Belang · 2025-10-21 11:12 · 0 claps · 7.7 min read
#minchan #stray-kids #bxb
Open on Medium ↗

2 — Pengawal

dikutip dari laman https://xplorejogja.com/jemparingan/

trivia : Jemparingan adalah seni panahan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta — yang sering kali disalah­­­pahami sekadar cabang olahraga tempo dulu. Padahal, ini adalah *artefak budaya hidup dari Jogja yang mengandung ajaran keprajuritan, etika luhur, serta kosmologi Jawa‐Islam yang diamalkan lintas abad. Sejak Sri Sultan Hamengku Buwana I memperkenalkannya di penghujung abad ke-18, jemparingan berfungsi ganda: pagelaran seni untuk keluarga keraton dan sarana latih candra* — yakni pelatihan konsentrasi, keberanian, serta penguasaan diri bagi prajurit Mataram.

Candra Wiraguna, pemuda yang usianya baru saja genap 28 tahun, lahir di keluarga sederhana, memiliki dua orang adik — satu perempuan dan yang satunya laki-laki. Wiraguna terkenal sebagai keluarga yang sejak dulu kala mengabdi terhadap raja, secara turun-temurun bahkan di masa kini begitu seharusnya. Namun pada keturunan keempat — yaitu Candra, kini sebagai pemuda dengan usia tertua, memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Ingin lepas tanggung jawab sebagai abdi selanjutnya, Candra memilih jadi pemalak di pasar istana. Kabarnya tercium oleh ayahnya, bahkan setelah ia secara tak sengaja menargetkan seorang gadis — salah satu anak selir raja.

Termasuk golongan abdi tertua, ayah Candra mendapat panggilan baginda untuk mendapat hukuman darinya. Atau yang lebih memungkinkan harus membayar denda. Kembali lagi, Wiraguna keluarga yang sederhana. Tidak mampu membayar atas kesalahan yang diperbuat putra sulungnya. Hingga itulah satu-satunya cara, sang ayah mengirim Candra menjadi pengawal di istana. Yang sejatinya tak tahu menahu ia akan menjaga sang putra raja.

“Iki dina pertamamu nyambut gawe dadi pengawal ndoro Lingga, aja nggawe ulah lan patuhi peraturan!”

Ini hari pertamamu kerja sebagai pengawal tuan Lingga, jangan membuat ulah dan patuhi peraturan!

“Nggih, Mbok.”

Baik, Mbok.

Mbok Darmi, pelayan tertua yang secara turun temurun merawat keluarga raja, kini menjadi sosok terdekat pangeran selepas kepergian sang ibunda. Lingga lebih memilih bercerita, bahkan menghabiskan waktu luangnya itu bersama mbok Darmi, dibandingkan kakek maupun nenek kandungnya.

Lagipula, menurutnya bergaul dengan orang-orang istana — apalagi yang memiliki takhta, tak dapat bersantai dan terus berpacu pada peraturan. Ia ingin sebuah kebebasan. Meski tetap saja, ia mengerti tugasnya sebagai seorang pangeran, penurun takhta sang raja ketika sudah siap dan matang.

“Mbok Darmi, kula mboten sumerep, kenging menapa pangeran ngagungani pengawal pribadi wonten yuswanipun ingkang taksih timur kados menika.”

Mbok Darmi, saya tidak mengerti, mengapa pangeran memiliki pengawal pribadi, di usianya yang masih semuda ini.

“Kene!” Wanita yang mulai termakan usia, sejenak menatapi si wajah baru di dalam istana. Merasa bahwa Candra yang diceritakan ayahnya, bertolak belakang dengan sikap dan tutur kata lembutnya. “Dadi ana ramalan, menawa nyawa ndoro Lingga kaancem. Kabeh iki ora luwih saka rencana ibu tirine kae.”

Sini!
Jadi ada ramalan, bahwa nyawa tuan Lingga terancam.
Semua itu tidak lebih dari rencana ibu tirinya itu.

“Ibunipun ndoro Jaya?”

Ibunya tuan Jaya?

“Lha, iya! Iki isih dadi gosip, nanging baginda raja njupuk ancang-ancang wae. dheweke ora gelem kelangan pewaris utama. Sanadyan ndoro Jaya tetep anak lanang lan oleh nuruni takhta, nanging dheweke kalairake dudu bojo utama baginda.” Mbok Darmi melanjutkan langkahnya menyusuri pekarangan di belakang istana. Tempat di mana menjadi tujuan mereka mencari Lingga. “Aja dicaritakake ing jaba istana. Iki mung dadi rahasia pirang-pirang wong wae. Apa maneh kowe dadi pengawale ndoro Lingga amarga baginda apik ati marang bapakmu. Yen kulawarga Wiraguna ora ngabdi wiwit lawas ing istana, ora ndean nyawamu slamet, Cah bagus.” Kemudian bahu Candra diusapnya.

Lho, iya! Ini masih menjadi gosip, tetapi baginda raja mengambil ancang-ancang saja.
Beliau tidak mau kehilangan pewaris utama. Meskipun tuan Jaya tetap anak laki-laki dan dapat menuruni takhta,
tetapi dia terlahir bukan dari istri utama baginda raja.
Jangan ceritakan ini di luar istana. Ini hanya menjadi rahasia beberapa orang saja.
Apalagi kau menjadi pengawal tuan Lingga karena baginda berbaik hati pada ayahmu.
Kalau keluarga Wiraguna sejak lama tidak mengabdi ke istana,
mungkin nyawamu tidak akan selamat, anak tampan.

“Nggih, Mbok.” Candra menundukkan kepala, seraya mengikuti langkah si wanita tua. “Nanging, niki saleresipun badhe dhateng pundi, Mbok?” Sedang ia sendiri tak mengerti akan dibawa ke mana langkah kakinya.

Baik, Mbok.
Tetapi, sebenarnya ini kita akan pergi ke mana, Mbok?

“Lha, tamtu wae kowe kudu wiwit nyambut gawe! Kana lho, ngancani ndoro Lingga lunga menyang ngendi-ngendi. Dina iki jadwale latihan jemparingan.”

Lho, tentu saja kau harus mulai bekerja!
Sana lho, temani tuan Lingga pergi ke mana saja.
Hari ini jadwalnya berlatih panahan.

Telunjuk Mbok Darmi yang menunjuk suatu arah, diikuti pergerakannya oleh Candra hingga mendapati sosok pangeran tengah berlatih panah.

“Ya wis ta lah, Simbok tinggal dhisik. Arep masak kanggo dhahar awan ndoro.” Mbok Darmi menepuk bahu Candra kembali. “Sing akur ya, Simbok titip.”

Ya sudah lah, Simbok tinggal dulu.
Mau masak untuk makan siang.
Yang akur ya, Simbok titip.

Kepergian mbok Darmi dibalas dengan anggukan kepala Candra. Kemudian arah pandangnya kembali tertuju pada pemuda yang duduk bersila, fokus dengan busur dan hunus di tangannya. Sosok yang kemarin sore bertemu pandang dengannya. Sosok yang katanya lantas mendapat hukuman dari sang raja, membaca setumpuk buku berjam-jam di perpustakaan istana.

Bukan di hari pertamanya bekerja, bahkan di pertemuan pertama mereka, Candra sudah membuat ulah kepada putra raja. Sekarang ia tak tahu harus menyimpan di mana rasa malu dan mukanya. Kalau saja pangeran Lingga adalah sosok yang durjana, mungkin hunus itu akan mengarah kepadanya.

“Hei, pengawal sialan!”

Dan ketakutan Candra menjadi kenyataan.

Arah tujuan Lingga tak lagi kepada objek lurus di depannya, melainkan kini ia menyamping 45 derajat tertuju pada sosok yang baru saja tiba. Si sosok pelanggar peraturan utama, terfokus dengan menyipitkan mata.

“Sampun, Ndoro! Sampun. Mangke Ndoro keparing hukuman malih!”

Jangan, Tuan! Jangan. Nanti Tuan mendapat hukuman lagi!

Hiruk pikuk justru berasal dari beberapa abdi muda yang sejak tadi telah menemani pangeran di sana. Mereka panik, alih-alih Lingga menaikkan kemampuan panahannya, justru akan membunuh pengawal baru di hari pertamanya dia bekerja. Namun Lingga tetaplah Lingga. Tali busur yang ditariknya, semakin melengkung seakan telah siap melepas hunusnya.

Candra menelan saliva.

Jiwa pemalak — penguasa pasar istana, harus ia hilangkan detik ini juga. Meski keberadaannya terancam, ia harus sadar bahwa sosok di hadapan sana adalah pangeran. Tentang hidup dan matinya. Sudah jadi taruhan di tangan sosok yang akan dijaganya. Tapi orangnya semenyebalkan Lingga?

Sepersekian detik setelahnya, saat keheningan terjadi mengalihkan fokus orang-orang di sana, sang pangeran benar-benar melepaskan hunusnya. Meleset beberapa senti saja melewati dekat telinga Candra, lalu menusuk pepohonan hingga menghasilkan burung beterbangan dari sana.

“Pergi kalian, semua. Aku hanya ingin berdua dengan pengawal baruku.”

“T-Tapi, Ndor — ….”

“Lunga! Aku ora bakal mateni dheweke ing dina pertama nyambut gawe.”

Pergi! Aku tidak mungkin membunuhnya di hari pertama dia bekerja.

“Nggih, Ndoro.”

Abdi-abdi itu mengemasi busur dan panah mereka, sebelum mengiyakan perintah pangeran meninggalkan keduanya. Pengawal baru itu terdiam — dengan pikiran yang sudah melayang. Jika panah itu meleset sedikit saja, mungkin hari ini benar-benar hari terakirnya menjadi makhluk bernyawa.

Tabiat bangsawan angkuh dan keras kepala, pikirnya.

Melihat sikap Lingga yang benar-benar jauh dari sopan santun dan etika, Candra harus bersiap dengan apa pun yang akan dihadapinya. Dan dunia di sekitar membawa kembali lamunannya. Pemuda yang bertubuh lebih kecil darinya yang masih duduk bersila, menarik kembali satu hunusnya.

“Lungguh.”

Duduk.

Lingga menunjuk tempat kosong di sebelahnya, dengan anak panah yang kembali ia tempatkan bersilang dengan busurnya. Fokusnya kembali pada objek utama di beberapa meter di depan sana. Candra bernapas lega, sang pangeran benar-benar menepati perkataannya, yang tidak mungkin akan membunuh pengawal barunya di hari pertama bekerja. Ia memilih untuk tak bertemu pandang dengan sosok yang lebih besar, apalagi tuk sekadar berbicara lebih panjang. Lingga terlihat sangat enggan.

“Lungguh! Sapisan maneh aku ngomong nanging ora kowe gugu, jemparing iki bener-bener nglayang ning kowe tekan ulu ati!” Setelah melepas anak panah namun meleset pada target, Lingga meraih lagi satu panah yang kini akan dipastikannya terarah pada si pengawal baru dan tak lagi meleset.

Duduk! Sekali lagi aku berbicara tapi tidak kau turuti,
anak panah ini benar-benar melayang padamu sampai ulu hati!

Mulai memahami wataknya, Candra yakini bahwa ia dapat menjinakkan majikannya. Ia lantas berdeham, bukan duduk seperti yang diarahkan — melainkan beralih dan bersimpuh di belakang tubuh pangeran. Lingga ia yakini memang sosok yang berani, namun bakat masih belum dibekali.

Hunus yang dua kali melesat, menjadi tanda bahwa ia belum sepenuhnya melatih bakat. Bahkan dibandingkan dari dirinya yang terlahir di keluarga sederhana, beberapa ilmu bela diri lebih banyak dibekali. Apalagi sebatas jemparingan, sang ayah sudah melatihnya sejak kecil meskipun ilegal.

Benar, panahan dilarang keras dilakukan di luar istana — apalagi jika bukan dari orang-orang yang memegang jabatannya. Ayah Candra mungkin boleh melakukannya sebab telah jadi abdi istana, namun kala itu Candra belum jadi apa-apa. Ia dibekali banyak ilmu bela diri, agar bisa menjaga keluarga sendiri. Meskipun pada akhirnya disalahgunakan sebab jadi seorang preman.

“Pangeran, apakah Pangeran tahu filosofi inti dari jemparingan?” Mendekat mengikis jarak, Candra menarik tubuh terduduk Lingga agar lebih tegak. “Empat pilar watak ksatria,” kemudian ia menggantungkan kalimatnya — mendorong punggung ke depan dan menarik bahu ke belakang, membawa posisi ideal sebenarnya pada sang pangeran. “Sawiji, yaitu menyatu. Duduk bersila dan badan tegak tanpa ragu. Setelah itu, pandangan Pangeran harus menembus target, seolah hanya ada satu titik itu — jangan sampai meleset.”

“H-he — ….”

“Jangan pedulikan keadaan sekitar, bahkan sebatas angin yang berembus mengenai rambut Pangeran,” Candra melanjutkan kalimatnya, sebelum Lingga terlebih dulu protes terhadap ulahnya. Anak rambut sang pangeran yang mencuat keluar dari dalam belangkon di dekat telinga, lantas menjadi tujuan untuk merapikannya. “Yang kedua, greget, bukan sekadar adrenalin. Tapi bagaimana cara Pangeran mengontrol energi batin.” Semakin terkikis jarak di antara mereka, tangan pangeran yang menarik busur kemudian ia bawa dalam genggamannya. “Tarik gandewa perlahan, lalu lepas jemparing tanpa hentakan.” Lalu hunus dilepas — seiring dengan pangeran di bawah kendalinya setelah melemas. “Tujuannya harus terkendali, jika tidak — akan mencelakai diri.” Tersungging senyum di bibirnya. “Seperti Pangeran tadi.”

Ironisnya, panah melesat nyaris sempurna di dalam target utama. Tidak seperti apa yang dilakukan Lingga sudah berkali-kali. Arahan dari pemuda itu, sosok yang justru membuatnya kesal hari lalu, hampir sempurna tanpa harus mengukur kemungikan jaraknya terlebih dulu. Sekarang Lingga malu.

Lingga tak bergerak lagi, juga tanpa suara. Kini menundukkan kepala. Hal yang justru membuat pemuda bernama Candra itu terkekeh pelan jadinya.

“Yang ketiga sudah Pangeran lakukan, yaitu sengguh. Percaya diri, rendah hati. Setelah menembak, tundukkan kepala. Tanda eling bahwa hasilnya tetap di tangan sang Pencipta,” rengkuh dan genggaman kemudian Candra lepas, masih dengan tubuh pangeran yang melemas. “Dan yang terakhir, ora mingkuh. Tanggung jawab menyelesaikan tugas utama, seperti ketika Pangeran telah memasang jemparing di tali busur lalu ditarik-balik — sama dengan tekad yang diikrarkan manusia.”

Lingga yang masih tak bersuara, mengikuti arah berpindahnya Candra dari belakang tubuhnya menuju sisi kosong yang tadi diarahkan olehnya. Lelaki itu meraih busur yang menganggur, menarik panah yang segera dilepasnya tanpa waktu mengulur. Target sempurna terhunus hanya dengan beberapa detik sosok itu terfokus. Sosok yang tak terduga, gagah seperti namanya.

“Janji menarik jemparing harus ditepati untuk melepaskannya, walau menghadapi risiko akhir tidak sempurna menghunus targetnya.”

“Jadi seharusnya tadi benar-benar kulepas saja hunus itu tanpa meleset ke kepalamu?” Justru terhadap fokus pembicaraan itu, yang membuat Lingga kembali bersuara. Ironisnya kekehan Candra lagi-lagi menjadi jawabannya.

“Tidak apa-apa, jika mengabdikan diri seharga dengan merelakan nyawa di tangan Pangeran Lingga.”

Lingga mulai kesal, namun entah mengapa tak mampu melampiaskan. Ia mengerutkan kening — tak senang. “Siapa sebenarnya kau? Bukankah hal ini dilarang melakukan di luar istana? Bukankah hanya ayahmu yang jadi abdi di istana? Seharusnya kau tak tahu menahu soal jemparingan itu!”

“Kula dipun-utus kagem dados pengawal Ndoro, nglindungi sedaya menapa nggih marabahaya ingkang ngancem Ndoro. Dados sampun kedahipun kula pinter teng lebet kathah bab, menapa mboten?”

Saya telah diutus untuk menjadi pengawal Tuan,
melindungi segala apa pun marabahaya yang mengancam Tuan.
Jadi sudah seharusnya saya andal dalam banyak hal, bukan?

“Apa lagi yang kau bisa lakukan?”

“Apa pun yang Pangeran inginkan.”

Senyuman Candra membuat Lingga tersadar. Sosoknya tak sekadar mampu menjadi seorang pengawal. Dilatihnya, direngkuhnya tiba-tiba saja mampu menghilangkan akalnya. Bagaimana jika hari-hari harus dilalui bersama?


메타데이터
post_id
5fa5b686dae2
slug
2-pengawal-5fa5b686dae2
url
https://medium.com/@didy_/2-pengawal-5fa5b686dae2
canonical_url
https://medium.com/@didy_/2-pengawal-5fa5b686dae2
author_url
https://medium.com/@didy_
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39