Guruku yang Bernama Yance Rumbino.
“Di sana, pulauku yang kupuja slalu… tanah Papua, pulau indah…”
Guruku yang Bernama Yance Rumbino.
“Di sana, pulauku yang kupuja slalu… tanah Papua, pulau indah…”

Yance Rumbino bersama Prof Djoko Saryono.
Siapa di Papua yang tidak mengenal lagu tersebut? Nyaris tidak ada, saya menduga. Lagu yang begitu populer, sekaligus menjadi sebuah lagu yang menggetarkan saat dinyanyikan bersama-sama ketika ada acara dan kegiatan pemerintah di Papua.
Lagu “Tanah Papua” diciptakan oleh Yance Rumbino pada bulan November 1985 di Bukit Gamei, Distrik Topo-Nabire. Awalnya lagu ini berjudul “Irian Jayaku”, namun kemudian judulnya diubah sesuai dengan perubahan nama wilayah “Irian Jaya” menjadi “Papua”.
Bagaikan nubuat, daerah Topo di tahun 1996/1997 membuat gempar satu kota di Nabire karena ditemukan emas pada sungai-sungainya. Bahkan teman-teman sekelas saya di sekolah, ikut mendulang emas di kali, dan menceritakan kisah mereka saat libur usai. Pasir-pasir emas dimasukkan dalam rol-rol film, untuk kemudian dijual di pasar Oyehe.
Tanah Papua menjadi semakin terkenal ketika dinyanyikan oleh grup musi bernama Trio Ambisi. Hal ini sempat menimbulkan simpang siur siapa sebenarnya pencipta lagu “Tanah Papua?”. Karena lagu itu belum didaftarkan oleh Yance Rumbino secara resmi, sudah terlanjur terkenal dan diterima oleh masyarakat luas.
Itu sebabnya, sekian puluh tahun setelah lagunya ditulis, baru pada tanggal 23 Mei 2020, Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Papua Barat mengeluarkan sebuah edaran mengenai pendaftaran karya cipta lagu “Tanah Papua” yang dibuat oleh Yance Rumbino dan didaftarkan di Direktorat Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Surat edaran tersebut menjelaskan bahwa jika ada pihak lain yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua” selain Yance Rumbino, mereka diberikan waktu satu bulan untuk mengajukan sanggahan setelah pengumuman resmi dibuat. Hal ini dijelaskan dalam surat edaran dengan kata-kata kurang lebih demikian.
Saat membaca surat edaran itu, saya teringat pada sebuah postingan singkat bertepatan dengan hari guru, yang ditulis pada laman facebook oleh Prof. Djoko Saryono. Tulisan itu tentang pertemuannya dengan Yance Rumbino. Postingan itu memancing saya ikut mengomentari, sebab Yance Rumbino adalah kepala sekolah dan guru saya di SD Inpres Kotabaru, Nabire.
Langsung saja postingan itu saya sambar, sembari menulis sekelumit detil yang saya ingat, tentang Pak guru yang saya hormati itu. Buat teman-teman alumni SD Inpres Kotabaru Nabire. Masih ingatkah sobat dengan Pak Guru Yance Rumbino? Apa kesanmu terhadapnya?
Saat bersekolah di sana, saya memiliki kesan yang sangat mendalam terhadap Pak Guru Yance Rumbino. Beliau merupakan seorang pendidik multitalenta yang memiliki jiwa kesenian yang luar biasa. Saya bahkan bisa jatuh cinta pada pelajaran matematika berkat beliau.
Karena letaknya yang dekat dengan kompleks di mana saya tinggal, maka SD Inpres Kotabaru menjadi pilihan terbaik untuk sekolah. Tiap pagi saya berjalan kaki bersama teman-teman ke sekolah. Hanya butuh waktu 10–15 menit berjalan kaki saja untuk sampai ke sekolah.
Beberapa teman sekolah yang masih saya ingat biasa berjalan kaki ke sekolah bersama, antara lain ada Epo dan Luis, serta Nomini Kerewai, Yati dan Faisal Abas, Bungan Supulayuk, Nahason Awom, juga Alex Samberi.
Kenangan ini membawa kembali pengalaman berdesak-desakan di rumah guru yang beliau tempati. Saat istirahat menumpang membeli makan nasi kuning dari jualan Ibu Rumbino. Nasi kuning dalam bungkus daun pisang, sembari dimakan di ruang tamunya yang sempit seraya menonton tayangan “Casper & friends” di TPI.
Pernah terjadi suatu insiden konyol yang disebabkan oleh kesalahan saya, dan saya masih ingat betul bagaimana saya dimarahi habis-habisan oleh Pak Guru Yance Rumbino. Saat itu, saya sedang mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat dan urutan kami untuk tampil adalah yang terakhir. Namun sayangnya, saya merasa gatal melihat lapangan tengah sekolah yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain bola.
Akhirnya, saya tidak bisa menahan diri dan ikut bermain bola bersama teman-teman, sehingga membuat kami terlambat tampil di lomba dan membuat beliau sangat kesal.
“Eh, cepat ko berhenti, mau cerdas cermat baru main bola, nanti sa tidak masukkan koi ke tim sekolah e !” Sebuah hardikan yang membuat saya langsung berhenti dan mengikuti Pak Guru. Saat itu, cerdas cermat merupakan keisengan belaka buat saya. Yang saya yakini, saya bisa menjadi seorang pemain sepak bola yang handal. Apa daya, kami bersilang pendapat.
Selain itu, Pak Guru Yance Rumbino juga mahir dalam mengemas pembelajaran matematika menjadi sangat menyenangkan. Saya ingat kami pernah bermain permainan siapa yang cepat menjawab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau. Teman-teman begitu serius dalam berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau.
Namun, Pak Guru ternyata membuat kami terkecoh ketika dalam sebuah perkalian ia menambahkan angka 0 dan mengatakan, “Harus jawab cepat e”.. “2x2x1x0”. Dan teman-teman tampak pusing, ketika ternyata jawabannya adalah nol. Walau ada saja yang berteriak menjawab dengan salah pertanyaan-pertanyaan itu, yang membuat keheningan sebelumnya pecah dengan suara tawa.
Dirinya juga biasa menjadi wasit tinju, katanya waktu muda sempat menjadi petinju. Sehingga kalau ada yang seka-seka kaki di tengah lapangan sekolah beryosim pancar dengan asyiknya, saat jam istirahat dan dentang lonceng sudah menggema, ko mau coba-coba terlambat masuk kelas ko coba sudah, Pak Guru su siap-siap dengan ko pu kelakuan tuh.
Berpuluh tahun setelah roda kehidupan berputar, saya melanjutkan kuliah di Jogja, bekerja di Jakarta dan sempat berkeliling dan menetap di 5 kota di Jawa, membuat setiap mendengar lagu “Tanah Papua” dinyanyikan, hati ini selalu bergetar. Bukan semata karena lirik-liriknya yang memesona, tapi teringat guruku yang mengajar dan memberi teladan menjadi kreatif dalam keterbatasan.
Postingan Prof Djoko seolah membawa saya ke masa lampau. Mengingatkan saat pohon-pohon kapok penuh dengan buah yang telah matang di tanah lapang sebelah sekolah SD Inpres Kotabaru, Nabire. Buah-buah kapok bergoyang tertiup angin sepoi. Luruh serat-serat buah kapok beterbangan dan jatuh ke tanah bagai salju. Keindahan yang menghadirkan kebahagiaan.
메타데이터
- post_id
- 5fb2285ed2b1
- slug
- guruku-yance-rumbino-5fb2285ed2b1
- url
- https://medium.com/@dayourifanto/guruku-yance-rumbino-5fb2285ed2b1
- canonical_url
- https://medium.com/@dayourifanto/guruku-yance-rumbino-5fb2285ed2b1
- author_url
- https://medium.com/@dayourifanto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 20:42:13