Isi Email Hari Ini: Antara Tutorial Cairkan JHT, Penolakan Kerja, dan Firasat Zaman Edan
Belakangan ini, kotak masuk (inbox) email saya berubah menjadi tempat paling horor kedua setelah dompet tanggal tua.
Isi Email Hari Ini: Antara Tutorial Cairkan JHT, Penolakan Kerja, dan Firasat Zaman Edan

BPJS Ketenagakerjaan | Sumber gambar: promediateknologi
Belakangan ini, kotak masuk (inbox) email saya berubah menjadi tempat paling horor kedua setelah dompet tanggal tua.
Setiap kali ponsel bergetar dan notifikasi email muncul, jantung saya berdegup dengan ritme harapan yang naif. “Siapa tahu ini tawaran interview,” pikir saya. Atau minimal, “Siapa tahu ada pangeran Nigeria yang mau mewariskan hartanya.”
Tapi, realitas — seperti biasa — hobi sekali menampar pipi kiri-kanan.
Isi notifikasi itu kalau tidak: “Thank you for your interest, unfortunately…” (baca: Anda ditolak, Mz/Mas), ya pasti email newsletter otomatis yang judulnya provokatif: “Panduan Praktis Mencairkan JHT Melalui JMO”.
Lha dalah.
Lama-lama saya jadi curiga. Jangan-jangan ini bukan kebetulan algoritma semata. Ini adalah cara alam semesta (via server Google) mengirimkan pesan subliminal kepada saya. Seolah-olah Gusti Allah sedang berbisik lewat notifikasi: “Wis toh, Le/Nduk. Nggak usah muluk-muluk ngelamar kerja di korporat Indonesia. Cairkan saja JHT-mu, beli kopi, lalu duduk manis meratapi nasib.”
Pasar Kerja yang Memuja yang “Kinyis-Kinyis”
Fenomena ini memaksa saya merenung. Mengapa email penolakan lebih rajin datang daripada tukang paket?
Jawabannya mungkin ada pada lanskap pasar kerja kita yang sedang “sakit”. Perusahaan hari ini sepertinya punya fetis aneh terhadap daun muda. Mereka lebih bergairah mencari anak-anak baru lulus (fresh graduate) yang masih kinyis-kinyis, yang matanya masih berbinar polos, dan — yang paling penting — bisa dibayar murah dengan jobdesc setara romusha.
Sementara kita? Para pemain lama yang sudah punya pengalaman, yang tahu risiko, yang paham SOP, justru dianggap “barang mahal” yang merepotkan.
Ibarat sebuah bus yang melaju ke arah jurang. Kita, yang sudah berpengalaman, berteriak, “Woy, rem! Depan jurang!” Tapi perusahaan (supir) malah merasa terganggu. “Berisik amat. Kita butuh optimisme!”
Akhirnya, mereka lebih memilih penumpang yang diam saja, atau yang malah bersorak “Gaspoool, Kak!” karena tidak tahu kalau di depan ada maut mengintai. Kita yang tahu risiko malah disingkirkan karena dianggap “kurang agile” atau “terlalu kaku”. Padahal, kita cuma berusaha menyelamatkan nyawa bisnis mereka agar tidak nyungsep.
Narasi Halu dan Ekonomi yang “Baik-Baik Saja”
Situasi mikro di email saya ini makin runyam kalau disandingkan dengan narasi makro pemerintah.
Di TV dan berita online, para pejabat dengan wajah tanpa dosa bilang, “Ekonomi kita tangguh! Indonesia tumbuh solid! Tidak ada resesi!”
Narasi halu ini berbahaya. Ini seperti dokter yang bilang ke pasien kanker stadium 4, “Ah, itu cuma masuk angin, minum teh anget aja sembuh.” Pasien yang tidak waspada bakal keblinger. Mereka akan belanja impulsif, ambil cicilan ini-itu, karena merasa negara aman-aman saja. Padahal, bagi rakyat jelata seperti kita, “ekonomi tumbuh” itu cuma angka di Excel menteri, sementara di lapangan, daya beli nyungsep dan cari kerja susahnya minta ampun.
Disparitas antara “apa kata pejabat” dan “apa isi dompet” inilah yang bikin kepala makin pening. Kita disuruh optimis di tengah badai PHK dan penolakan lamaran kerja.
Eling Serat Kalatidha: Selamat Datang di Zaman Edan
Melihat carut-marut ini — email JHT yang menggoda, penolakan kerja yang bertubi-tubi, preferensi pada tenaga kerja murah, dan pejabat yang hobi gaslighting — saya jadi teringat simbah buyut literasi Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito.
Dalam Serat Kalatidha, beliau menulis tentang Zaman Edan.
“Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi…” (Mengalami zaman gila, serba repot dalam bertindak…)
Ronggowarsito meramal situasi di mana akal sehat jadi barang langka. “Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun.” (Ikut gila tidak sampai hati, tapi kalau tidak ikut gila, tidak akan dapat bagian, akhirnya kelaparan).
Rasanya relevan betul, kan?
Kita mau ikut “gila” dengan menjilat atasan, memurahkan harga diri, dan pura-pura buta risiko demi dapat kerja, hati nurani nggak sanggup. Tapi kalau kita tetap waras, idealis, dan menuntut hak yang layak, ya siap-siap “boya kaduman melik” — nggak dapat apa-apa, alias nganggur.
Akhirnya, notifikasi tutorial pencairan JHT itu tampak semakin masuk akal. Mungkin itu bukan sekadar spam. Itu adalah solusi pragmatis di zaman edan. Daripada pusing mikirin negara yang pejabatnya halu dan perusahaan yang maunya slave labor, mending cairkan JHT.
Setidaknya, di zaman edan ini, kita masih bisa pegang uang tunai. Soal besok makan apa? Ah, itu urusan nanti. Toh, kalau kata Ronggowarsito: “Sakbeja-bejane kang lali, isih beja kang eling lan waspada.” (Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa/gila, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada).
Masalahnya, saya sudah eling (ingat) dan waspada, tapi kok tetap miskin ya? Duh.
메타데이터
- post_id
- 5fbe8cf45ccc
- slug
- isi-email-hari-ini-antara-tutorial-cairkan-jht-penolakan-kerja-dan-firasat-zaman-edan-5fbe8cf45ccc
- url
- https://medium.com/@pnyijal/isi-email-hari-ini-antara-tutorial-cairkan-jht-penolakan-kerja-dan-firasat-zaman-edan-5fbe8cf45ccc
- canonical_url
- https://medium.com/@pnyijal/isi-email-hari-ini-antara-tutorial-cairkan-jht-penolakan-kerja-dan-firasat-zaman-edan-5fbe8cf45ccc
- author_url
- https://medium.com/@pnyijal
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13