Panas Dingin
Menghadapi khalayak ramai itu tidak sekadar mental, butuh keterampilan khusus juga.
Panas Dingin

Jamaah
Dalam buku The Magic of Speaking karya Dale Carnegie, disebutkan ada sebuah perasaan yang sering muncul ketika seseorang berhadapan dengan mikrofon. Perasaan itu dikenal dengan “Ketakutan pada Mikrofon”. Ternyata banyak sekali orang yang pernah mengalaminya. Tidak hanya orang awam, bahkan tokoh-tokoh terkenal pun tidak luput dari perasaan tersebut. Banyak orang yang mendadak malu dan takut ketika diminta untuk berbicara di depan banyak orang. Mau itu hanya lewat radio, atau secara langsung berdiri di atas podium dan mimbar. Mereka tidak bisa berpikir jernih serta berkonsentrasi. Lidahnya kelu, jantungnya menghentak kencang, keringat sebiji-biji salak turun, tidak ada sepatah kata pun yang mampu menggeliat keluar. Jangankan menyampaikan pendapat secara logis, bersuara saja susah.
Menghadapi khalayak ramai, membuka mulut di depan mikrofon, menatap berpasang-pasang mata bisa menjadi mimpi buruk bagi siapa saja yang tidak terbiasa. Itu juga yang saya rasakan ketika pertama kali menerima tugas untuk menjadi bilal shalat tarawih. Saat itu mushola kampung kami menjadi TPQ yang dihuni banyak santri. Imam mushola mendaulat beberapa santri TPQ menunaikan sebuah tugas di bulan Ramadhan, saya kebetulan menjadi salah satu yang menerima. Ada kriterianya, yang jelas beberapa teman yang dipilih sudah akil baligh, sudah bisa membaca Al-Quran, bacaannya dinilai benar dan jelas. Tapi ada satu kriteria yang tidak secara jelas disebutkan, yaitu keberanian menghadapi jamaah yang lain. Imam kami sudah mengajari santri supaya bisa membaca Al-Quran, bukan hanya bisa tapi juga benar. Ada juga yang sudah mulai menghafalnya.
Tapi perkara menampilkan suara di depan jamaah lain itu sungguh beda soal. Butuh keterampilan tersendiri. Sebetulnya menjadi bilal shalat tarawih itu tidak terlalu rumit. Bacaannya juga bisa dihafal luar kepala. Isinya seruan shalat tarawih, shalawat pada Nabi Muhammad SAW, menyebut empat Khulafaur Rasyidin, diakhiri seruan shalat witir. Masalahnya hanya di konsentrasi, jika meleng sedikit, bisa kacau urutannya. Petugas bilal shalat tarawih juga berbeda dari shalat Jumat. Kalau shalat Jumat bilal akan berdiri menghadap jamaah sekalian. Sedangkan untuk petugas bilal shalat tarawih kita tetap duduk dan tidak perlu menghadap jamaah. Lumayan melegakan. Namun tugasnya tetap penting.
Ibaratnya jika imam adalah supir, maka bilal adalah kernetnya. Ia yang memberikan ancer-ancer lokasi tujuan, walau tentu supir sudah hafal dengan rute yang dilalui. Tugasnya juga meyakinkan imam, rakaat berapa sekarang, kira-kira sudah sampai pembacaan surat apa, kalau-kalau sang imam lupa. Cukup krusial. Tersebutlah Fandi, Marwan, Anto, dan saya sebagai pemain inti. Sebetulnya ada lagi selain kami yang disiapkan sebagai pemain cadangan. Saya melihat satu persatu wajah teman-teman saya. Ada yang antusias, ada yang tegang, ada pula yang bingung. Saya? Bingung dan tegang.
Semua diberi porsi sama rata sama rasa. Tiga hari. Jadi selama tiga hari kami harus berupaya maksimal menuntaskan tugas negara. “Aku ngono siap tok, Mas1.” Suara anto terdengar dari samping. “Lek mek ngene ae, serahno aku wes2.” Ucapnya sembari melenggang. Wah gaya sekali pikir saya. Padahal untuk ukuran kami-kami yang masih anak SMP kala itu, tampil di hadapan banyak orang bisa bikin ndredeg. Namun Anto menunjukkan mentalitas berbeda. Anto dan saya adalah teman, di dalam mushola dan di luar mushola. Seringkali kami bertemu saat itu, terlebih di lapangan sepak bola.
Keberanian Anto di lapangan sudah kami ketahui, masyhur lah. Bukan karena dia paling jago dan berskill bola tinggi, tapi mulutnya memang seringkali sembarangan. Maido wasit adalah salah satu bukti shahih bagaimana Anto membangun reputasinya. Almarhum pelatih bola kami sudah hafal betul tiap kali mengawasi dari pinggir lapangan. Jika ada satu saja keputusan wasit yang Anto nilai merugikan tim, tentu kata-kata mutiara akan keluar dari cangkem rusaknya. Sialnya yang kena cangkem rusak itu bukan hanya si wasit, tapi juga kami teman setimnya. Salah passing, dribble terlalu lama, shooting jumpa fans, barang jamak yang akan dimaki oleh Anto. Kalau sudah begitu pelatih kami pasti akan teriak dari pinggir lapangan. “To! Ojo maido wasit! Ojo maido kancamu!”3
Sekadar memperingatkan Anto dari bahaya kartu, juga menenangkan anggota tim yang lain. Lucunya dia tidak pernah memaki saya. Setidaknya kata-kata kebun binatang itu tidak sampai ke telinga saya. Ada dua alasan sederhana. Pertama karena saya masih terhitung kakak sepupunya, kedua karena skill saya setara Neymar. Untuk alasan kedua saya secara terbuka membuka pintu berdebat seluas-luasnya, bagi jamaah sekalian yang meragukan hehehehe. Kegemaran maido sembarangan, ke semua orang, membuat saya yakin Anto bukan bermental tempe. Dia pasti akan dengan mudah memenuhi tugas negara ini.
Tiga hari pertama Fandi menyelesaikan tugas dengan sangat patriotik. Suaranya cukup jelas, artikulasinya benar semua. Hari keempat sampai keenam Marwan mampu menaklukkan lantai dansa. Suaranya nyaring, kadang malah terkesan digaspol, membuat jamaah yang menjawab shalawat begitu riuh bersemangat. Hari giliran saya akhirnya tiba. Sejak sore saya sudah mondar-mandir di depan kaca. Menghafal urutan bacaan, mencari frekuensi suara yang pas di telinga, dan menjaga penampilan tetap tampan dan berani. Tapi namanya pengalaman pertama, ndredeg masih terus terasa.
Padahal niat dan kemauan sudah ada. Menguasai apa yang akan saya baca juga sudah. By the way bilal shalat tarawih diperbolehkan bawa contekan, disediakan catatan yang langsung diprint oleh pihak mushola. Jadi walaupun sudah hafal maka saya tetap membawanya, bukan sesuatu yang haram juga. Berlatih dan berlatih juga sudah saya lakukan jauh-jauh hari. Nah tinggal yang keempat saja, percaya diri. Saya sebetulnya sudah terbiasa berbicara di depan kelas saat sekolah. Untuk keperluan presentasi tugas atau menjawab pertanyaan guru. Hanya saja tampil di depan tiga puluh orang dengan umur yang sama melawan tampil di hadapan puluhan laki-laki berusia beragam, bocah, bapak-bapak, sampai kakek-kakek, itu sungguh terlalu.
Yoweslah kalau begitu kita pakai jurus terakhir. Bondo Bismillah + Loss. Setelah shalat Isya saya sudah berada tepat di belakang imam. Sedikit-sedikit masih menghafal, sambil tetap menguasai hati. Tugas pun dimulai. Awalnya semua berjalan lancar. Tapi satu kekeliruan membuat semuanya gagal berakhir sempurna. Di bagian seruan shalat Witir, saya mengalami slip of the tongue. Seruan itu harus diulang sampai dua kali. Selepas shalat, saya sempat ditegur dan dinasehati, tampaknya saya terlalu terburu-buru.
Keesokan harinya saya berupaya memulai dengan rapi, namun kali ini saya masih keliru. Saya salah menyebut urutan Khulafaur Rasyidin. Saya malah mendahulukan Ali Bin Abi Thalib sebelum Utsman Bin Affan. Wah, saya hampir membuat imam kebingungan. Saya hampir mengacaukan sejarah. Saya membahayakan seluruh penumpang. Di hari itu mulai muncul kasak-kusuk dari jamaah yang bertanya, siapa anak yang salah baca tadi. Hati ini rasanya mencelos. Tinggal satu kesempatan. Saya usahakan sebaik-baiknya ya.
Pada hari ketiga saya berhasil menunaikan tugas dengan baik. Saya tampak tenang, bacaan saya juga jelas, dan semua urut. Hati ini plong. Nah, di hari selanjutnya saya sengaja datang telat, ingin berada di Shaf belakang untuk mengawasi Anto. Saya ingin tahu apakah kemampuannya sama dengan omongannya kemarin. Saya datang saat shalat tarawih akan dimulai, tapi keberadaan Anto nihil. Anehnya hari itu yang jadi bilal malah pengurus mushola yang lain. Setelah salat tarawih selesai, saya bertanya pada petugas bilal perihal Anto,
“Tadi setelah shalat Isya, dia mendadak minta pulang.” Anto tampak pucat dan gemetar, ayahnya khawatir lalu segera mengajaknya pulang. Ia ternyata tidak siap menghadapi banyaknya jamaah. Petugas lalu meminta saya untuk mengisi kekosongan bilal yang ditinggalkan Anto dua hari ke depan.
“Piye maneh, adem panas bocahe.”4 Tutup sang petugas mushola.
1. Aku sih siap saja, Mas.
2. Kalau cuma begini serahkan sama aku.
3. To! Jangan mencela wasit! Jangan menyalahkan temanmu!
4. Bagaimana lagi, panas dingin anaknya.
메타데이터
- post_id
- 5fc22be9f993
- slug
- panas-dingin-5fc22be9f993
- url
- https://medium.com/@capt.pravna/panas-dingin-5fc22be9f993
- canonical_url
- https://medium.com/@capt.pravna/panas-dingin-5fc22be9f993
- author_url
- https://medium.com/@capt.pravna
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16