Belajar Berserah di Tengah Ketergesaan
Refleksi tentang berserah, waktu, dan kehadiran Tuhan dalam keseharian
Belajar Berserah di Tengah Ketergesaan
Refleksi tentang berserah, waktu, dan kehadiran Tuhan dalam keseharian
Sore itu, aku belajar satu hal yang akan selalu tinggal dalam ingatanku: betapa dekat dan nyatanya pertolongan Allah SWT, bahkan di saat keadaan tampak benar-benar tidak berpihak.
Hari itu aku menjalani puasa sunnah, bertepatan dengan ujian akhir semester 2 kuliah Magisterku, yang dijadwalkan pukul 18.30. Sejak pagi, semuanya sudah kurencanakan dengan rapi. Aku berniat berangkat dari kantor pukul 17.30, membawa bekal dimsum dari pantry sebagai menu berbuka, dan tiba di kampus sekitar pukul 18.15, lumayan cukup waktu untuk salat magrib dan berbuka dengan tenang sebelum ujian dimulai.
Satu hal luput dari perhitunganku: aku tidak membawa minum.
Ketika akhirnya aku keluar kantor mendekati pukul 18.00, rencana yang tersusun rapi itu mulai runtuh satu per satu. Langit Jakarta menggelap, gerimis turun perlahan, dan satu per satu pesanan ojek onlineku ditolak. Aku meminta bantuan teman untuk memesankan ojek, namun hasilnya sama saja. Waktu terus berjalan, dan rasa cemas mulai menggetarkan jiwa.
Saat akhirnya sebuah ojek menerima pesanan, aku sadar betapa sempitnya waktu yang tersisa. Pukul 18.05 aku baru berangkat dari kantorku di Sudirman menuju kampusku di daerah Ancol. Rasanya hampir mustahil untuk tiba tepat waktu karena jam tersebut merupakan jam pulang kerja, apalagi dengan kewajiban salat, berbuka, dan kondisi puasa seharian. Dalam hati, aku sudah bersiap dengan skenario terburuk.
Di sepanjang perjalanan, aku menggenggam satu kalimat zikir yang terus kuulang tanpa henti:
“Laa hawla wa laa quwwata illa billah.”
Kalimat itu menjadi pegangan di tengah kegelisahan. Aku berdoa dengan pasrah, “Ya Allah, aku tidak punya sandaran selain Engkau. Tolong aku.”
Lalu, sesuatu yang tak pernah kuduga terjadi.
Saat melihat layar ponsel, aku heran bukan main. Pukul 18.21. Aku sudah sampai di kampus. Perjalanan berlangsung tanpa hambatan berarti; lalu lintas yang biasanya padat terasa longgar, dan lampu-lampu lalu lintas seakan memberi jalan. Segalanya tampak berjalan wajar, namun di sanalah aku menyadari bahwa waktu seolah dilapangkan.
Aku bergegas ke musala, menunaikan salat magrib dengan waktu yang sangat terbatas. Setelah itu, aku membuka bekal dimsum, tentunya tanpa minum. Rasanya seret luar biasa. Aku hanya bisa tersenyum kecil, menertawakan diriku sendiri, sambil bersyukur karena masih bisa berbuka, apa pun keadaannya.
Beberapa menit kemudian, aku masuk ke ruang ujian. Aku memang terlambat, tapi masih sebelum batas toleransi pukul 19.00. Dalam pikiranku, satu hal sudah pasti: waktu ujian akan berkurang.
Namun, Allah kembali menunjukkan bahwa rencana-Nya selalu lebih baik.
Pengawas ujian ternyata belum masuk kelas. Ia masih duduk di luar. ruangan, entah sedang menunggu apa. Setelah aku sampai dan masuk ke ruang kelas, ia juga ikut masuk ke ruang kelas, dan mengumumkan bahwa waktu ujian ditambah sepuluh menit untuk mengakomodasi keterlambatan waktu mulai.
Aku terdiam, lagi. Dadaku terasa hangat. Di titik itu, aku benar-benar paham: Allah tidak hanya menolongku cukup, tapi memberi lebih dari yang kubutuhkan.
Malam itu aku pulang dengan hati yang ringan dan penuh syukur. Semua kecemasan yang sempat menghimpit lenyap begitu saja. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa pertolongan Allah SWT tidak selalu datang dengan cara yang spektakuler. Terkadang ia hadir lewat kelancaran yang sunyi, lewat waktu yang dilapangkan, lewat hal-hal kecil yang baru kita sadari ketika kita berhenti dan merenung.
“Laa hawla wa laa quwwata illa billah” mengajarkanku bahwa ketenangan lahir bukan dari kendali penuh, tetapi dari kesediaan menyerahkan apa yang tak mampu kita genggam.
메타데이터
- post_id
- 5fd3e602247e
- slug
- belajar-berserah-di-tengah-ketergesaan-5fd3e602247e
- url
- https://medium.com/@ritanitsuga/belajar-berserah-di-tengah-ketergesaan-5fd3e602247e
- canonical_url
- https://medium.com/@ritanitsuga/belajar-berserah-di-tengah-ketergesaan-5fd3e602247e
- author_url
- https://medium.com/@ritanitsuga
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 08:21:40