Filosofi pi (\(\pi \)): Titik temu yang semu
Waktu aku kelas 9 SMP, kami punya kaos seragam seangkatan. Desainnya simpel, cuma kaos putih dan ada lambang pi besar di bagian depan baju…
Filosofi pi ((\pi )): Titik temu yang semu
Waktu aku kelas 9 SMP, kami punya kaos seragam seangkatan. Desainnya simpel, cuma kaos putih dan ada lambang pi besar di bagian depan baju. Kata salah satu guru kami, kaos pi itu artinya “Piye kabare?”. Maksudnya, guru-guru SMP kami akan selalu menanyakan kabar kami kapanpun dan dimanapun setelah kami lulus SMP. Waktu itu kaosnya memang kami dapatkan menjelang kelulusan. Ditambah lagi, hampir dari kami semua benar-benar terpencar masuk SMA yang berbeda. Ceritanya agak panjang dan kompleks, singkatnya karena kami bersekolah di SMP pedalaman yang disatukan oleh orang tua kami yang sama-sama merantau. Begitu tamat SMP, dan tidak adanya akses bagus ke SMA yang bagus, kami pun berpencar kembali ke daerah asal masing-masing.

Setelah lulus, kami hampir nggak pernah bisa ketemu lagi. Ada yang berpencar ke Jawa, Sumatera, ada yang tetap di Kalimantan, ga karuan deh. Meski mereka salah satu teman-teman terbaik yang aku punya selama hidupku dan guru-guru yang beberapa bahkan masih akrab denganku hingga saat ini, kami benar-benar jadi jarang bertemu.
Makin lama, filosofi pi jadi berubah. Bukan lagi menanyakan kabar seolah kita seakrab itu, tapi menjadi sebuah proses perjalanan dimana titik temu kita sudah tidak sama lagi. Dengan kata lain, kita tidak akan bertemu lagi. Rasanya seperti mendambakan seseorang yang sudah habis masanya. Meski kita berada di tempat yang sama, rasanya tidak mungkin berpapasan secara kebetulan lagi.
Ngomong-ngomong soal kebetulan, pertemuan yang paling aku sukai adalah pertemuan yang terjadi secara “kebetulan”. Tidak direncanakan, tidak pernah dipikirkan sekalipun. Tapi anehnya, setiap kali aku mendambakan pertemuan secara kebetulan, hal itu tidak pernah terjadi. Satu kalipun tidak pernah. Aku jadi berpikir, “Ah… jadi kayak gini cara kerjanya.” Rasanya setiap aku mengharapkan bertemu dengan orang yang kusuka secara kebetulan, aku tidak pernah mendapatkannya.
Contohnya kemarin, saat aku jogging sore di area kampus. Sebisa mungkin aku mencocokkan jam joggingku dengan waktu dimana teman-temanku biasanya berkeliaran di kampus. Hasilnya? Nihil, aku tidak bertemu mereka sama sekali. Aku justru bertemu orang-orang random kenalanku yang sama sekali tidak pernah aku rencanakan. Terkadang aku memanfaatkan situasi itu untuk membayangkan bertemu dengan orang yang aku benci. Hasilnya? Yap, aku tidak bertemu dengan orang tersebut. Win-win solution.
Tapi, apakah sebenarnya pi berbanding lurus dengan keinginan untuk bertemu seseorang? Karena rasanya, setiap aku mengincar suatu pertemuan, pi terasa menjadi bodyguard titik temu yang menggeserku secara kasar. Seolah sedekat apapun aku dengan dirinya, kami tidak akan dipertemukan. Bahkan sesimpel berpapasan atau melihatnya dari kejauhan pun terasa mustahil.
메타데이터
- post_id
- 5fdc323ac59d
- slug
- filosofi-pi-pi-titik-temu-yang-semu-5fdc323ac59d
- url
- https://medium.com/@audrinaar/filosofi-pi-pi-titik-temu-yang-semu-5fdc323ac59d
- canonical_url
- https://medium.com/@audrinaar/filosofi-pi-pi-titik-temu-yang-semu-5fdc323ac59d
- author_url
- https://medium.com/@audrinaar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 08:17:25